Metodologi Perencanaan E-Business

Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba

Uji normalitas data dalam penelitian

Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:

Tilawatil Quran KH. Muammar ZA

ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.

Contoh Khutbah Bahasa Sunda

Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan

Ciri-ciri Pasar Monopoli

Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.

Showing posts with label Materi Kuliah Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Materi Kuliah Keperawatan. Show all posts

Sunday, November 22, 2009

Macam-macam kebutuhan dasar manusia

1. Kebutuhan fisiologi yang merupakan kebutuhan pokok atau kebutuhan yang utama
Misal : Udara segar (O2), Air (H2O), cairan dan elektrolit, makan dll.
karena jika tidak terpenuhi maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam tubuh manusia.
2. Kebutuhan akan rasa aman (Safety Need)
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi maka seseorang membutuhkan rasa aman baik rasa aman terhindar dari penyakit, gangguan pencurian, dan perlindungan hukum.
3. Kebutuhan mencintai dan dicintai
seseorang ingin dicintai dan menyintai seseorang ingin diperhatikan serta memperhatikan dan kasih sayang dari seseorang.
4. Kebutuhan harga diri
kebutuhan akan harga diri. Maksudnya Seseorang ingin dihargai dan dihormati oleh seseorang saling bertoleransi dan hidup berdampingan dalam satu kelompok masyarakat
5. Kebutuhan aktualisasi diri
Bahwa seseorang ingin diakui, atau dipuji oleh kelompok, masyarakat dan yang lainya. Dia ingin berhasil ingin menonjol lebih dari orang lainya. 
(catatan kuliah)


Friday, November 20, 2009

MATERI KULIAH MENGENAL HIV/AIDS DAN PENCEGAHANNYA

A. Pengertian
Virus HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.
Penyakit AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
B. Cara penularan virus HIV AIDS

• Lewat cairan darah
Melalui transfusi darah / produk darah yg sudah tercemar HIV
Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika suntikan.
Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah
• Lewat cairan sperma dan cairan vagina
Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) ; atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.
• Lewat Air Susu Ibu
Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina; kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.
C. Pencegahan infeksi HIV AIDS
• Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka
• Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)
• Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.
Ada tiga cara:
• Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks)
• Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya
• Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom
Ada dua hal yang perlu diperhatikan:
• Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar
• Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain

Wednesday, September 2, 2009

Perbedaan Antara Sel Pria dan Wanita

Sifat kelamin dari anak sudah ditewntukan pada waktu fertilisasi dan bukan oleh sel telur,melainkan oleh sel mani.sel-sel pria maupun wanita mempunyai 46 buah kromosom ialah 22 pasang kromosomn biasa dan sepasang sex cromosom.

Perbedaaan antara sel pria dan sel wanita terletak pada sex kromosom
1.sel pria mempuyai sepasang sex kromosom yang berlainan jadi 22 pasang kromosom biasa dan sebuah x sex kromosom dan sebuah y sex cromosom.

2.sel wanita mempunyai sex cromosom yang sama jadi 22 pasang cromosom yang sama jadi 22 pasang kromosom biasa dan biasa dan 2 buah x sex kromosom.
Dalam proses pematangan dari ovum dan spermatozoa terjadilah pembagian reduksi, pembagian sedemikian rupa hingga sel-sel yang baru hanya mempunyai separuh dari jumlah kromosom chromosomn yang biasa.
Dengan demikian sel telur yang matang mempunyai 22 buah kromosom biasa dan sebuah x kromosom.

Tetapi sel mani yang matang ada 2 macam ialah
Sel manbi dengan22 buah kromosom biasa dengan sebuah x cromosom, dan sel mani dengan 22 buah cromosom biasa dengan y cromosom.
Jika spermatozoon dengan 22 buah cromosom biasa dan sebuah x kromosom membuahi sebuah sel telur maka terjadilah zigot dengan 44 cromosom biasa dan 2 buah x chromosom, nyatalah bahwa zigot ini akan menjadi anak perempua.
Jika spermatozoon dengan 22 buah kromosom biasa dan sebuah y kromosom membuahi sebuah sel telur,maka terjadilah zigot dengan 44 kromosom biasa , sebuah x kromosom dan sebuah y cromosom , maka zyigot ini akan menjadi anak laki-laki.


Thursday, May 21, 2009

Komplikasi Diabetes Melitus Tipe II

a. Komplikasi akut
1) Hipoglikemia
Hipoglikemia (kadar gula darah yang abnormal rendah) terjadi apabila kadar glukosa darah turun dibawah 50 mg/ dl. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian ini dapat terjadi sebeum makan, khususnya jika makan yang tertunda atau bila pasien lupa makan camilan.
Gejala hipoglikemia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori : gejala adrenergik dan gejala sistem saraf pusat.
a) Hipoglikemia ringan
Ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatis akan terangsang. Pelimpahan adrenalin kedalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takhikardia, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
b) Hipoglikemia Sedang
Penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapatkan cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, confuse, penurunan daya ingat, mati rasa didaerah bibir serta lidah, bicara rero, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, pengllihatan ganda, dan perasaan ingin pingsan
c) Hipoglikemia Berat
Fungsi sitem saraf pusat menagalami gangguan yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi Hipoglikemia yang dideritanya. Gejala dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan, atau bahkan kehilangan kesadaran.

2) Diabetes Ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukup jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran klinik yang penting pada diabetes ketoasidosis :
(1) Dehidrasi
(2) Kehilangan elektrolit
(3) Asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang, maka jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Selain itu prroduksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali, kedua faktor tersebut akan mengakibatkan hiperglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa dalam tubuh, ginjal akan mensekresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (natriun dan kalium). Diuresis osmotik yang ditandai oleh urinasi yang berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit.
3) Syndrom Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik (SHHNK)
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hipergklikemia yang disertai perubahan tingkat kesadaran (Sense of Awareness). Keadaan hiperglikemia persisten menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit. Untuk mempertahankan keseimbangan osmotik, cairan akan berpindah dari intrasel keruang ekstrasel. Dengan adanya glukosuria dan dehidrasi, maka akan dijumpai keadaan hipernatremia dan peningkatan osmolaritas.
b. Komplikasi Kronik
Komplikasi kronik dari diabetes mellitus dapat menyerang semua sistem organ tubuh. Kategori komplikasi kronik diabetes yang lajim digunakan adalah penyakit makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neurologis.
1) Komplikasi Makrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering terjadi pada diabetes. Perubahan aterosklerotik ini serupa degan pasien-pasien non diabetik, kecuali dalam hal bahwa perubahan tersebut cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dengan frekuensi yang lebih besar pada pasien-pasien diabetes. Berbagai tipe penyakit makrovaskuler dapat terjadi tergantung pada lokasi lesi ateerosklerotik.
Aterosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah arteri koroner, maka akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Sedangkan aterosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah serebral, akan menyebabkan stroke infark dengan jenis TIA (Transiennt Ischemic Attack). Selain itu ateerosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah besar ekstremitas bawah, akan menyebabkan penyakit okluisif arteri perifer atau penyakit vaskuler perifer.
2) Komplikasi Mikrovaskeler
a) Retinopati Diabetik
Disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah kecil pada retina mata, bagian ini mengandung banyak sekali pembuluh darah dari berbagai jenis pembuluh darah arteri serta vena yang kecil, arteriol, venula dan kapiler.
b) Nefropati Diabetik
Bila kadar gluoksa darah meninggi maka mekanisme filtrasi ginjal ajkan mengalami stress yang mengakibatkan kebocoran protein darah ke dalam urin. Sebagai akibatnya tekanan dalam pembuluh darah ginjal meningkat. Kenaikan tekanan tersebut diperkirakan berperan sebagai stimulus untuk terjadinya nefropati
c) Neuropati Diabetikum
Dua tipe neuropati diabetik yang paling sering dijumpai adalah :
(1) Polineuropati Sensorik
Polineuropati sensorik disebut juga neuropati perifer. Neuropati perifer sering mengenai bagian distal serabut saraf, khususnya saraf extremitas bagian bawah. Kelainan ini mengenai kedua sisi tubuh dengan distribusi yang simetris dan secara progresif dapat meluas ke arah proksimal. Gejala permulaanya adalah parastesia (rasa tertusuk-tusuk, kesemutan dan peningkatan kepekaan) dan rasa terbakar (khususnya pada malam hari). Dengan bertambah lanjutnya neuropati ini kaki akan terasa baal.
Penurunan sensibilitas terhadap sentuhan ringan dan penurunan sensibilitas nyeri dan suhu membuat penderita neuropati beresiko untuk mengalami cedera dan infeksi pada kaki tanpa diketahui.
(2) Neuropati Otonom (Mononeuropati)
Neuropati pada system saraf otonom mengakibatkan berbagai fungsi yang mengenai hampir seluruh system organ tubuh. Ada lima akibat utama dari neuropati otonom (Smeltzer, B, alih bahasa Kuncara, H.Y, dkk., 2001 : 1256-1275) antara lain :
(a) Kardiovaskuler
Tiga manifestasi neuropati pada sistem kardiovaskuler adalah frekuensi denyut jantung yang meningkat tetapi menetap, hipotensi ortostatik, dan infark miokard tanpa nyeri atau “silent infark”.
(b) Pencernaan
Kelambatan pengosongan lambung dapat terjadi dengan gejala khas, seperti perasaan cepat kenyang, kembung, mual dan muntah. Konstipasi atau diare diabetik (khususnya diare nokturia) juga menyrtai neuropati otonom gastrointestinal.
(c) Perkemihan
Retensi urine penurunan kemampuan untuk merasakan kandung kemih yamg penuh dan gejala neurologik bladder memiliki predisposisi untuk mengalami infeksi saluran kemih. Hal ini terjadi pada pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol, mengingat keadaan hiperglikemia akan mengganggu resistensi terhadap infeksi.
(d) Kelenjar Adrenal (“Hypoglikemik Unawarenass”)
Neuropati otonom pada medulla adrenal menyebabkan tidak adanya atau kurangnya gejala hipoglikemia. Ketidakmampua klien untu mendeteksi tanda-tanda peringatan hipoglikemia akan membawa mereka kepada resiko untuk mengalami hipogllikemi yang berbahaya.
(e) Disfungsi Seksual
Disfungsi Seksual khususnya impotensi pada laki-laki merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling ditakuti. Efek neuropati otonom pada fungsi seksual wanita tidak pernah tercatat dengan jelas

Dampak Defisiensi Insulin terhadap system tubuh

Defisiensi insulin mempengaruhi metabolisme tubuh yang berdampak terhadap system tubuh yaitu :
a. Dampak terhadap fisik
1) Sistem endokrin
Defisiensi insulin menyebabkan kegagalan dalam pemasukan nutrisi kejaringan sehingga swell-sel kekurangan glukosa yang menimbulkan :
a. Sel kekurangan glukosa untuk proses metabolisme dan penurunan penggunaan dan aktivitas gluosa dalam sel akan merangsang pusat lapar
b. Penurunan penggunaan protein dan glukosa oleh jaringan sehingga menyebabkan penurunan berat badan
c. Pembongkaran lemak dan cadangan protein untuk memenuhi kebutuhan metabolisme proses ini menghasilkan benda-benda keton yang disebabkan hati yang tidak mampu menetralisir lemak. Penumpukan asam lemak ini akan mengiritasi memperoleh peningkatan sekresi asam lambung sehingga menimbulkan gangguan system ini berdampak terhadap gangguan kebutuhan nutrisi
2 ) Sistem Kardiovaskuler
Peningkatan kadar glukosa darah akan mengakibatkan penumpukan sorbitol dan lemak pada tunika intima sehingga pembuluh darah mengalami penyempitan. Jika hal ini terjadi maka suplai O2 dan nutrisi akan berkurang kejaringan dan terjadilah infark pada jaringan yang dituju, apabila mengenai pembuluh darah perifer akan menimbulkan efek penurunan sensasi sehingga akan terjadi gangrene ekstremitas bila terjadi trauma. Dan jika terjadi pada arteri jantung akan menyebabkan angina pectoris dan akut miokard imfark.

3 ) Sistem pencernaan
Defisiensi insulin menyebabkan kegagalan dalam pemasukan glukosa kejaringan sehingga sel-sel kekurangan glukosa. Proses kekurangan glukosa intra sel menimbulkan :
 Peningkatan penggunan protein dan glukogen oleh jaringan sehingga menyebabkan penurunan berat badan.
 Pembongkaran lemak dan cadangan protein untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Hal ini akan diperberat oleh peningkatan sekresi asam lambung sehingga menimbulkan perasaan mual, muntah.
 Peningkatan transport glukosa untuk proses metabolisme. Penurunan penggunaan dan aktivitas glukosa dalam sel akan merangsang pusat makan dibagian lateral hypothalamus, sehingga timbul peningkatan perasaan lapar ( poliphagi )
4 ) Sistem perkemihan
Kekurangan pemasukan glukosa kedalam sel menyebabkan peningkatan volume extra sel sehingga terjadi peningkatan osmolalitas sel yang akan merangsang hypothalamus untuk mengsekresikan ADH dan merangsang pusat haus di bagian lateral. Pada fase ini klien akan merasakan haus dan penurunan produksi urine sehingga volume cairan extra sel bertambah. Peningkatan volume cairan akan menyebabkan konsentrasi extra sel menurun sehingga cairan intra sel menurun. Penurunan volume intra sel merangsang volume reseptor diHipothalamus untuk menekan sekresi ADH sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah melebihi ambang ginjal. Diuresis osmotic akan mempercepat pengisian vesika urinaria sehingga merangsang keinginan berkemih ( poliuri ) dan kondisi ini bertambah pada mlam hari karena terjadi vasokonstriksi akibat penurunan suhu sehingga timbul nokturi. Selain itu gangguan system perkemihan juga terjadi akibat adanya kerusakan ginjal ( netropati ) hal ini disebabkan adanya penurunan perfusi kedaerah ginjal.
Gangguan ini dapat berdampak :
 Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
 Gangguan pola eliminasi BAK
 Perubahan pola istirahat tidur
5 ) Sistem Muskuloskeletal
Defisiensi insulin menghambat transportasi glukosa kesel-sel dalam jaringan tubuh yang menyebabkan sel kelaparan dan terjadi peningkatan glukosa dalam darah menyebabkan hambatan dalam perfusi ke jaringan yang mengakibatkan jaringan kurang mendapat O2 dan nutrisi.
Penurunan transport glukosa kesel dan penurunan O2 dan nutrisi kesel menyebabkan sel kekurangan bahan untuk metabolisme sehingga energi yang dihasilkan berkurang yang berdampak timbulnya kelemahan. Selain itu defisiensi insulin menyebabkan penurunan jumlah sintesa glikogen dalam otot serta peningkatan metabolisme protein yang berguna untuk pertumbuhan sel-sel tubuh.
Dampak terhadap kebutuhan dasar manusia :
• Gangguan pemenuhan aktivitas
• Resiko terjadi kecelakaan


6 ) Sistem Integumen
Defisiensi insulin dapat berdampak pada integritas kulit yang bisa disebabkan oleh neuropati diabetes dan angiopati diabetes , angiopati diabetes akan menyebabkan peurunan sensasi sehingga pengontrolan terhadap trauma mekanis, termis dan kimia menurun, hal ini akan memudahkan terkena luka yang mengancam keutuhan kulit sedangkan teori yang lain mendasari kerusakan kulit adanya kerusakan membrane basalis yang terjadi akibat adanya penumpukan endapan lipoprotein sehingga menyebabkan kebocoran protein dan butir-butir darah.
Pertahanan dan perfusi jaringan menurun dengan akibat kulit mudah infeksi, luka sukar sembuh, mudah selulit gangrene. Dampaknya :
 Gangguan rasa nyaman nyeri dan gatal
 Gangguan integritas kulit
 Gangguan konsep diri
7 ) Sistem Persyarafan
Defisiensi insulin menumbulkan hambatan, pemasukan glukosa kedalam sel termasuk sel-sel syaraf, sehingga mengganggu proses metabolisme sel syaraf. Akibat kekurangan glukosa sebagai bahan metabolisme maka sel akan menggunakan cadangan protein. Hal ini mengakibatkan sel kekurangan protein, akan mempengaruhi pembentukan myelin yang berfungsi untuk menghantarkan impuls pada akson, selain itu akan menyebabkan kerusakan akson tidak dapat mengantarkan impuls dengan sempurna selain kekurangan protein, kegagalan metabolisme sel saraf dapat menyebabkan hambatan dalam konduksi saraf dan polarisasi membrane akibat penurunan ATP. Perubahan-perubahan diatas menyebabkan gangguan polineropatik perifer yang ditandai kurangnya sensasi apda ujung-ujung ekstremitas bawah.
Dampaknya :
 Potensial terjadi kecelakaan
 Resiko terjadi infeksi
8 ) Sistem Reproduksi
Defisiensi insulin dapat menyebabkan terjadinya impotensi pada laki-laki dan penurunan libido pada wanita. Hal ini disebabkan oleh adanya hambatan pengikatan ekstra diar pada gugus protein akibat kegagalan metabolisme protein. Pada wanita sering juga terdapat keluhan keputihan disebabkan infeksi kandida.
Dampaknya :
 Gangguan pemenuhan kebutuhan seksual
9 ) Sistem Pancaindra
Hiperglikemi akan mengakibatkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu yang dapat mentranspor glikosa tanpa memerlukan insulin, glukosa yang berlebihan ini tidak bermetabolisme habis secara normal melalui glukolisis tetapi sebagian dengan pertolongan enzim aldose reduktase atau diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan bertumpuk dalam jaringan / sel tersebut, sehingga menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi. Teori ini mendasari kelainan diabetes mellitus pada mata dengan adanya retinopati, selain itu pada penderita DM bisa ditemukan adanya katarak, hal ini disebabkan pengendapan lipoprotein pada lensa mata, kelainan ini berdampak :
 Gangguan penurunan sensori ; penglihatan
 Resiko terhadap cedera
b. Dampak terhadap psikologis
Klien yang mengalami defisiensi yang kronik akan mempengaruhi psikologisnya, respon psikologis bervariasi tergantung koping yang dimiliki klien. Umumnya klien merasa bosan denagn program pengobatan yang lama serta harus menyesuaikan denagn pembatasan- pembatasan makanan yang diberikan.
c. Dampak terhadap social
Dari keterbatasan makanan, kelemahan tubuhnya dalam melaksanakan aktivitas dan penampilan keadaan tubuhnya pada klien dengan gangguan defisiensi ini akan mengakibatkan klien untuk menarik diri dan mengurangi interaksi social.
d. Dampak terhadap Spiritual
Pada klien yang mengalami DM akan merasa bosan pada program pengobatan dan pembatasan makanan yang diberikan serta ketidak berdayaan akibat kelemahan tubuhnya maka dapat mengakibatkan klien menjadi putus asa tidak semangat untuk hidup.



Anatomi Tulang Tibia

a. Tulang Tibia
Tulang adalah suatu jaringan yang membentuk yang menghasilakn sel-sel darah merah dan menyediakan mineral, partikel kalsium dan posfor. ( Tompson 1993 : 349 )
Sedangkan tulang tibia atau tulang kering merupakan kerangka utama dari tungkai bawah dan terletak medial dari fibula, tulang tibia terdiri dari :
• Ujung atas
Ujung atas akan memperlihatkan adanya kondil medial dan kondil lateral. Kondil-kondil ini merupakan bagian yang paling atas dan paling pinggir dari tulang. Permukaan superiornya memperlihatkan dua dataran permukaan persendian untuk femur dalam formasi sendi lutut. Permukaan permukaan tersebut halus dan diatas permukaannya yang datar terdapat tulang rawan semilunar ( setengah bulan ) yang membuat persendian lebih dalam untuk penerimaan kondil femur.

KOndil lateral memperlihatkan posterior sebuah faset untuk persendian dengan kepala fibula pada sendi tibi fibular superior tuberkel dan tibia ada disebelah depan tepat dibawah kondil-kondil ini, bagian depan memberi kaitan kepada tendon patella yaitu tendon dari insersi otot ekstensor kwardisep. Bagian bawah dari tuberkel itu adalah subkutanus dan sewaktu berlutut menyangga berat badan.
(Tompson 1993:349)

Kurangnya Informasi Tentang Diet Pada Hyperemesis Gravidarum III

DIET PADA HYPEREMESIS GRAVIDARUM III

 Pengertian
Diet pada Hyperemesis Gravidarum adalah pengaturan pola makan pada Hyperemesis Gravidarum (penyakit khas pada kehamilan yang timbul pada waktu hamil muda).

 Gejala – Gejala
♪ Muntah yang hebat
♪ Haus / Dehidrasi
♪ BB menurun
♪ Kesadaran menurun
♪ Mata terlihat kuning
♪ Demam > 38 0C
♪ Nadi cepat (diatas 130 x / menit)

 Tujuan Diet
☺ Secara berangsur memberikan makanan cukup energi dan zat gizi
☺ Mengganti persediaan glikogen dan mengontrol acidosis

 Syarat Diet
 Tinggi karbohidrat dan rendah lemak
 Makanan diberikan dalam bentuk kering
 Pemberian cairan disesuaikan dengan keadaan penderita
 Mudah cerna, tidak merangsang dan diberikan dalam porsi kecil tapi sering
 Menurut keadaan penderita secara berangsur diberikan yang memenuhi syarat gizi
 Hindari makanan berlemak karena akan menyebabkan rasa mual
 Berikan suplemen vitamin B6, B1, B kompleks dan vitamin C seperti buah-buahan.

 Makanan/ Minuman Yang Boleh Dan Tidak Boleh Dikonsumsi Penderita Hyperemesis Gravidarum
 Makanan yang boleh diberikan
- Roti panggang, biskuit, krakers (dapat dimakan bersama selai)
- Buah-buahan segar dan sari buah
- Minuman ringan (pokari sweet, coca-cola, fanta, kaldu tidak berlemak, teh dan kopi encer)
 Makanan yang tidak boleh diberikan
- Goreng-gorengan dan makanan berlemak
- Makanan berbumbu dan berbau merangsang


Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi

Pengertian Nutrisi
Nutrisi adalah semua makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh baik untuk mempertahankan keseimbangan metabolisme ataupun sebagai pembangun.

Pengaruh Penyakit ginjal Terhadap tubuh
Ginjal bertanggung jawab untuk mempertahankan komposisi kimia semua cairan tubuh. Berbagai penyakit dapat mempengaruhi ginjal. Bila terjadi kegagalan, maka sulit mengontrol kandungan natrium, kalium dan nitrogen serta hasil metabolisme tubuh, sehingga akan terjadi peningkatan.

Pembatasan Diet Bagi Penderita Gagal Ginjal Akut
Tujuan dari pembatasan diet adalah untuk menurunkan produksi sampah yang harus diekeluarkan oleh ginjal dan menghindari ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Yang harus dibatasi pada penderita gagal ginjal adalah :
a. Protein
Protein harus dibatasi pada penderita gagal ginjal,pemasukan protein adalah 0,6 g/kg BB untuk setiap harinya. Protein dapat ditemukan pada telur, daging, ayam, ikan dan susu dan produk-produk yang dibuat dari susu.

b. Kalori
Kalori dapat kita temukan pada makanan yang mengandung karbohidrat. Pasien dengan gagal ginjal harus membatasi masukan kalori yang didalamnya terkandung natrium, kalium dan protein.. makanan yang mengandung kalori tetapi tidak sedikit mengandung natrium, kalium dan protein adalah lemak seperti mentega atau margarin yang tidak asin dan minyak goreng, dan karbohidrat sederhana seperti gula pasir, selai, sirup, permen.

c. Natrium
Pada penderita gagal ginjal, natrium harus dikurangi atau dibatasi. Makanan yang mengandung natrium adalah : garam, makanan yang di asap atau diawetkan seperti daging-dagingan, bumbu-bumbu seperti bawang, saus, kecap, acar, serta keju.
d. Kalium
Sumber kalium yang paling kaya adalah daging, produk susu, buah-buahan dan sayuran. Pemasukan kalium dapat dikurangi dengan memilih buah-buahan dan sayuran kaleng yang dibuat tanpa menggunakan garam daripada buah-buahan dan sayuran segar atau beku. Kandungan kalium pada buah-buahan dan sayuran segar dapat dikurangi dengan memotong menjadi potongan-potongan kecil dan direndam atau dimasak dengan air dalam jumlah banyak, dan kemudian buang airnya

Sumber : Terapi Diet dan Nutrisi Edisi II, Mary Courtney Moore, 1997

SAP Episiotomy- potensial infeksi berhubungan dengan ketidaktahuan klien dan keluarga tentang perawatan luka episiotomy

Episiotomy
A. Pengertian
Episiotomy adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptura perinea totalis (sobekan pada perineum dengan pinggiran luka tidak teratur)

B. Tujuan perawatan luka Episiotomy
 Membersihkan luka episiotomy
 Mencegah infeksi
 Mempercepat penyembuhan luka
 Memberikan rasa nyaman pada pasien

C. Karakteristik Luka Infeksi dan tidak Infeksi
1. Luka infeksi
 Luka tampak kotor
 Luka banyak nanah
 Berbau
 Bengkak
2. Luka tidak infeksi
 Luka tampak bersih
 Tidak bernanah
 Tidak berbau
 Tidak bengkak

D. Perawatan Luka
Persiapan alat :
1. Pengalas
2. Kapas sublimate
3. Sarung tangan/pinset anatomis 2 buah
4. Kain kasa 2 buah
5. Pispot
6. Selimut ekstra
7. Tisue
8. Obat merah/bethadine
9. Lidi kapas
10. Pembalut
11. Botol cebok
12. Korentang
Langkah-langkah :
1. Cuci tangan
2. Bantu klien untuk mengambil posisi dorsal rekumbent
3. Letakan pengalas dibawah bokong klien
4. Selimuti klien dengan meletakan selimut mandi
5. Buka pakaian bawah klien
6. Buka bak instrumen
7. Pakai sarung tangan
8. Regangkan labia dengan tangan nondominan, bersihkan labia mayora dengan tangan dominan menggunakan kapas sublimat
9. Lakukan seperti langkah 8 untuk membersihkan labia minora
10. Bersihkan area perinium dari depan ke belakang (anus)
11. Buka sarung tangan
12. Ambil kapas betadine dengan pinset anatomis
13. Oleskan pada daerah perinium
14. Gunakan pembalut jika perlu
15. Rapikan pasien dan alat
16. Cuci tangan


SATUAN ACARA PENYULUHAN

Masalah : potensial infeksi berhubungan dengan ketidaktahuan klien dan keluarga tentang perawatan luka episiotomy
Pokok bahasan : episiotomy
Sub Pokok Bahasan : perawatan luka episiotomy
Sasaran : Ny. A dengan Episiotomy dan tidak mampu merawat luka sendiri (totally care)
Waktu : 20 menit
Tempat :  
Pertemuan : I (satu)
Penyuluh :  
Tanggal :  

I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan klien dan keluarga mampu mengetahui perawatan luka episiotomy sendiri di rumah.

II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 20 menit, klien dan keluarga dapat :
a. Menyebutkan pengertian luka episiotomy
b. Menyebutkan tujuan perawatan luka episiotomy
c. Menyebutka karakteristik luka infeksi dan tidak infeksi
d. Menyebutkan alat-alat perawatan luka episiotomy
e. Mendemonstrasikan perawatan luka episiotomy

III. Materi Penyuluhan
a. Pengertian luka episiotomy
b. Tujuan perawatan luka episiotomy
c. Karakteristik luka infeksi dan tidak infeksi
d. Alat-alat perawtan luka episiotomy
e. Prosedur perawatan luka episiotomy

IV. Kegiatan Belajar Mengajar
A. Metoda : diskusi, tanya jawab dan demonstrasi
B. Langkah-langkah kegiatan :
1) Pra Pembelajaran
 Mempersiapkan materi
 Mempersiapkan tempat
 Mempersiapkan media dan alat
2) Kegiatan membuka Pembelajaran
 Memberi salam
 Memperkenalkan diri
 Menjelaskan maksud dan tujuan
 Kontrak waktu
 Apersepsi
3) Inti Pembelajaran
 Menjelaskan pengertian luka episiotomy
 Menjelaskan tujuan perawatan luka episiotomy
 Menjelaskan karakterisktik luka infeksi dan luka tidak infeksi
 Menyebutkan alat-alat perawatan luka episiotomy
 Menjelaskan tekhnik perawatan luka episiotomy
4) Penutup
 Mengadakan evaluasi dengan post test lisan
 Sasaran menjawab pertanyaan
 Menyimpulkan apa yang akan disampaikan
 Mengucapkan terima kasih
 Mengucapkan salam




V. Media dan Sumber
Media : leaflet
Sumber :
• Ilmu Kebidanan, YBPSP, Jakarta, 1999
• Maternity Nursing Care of the Child Bearing Family, Third edition
• Obstetri Fisiologi, FK UNPAD, Bandung
• Sinopsis Obstetri


Tuesday, May 19, 2009

Epilepsi dan Jenis-Jenis Serangan dan Bagaimana Menolong orang yang Epilepsi

Epilepsi merupakan suatu keadaan fisik yang terjadi secara tiba-tiba, disebabkan karena perubahan mendadak dalam kerja otak
1. Epilepsi Idiopatik
Penyebabnya tidak diketahui karena tidak dapat dibuktikan adanya lesi pada otak.
2. Epilepsi Simptomatik / Sekunder
Adanya serebral yang mempermudah terjadinya respon kejang.
Aura merupakan aktivitas otak sebagai suatu indikasi sensorik yang menyatakan bahwa serangan akan timbul. Aura ini dapat berupa suatu sensasi penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa ketakutan, atau sakit dan perasaan yang ganjil, yang hanya berlangsung beberapa saat
Jenis-Jenis Serangan Pada epilepsi
a. Serangan Parsial
1. Parsial Sederhana / Jackson
Kesadaran tidak terganggu, awitan fokal. Diikuti dengan kejang pada jari/wajah lalu menyebar keseluruh sisi tubuh.
2. Parsial Kompleks / Psikomotor
Penderita sadar ketika serangan tetapi tidak dapat mengingat kembali kejadian yang telah terjadi (Jamais-Vu), adanya gerakan otomatis yang tidak bertujuan (bertepuk tangan, mengecap-ngecap bibir, gerakan mengunyah). Kenal dengan kejadian yang belum pernah dialaminya (Deja-Vu), halusinasi, perilaku antisosial.

b. Serangan Umum
1. Absence / Petit Mal
Kesadaran hilang selama beberapa detik ditandai dengan berhenti bicara sejenak, pandangan kosong dan mata berkedi-kedip dengan cepat.
2. Tonik Klonik / Grand Mal
Epilepsi dengan serangan klasik biasanya diawali dengan suatu aura. Kesadaran hilang, kejang tonik klonik (terus menerus) tidak bisa menahan kencing dan berak, bingung dan amnesia terhadap kejadian sewaktu terjadi serangan.
Pertolongan pada penderita dengan konvulsi/kejang
1. Bersikap tenang.
2. Hindarkan benda-benda tajam
3. Longgarkan benda di sekitar leher yang mungkin mengganggu pernapasan.
4. Letakan bantalan yang lembut dibawah kepalanya.
5. Miringkan penderita agar jalan udara pernapasan tidak terhambat. Jangan memaksa membuka mulut penderita dengan benda keras atau dengan jari.
6. Jangan memegang penderita dengan paksa atau mencoba menghentikan gerakannya.
7. Jangan berikan pernapasan buatan, kecuali jika penderita tidak dapat bernapas lagi setelah serangan berhenti.
8. Tetaplah berada dekat penderita sampai serangannya berhenti dengan sendirinya.
9. Besikaplah ramah dan meyakinkan setelah penderita sadar.
Pertolongan Pada Penderita Yang menghadapi serangan Tanpa Kejang
1. Jagalah penderita dengan baik dan terangkan apa yang terjadi pada orang-orang sekitar.
2. Bicaralah denga ramah dan pelan.
3. Jauhkan penderita dari bahaya yang mungkin timbul seperti tangga yang curam, jalan raya, kompor. Jangan pegang kuat-kuat kecuali jika ada bahaya yang mengancam.
4. Temanilah penderita sampai kesadarannya pulih kembali.

Monday, May 18, 2009

Anatomi dan Fisiologi Ginjal

a. Anatomi ginjal
1) Makroskopis
Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor). Ginjal pada orang dewasa penjangnya sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan berat kedua ginjal kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau ginjal beratnya antara 120-150 gram.
Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada 2 buah yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan dua daerah yang berbeda yaitu korteks dan medulla.

Medulla terbagi menjadi baji segitiga yang disebut piramid. Piramid-piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid membentuk duktus papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul (Price,1995 : 773).

2) Mikroskopis
Tiap tubulus ginjal dan glumerulusnya membentuk satu kesatuan (nefron). Nefron adalah unit fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang mengosongkan diri keduktus pengumpul. (Price, 1995)
3) Vaskularisasi ginjal
Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kavainferior yang terletak disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam hilus, arteri tersebut bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara piramid selanjutnya membentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola interlobularis yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini kemudian membentuk arteriola aferen pada glomerulus (Price, 1995).

Glomeruli bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler peritubular. Darah yang mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena selanjutnya menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh sekitar 1200 ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal berada pada korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat khusus aliran darah ginjal adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal arteiol afferen mempunyai kapasitas intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap perubahan tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus tetap konstan ( Price, 1995).
4) Persarafan pada ginjal
Menurut Price (1995) “Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor), saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk kedalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal”.

b. Fisiologi ginjal
Menurut Syaifuddin (1995) “Fungsi ginjal yaitu mengeluarkan zat-zat toksik atau racun; mempertahankan keseimbangan cairan; mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh; mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh; mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir sari protein ureum, kreatinin dan amoniak”.
Tiga tahap pembentukan urine :
1) Filtrasi glomerular
Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler.
2) Reabsorpsi
Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu : non elektrolit, elektrolit dan air. Setelah filtrasi langkah kedua adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang sudah difiltrasi.
3) Sekresi
Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion hidrogen.
Pada tubulus distalis, transfor aktif natrium sistem carier yang juga telibat dalam sekresi hidrogen dan ion-ion kalium tubular. Dalam hubungan ini, tiap kali carier membawa natrium keluar dari cairan tubular, cariernya bisa hidrogen atau ion kalium kedalam cairan tubular “perjalanannya kembali” jadi, untuk setiap ion natrium yang diabsorpsi, hidrogen atau kalium harus disekresi dan sebaliknya.
Pilihan kation yang akan disekresi tergantung pada konsentrasi cairan ekstratubular (CES) dari ion-ion ini (hidrogen dan kalium).
Pengetahuan tentang pertukaran kation dalam tubulus distalis ini membantu kita memahami beberapa hubungan yang dimiliki elektrolit dengan lainnya. Sebagai contoh, kita dapat mengerti mengapa bloker aldosteron dapat menyebabkan hiperkalemia atau mengapa pada awalnya dapat terjadi penurunan kalium plasma ketika asidosis berat dikoreksi secara theurapeutik.


Sunday, May 17, 2009

Infeksi Saluran Reproduksi

A. Infeksi Saluran Reproduksi
1. ISR tanpa melalui hubungan seksual
Penyakit ini lebih banyak terjadi akbat kuman yang terdapat pada saluran vagina mengalami pertumbuhan secara luar biasa. Contoh: bacterial viginosis dan berbagai penyakit sejenis jamur candida.
2. ISR melalui hubungan seksual (PMS)
Penyakit yang ditularkan melalui seksual antara lain penyakit gonorrhoea (GO), sifilis, hepatitis Berhubungan dengan, herpes simpleks, trichomonas vaginalis, HIV/ AIDS dan lain-lain.
Gejala dapat berupa:
- Keluarnya cairan tubuh dari alat kelamin yaitu penyakit gonorrhoea, chlamydia.
- Luka pada alat kelamin yaitu sifilis, herpes simpleks.
- Timbul benjolan atau tumor seperti jengger ayam, yaitu penyakit kondiloma akuminata.
- Pembengkakan kelenjar inguinal testis/ skrotum yaitu GO, clamidia
- Radang mata pad bayi akibat GO, clamidia yang ditularkan melaui jalan lahir.
- Tanpa gejala pada tahap permulaan yaitu hepatitis Berhubungan dengan dan infeksi HIV/AIDS
- Pada perempuan: keluarnya cairan dari vagina (keputihan) dan nyeri perut kronis (pada bagian bawah)
- Pada laki-laki: keluarnya cairan dari penis selain sperma atau urine, pembengkakan testis atau skrotum, penyempitan saluran kencing.


B. HIV/AIDS
1. Pengertian
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency virus) yang merusak sebagian dari sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga orang tersebut mudah terkena penyakit yang tidak lazim. (DEPKES RI, 1997).
2. Penyebab
Penyebab dari AID adalah HIV yang akan menyerang sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh sehingga kibatnya hancur pertahanan tubuh sehingga orang yang terinfeksi HIV mudah terserang HIV.
Sebenarnya HIV mudah dihancurkan jika berada di luar tubuh manusia, tapi jika berada dalam tubuh manusia masih dalam penelitian.
3. Gejala- Gejala
Gejala umum AIDS adalah:
- Rasa lelah yang berkepanjangan
- Penurunan BB > dari 10 %
- Diare kronik selama 1 bulan lebih
- Demam lebih dari 1 bulan
- Sesak nafas dan batuk
- Pembengkakakn kelenjar getah bening diseluruh tubuh
- Infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh jamur
4. Cara Penularan (transmisi)
- Transmisi Seksual baik secara ano-genital, oro-genital maupun genito- genital.
- Transmisi non seksual:
Secara parenteral, yaitu melaui penggunaan jarum suntik atau alat tusuk lainnya dan melalui transfusi darah yang telah terkontaminasi HIV.
Secara trans plasenta, yaitu transmisi dari ibu kepada janinnya saat hamil atupun saat melahirkan
5. Cara Penularan Yang Belum Terbukti
- Lewat air susu ibu
- Lewat air liur/ saliva
- Lewat air mata
- Lewat Urin
- Lewat gigitan serangga
6. Cara Mencegah Infeksi HIV/AIDS
- Menghindari hubungan seksual sebelum menikah (abstinensia)
- Setia pada pasangan seksual
- Tidak menggunakan jarum suntik (jarum tato, jarum suntik dll) secara bersama-sama dan bergantian dengan orang lain
- Periksa darah yang akan ditransfusikan secara teliti
- Hindari singgungan antara kulit yang terluka dengan cairan atau darah pengidap HIV/AIDS
7. Pencegahan Penyebaran HIV/AIDS
- Isolasi, yaitu menempatkan penderita ditempat tersendiri baik kamar maupun alat sehari-harinya. Isolasi dilakukan terutama penderita yang mengalami infeksi pencernaan atau pernafasan seperti diare, batuk hebat atau alasan sosial dan psikologik.
- Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pertolongan pada penderita untuk melindungi penderita dari dan penolong dari nfeksi virus HIV atau kuman patogen lainnya.
- Merendam alat-alat bekas dipakai penderita dengandesinfektan atau direbus dengan iar mendidih selama 15-20 menit (khusus untuk alat-alat makan)
- Memberi pelapis plastik pada bantal dan kasur sehingga mudah dicuci.
Namun demikian dalam melaksanakan pencegahan tersebut diatas, jangan sampai kita mengucilkan mereka, karena untuk sementara ini hanya dengan memberinya perhatian untuk dapat mengurangi penderitaannya.

MATERI PENYULUHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

A. Pengertian
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan terutama oleh gigitan nyamuk aedes aegypti.

B. Ciri- Ciri Nyamuk Penyebar Penyakit
1. Warna hitam dengan bercak putih pada badan dan kaki
2. Hidup dan berkembang biak didalam rumah dan sekitarnya (bak mandi, tempayan, drum, kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung.
3. Hinggap pada pakaian yang bergantung, kelambu dan ditempat yang gelap dan lembab
4. Menggigit di siang hari
5. Kemampuan terbang kira-kira 100 meter

C. Tanda Dan Gejala Penyakit
1. Mendadak demam (panas tinggi), suhu badan antara 38C-40C atau lebih selama 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas.
2. Lemah/ lesu
3. Gelisah
4. Nyeri ulu hati
5. Tampak bintik-bintik merah
6. Kadang mimisan, berak darah atau muntah darah
7. Kesadaran menurun atau renjatan (shock)


D. Cara Penanganan Pertama
1. Berikan air minum yang banyak berupa oralit, the, susu dan lain-lain.
2. Kompres dingin pada ubun-ubun, lipatan paha dan ketiak.
3. Jika belum sembuh segera bawa ke dokter dan puskesmas terdekat
E. Pencegahan

1. Biologi : misalnya memelihara ikan pemakan jentik
2. Fisik
Dalam sekurang-kurangya seminggu sekali, maka cegahlah dengan cara 3 M :
a. Menguras bak mandi
b. Menutup tempat penampungan air
c. Mengubur atau menyingkirkan benda- benda yang dapat digenangi air seperti
3. Kimia : Dengan cara pemberian abatisasi, pengasapan dan foging.


















Diare, Penyebab,Bahaya, Tanda dan Gejala serta tata cara penyembuhannya

1. Pengertian Diare
Diare adalah berak encer atau cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam 24 jam.

2. Penyebab Diare
a. Minum air tidak dimasak
b. Makan jajanan kurang bersih
c. Makan dengan tangan yang kotor
d. Berak disembarang tempat
e. Mengguankan air kotor untuk keperluan sehari-hari
f. Makanan tidak ditutup sehingga dihinggapi lalat dan terkena debu dan kotoran
g. Ikan, jamur atau singkong dan makan makanan yang mengandung racun
h. Makanan dan minuman yang basi atau menggunakan zat pewarna berlebihan

3. Tanda Dan Gejala Diare
a. Berak encer atau cair lebih dari 3 kali dalam 24 jam
b. Gelisah dan rewel
c. Badan lemah dan lesu
d. Muntah-muntah
e. Rasa haus
f. Menurunnya nafsu makan

4. Bahaya Diare
a. Zat-zat gizi hilang dari tubuh
b. Penderita akan kehilangan cairan tubuh
c. Seseorang dengan diare tidak merasa lapar
d. Penderita tersebut menjadi lesu dan lemas
e. Penderita dapat meninggal bila kehilangan cairan tubuh lebih banyak

5. Pencegahan Diare
a. Berikan hanya ASI selama 4 – 6 bulan pertama dan teruskan menyusui paling kurang selama tahun pertama..
b. Berikan makanan penyapih bergizi yang bersih pada 4 – 6 bulan.
c. Berikan makanan yang baru dimasak dengan baik dengan menggunakan air bersih.
d. Semua anggota keluarga mencuci tangannya dengan air sabun sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan dan setelah berak.
e. Secepatnya membuang tinja anak kecil ke kakus.

6. Penatalaksanaan Diare di Rumah
Dengan Cara Membuat Larutan Gula Garam (LGG)
 Bahan dan alat yang diperlukan
1. Gula pasir sebanyak 1 (satu) sendok teh munjung
2. Garam dapur yang halus sebanyak ¼ (seperempat) sendok teh
3. Air masak atau air teh yang hangat (tidak selagi mendidih) sebanyak 1 (satu) gelas
4. Gelas belimbing / lainnya yang sama ukurannya, dan sendok teh

 Cara membuat larutan gula garam (LGG)
1. Sebelum membuat, cucilah tangan sampai bersih
2. Tuangkan air masak, atau air teh ke dalam gelas sebanyak 1 (satu) gelas
3. Masukkanlah “gula pasir” dan “garam” menurut takaran yang telah ditentukan
4. Aduklah sampai gula dan garam menjadi larut semua
5. Minumlah sebanyak anak mau. Bila habis dibuatkan lagi dengan cara yang sama.


Saturday, May 16, 2009

KONSEP DASAR SKIZOFRENIA DAN WAHAM

1. Pengertian
a. Skizoprenia
“Skizoprenia is a major mental disorder with psychotic symptoms marked by a profound with withdrawal from interpersonal relationships and cognitive perceptual disturbanced that make dealing with reality deficit” (Varcasolis, 1994 ; 493)
menurut kutipan diatas, skizoprenia adalah suatu kerusakan mental yang luas dengan gejala-gejala psikotik yang ditandai dengan menarik diri dari hubungan interpersonal dan adanya gangguan kognitif dan persepsi yang menyebabkan kesulitan dalam berhubungan dengan realita.
Skizoprenia merupakan psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses berfikir serta disharmoni (perpecahan atau kenekatan) antara proses berfikir, afek/ emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi menjadi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalenasi dan perilaku bizar (Maramis, 1998 : 766)
Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa skizoprenia adalah gangguan psikotik dimana dimanifestasikan dengan menarik diri dari hubungan interpersonal. Inkoherensi, afek dan emosi inadekuat,dapat dijumpai waham dan halusinasi yang membuat hubungan dengan dunia nyata menjadi sulit.

b. Skizoprenia hebefrenik
“Skizoprenia hebefrenik disebut juga dengan tipe disorganisasi ditandai dengan regresi yang nyata keperilaku primitif, terhibisi dan tidak teratur dan oleh tidak adanya gejala yang memenuhi criteria untuk tipe katatonik.” (Kaplan & Sadok diterjemahkan oleh Kusuma, Wijaja, 1997 : 710)
menurut Towsend (diterjemahkan daulina,N.H. 1998 : 143) menyatakan bahwa skizoprenia hebefrenik mempunyai perilaku khas regresi dan primitive, afek tidak sesuai dengan karakteristik wajah dungu, tertawa-tawa aneh, primitive, menangis dan menarik diri secara ekstrem dan komunikasi inkoheren secara konsisten.
Pada szikoprenia jenis ini permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara usia 15-25 tahun. Gejala yang mencolok ialah gangguan proses pikir, gangguan psikomotor seperti manneurisme, neurologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terjadi waham dan halusinasi banyak sekali. (Maramis, 1998 : 223)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa skizoprenia hebefrenik merupakan suatu bentuk skizoprenia yang ditandai dengan regresi yang nyata kearah primitive, inkoheren. Terdapat waham dan halusinasi, mannarisme dan menarik diri secara ekstrim.

c. Waham
Waham yaitu keyakinan tentang isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun kemustahilannya hal itu. (Maramis. W. F, 1990 : 117)
Waham yaitu gangguan proses pikir yang ditandai dengan keyakinan, ide-ide, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan (Rumah Sakit Jiwa Pusat Bandung, 1996 : 32)
Waham kebesaran yaitu keyakinan bahwa ia mempunyai kekuatan, pendidikan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa. (Maramis. W. F, 1990 : 118)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa waham adalah gangguan proses pikir yang ditandai dengan adanya keyakinan, ide-ide yang tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya biarpun dibuktikan kemustahilannya. Sedangkan waham kebesaran yaitu suatu keyakinan pembesar-besaran perasaan kepentingan, kekuatan, pendidikan, pengetahuan, kekayaan ataupun identitas seseorang.


KONSEP DASAR SKIZOFRENIA DAN WAHAM

1. Pengertian
a. Skizoprenia
“Skizoprenia is a major mental disorder with psychotic symptoms marked by a profound with withdrawal from interpersonal relationships and cognitive perceptual disturbanced that make dealing with reality deficit” (Varcasolis, 1994 ; 493)
menurut kutipan diatas, skizoprenia adalah suatu kerusakan mental yang luas dengan gejala-gejala psikotik yang ditandai dengan menarik diri dari hubungan interpersonal dan adanya gangguan kognitif dan persepsi yang menyebabkan kesulitan dalam berhubungan dengan realita.
Skizoprenia merupakan psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses berfikir serta disharmoni (perpecahan atau kenekatan) antara proses berfikir, afek/ emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi menjadi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalenasi dan perilaku bizar (Maramis, 1998 : 766)
Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa skizoprenia adalah gangguan psikotik dimana dimanifestasikan dengan menarik diri dari hubungan interpersonal. Inkoherensi, afek dan emosi inadekuat,dapat dijumpai waham dan halusinasi yang membuat hubungan dengan dunia nyata menjadi sulit.

b. Skizoprenia hebefrenik
“Skizoprenia hebefrenik disebut juga dengan tipe disorganisasi ditandai dengan regresi yang nyata keperilaku primitif, terhibisi dan tidak teratur dan oleh tidak adanya gejala yang memenuhi criteria untuk tipe katatonik.” (Kaplan & Sadok diterjemahkan oleh Kusuma, Wijaja, 1997 : 710)
menurut Towsend (diterjemahkan daulina,N.H. 1998 : 143) menyatakan bahwa skizoprenia hebefrenik mempunyai perilaku khas regresi dan primitive, afek tidak sesuai dengan karakteristik wajah dungu, tertawa-tawa aneh, primitive, menangis dan menarik diri secara ekstrem dan komunikasi inkoheren secara konsisten.
Pada szikoprenia jenis ini permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara usia 15-25 tahun. Gejala yang mencolok ialah gangguan proses pikir, gangguan psikomotor seperti manneurisme, neurologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terjadi waham dan halusinasi banyak sekali. (Maramis, 1998 : 223)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa skizoprenia hebefrenik merupakan suatu bentuk skizoprenia yang ditandai dengan regresi yang nyata kearah primitive, inkoheren. Terdapat waham dan halusinasi, mannarisme dan menarik diri secara ekstrim.

c. Waham
Waham yaitu keyakinan tentang isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun kemustahilannya hal itu. (Maramis. W. F, 1990 : 117)
Waham yaitu gangguan proses pikir yang ditandai dengan keyakinan, ide-ide, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan (Rumah Sakit Jiwa Pusat Bandung, 1996 : 32)
Waham kebesaran yaitu keyakinan bahwa ia mempunyai kekuatan, pendidikan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa. (Maramis. W. F, 1990 : 118)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa waham adalah gangguan proses pikir yang ditandai dengan adanya keyakinan, ide-ide yang tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya biarpun dibuktikan kemustahilannya. Sedangkan waham kebesaran yaitu suatu keyakinan pembesar-besaran perasaan kepentingan, kekuatan, pendidikan, pengetahuan, kekayaan ataupun identitas seseorang.


Dampak Gangguan Persepsi : Halusinasi Dengar Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia.

1. Kebutuhan Fisiologis
a. Nutrisi
Terjadi penurunan berat badan karena klien lebih berfokus pada halusinasinya, terlebih jika halusinasi sudah ke tahap lanjut, maka kebutuhan nutrisiklien akan terganggu karena halusinasi telah menguasai sehingga klien sulit untuk beraktivitas lain termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.
b. Istirahat tidur
Gangguan dalam istirahat tidur akan klien alami karena selain klien akan terganggu karena suara – suara halusinasi klien juga akan lebih berfokus pada halusinasinya itu yang pada akhirnya klien akan mengalami kecemasan dan ketegangan dan hal tersebut akan merangsang RAS (Reticular Activiting System ), sehingga klien akan sulit tidur.
c. Aktivitas sehari – hari
Klien yang mengalami halusinasi dengar sulit untuk melakukan aktivitas baik yang berkaitan dengan perawatan diri maupun aktivitas sehari – hari karena perhatiannya terganggu oleh halusinasi, baik pada tahap awal maupun lanjut ketika halusinasi telah menguasainya.
2. Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan
Tahap awal halusinasi, klien merasa aman dan nyaman dengan halusinasinya, karena klien menganggap halusinasi akan mengurangi ketegangannya, namun pada tahap lanjut klien akan merasa ketakutan karena halusinasi telah menguasainya.
3. Kebutuhan Rasa Cinta dan Memiliki
Klien akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ini, yaitu dengan membina hubungan interpersonal yang baik termasuk hubungan untuk mencintai dan dicintai karena adanya perasaan tidak percaya diri.

4. Kebutuhan Harga Diri
Klien dengan halusinasi dengar cenderung tidak mampu melakukan fungsi perannya dengan baik, didasari oleh kegagalan dalam waktu yang lama dan rasa tidak percaya mengakibatkan klien merasa tidak berharga, tidak berguna sehingga harga diri klien terganggu.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Umumnya klien dengan halusinasi tidak acuh tehadap diri sendiri maupun lingkungan, ini dikarenakan klien tidak dapat berhubungan dengan realita sehingga kebutuhan akan aktualisasi diri tidak tepenuhi.



Tanda Dan Gejala Halusinasi

Tanda dan gejala yang ditimbulkan pada individu yang mengalami halusinasi dengar:
a. Bicara, senyum dan tertawa sendiri.
b. Mengatakan mendengar suara.
c. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan.
d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata.
e. Tidak dapat mremusatkan konsentrasi / perhatian.
f. Pembicaraan kacau kadang tidak masuk akal.
g. Sikap curiga dan bermusuhan.
h. Menarik diri, menghindar dari orang lain.
i. Sulit membuat keputusan.
j. Ketakutan.
k. Mudah tersinggung, jengkel, mudah marah.
l. Menyalahkan diri sendiri / orang lain.
m. Tidak mampu melaksanakan asuhan mandiri : mandi, berpakaian.
n. Muka merah kadang pucat.
o. Ekspresi wajah tegang
p. Tekanan sdarah meningkat.
q. Nadi cepat.
r. Banyak keringat.
( Tim Direktorat Kesehatan Jiwa Bandung, 2002 : 26 )




Konsep Dasar Skizofrenia dan Penyebabnya

A. Konsep Dasar Skizofrenia
1. Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 2000 : 46).
Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik yangg kronik, sering mereda, namun hilang timbul dengan manifestasi klinis yang amat luas variasinya (Kaplan 2000 : 407)
Menurut Eugen Bleuler (Maramis, 1998 : 217) Skizofrenia adalah suatu gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses pikir, perasaan dan perbuatan.
Dari ketiga pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa skizofrenia merupakan suatu gambaran sindrom dengan berbagai macam penyebab dan perjalanan yang banyak dan beragam, dimana terjadi keretakan jiwa atau ketidak harmonisan dan ketidaksesuaian antara proses pikir, perasaan dan perbuatan serta hilang timbul dengan manisfestasi klinis yang beragam.

2. Etiologi
Dengan beragamnya presentasi gejala dan prognostik, maka tidak ada faktor etiologi yang dianggap kausatif. Oleh karena itu terdapat berbagai penyebab, antara lain :
a. Model Diatesis Stress
Merupakan model yang sering di gunakan. Model ini mengemukakan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis). Apabila hal tersebut dipengaruhi oleh stressor baik biologis, genetik, psikososial, dan lingkungan akan menimbulkan perkembangan gejala skizofrenia.

b. Faktor Biologis
Area otak utama yang terlibat dalam skizofrenia adalah sistem limbik, ganglia basalis, lobus frontalis. Sistem limbik berfungsi mengendalikan emosi. Pada skizofrenia terjadi penurunan daerah amigdala, hipokampus dan girus parahipokampus. Jika fungsi ini terganggu maka akan menimbulkan gejala skizofrenia yaitu terjadi gangguan emosi. Ganglia basalis berkaitan dengan pengendali pergerakan. Pada pasien dengan gejala skizofrenia memperlihatkan pergerakan yang aneh, seperti gaya berjalan yang kaku, menyeringaikan wajah dan stereotipik. Selain itu ganglia basalis berhubungan timbal balik dengan lobus frontalis sehingga jika terjadi kelainan pada area lobus frontalis maka akan mempengaruhi fungsi ganglia basalis.
c. Genetik
Telah banyak penelitian yang memastikan bahwa pengarus genetik sanat besar pada pasien skizofrenia. Kemabr monozigot memiliki angka kesesuaian yang tertinggi. Penelitian yang mutakhir telah menemukan bahwa pertanda kromosom yang berhubungan dengan skizofrenia adalah kromosom 5,11 dan 18 pada bagian lengan panjang dan kromosom 19 pada bagian lengan pendek, dan yang paling sering dilaporkan adalah terjadi pada kromosom X. Pada skizofrenia kromososm-kromosom ini mengalami kelainan yaitu saat mengkode dapat terjadi kekacauan seprti translokasi.
d. Faktor Psikososial
1) Teori Psikoanalitik
Teori psikoanalitik mengemukakan bahwa gejala skizofrenia mempunyai arti simbolik bagi pasien individual. Misalnya, fantasi tentang dunia akan berakhir mungkin menyatakan suatu perasaan bahwa dunia internal seseorang telah mengalami kerusakan. Perasaan kebesaran dapat mencerminkan narsisme yang direaktivasi dimana orang percaya bahw amereka adalah maha kuasa.

2) Teori Psikodinamik
Dasar dari teori dinamia adalah untuk mengerti dinamika pasien dan untuk mengerti makna simbolik dari gejala. Teori ini menganggap bahwa hipersensitivitas terhadap stimuli persepsi yang didasarkansecara kontitusional sebagai suatu defisit. Pendekatan psikodinamika berdasar bahwa gejala psikotik punya arti pada skizofrenia.

3. Tanda dan Gejala Skizofrenia
Tanda dan gejala skizofrenia menurut Maslim (2000 : 46)
a. Though echo : isi pikiran dirinya yang berulang atau berguna dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda.
Though isertion atau withdrawl : isi pikiran asing dari luar masuk ke dalam pikirannya oelh sesuatu dari luar dirinya.
Thought broadcasting : isi pikirnya keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.
b. Waham dikendalikan (delusion of control), waham dipengaruhi (delsion of influence), waham ketidakberdayaan (delision of passivity), persepsi terhadap mistik (delusional perception).
c. Halusinasi
d. Waham menetap jenis lainnya , yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa.
e. Arus pikir yang terputus atau yang mengalami sisipan, ayng berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan.
f. Perilaku katatonik
g. Gejala-gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial.
h. Adanya suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam suatu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, sikap malas, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial.

Menurut Bleurer, gejala skizofrenia dibagi dua, yaitu :
a. Gejala primer
1) Gangguan proses pikir (bentuk, langkah, dan isi pikir)
2) Gangguan afek dan emosi
3) Gangguan memori
4) Gejala psiomotor / gejala katatonik gangguan perbuatan
b. Gejala sekunder
1) Waham
2) Halusinasi
4. Tipe-tipe Skizofrenia
Dalam PPDGJ III skizofrenia terbagi menjadi :
a. Skizofrenia Paranoid
b. Skizofrenia Hebefrenik
c. Skizofrenia Katatonik
d. Skizofrenia tak terinci
e. Defrresi pasca skizofrenia
f. Skizofrenia Residual
g. Skizofrenia Simplek
h. Skizofrenia lainnya
i. Skizofrenia tak tergolongkan
Dari sekian banyak tipe skizofrenia, ada studi kasus ini akan dibahas lebih lanjut mengenai Skizofrenia Hebefrenik.
1) Pengertian
Skizofrenia Hebefrenik adalah permulaannya perlahan-lahan atau subakut, sering timbul pada masa remaja (antara 15-25), gejala yang dominan adalah ganguan proses pikir, gangguan kemauan, adanya defersonalisasi, gangguan psikomotor, neologisme, atau perilaku kekanak-kanakan, waham dan halusinasi.
2) Tanda dan Gejala
a) Reaksi sikap dan tingkah laku yang tidak logis, suka tertawa-tawa, kemudian menangis, sangat irritable atau muah tersinggung sering disertai sendirian dan penuh kemarahan.
b) Terjadi kemundura psikis, kekanak-kanakan, perasaan tumpul dan tidak logis.
c) Pikiran melantur, muka (grimasem) tanpa aa stimulus, halusinasi.
d) Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya, hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang diucapkan tidak ada hubungannya satu dengan yang lain.
e) Alam perasaaan (mood affect) yang datar tanpa ekspresi serta yang menunjukan rasa puas diri, atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
f) Waham tidak jelas dan tidak sistematis (terpecah-pecah) tidak terorganisir sebagai suatu kekuatan.
3) Pedoman Diagnostik
Skizofrenia Hebefrenik (PPDGJ III, Kode F 20.1)
a) Memenuhi kriteria umum diagnosa skizofrenia
b) Ditegakan pada usia remaja atau dewasa muda (15-25 tahun)
c) Kepribadian premorbid menunjukan ciri-ciri khas pemalu dan senang menyendiri.
Untuk meyakinkan diperlukan pengamatan selama 2-3 bulan untuk memastikan gambaran lihat yang bertahan, antara lain perilaku yang tidak bertanggungjawab dan tidak dapat di ramalkan, kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan perilaku tanpa tujuan dan perasaan :
- Afek dangkal dan tidak wajar
- Proses fikir mengalami disorganisasi dan topik pembicaraan tidak menentu (inkoheren)
- Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham biasanya ada tetapi tidak menonjol.

B. Konsep Dasar Halusinasi
1. Pengertian
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan atau stimulus.
( Hawari, 1996: 289 ). Pengertian lain mengemukakan bahwa halusinasi merupakan penginderaan tanpa sumber rangsangan eksternal. Hal ini desebabkan oleh distorsi atau ilusi yang merupakan tanggapan yang salah dari rangsangan yang nyata ada. Pasien merasakan halusinasi sebagai sesuatu yang amat nyata, paling tidak untuk suatu saat tertentu. ( Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat: 267 ).
Halusinasi pendengaran adalah individu mendengar suara – suara atau bisikan – bisikan padahal tidak ada sumber dari suara atau bisikan itu. ( Hawari, 1996: 289 ).

PATOFISIOLOGI TRAUMA KEPALA DAN DAMPAK PADA SISTEM TUBUH LAINNYA

PATOFISIOLOGI
Jika terjadi trauma kepala dengan kekuatan/gaya akeselereasi, deselerasi dan rotatorik akan menimbulkan lesi atau perdarahan di berbagai tempat sehingga timbul gejala deficit neurologist berupa babinski yang positif dan GCS kurang dari 15 (Sindrom Otak Organik).
Dari trauma kepala tersebut juga bisa terjadi pergerakan, penekanan dan pengembangan gaya kompresi yang destruktif sehingga otak akan membentang batang otak dengan sangat kuat dan terjadi blokade reversible terhadap lintasan assendens retikularis difus serta berakibat otak tidak mendapatkan input afferent yang akhirnya kesadaran hilang selama blockade tersebut berlangsung. Dari trauma kepala tersebut juga bisa berdampak pada sistem tubuh yang lainnya.

DAMPAK PADA SISTEM TUBUH LAINNYA
1. Sistem Kardiovaskuler
Trauma kepala bisa menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T, P dan disritmia, vibrilisi atrium serta ventrikel takhikardia. Akiba t adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler pembuluh darah arteriol berkontraksi. Aktivitas myokard berubah termasuk peningkatan frekuensi jantung dan menurunnya stroke work dimana pembacaan pembacaan CVP abnormal. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya penurunan curah jantung dan meningkatkan atrium kiri, sehingga tubuh akan berkompensasi dengan meningkatkan tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema paru.

2. Sistem Respirasi
Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru menyebabkan hiperapneu dan bronkho kontriksi. Terjadinya pernafasan chynestoke dihubungkan dengan adanya sensitivitas yang menigkat pada mekanisme terhadap karbondioksida dan episode pasca hiperventilasi apneu. Konsenterasi oksigen dan karbondioksida dalam darah arteri mempengaruhi aliran darah. Bila tekanan oksigen rendah, aliran darah bertambah karena terjadi vasodilatasi, jika terjadi penurunan tekanan karbondioksida akan menimbulkan alkalosis sehingga terjadi vasokontriksi dan penurunan CBF (Cerebral Blood Fluid). Bila tekanan karbondioksida bertambah akibat gangguan sistem pernafasan akan menyebabkan asidosis dan vasodilatasi. Hal tersebut menyebabkan penambahan CBF yang kemudian terjadi peningkatan tingginya TIK.
Edema otak akibat trauma adalah bentuk vasogenik. Pada kontusio otak terjadi robekan pada pembuluh kapiler atau cairan traumatic yang mengandung protein yang berisi albumin. Albumin pada cairan interstisial otak normal tidak didapatkan. Edema otak terjadi karena penekanan pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Edema otak ini dapat menyebabkan kematian otak (iskemia) dan tingginya TIK yang dapat menyebabkan terjadinya herniasi dan penekanan batang otak atau medula oblongata. Akibat penekanan pada medulla oblongata menyebabkan pernafasan ataksia dimana ditandai dengan irama nafas tidak teratur atau pola nafas tidak efektif.
3. Sistem Genito-Urinaria
Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme yaitu kecenderungan retensi natrium dan air serta hilangnya sejumlah nitrogen.
Trauma  Pelepasan ADH  Retensi Cairan  Haluaran Urin sedikit dan Meningkatnya konsentrasi elektrolit.
Retensi natrium juga disebabkan karena adanya stimulus terhadap hipotalamus, yang menyebabkan pelepasan ACTH dan sekresi aldosteron. Ginjal mengambil peran dalam proses hemodinamik ginjal untuk mengatasi retensi cairan dan natrium. Setelah tiga sampai 4 hari retensi cairan dan natrium mulai berkurang dan pasca trauma dapat timbul hiponatremia. Untuk itu, selama 3-4 hari tidak perlu dilakukan pemberian hidrasi. Hal tersebut dapat dilihat dari haluaran urin. Pemeberian cairan harus hati – hati untuk mencegah TTIK. Demikian pula sangatlah penting melakukan pemeriksaan serum elektrolit. Hal ini untuk mengantisipasi agar tiadk terjadi kelainan pada kardiovaskuler.
Peningkatan hilangnya nitrogen adalah signifikan dengan respon metabolic terhadap trauma, karena dengan adanya trauma tubuh memerlukan energi untuk menangani perubahan – perubahan seluruh sistem tubuh. Namun masukan makanan kurang, maka akan terjadi pengahncuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama. Hal ini menambah terjadinya asidosis metabolik karena adanya metabolisme anaerob glukosa. Dalam hal ini diperlukan masukan makanan yang disesuaikan dengan perubahan metabolisme yang terjadi pada trauma. Pemasukan makanan pada trauma kepala harus mempertimbangkan tingkat kesadaran pasien atau kemampuan melakukan reflek menelan.
4. Sistem Pencernaan
Setelah trauma kepala ( 3 hari) terdapat respon tubuh yang merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Hal ini akan merangsang lambung untuk terjadi hiperasiditas. Hipotalamus merangsang anterior hipofise untuk mengeluarkan steroid adrenal. Hal ini adalah kompensasi tubuh untuk menangani edema serebral, namun pengaruhnya terhadap lambung adalah terjadinya peningkatan ekskresi asam lambung yang menyebabkan hiperasiditas. Selain itu juga hiperasiditas terjadi karena adanya peningkatan pengeluaran katekolamin dalam menangani stress yang mempengaruhi produksi asam lambung. Jika hiperasiditas ini tidak segera ditangani, akan menyebabkan perdarah lambung.
5. Sistem Muskuloskeletal
Akibat utama dari cederaotak berat dapat mempengaruhi gerakan tubuh. Hemisfer atau hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada area motorik otak. Selain itu, pasien dapat mempunyai control vaolunter terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan diri dan kehidupan sehari – hari yang berhubungan dengan postur, spastisitas atau kontraktur.
Gerakan volunter terjadi sebagai akibat dari hubungan sinapsis dari 2 kelompok neuron yang besar. Sel saraf pada kelompok pertama muncul pada bagian posterior lobus frontalis yang disebut girus presentral atau “strip motorik “. Di sini kedua bagian saraf itu bersinaps dengannkelompok neuron – neuron motorik bawah yang berjalan dari batang otak atau medulla spinalis atau otot – otot tertentu. Masing – masing dari kelompok neuron ini mentransmisikan informasi tertentu pada gerakan. Sehingga ,pasien akan menunjukan gejala khusus jika ada salah satu dari jaras neuron ini cidera.
Pada disfungsi hemisfer bilateral atau disfungsi pada tingkat batang otak, terdapat kehilangan penghambatan serebral dari gerakan involunter. Terdapat gangguan tonus otot dan penamilan postur abnormal, yang pada saatny dapat membuat komplikasi seperti peningkatan saptisitas dan kontraktur. (dikumpulkan dari berbagai sumber, sebagai tugas kuliah..silahkan anda cari sumber referensi lain)