Metodologi Perencanaan E-Business
Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba
Uji normalitas data dalam penelitian
Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:
Tilawatil Quran KH. Muammar ZA
ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.
Contoh Khutbah Bahasa Sunda
Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan
Ciri-ciri Pasar Monopoli
Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.
Thursday, July 18, 2013
ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) HEAD INJURY YANG MENGENAI GANGLIA BASALIS
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA
Monday, July 15, 2013
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR
|
Tingkat Perkembangan/
Usia
|
Pola Tidur Normal
|
|
Bayi baru lahir
|
Tidur 14-18 jam sehari, pernafasan teratur, gerak tubuh sedikit,
50% tidur NREM, banyak waktu tidurnya dilewatkan pada tahap III dan IV tidur
NREM. Setiap siklus sekitar 45-60 menit.
|
|
Bayi
|
Tidur 12-14 jam sehari, 20-30% tidur REM, tidur lebih lama pada
malam hari dan punya pola terbangun sebentar
|
|
Toddler
|
Tidur sekitar 10-12 jam sehari, 25% tidur REM, banyak tidur pada
malam hari, terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah
menetap pada umur 2-3 tahun
|
|
Pra sekolah
|
Tidur sekitar 11 jam sehari, 20% tidur REM, periode terbangun
kedua hilang pada umur 3 tahun. Pada umur 5 tahun, tidur siang tidak ada
kecuali kebiasaan tidur sore hari.
|
|
Usia sekolah
|
Tidur sekitar 10 jam sehari, 18,5% tidur REM. Sisa waktu tidur
relatif konstan.
|
|
Remaja
|
Tidur sekitar 8,5 jam sehari, dan 20% tidur tahap III-IV.
|
|
Dewasa muda
|
Tidur sekitar 7-9 jam sehari, 20-25% tidur REM, 5-10% tidur tahap
I, 59% tidur tahap II, dan 10-20% tidur tahap III-IV.
|
|
Dewasa pertengahan
|
Tidur sekitar 7 jam sehari, 20% tidur REM, mungkin mengalami
insomnia dan sulit untuk dapat tidur.
|
|
Dewasa tua
|
Tidur sekitar 6 jam sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nyata
berkurang kadang-kadang tidak ada. Mungkin mengalami insomnia dan sering
terbangun sewaktu tidur malam hari.
|
Saturday, July 6, 2013
Wednesday, May 27, 2009
ASUHAN KEPERAWATAN DAN APLIKASI DISCHARGE PLANNING PADA KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987) :
- Timbul pada hari kedua-ketiga
- Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
- Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
- Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
- Ikterus hilang pada 10 hari pertama
- Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu
2. Ikterus Patologis / Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly
menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.
B. Etiologi
1. Peningkatan produksi :
- Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
- Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
- Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
- Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ).
- Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) , diol (steroid).
- Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase , sehingga kadar Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah.
- Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif
C. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site).
Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
Diagram Metabolisme Bilirubin
D. Patofisiologi Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat inimemungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( Markum, 1991).
E. Penatalaksanaan Medis
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
2. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin
4. Menurunkan Serum Bilirubin
Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi, Transfusi
Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.
Fototherapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit.
Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan
Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar
Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis
dapat menyebabkan Anemia
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.
Tranfusi Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4. Tes Coombs Positif
5. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
6. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan Serum Bilirubin
4. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatandengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar
Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).
Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.
Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi Ikterus:
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.
Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb:
• Inkomptabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain.
• Infeksi Intra Uterin (Virus, Toksoplasma, Siphilis dan kadang-kadang Bakteri)
• Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD. Pemeriksaan yang perlu dilakukan:
• Kadar Bilirubin Serum berkala.
• Darah tepi lengkap.
• Golongan darah ibu dan bayi.
• Test Coombs.
• Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD, biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu.
2. Ikterus yang timbul 24 - 72 jam sesudah lahir.
• Biasanya Ikterus fisiologis.
• Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh, atau golongan lain. Hal ini diduga kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi 5mg% per 24 jam.
• Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin.
• Polisetimia.
• Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis, pendarahan Hepar, sub kapsula dll).
Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan yang perlu dilakukan:
• Pemeriksaan darah tepi.
• Pemeriksaan darah Bilirubin berkala.
• Pemeriksaan skrining Enzim G6PD.
• Pemeriksaan lain bila perlu.
3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama.
• Sepsis.
• Dehidrasi dan Asidosis.
• Defisiensi Enzim G6PD.
• Pengaruh obat-obat.
• Sindroma Criggler-Najjar, Sindroma Gilbert.
4. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya:
• Karena ikterus obstruktif.
• Hipotiroidisme
• Breast milk Jaundice.
• Infeksi.
• Hepatitis Neonatal.
• Galaktosemia.
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan:
• Pemeriksaan Bilirubin berkala.
• Pemeriksaan darah tepi.
• Skrining Enzim G6PD.
• Biakan darah, biopsi Hepar bila ada indikasi
Tuesday, May 19, 2009
Askep pada Klien dengan kelainan Telinga Dalam
Sering diistilahkan sebagai pening berputar, bukan merupakan suatu penyakit hanya merupakan gejala penyakit.
Tipe Vertigo
- Vertigo Spontan : timbul tanpa pemberian rangsangan
( timbul dari penyakitnya sendiri, misal penyakit : meniere)
- Vertigo Posisi : Adanya perubahan posisi kepala, perangsangan pada kupula kanalis semi sirkularis oleh debris
- Vertigo Kalori : Vertigo yang terjadi pada saat dilakukan pem. kalori (test untuk memeriksa fungsi vestibular)
Pengkajian
- Anamnesis
• Tanyakan kapan mulai serangan?
• Berapa kali, intensitasnya bagaimana?
• Tanyakan penyakit yang menimbulkan pusing
MABUK PERJALANAN
Gangguan keseimbangan yang disebabkan oleh gerakan konstan misal : menumpang kapal laut, perahu, komidi putar, berayun dan naik mobil.
Manisfestasi klinis
- Berkeringat
- Pucat
- Mual
- Muntah
Disebabkan oleh stimulasi vestibular.
Penatalaksanaan
- Anti histamin
- Skopolamin
Efek samping : mulut kering dan ngantuk
LABIRINITIS
Inflamasi telinga dalam yang disebabkan oleh bakteri/virus.
Dapat terjadi karena komplikasi otitis media, meningitis, ISPA
Virus penyebab tersering adalah rubela, influenza
Manifestasi klinis :
- Vertigo
- Mual dan muntah
- Kehilangan pendengaran
- Tinitus
Penatalaksanaan
- Labirinitis bakterial : antibiotik IV, penambahan cairan, pemberian supresan vestibular, obat antiemetik
- Labirinitis Viral : pengobatan simtomatik, sesuaikan dengan gejala
OTOTOKSISITAS
- Berbagai obat diketahui mempunyai efek buruk terhadap koklea, aparatus vestibularis/ Nervus 8
- Yang paling sering : Golongan aminoglikosida (streptomisin, amikasin,kanamisin,gentamisin,sisomisin,tobramisin)
Manifestasi
- Vertigo
- Tinitus : cirinya kuat dan bernada tinggi
- Gangguan pendengaran
Penatalaksanaan
- Hentikan pemakaian obat ototoksik
- Apabila ketulian sudah terjadi : lakukan rehabilitasi
• Penggunaan alat bantu dengar
• Psikoterapi
• Auditori training
• Komunikasi total, belajar membaca isyarat
Pencegahan
Berhubung tidak ada pengobatan untuk tuli akibat ototoksik maka pencegahan menjadi penting :
- mempertimbangkan pemakaian obat ototoksik
- Memonitor efek samping secara dini dengan cara memperhatikan gejala-gejala keracunan telinga dalam :
tinitus, vertigo, gangguan pendengaran
NEURONITIS VESTIBULAR
Radang pada nervus vestibular
Gejala
Di awal serangan berupa vertigo, mual dan muntah
Serangan berikutnya intensitas akan berkurang.
Etiologi
-Virus
-Penyakit vaskuler
-Demielinisasi
-Toksin
Neuroma Akustik
Tumor jinak yang tumbuh lambat pada nervus 8, biasanya tumbuh dari sel schwan pada bagian vestibuler saraf ini.
Gejala :
- Tinitus unilateral
- Kehilangan pendengaran dengan atau tanpa vertigo
Pem. Diagnostik :
- MRI
- CT. Scan
Penatalaksanaan
-Surgical
-Kolaborasi dengan neurologis dan neurosurgeon
PENYAKIT MENIEREE
Sejarah : Prosper Meniere mengemukakan trias gejala :
- Vertigo tak tertahankan
- Tinitus
- Kehilangan pendengaran
Sebagai penyakit telinga bukan penyakit syaraf.
Etiologi
- Belum diketahui secara pasti
Teori :
- Pengaruh neurokimia dan hormonal pada aliran darah yang menuju labirin
- Gangguan elektrolit dalam cairan labirin
- Peningkatan kadar metabolit dalam darah
Penemuan terbaru menunjukan bahwa penderita penyakit meniere mengalami sumbatan pada duktus endolimfatikus , selalu terjadi hidrops endolimp
Gejala
- Kehilangan pendengaran sensorineural
- Tinitus
- Vertigo tak tertahankan disertai mual dan muntah
- Rasa penuh pada telinga
Data Penunjang
-Pem. fisik, evaluasi pada nervus 8 ada kelainan
-Uji weber lateralisasi ke arah yang sakit
-Elektrokokleografi menunjukkan abnormalitas
Penatalaksanaan
- Strategi diit (rendah garam, kurangi kafein,nikotin karena merupakan vasoaktif)
- Terapi :
-Vertigo : antihistamin misal : meklizin
(menekan sistem vestibular)
-Transquilizer, misal : diazepam membantu mengontrol vertigo
-Diuretika mengurangi gejala menurunkan tekanan dalam sistem endolimp
-Prometazin untuk mual muntahnya dan ada efek histamin
Terapi Bedah: Bila ada serangan vertigo yang melumpuhkan dan mengganggu kualitas hidup memasang drain di dalam sakus endolimp di dalam sakus endolimp melaui insisi post aurikula
Rencana askep pada klien dengan vertigo
Diagnosa perawatan yang mungkin muncul
1. Resiko tinggi cedera sehubungan dengan perubahan mobilitas akibat vertigo
Intervensi
- Kaji vertigo meliputi riwayat, durasi, frekuensi dan adanya gejala penyakit telinga
Rasional
Riwayat penyakit memberikan dasar untuk intervensi
- kaji luasnya ketidakmampuan dalam
adl
Rasional
Luasnya ketidakmampuan menunjukan resiko jatuh
-he pemberian terapi antivertigo
rasional
obat vertigo berguna untuk menghilangkan gejala akut vertigo
- Dorong klien untuk istirahat bila pusing
Rasional
mengurangi jatuh dan cedera
- Anjurkan klien tetap membuka mata dan memandang lurus ke depan ketika mengalami vertigo
Rasional
Mengurangi perasaan vertigo
2. Resiko terjadi trauma sehubungan dengan perubahan keseimbangan
Intervensi
- Lakukan pengkajian test keseimbangan
Rasional
Kelainan vestibular menyebabkan gejala dan tanda ini
- Bantu ambulasi bila ada indikasi
Rasional
Cara jalan yang abnormal menimbulkan klien tidak bisa tegak
- Bantu mengidentifikasi bahaya di lingkungan rumah
Rasional
Adaptasi terhadap lingkungan rumah dapat menurunkan resiko jatuh selama proses rehabilitasi
3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan episode vertigo
Intervensi
- He cara pemberian antiemetik yang di resepkan
Rasional
Antiemetik dan obat penenang akan menekan stimuli terhadap serebelum
- Dorong klien untuk melakukan perawatan diri saat bebas dari vertigo
Rasional
Penyediaan waktu jeda diantara aktivitas penting karena episode vertigo terjadi bervariasi
- Bahas diet na dan sediakan cairan sesuai dengan kebutuhan
Rasional
Pembatasan na dapat membantu memperbaiki ketidakseimbangan cairan telinga sehingga menurunkan vertigo
4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Intervensi
- Kaji tingkat ansietas
Rasional
Dapat memandu intervensi terapeutik
- He mengenai vertigo dan penanganannya
Rasional
Meningkatkan pengetahuan, dapat menurunkan nsietas
- Hindari aktivitas yang menyebabkan stress
Rasional
Situasi penuh stress dapat meningkatkan gejala
5. Resiko terhadap penurunan volume cairan sehubunan dengan peningkatan haluaran cairan
Intervensi
- Kaji intake dan output
Rasional
Pencatatan yang akurat merupakan dasar untuk penggantian cairan
- Kaji indikator dehidrasi
Rasional
Pengenalan segera memungkinkan intervensi segera
- Dorong konsumsi cairan oral dan hindari minuman yang mengandung kafein
Rasional
Penggantian cairan oral dapat berguna untuk mengganti kehilangan cairan dan kafein dapat meningkatkan diare
- He pemberian antiemetik
Rasional
Antiemetik mengurangi mual dan muantal sehingga mengurangi kehilangan cairan
Saturday, May 16, 2009
Aturan Penulisan ASKEP
(1) Bila terjadi kesalahan penulisan tidak dihapus menggunakan tip-ex, tapi dicoret dengan satu garis pada tulisan yang salah, kemudian ditulis kata ”salah”, lalu diparaf, kemudian tulis catatan yang benar.
(2) Menulis uraian objektif perilaku klien dan tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain, tanpa memberi komentar yang bersifat mengkritik.
(3) Mengoreksi semua kesalahan sesegera mungkin.
(4) Mencatat hanya fakta secara akurat. Pastikan apa yang ditulis adalah fakta yang terjadi atau didapatkan, bukan perkiraan atau hasil penafsiran.
(5) Diakhir catatan tidak dibiarkan kosong, untuk menghindari penambahan informasi yang tidak benar. Bila ada area yang kosong dibuat garis horizontal lalu dibubuhkan tanda tangan.
(6) Semua catatan harus jelas, dapat dibaca oleh petugas kesehatan lain dalam tim kesehatan, ditulis dengan tinta, menggunakan bahasa yang lugas, menggunakan singkatan yang telah disepakati oleh institusi.
(7) Jika terdapat keragu-raguan tentang suatu instruksi, minta klarifikasi kepada petugas yang bersangkutan.
(8) Perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas informasi yang ditulisnya, jadi jangan menulis untuk orang lain.
(9) Gunakan kata-kata yang spesifik untuk menuliskan suatu informasi, sebab kata-kata yang bersifat umum dapat menimbulkan penafsiran yang bervariasi.
(10) Mulailah mencatat dokumentasi dengan waktu dan akhiri dengan tanda tangan. Pastikan urutan kejadian dicatat dengan benar dan ditanda tangani, hal itu menunjukkan orang yang bertanggung gugat atas dokumentasi tersebut. Jangan tunggu sampai akhir giliran dinas baru mencatat perubahan penting yang terjadi beberapa jam lalu.









