Metodologi Perencanaan E-Business

Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba

Uji normalitas data dalam penelitian

Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:

Tilawatil Quran KH. Muammar ZA

ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.

Contoh Khutbah Bahasa Sunda

Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan

Ciri-ciri Pasar Monopoli

Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.

Showing posts with label Kumpulan ASKEP. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan ASKEP. Show all posts

Thursday, July 18, 2013

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) HEAD INJURY YANG MENGENAI GANGLIA BASALIS

1. PENGKAJIAN
 Pengkajian yang sebaiknya dilakukan kepada kasus head injury yang mengenai area ganglia basalis adalah Keadaan umum, GCS, Daya ingat, system persyarafan, Nervus dari I – XII, reflek-reflek, ekstrimitas(kemampuan gerak).
Diperiksa juga apakah ada atetosis yaitu gerakan menggeliat pada tangan, lengan, leher, hemibalismus yaitu gerakan menghempas-hempas seluruh tubuh, korea adalah gerakan tersentak-sentak pada tangan, wajah. Adanya penyakit Parkinson seperti kekakuan dan tremor.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul dari penyakit severe head injuri + contusio serebri at region ganglio basalis sinistra dari berbagai referensi yang ada yang telah dikelola oleh penulis belum ada diagnosa yang focus membahas tentang ganglia basalis.

3. PERENCANAAN 
Karena diagnosa yang muncul dari berbagai referensi tidak diketemukan maka perencanaan yang sebaiknya dilakukan pada klien dengan kasus severe head injury + contusion serebri at regio ganglia basalis sinistra tidak dapat ditemukan.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA

1. PENGKAJIAN
Adapun pengkajian yang harus dilakukan pada kasus head injury adalah sebagai berikut:
a.     Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15, disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif, perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese.
b. Nervus cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII.
c.    Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, suhu, nadi, dan respirasi.
d. Kaji apakah klien tersebut mengalami pingsan? Berapa lama waktu kejadian pingsannya?

2. DIGNOSA KEPERAWATAN
Diagnose keperawatan yang biasanya muncul pada kasus head injury adalah sebagai berikut:
a. Bersihan jalan nafas dan ventilasi tidak efektif yang berhubungan dengan hipoksia
b. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
c. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan gangguan kesadaran dan disfungsi hormonal 
d. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan metabolisme, pembatasan cairan, dan asupan yang tidak adekuat. 
e. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala
f. Resiko terhadap kecelakaan (yang diarahkan pada diri sendiri dan orang lain) yang berhubungan dengan disorentasi, gelisah dan kerusakan otak.
g. Perubahan proses pikir (defisit fungsi intelektual, komunikasi, ingatan, proses pikir) yang berhubungan dengan cedera otak.
h. Potensial terhadap koping keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan pasien tidak responsif, hasil yang tidak jelas, periode pemulihan yang lama, sisa kemampuan fisik pasien dan defisit emosi.
i. Kurang pengetahuan tentang proses rehabilitasi.

3. PERENCANAAN
Adapun perencanaan yang akan dibuat adalah
a. Bersihan jalan nafas dan ventilasi tidak ektif yang berhubungan dengan hipoksia
Intervensi
1) Mempertahankan pasien yang tidak sadar pada posisi yang memudahkan pengeluaran sekresi melalui mulut, dengan kepala pada tempat tidur ditinggikan 30 derajat untuk menurunkan tekanan vena intrakranial
2) Menempatkan prosedur penisapan efektif. (sekresi pulmonal yang menimbulkan batuk dan mengejan, yang menimbulkan TIK)
3) Melindungi terhadap aspirasi dan insufisiensi paru-paru
4) Memantau gas darah arteri untuk mengkaji keadekuatan ventilasi. ( Sasarannya adalah untuk mempertahankan gas darah dalam rentang normal untuk menjamin aliran darah serebral adekuat).
5) Memantau pasien pada ventilasi mekanik.
6) Observasi tanda-tanda vital.
7) Monitor kecepatan, irama, kedalaman respirasi
b. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
Intervensi:
1) Tinggikan posisi kepala 150-300 dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis.
2) Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher, rotasi kepala, valsava meneuver, rangsangan nyeri.
3) Bila akan memiringkan, harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan, fleksi (harus bersamaan).
4) Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan intracranial sesuai dosis.
5) Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan karena dapat meningkatkan edema serebral.

c. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan gangguan kesadaran dan disfungsi hormonal
Intervensi
1) Pemeriksaan serial elektrolit darah dan urine dan osmolalitas yang    diharapkan.
2) Fungsi endokrin dievaluasi dengan memantau elektrolit, glukosa serum, serta asupan dan haluaran.
3) Urine diuji secara teratur terhadap kandungan aseton.
4) Pertahankan pencatatan terhadap berat badan setiap hari, terutama jika mengenai hipotalamus pasien beresiko terhadap terjadinya diabetes insipidus.


5) Pantau status hidrasi seperti kelembaban mukosa, dan keadekuatan nadi.
6) Berikan cairan intra vena sesuai program

d. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan metabolisme, pembatasan cairan, dan asupan yang tidak adekuat
Intervesi
1) Meninggikan kepala tempat tidur dan Aspirasi cairan lambung melalui selang nasogastrik sebelum pemberian makanan.
2) Pemberian infus tetes terus menerus atau dengan pompa dapat digunakan untuk mengatur makanan.
3) Memonitor turgor kulitklien
4) Monitor kecendurungan atau penurunan berat badan.
5) Sediakan nutrisi yang tinggi kalori dan protein.
6) Ukur intake output
7) Pantau status nutrisi

e. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala
Intervensi:
1) Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri, catat lokasi nyeri, lamanya, serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat.
2) Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri.
Kurangi rangsangan.
3) Pemberian obat analgetik sesuai dengan program.
4) Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
5) Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.

f. Resiko terhadap kecelakaan (yang diarahkan pada diri sendiri dan orang lain) yang berhubungan dengan disorentasi, gelisah dan kerusakan otak
Intervensi
1) Mengkaji pasien untuk menjamin jalan nafas adekuat dan tidak ada distensi. Periksa balutan dan gips untuk adanya kontriksi.
2) Untuk melindungi pasien dari mencederai diri dan melepaskan selang tubuh, menggunakan bantalan pada pagar tempat tidur atau membungkus tangan pasien dengan sarung tangan. Menghindari restrein bila memungkinkan karena regangan terhadapnya dapat meningkatkan TIK atau menyebabkan cedera lain
3) Menimalkan rangsangan lingkungan dengan mempertahankan ruangan tenang, membatasi penunjung, berbicara dengan lembut, dan memberikan orientasi yang lebih sering melalui informasi.
4) Memberikan cahaya yang adekuat untuk mencegah halusinasi penglihatan.
5) Identifikasi factor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan.
6) Jangan mengganggu siklus tidur-bangun pasien sesui siklus
7) Lumasi kulit dengan minyak atau pelembab untuk mencegah iritasi karena gesekan dengan linen.
8) Jika ada masalah inkontinen, pertimbangkan untuk menggunakan kantung kateter pada pasien pria.  



g. Perubahan proses pikir (defisit fungsi intelektual, komunikasi, ingatan, proses pikir) yang berhubungan dengan cedera otak
Intervensi 
1) Memperlihatkan peningkatan fungsi kognitif dan meningkatkan memori
2) Mengajarkan fungsi kognisi kepada klien.
3) Memberikan arahan atau pengetahuan kepada klien

h. Potensial terhadap koping keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan pasien tidak responsif, hasil yang tidak jelas, periode pemulihan yang lama, sisa kemampuan fisik pasien dan defisit emosi.
Intervensi 
1) Mempunyai hubungan dengan kelompok pendukung
2) Berbagi perasaan dengan tenaga pelayanan kesehatan yang tepat
3) Memberikan informasi kepada keluarga sesuai dengan keadaan pasien yang sebenarnya.
4) Memberikan arahan dan ketenangan kepada pihak keluarga

i. Kurang pengetahuan tentang proses rehabilitasi
Intervensi
1) Melakukan peran aktif dalam mengidentifikasi tujuan rehabilitas dan berpartisipasi dalam menentukan aktivitas.
2) Memberikan pengetahuan kepada klien atau keluarga tentang penyakit yang dideritanya.
3) Selalu memberikan perkembangan kesehatan.
4) Mempersiapkan keluarga untuk menerima pasien keluar dari rumah sakit.


4. PELAKSANAAN
 “Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan yang spesifik untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan”(Nursalam, 2001).

5. Evaluasi
“Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan klien”(Budi,1998).
Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan, evaluasi dapat dibagi dua yaitu evaluasi hasil atau formatif yang dilakukan setiap selesai melakukan tindakan dan evaluasi proses atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP.
S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang                 dilaksanakan
O : Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang                   dilaksanakan
A : Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap muncul atau ada masalah baru atau ada  masalah yang kontradiktif dengan masalah yang ada
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa respon klien.


Monday, July 15, 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR

PENDAHULUAN
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal.
Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan. Namun dalam keadaan sakit, pola tidur seseorang biasnya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur klien. Kebutuhan istirahat dan tidur pada individu yang sakit sangat diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Oleh karena itu, perawat harus mempunyai kompetensi yang baik terkait dengan kebutuhan istirahat dan tidur.


KONSEP ISTIRAHAT DAN TIDUR
1. Istirahat
Kata ‘istirahat’ mempunyai arti yang sangat luas meliputi bersantai menyegarkan diri, diam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta melepaskan diri dari apa pun yang membosankan, menyulitkan, atau menjengkelkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa istirahat merupakan keadaan yang tenang, rileks, tanpa tekanan emosional dan bebas dari kecemasan (ansietas).

Catatan:
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tak berdaya dan tidak pasti, tidak memiliki objek yang spesifik, dialami secara subyektif dan dikomunikasikan secara interpersonal.

Seseorang dapat benar-benar istirahat bila:
a. Merasa segala sesuatu dapat diatasi dan dibawah kontrolnya
b. Merasa diterima eksistensinya baik di tempat tinggal, kantor, atau di mana pun
c. Mengetahui apa yang terjadi
d. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan
e. Memiliki kepuasan terhadap aktivitas yang dilakukannya
f. Mengetahui adanya bantuan sewaktu-waktu bila memerlukannya
2. Tidur
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan indera atau rangsangan yang cukup. Tujuan seseorang tidur tidak jelas diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental emosional, fisiologi, dan kesehatan.
Jenis-jenis Tidur
Pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu tidur dengan gerakan bola mata cepat (Rapid Eye Movement ¬¬- REM) dan tidur dengan gerakan bola mata lambat (Non-Rapid Eye Movement - NREM) 
a. Tidur REM
Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal tersebut berarti tidur REM ini sifatnya nyenyak sekali, namun fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat aktif. Tidur REM ditandai dengan mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bergerak bolak-balik), gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung, dan pernafasan tidak teratur sering lebih cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat. 
Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan menunjukkan gejala-gejala sebagi berikut:
- Cenderung hiperaktif
- Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi (emosinya labil)
- Nafsu makan bertambah
- Bingung dan curiga
b. Tidur NREM
Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM gelombang otak lebih lambat dibandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernafasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola mata lambat.
Tidur NREM memiliki empat tahap yang masing-masing tahap ditandai dengan pola perubahan aktivitas gelombang otak yang terlihat pada EEG (Electroenchepalogram). 

Catatan:
EEG atau electroenchephalogram adalah instrumen untuk menangkap aktifitas listrik di otak.
Keempat tahap tersebut yaitu:
- Tahap I
Tahap I merupakan transisi di mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Pada tahap I ini ditandai dengan seseorang merasa kabur dan rileks, seluruh otot menjadi lemas, kelopak mata menutup mata, kedua bola mata bergerak ke kiri dan ke kanan, kecepatan jantung dan pernafasan menurun secara jelas. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat dibangunkan dengan mudah.
- Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun. Tahap II ini ditandai dengan kedua bola mata berhenti bergerak, suhu tubuh menurun, tonus otot perlahan-lahan berkurang, serta kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas. Tahap II ini berlangsung sekitar 10-15 menit.
- Tahap III
Pada tahap ini, keadaan fisik lemah lunglai karena tonus otot lenyap secara menyeluruh. Kecepatan jantung, pernafasan, dan proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem saraf parasimpatis. Seseorang yang tidur pada tahap ini sulit untuk dibangunkan.
- Tahap IV
Tahap IV merupakan tahap tidur di mana seseorang berada dalam keadaan rileks, jarang bergerak karena keadaan fisik yang sudah lemah, lunglai, dan sulit dibangunkan. Denyut jantung dan pernafasan menurun sekitar 20-30%. Pada tahap ini. Dapat terjadi mimpi. Selain itu, tahap IV ini dapat memulihkan kedaan tubuh.
Selain keempat tahap tersebut, sebenarnya ada satu tahap lagi yakni tahap V. Tahap kelima ini merupakan tidur REM dimana setelah tahap IV seseorang masuk ke tahap V. hal tersebut ditandai dengan kembali bergeraknya kedua bola mata yang berkecepatan lebih tinggi dari tahap-tahap sebelumnya. Tahap V ini berlangsung sekitar 10 menit, dapat pula terjadi mimpi.
POLA TIDUR BERDASARKAN TINGKAT PERKEMBANGAN/USIA
Usia merupakan salah satu faktor penentu lamanya tidur yang dibutuhkan seseorang. Semakin tua usia, maka semakin sedikit pula lama tidur yang dibutuhkan.
Tingkat Perkembangan/ Usia
Pola Tidur Normal
Bayi baru lahir
Tidur 14-18 jam sehari, pernafasan teratur, gerak tubuh sedikit, 50% tidur NREM, banyak waktu tidurnya dilewatkan pada tahap III dan IV tidur NREM. Setiap siklus sekitar 45-60 menit.
Bayi
Tidur 12-14 jam sehari, 20-30% tidur REM, tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola terbangun sebentar
Toddler
Tidur sekitar 10-12 jam sehari, 25% tidur REM, banyak tidur pada malam hari, terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun
Pra sekolah
Tidur sekitar 11 jam sehari, 20% tidur REM, periode terbangun kedua hilang pada umur 3 tahun. Pada umur 5 tahun, tidur siang tidak ada kecuali kebiasaan tidur sore hari.
Usia sekolah
Tidur sekitar 10 jam sehari, 18,5% tidur REM. Sisa waktu tidur relatif konstan.
Remaja
Tidur sekitar 8,5 jam sehari, dan 20% tidur tahap III-IV.
Dewasa muda
Tidur sekitar 7-9 jam sehari, 20-25% tidur REM, 5-10% tidur tahap I, 59% tidur tahap II, dan 10-20% tidur tahap III-IV.
Dewasa pertengahan
Tidur sekitar 7 jam sehari, 20% tidur REM, mungkin mengalami insomnia dan sulit untuk dapat tidur.
Dewasa tua
Tidur sekitar 6 jam sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nyata berkurang kadang-kadang tidak ada. Mungkin mengalami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur malam hari.

FAKTOR YANG MEMENGARUHI ISTIRAHAT DAN TIDUR
Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur setiap orang berbeda-beda. Ada yang kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Ada pula yang mengalami gangguan. Seseorang bisa tidur ataupun tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut:
a.         Status kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan ia dapat tidur dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka kebutuhan istirahat dan tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga ia tidak dapat tidur dengan nyenyak.


b.         Lingkungan
Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang memungkinkan seseorang dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya lingkungan yang ribut, bising, dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur.
c.         Stres psikologis
Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan meningkatkan norepinefrin darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan mengurangi tahap IV NREM dan REM.
d.         Diet
Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan seperti keju, susu, daging, dan ikan tuna dapat menyebabkan seseorang mudah tidur. Sebaliknya, minuman yang mengandung kafein maupun alkohol akan mengganggu tidur.
e.         Gaya hidup
Kelelahan dapat memengaruhi pola tidur seseorang. Kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan nyenyak. Sedangkan pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan periode tidur REM lebih pendek.
f.          Obat-obatan
Obat-obatan yang dikonsumsi seseorang ada yang berefek menyebabkan tidur, ada pula yang sebaliknya mengganggu tidur. Misalnya, obat golongan amfetamin akan menurunkan tidur REM.

GANGGUAN-GANGGUAN TIDUR DAN PENANGANANNYA
1.         Insomnia
Insomnia merupakan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Seseorang yang terbangun dari tidur, tetapi merasa belum cukup tidur dapat disebut mengalami insomnia (Japardi, 2002).
Ada tiga jenis insomnia diantaranya:
-          Insomnia inisial: ketidakmampuan seseorang untuk dapat memulai tidur.
-          Insomnia intermitten: ketidakmampuan untuk memepertahankan tidur atau keadaan sering terjaga tidur.
-          Insomnia terminal: bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami insomnia diantaranya adalah rasa nyeri, kecemasan, ketakutan, tekanan jiwa, dan kondisi yang tidak menunjang untuk tidur.
Perawat dapat membantu klien mengatasi insomnia melalui pendidikan kesehatan, menciptakan lingkungan yang nyaman, melatih klien relaksasi, dan tindakan lainnya. Ada beberapa tindakan atau upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia yaitu:
a.         Memakan makanan berprotein tinggi sebelum tidur, seperti keju atau susu
b.         Usahakan agar selalu beranjak tidur pada waktu yang sama
c.         Hindari tidur di waktu siang atau sore hari
d.         Berusaha untuk tidur hanya apabila merasa benar-benar kantuk dan tidak pada waktu kesadaran penuh
e.         Hindari kegiatan-kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur
f.           Lakukan latihan-latihan gerak badan setiap hari, tetapi tidak menjelang tidur
g.         Gunakan teknik-teknik pelepasan otot-otot serta meditasi sebelum berusaha untuk tidur
2.         Somnambulisme
Somnambulisme merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, menutup pintu, duduk di tempat tidur, emnabrak kursi, berjalan kaki, dan berbicara. Somnambulisme ini lebih banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Seseorang yang mengalami somnabulisme mempunyai risiko terjadinya cedera.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi somnabulisme yaitu dengan membimbing anak. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi somnabulisme adalah dengan membuat lingkungan yang nyaman dan aman, serta dapat pula dengan menggunakan obat seperti Diazepam dan Valium.
3.         Enuresis
Enuresis adalah kencing yang tidak disengaja (mengompol). Terjadi pada anak-anak dan remaja, paling banyak terjadi pada laki-laki. Penyebab secara pasti belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah enuresis anatara lain: hindari stres, hindari minum yang banyak sebelum tidur, dan kosongkan kandung kemih (berkemih dulu) sebelum tidur.

4.         Narkolepsi
Narkolepsi merupakan suatu kondisi yang dicirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur. Dapat dikatakan pula narkolepsi adalah serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur pada setiap saat di mana serangan tidur (kantuk) tersebut datang.
Penyebab narkolepsi secara pasti belum jelas, tetapi diduga terjadi akibat kerusakan genetika sistem saraf pusat dimana periode REM tidak dapat dikendalikan. Serangan narkolepsi ini dapat menimbulkan bahaya apabila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja pada alat-alat yang berputar-putar, atau berada di tepi jurang.
Obat-obat agripnotik dapat digunakan untuk mengendalikan narkolepsi yaitu sejenis obat yang membuat orang tidak dapat tidur. Obat tersebut diantarnya jenis ampetamin.
5.         Night terrors
Night terrors adalah mimpi buruk. Umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih. Setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.
6.         Mendengkur
Mendengkur disebabkan oleh rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran napas pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut mengendur lalu bergetar jika dilewati udara pernapasan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR
1.         Pengkajian Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Aspek yang perlu dikaji pada klien untuk mengidentifikasi mengenai gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi pengkajian mengenai:
a.         Pola tidur, seperti jam berapa klien masuk kamar untuk tidur, jam berapa biasa bangun tidur, dan keteraturan pola tidur klien.
b.         Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur, seperti membaca buku, buang air kecil, dan lain-lain.
c.         Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya.
d.         Kebiasaan tidur siang.
e.         Lingkungan tidur klien. Bagaimana kondisi lingkungan tidur klien?, apakah kondisinya bising, gelap, atau suhu dingin?
f.           Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup. Perawat mempelajari apakah peristiwa yang dialami klien, yang menyebabkan klien mengalami gangguan tidur?
g.         Status emosi dan mental klien. Status emosional dan mental memengaruhi terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Perawat perlu mengkaji mengenai status emosional dan mental klien, misalnya apakah klien mengalami stress emosional atau ansietas? Juga dikaji sumber stres yang dialami klien.
h.         Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul sebagai akibat gangguan istirahat tidur, seperti:
-          Penampilan wajah, misalnya adalah adakah area gelap di sekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan, atau mata yang terlihat cekung.
-          Perilaku yang terkait dengan gangguan istirahat tidur, misalnya apakah klien mudah tersinggung, selalu menguap, kurang konsentrasi, atau terlihat bingung.
-          Kelelahan, misalnya apakah klien tampak lelah, letih, atau lesu.
2.         Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin ditemukan pada klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, antara lain:
a.         Gangguan pola tidur
Gangguan pola tidur inin dapat disebabkan karena ansietas yang dialami klien, lingkungan yang tidak kondusif untuk tidur (misalnya, lingkungan yang bising), letidakmampuan mengatasi stres yang dialami, dan nyeri akibat penyakit yang diderita klien.
b.         Perubahan proses pikir
Perubahan proses berpikir ini disebabkan oleh terjadinya deprivivasi tidur
c.         Gangguan harga diri
Gangguan harga diri terutama dialami pada klien yang mengalami enuresis
d.         Risiko cedera
Risiko cedera terutama pada klien yang menderita somnambulisme. Pada somnambulisme ini, klien melakukan aktivitas tanpa disadari sehingga berisiko terjadinya kecelakaan, bisa berupa jatuh dari tempat tidur, turun tangga, atau membentur tembok, dan lain-lain.
3.         Intervensi Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Pada klien yang dirawat di rumah sakit dapat mengalami masalah istirahat dan tidur. Masalah tersebut sering berhubungan dengan lingkungan rumah sakit, rutinitas ruangan, atau penyakit yang dideritanya. Walaupun begitu, perawat mesti membantu klien untuk dapat istirahat dan tidur.
Berikut ini merupakan beberapa intervensi yang dapat diterapkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur pada klien yang dirawat.
a.         Ciptakan lingkungan yang nyaman, dapat dilakukan misalnya dengan:
-            Pintu kamar klien ditutup
-            Kurangi stimulus, misalnya percakapan
-            Tempatkan klien dengan teman yang cocok, dan lain-lain
b.         Membantu kebiasaan klien sebelum tidur, misalnya dengan mendengarkan musik, membaca, dan berdoa. Pada klien anak-anak, dapat dilakukan dengan membacakan dongeng, memegang boneka atau benda yang disukainya.
c.         Diet
-            Anjurkan klien untuk memakan makanan yang mengandung tinggi protein, seperti susu dan keju
-            Hindari banyak minum sebelum tidur
d.         Hindari latihan fisik yang berlebihan sebelum tidur
e.         Hindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan sebelum tidur. Maksudnya, usahakan psikologi klien tenang, tidak cemas, ataupun stres sebelum tidur.
f.           Berikan rasa nyaman dan rileks, misalnya dengan:
-          Mengatur posisi yang nyaman untuk tidur
-          Anjurkan klien berkemih sebelum tidur
-          Tempat tidur yang bersih dan tidak boleh basah
-          Pada klien nyeri, berikan obat analgesik 30 menit sebelum tidur
g.         Hindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur
h.         Berdoa sesuai dengan agamanya




Referensi
1.         Asmadi.2008. Tehnik prosedural keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika.
2.         Kozier,B.,G.Erb. 2004. Fundamentals of Nursing: Concepts, process, and practice. Seventh edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
3.         Mubarak & Chayatin. 2008. Buku ajar kebutuhan dasar manusia, Teori dan aplikasi dalam praktik. Jakarta : EGC

Saturday, July 6, 2013

Rencana Asuhan Keperawatan Klien Dengan Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan akibat Skizofrenia Paranoid

Nama klien : Tn. XV
No. medrec : 000xxxxx
Dx. Medic : Skizofrenia Paranoid
Ruangan : R. Psikiatri



Wednesday, May 27, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN DAN APLIKASI DISCHARGE PLANNING PADA KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA

A. Definisi
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987) :
- Timbul pada hari kedua-ketiga
- Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
- Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
- Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
- Ikterus hilang pada 10 hari pertama
- Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu
2. Ikterus Patologis / Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly
menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.

B. Etiologi
1. Peningkatan produksi :
- Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
- Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
- Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
- Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ).
- Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) , diol (steroid).
- Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase , sehingga kadar Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah.
- Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif

C. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site).
Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
Diagram Metabolisme Bilirubin

D. Patofisiologi Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat inimemungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( Markum, 1991).

E. Penatalaksanaan Medis
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
2. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin
4. Menurunkan Serum Bilirubin
Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi, Transfusi
Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.
Fototherapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit.
Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan
Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar
Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis
dapat menyebabkan Anemia
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.
Tranfusi Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4. Tes Coombs Positif
5. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
6. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan Serum Bilirubin
4. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatandengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar
Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).
Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.
Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi Ikterus:
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.
Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb:
• Inkomptabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain.
• Infeksi Intra Uterin (Virus, Toksoplasma, Siphilis dan kadang-kadang Bakteri)
• Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD. Pemeriksaan yang perlu dilakukan:
• Kadar Bilirubin Serum berkala.
• Darah tepi lengkap.
• Golongan darah ibu dan bayi.
• Test Coombs.
• Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD, biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu.
2. Ikterus yang timbul 24 - 72 jam sesudah lahir.
• Biasanya Ikterus fisiologis.
• Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh, atau golongan lain. Hal ini diduga kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi 5mg% per 24 jam.
• Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin.
• Polisetimia.
• Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis, pendarahan Hepar, sub kapsula dll).
Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan yang perlu dilakukan:
• Pemeriksaan darah tepi.
• Pemeriksaan darah Bilirubin berkala.
• Pemeriksaan skrining Enzim G6PD.
• Pemeriksaan lain bila perlu.
3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama.
• Sepsis.
• Dehidrasi dan Asidosis.
• Defisiensi Enzim G6PD.
• Pengaruh obat-obat.
• Sindroma Criggler-Najjar, Sindroma Gilbert.
4. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya:
• Karena ikterus obstruktif.
• Hipotiroidisme
• Breast milk Jaundice.
• Infeksi.
• Hepatitis Neonatal.
• Galaktosemia.
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan:
• Pemeriksaan Bilirubin berkala.
• Pemeriksaan darah tepi.
• Skrining Enzim G6PD.
• Biakan darah, biopsi Hepar bila ada indikasi


Tuesday, May 19, 2009

Askep pada Klien dengan kelainan Telinga Dalam

VERTIGO
Sering diistilahkan sebagai pening berputar, bukan merupakan suatu penyakit hanya merupakan gejala penyakit.

Tipe Vertigo
- Vertigo Spontan : timbul tanpa pemberian rangsangan
( timbul dari penyakitnya sendiri, misal penyakit : meniere)
- Vertigo Posisi : Adanya perubahan posisi kepala, perangsangan pada kupula kanalis semi sirkularis oleh debris
- Vertigo Kalori : Vertigo yang terjadi pada saat dilakukan pem. kalori (test untuk memeriksa fungsi vestibular)

Pengkajian
- Anamnesis
• Tanyakan kapan mulai serangan?
• Berapa kali, intensitasnya bagaimana?
• Tanyakan penyakit yang menimbulkan pusing

MABUK PERJALANAN
Gangguan keseimbangan yang disebabkan oleh gerakan konstan misal : menumpang kapal laut, perahu, komidi putar, berayun dan naik mobil.

Manisfestasi klinis
- Berkeringat
- Pucat
- Mual
- Muntah
Disebabkan oleh stimulasi vestibular.
Penatalaksanaan
- Anti histamin
- Skopolamin
Efek samping : mulut kering dan ngantuk

LABIRINITIS
Inflamasi telinga dalam yang disebabkan oleh bakteri/virus.
Dapat terjadi karena komplikasi otitis media, meningitis, ISPA
Virus penyebab tersering adalah rubela, influenza

Manifestasi klinis :
- Vertigo
- Mual dan muntah
- Kehilangan pendengaran
- Tinitus
Penatalaksanaan
- Labirinitis bakterial : antibiotik IV, penambahan cairan, pemberian supresan vestibular, obat antiemetik
- Labirinitis Viral : pengobatan simtomatik, sesuaikan dengan gejala

OTOTOKSISITAS
- Berbagai obat diketahui mempunyai efek buruk terhadap koklea, aparatus vestibularis/ Nervus 8
- Yang paling sering : Golongan aminoglikosida (streptomisin, amikasin,kanamisin,gentamisin,sisomisin,tobramisin)
Manifestasi
- Vertigo
- Tinitus : cirinya kuat dan bernada tinggi
- Gangguan pendengaran

Penatalaksanaan
- Hentikan pemakaian obat ototoksik
- Apabila ketulian sudah terjadi : lakukan rehabilitasi
• Penggunaan alat bantu dengar
• Psikoterapi
• Auditori training
• Komunikasi total, belajar membaca isyarat
Pencegahan
Berhubung tidak ada pengobatan untuk tuli akibat ototoksik maka pencegahan menjadi penting :
- mempertimbangkan pemakaian obat ototoksik
- Memonitor efek samping secara dini dengan cara memperhatikan gejala-gejala keracunan telinga dalam :
tinitus, vertigo, gangguan pendengaran

NEURONITIS VESTIBULAR
Radang pada nervus vestibular
Gejala
Di awal serangan berupa vertigo, mual dan muntah
Serangan berikutnya intensitas akan berkurang.
Etiologi
-Virus
-Penyakit vaskuler
-Demielinisasi
-Toksin

Neuroma Akustik
Tumor jinak yang tumbuh lambat pada nervus 8, biasanya tumbuh dari sel schwan pada bagian vestibuler saraf ini.
Gejala :
- Tinitus unilateral
- Kehilangan pendengaran dengan atau tanpa vertigo
Pem. Diagnostik :
- MRI
- CT. Scan
Penatalaksanaan
-Surgical
-Kolaborasi dengan neurologis dan neurosurgeon

PENYAKIT MENIEREE
Sejarah : Prosper Meniere mengemukakan trias gejala :
- Vertigo tak tertahankan
- Tinitus
- Kehilangan pendengaran
Sebagai penyakit telinga bukan penyakit syaraf.
Etiologi
- Belum diketahui secara pasti
Teori :
- Pengaruh neurokimia dan hormonal pada aliran darah yang menuju labirin
- Gangguan elektrolit dalam cairan labirin
- Peningkatan kadar metabolit dalam darah
Penemuan terbaru menunjukan bahwa penderita penyakit meniere mengalami sumbatan pada duktus endolimfatikus , selalu terjadi hidrops endolimp


Gejala
- Kehilangan pendengaran sensorineural
- Tinitus
- Vertigo tak tertahankan disertai mual dan muntah
- Rasa penuh pada telinga
Data Penunjang
-Pem. fisik, evaluasi pada nervus 8 ada kelainan
-Uji weber lateralisasi ke arah yang sakit
-Elektrokokleografi menunjukkan abnormalitas
Penatalaksanaan
- Strategi diit (rendah garam, kurangi kafein,nikotin karena merupakan vasoaktif)
- Terapi :
-Vertigo : antihistamin misal : meklizin
(menekan sistem vestibular)
-Transquilizer, misal : diazepam membantu mengontrol vertigo
-Diuretika mengurangi gejala menurunkan tekanan dalam sistem endolimp
-Prometazin untuk mual muntahnya dan ada efek histamin
Terapi Bedah: Bila ada serangan vertigo yang melumpuhkan dan mengganggu kualitas hidup memasang drain di dalam sakus endolimp di dalam sakus endolimp melaui insisi post aurikula

Rencana askep pada klien dengan vertigo
Diagnosa perawatan yang mungkin muncul
1. Resiko tinggi cedera sehubungan dengan perubahan mobilitas akibat vertigo
Intervensi
- Kaji vertigo meliputi riwayat, durasi, frekuensi dan adanya gejala penyakit telinga
Rasional
Riwayat penyakit memberikan dasar untuk intervensi
- kaji luasnya ketidakmampuan dalam 
  adl 
Rasional
Luasnya ketidakmampuan menunjukan resiko jatuh
 -he pemberian terapi antivertigo 
  rasional
 obat vertigo berguna untuk menghilangkan gejala akut vertigo
- Dorong klien untuk istirahat bila pusing
Rasional
  mengurangi jatuh dan cedera
- Anjurkan klien tetap membuka mata dan memandang lurus ke depan ketika mengalami vertigo
Rasional
Mengurangi perasaan vertigo 
2. Resiko terjadi trauma sehubungan dengan perubahan keseimbangan

Intervensi
- Lakukan pengkajian test keseimbangan
Rasional
Kelainan vestibular menyebabkan gejala dan tanda ini
- Bantu ambulasi bila ada indikasi
Rasional
Cara jalan yang abnormal menimbulkan klien tidak bisa tegak
- Bantu mengidentifikasi bahaya di lingkungan rumah
Rasional
Adaptasi terhadap lingkungan rumah dapat menurunkan resiko jatuh selama proses rehabilitasi

3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan episode vertigo
Intervensi
- He cara pemberian antiemetik yang di resepkan
Rasional
Antiemetik dan obat penenang akan menekan stimuli terhadap serebelum
- Dorong klien untuk melakukan perawatan diri saat bebas dari vertigo
Rasional
Penyediaan waktu jeda diantara aktivitas penting karena episode vertigo terjadi bervariasi
- Bahas diet na dan sediakan cairan sesuai dengan kebutuhan
Rasional
Pembatasan na dapat membantu memperbaiki ketidakseimbangan cairan telinga sehingga menurunkan vertigo
4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Intervensi
- Kaji tingkat ansietas
Rasional
Dapat memandu intervensi terapeutik
- He mengenai vertigo dan penanganannya
Rasional
Meningkatkan pengetahuan, dapat menurunkan nsietas
- Hindari aktivitas yang menyebabkan stress

Rasional
Situasi penuh stress dapat meningkatkan gejala
5. Resiko terhadap penurunan volume cairan sehubunan dengan peningkatan haluaran cairan
Intervensi
- Kaji intake dan output
Rasional
Pencatatan yang akurat merupakan dasar untuk penggantian cairan
- Kaji indikator dehidrasi
Rasional
Pengenalan segera memungkinkan intervensi segera
- Dorong konsumsi cairan oral dan hindari minuman yang mengandung kafein
Rasional
Penggantian cairan oral dapat berguna untuk mengganti kehilangan cairan dan kafein dapat meningkatkan diare
- He pemberian antiemetik 
Rasional
Antiemetik mengurangi mual dan muantal sehingga mengurangi kehilangan cairan  

Saturday, May 16, 2009

Aturan Penulisan ASKEP

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan menurut Potter dan Perry (1989, dalam Nursalam, 2001), adalah:
(1) Bila terjadi kesalahan penulisan tidak dihapus menggunakan tip-ex, tapi dicoret dengan satu garis pada tulisan yang salah, kemudian ditulis kata ”salah”, lalu diparaf, kemudian tulis catatan yang benar.
(2) Menulis uraian objektif perilaku klien dan tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain, tanpa memberi komentar yang bersifat mengkritik.
(3) Mengoreksi semua kesalahan sesegera mungkin.
(4) Mencatat hanya fakta secara akurat. Pastikan apa yang ditulis adalah fakta yang terjadi atau didapatkan, bukan perkiraan atau hasil penafsiran.
(5) Diakhir catatan tidak dibiarkan kosong, untuk menghindari penambahan informasi yang tidak benar. Bila ada area yang kosong dibuat garis horizontal lalu dibubuhkan tanda tangan.
(6) Semua catatan harus jelas, dapat dibaca oleh petugas kesehatan lain dalam tim kesehatan, ditulis dengan tinta, menggunakan bahasa yang lugas, menggunakan singkatan yang telah disepakati oleh institusi.
(7) Jika terdapat keragu-raguan tentang suatu instruksi, minta klarifikasi kepada petugas yang bersangkutan.
(8) Perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas informasi yang ditulisnya, jadi jangan menulis untuk orang lain.
(9) Gunakan kata-kata yang spesifik untuk menuliskan suatu informasi, sebab kata-kata yang bersifat umum dapat menimbulkan penafsiran yang bervariasi.
(10) Mulailah mencatat dokumentasi dengan waktu dan akhiri dengan tanda tangan. Pastikan urutan kejadian dicatat dengan benar dan ditanda tangani, hal itu menunjukkan orang yang bertanggung gugat atas dokumentasi tersebut. Jangan tunggu sampai akhir giliran dinas baru mencatat perubahan penting yang terjadi beberapa jam lalu.