Metodologi Perencanaan E-Business
Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba
Uji normalitas data dalam penelitian
Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:
Tilawatil Quran KH. Muammar ZA
ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.
Contoh Khutbah Bahasa Sunda
Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan
Ciri-ciri Pasar Monopoli
Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.
Sunday, January 10, 2010
Pengertian Alam Perasaan dan Gangguan perasaan
Thursday, October 29, 2009
LANGKAH-LANGKAH PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH
1. Lansia
• Atur posisi lansia duduk dilantai.
• Jika telah melakukan aktivitas istirahatkan dulu sampai tenang, karena akan berpengaruh terhadap hasil pengukuran tekanan darah.
2. Persiapan Alat
• Spigmomanometer (Tensi meter).
• Stetoskop
B. Pelaksanaan
1. Atur posisi tangn minimal sejajar dengan letak jantung dan tidak terlalu rendah.
2. Tempatkan atau letakan manset pada lengan atas 3 jari diatas sikut.
3. Tempelkan Manometer pada manset yang telah dipasang.
4. Cari denyut nadi pada arteri brachialis (pada lipatan siku).
5. Setelah nadi ditemukan tempelkan stetoskop pada daerah denyutan nadi tersebut.
6. Pasang stetoskop pada telinga pemeriksa.
7. Cari denyut nadi pada arteri radialis (pada daerah pergelangan tangan).
8. Mulai melakukan pemompaan sampai dirasakan denyutan nadi pada pergelangan tangan menghilang, lalu tambahkan 1 – 2 pompaan.
9. Pegang ujung stetoskop lalu mulai turunkan tekanaan pada manset secara perlahan – lahan.
10. Dengarkan adanya suara ”dug – dug – dug” :
• Bunyi pertama menunjukan tekanan sistolik.
• Bunyi yang terakhir terdengar menunjukan tekanan diastolik.
Contoh : Jika bunyi jarum manometer menunjukan 120 dan bunyi terakhir menghilang jarum manometer menunjukan angka 80 berarti tekanan darah orang tersebut adalah 120/80 mmHg.
11. Sesudah selesai lepaskan stetoskop dan manset dari pergelangan tangan lansia.
12. Catat dan beritahukan hasil yang telah diperoleh.
C. Evaluasi
1. Nilai normal adalah :
• Sistolik : 120 – 160 mmHg.
• Diastolik : 60 – 100 mmHg.
2. Interpretasi:
• Sistolik : > 160 mmHg Hipertensi
• Sistolik : <>
Monday, September 28, 2009
Daftar Alat Nursing Kit
1. Tas
2. Tensimeter GEA/Spigmed
3. Stetoskop Kenz
4. Pen Light
5. Term Digital
6. Reflek Hammer Segitiga
7. Pinset Anatomis
8. Pinset Cirurgis
9. Gunting Verban
10. Hand Scoon
11. Tong Spatel
12. Masker
13. Garputala
Friday, May 15, 2009
Anatomi paru – paru
a. Apeks, yang meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm di atas clavikula
b. Permukaan costa- vertebral, menempel pada bagian dalam dinding dada
c. Permukaan mediastinal , menempel pada perikardium dan jantung
d. Basis yang terletak pada diafragma.
Paru kanan terbagi menjadi menjadi dua fisura dan tiga lobus : superior, media, dan inferior. Paru kiri dibagi oleh sebuah fisura menjadi dua lobus : superior dan inferior.
Bronkus pada setiap sisi bercabang menjadi cabang –cabang utama, satu untuk setiap lobus paru. Segmen paru pada daerah tersebut disuplai oleh cabang utama bronkus ; setiap segmen adalah unit mandiri dengan suplai darah sendiri. Paru kanan memiliki sepuluh segmen, paru kiri memiliki sembilan segmen .
Didalam segmennya, cabang bronkus utama memecah menjadi cabang– cabang yang lebih kecil dan tidak memiliki kartigo dalam dindingnya. Setiap bronkiolus memecah menjadi lebih kecil. Duktus alveolaris adalah cabang yang paling kecil, setiap ujung terdapat sekelompok alveolus. Alveolus adalah kantung berdinding tipis yang mengandung udara, melalui seluruh dinding inilah terjadi pertukaran gas. Setiap paru mengandung sekitar 300 juta alveoli. Lubang – lubang kecil didalam dinding alveolar memungkinkan udara melewati satu alveolus yang lain. Lobulus primer atau unit paru adalah bronkiolus dengan kelompok – kelompok alveolusnya.
Pleura adalah membran tipis transparan yang melapisi paru dalam dua lapis : lapisan viseral, melekat erat pada permukaan paru, dan lapisan parietal yang melapisi permukaan pada dinding dada
Pembuluh darah dalam paru– paru, arteri pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari partikel kanan jantung ke paru – paru ; cabang– cabangnya menyentuh saluran bronkial, bercabang dan bercabang lagi sampai menjadi arteriola halus ; arteriola itu membelah – belah dan membentuk jaringan kapiler dan kapiler –kapiler itu menyentuh dinding alveoli atau gelembung udara.
Kapiler itu hanya dapat memuat sedikit maka praktis dapat dikatakan sel – sel darah merah membuat garis tunggal. Alirannya bergerak lambat dan dipisahkan dari udara dalam alveoli hanya oleh dua membran yang sangat tipis, maka pertukaran gas berlangsung dengan difusi , yang merupakan fungsi pernafasan.
Kapiler paru – paru bersatu sampai menjadi pembuluh darah lebih besar dan akhirnya dua vena pulmonalis meninggalkan setiap paru –paru membawa darah berisi oksigen ke atrium kiri jantung untuk didistribusikan keseluruh tubuh melalui aorta. Pembuluh darah yang dilukiskan sebagai arteri bronkialis membawa darah berisi oksigen langsung dari aorta torasika ke paru –paru guna memberi makan dan mengantarkan oksigen kedalam jaringan paru –paru sendiri. Cabang akhir arteri –arteri ini membentuk plexus kapiler yang tampak jelas dan terpisah, terbentuk oleh cabang akhir arteri pulmonalis ,tetapi beberapa dari kapiler ini akhirnya bersatu kedalam vena pulmonalis. Sisa darah itu diantarkan dari setiap paru –paru oleh vena bronkialis dan ada yang dapat mencapai vena cava superior. Maka dengan demikian paru –paru mempunyai persediaan darah ganda.
Hilus ( tampuk ) paru –paru dibentuk oleh struktur sebagai berikut :
Arteri pulmonalis, yang mengembalikan darah tanpa oksigen kedalam paru –paru untuk diisi oksigen. Vena pulmonalis, yang mengembalikan darah berisi oksigen dari paru –paru ke jantung . Bronkus yang bercabang dan beranting membentuk pohon bronkial , merupakan jalan utama udara.
Arteri bronkial , keluar dari aorta dan mengantarkan darah dari paru –paru ke vena cava superior , dan pembuluh limfe yang masuk– keluar paru – paru, sangat banyak..
Persyaratan penting dalam aksi pergerakan pernafasan disuplai melalui nervus phrenicus dan nervus spiral toraxic. Nervus phrenicus mempersyarafi diafragma sementara nervus spiral toraxic mempersyarafi otot – otot intercosta. Disamping syaraf – syaraf tersebut syaraf simpatis dan para simpatis .
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan : Gagal Ginjal Kronis
Proses keperawatan tersebut dalam pelaksanaannya harus berkesinambungan, karena proses keperawatan ini meliputi beberapa tahap yaitu :
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1) Data Biografi
Perlu dikaji umur, jenis kelamin, dan pekerjaan
2) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien dengan CRF biasanya datang dengan keluhan nyeri pada pinggang, buang air kecil sedikit, bengkak/edema pada ekstremitas, perut kembung, sesak.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Perlu dikaji riwayat pada perkemihan, riwayat penyakit ginjal sebelumnya, riwayat menggunakan obat-obatan nefrotoksik, kebiasaan diet, nutrisi, riwayat tidak dapat kencing, penggunaan hormon.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Perlu dikaji riwayat kesehatan keluarga yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit CRF seperti hipertensi, diabetes mellitus, sistemik lupus eritematosa, arthritis dan kanker.
3) Pola Aktivitas Sehari-hari
Pada klien CRF pola aktivitas sehari-hari meliputi pola makan sebelum sakit yang sering dikonsumsi oleh klien yang merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya CRF seperti makanan yang tinggi natrium, kalium, kalsium sedangkan pola makan selama sakit biasanya mengalami penurunan frekuensi dan porsi karena klien mengalami mual. Pada klien dengan CRF harus dikaji kebiasaan minum yang kurang dari kebutuhannya dan yang dapat memperberat penyakitnya seperti kopi, teh dan alkohol, selama sakit biasanya intake dibatasi sesuai output. Eliminasi BAK biasanya ditemukan BAK yang sedikit sampai ditemukan oliguri sedangkan BAB biasanya tidak ada perubahan kecuali pada klien dengan penurunan aktivitas. Sebelum sakit biasanya kebutuhan personal hygiene klien tidak ada perubahan sedangkan selama sakit personal hygiene klien menjadi terganggu karena adanya kelemahan.
4) Pemeriksaan Fisik
a) Sistem Pernafasan
Pada klien dengan CRF ditemukan adanya tachipnoe, pernafasan kusmaul, uremic, halitosis, edema paru dan efusi pleura.
b) Sistem Kardiovaskuler
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan adanya hipertensi, gagal jantung kongestif, edema pulmoner, perikarditis.
c) Sistem Pencernaan
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan adanya anoreksia, nausea, vomiting, cegukan, rasa metalik tak sedap pada mulut, ulserasi gusi, perdarahan gusi/tidak, nyeri ulu hati, distensi abdomen, konstipasi.
d) Sistem Genotiurinaria
Pada klien dengan CRF awal ditemukan adanya poliuri dan nokturi, selanjutnya berkembang menjado oliguri dan anuri, terdapat proteinuria, hematuria, perubahan warna urine (kuning pekat, merah, cokelat).
e) Sistem Muskuloskeletal
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan kelemahan otot, kejang otot, nyeri pada tulang dan fraktur patologis.
f) Sistem Integumen
Penurunan turgor kulit, hiperpigmentasi, pruritis, echimosis, pucat.
g) Sistem Persyarafan
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan letargi, insomnia, nyeri kepala, tremor, koma.
5) Data Psikososial
Klien dengan CRF biasanya ditemukan adanya rasa takut, marah, cemas, perasaan bersalah dan kesedihan. Respon emosional pada klien CRF mungkin disebabkan karena perubahan body image takut akan terjadinya disfungsi seksual dan ketakutan akan kematian.
6) Data Spiritual
Pada klien dengan CRF biasanya ditemukan ketidakmampuan beribadah seperti biasa.
7) Data Penunjang
a) Laboratorium
(1) Urine
(a) Volume biasanya oliguri dan anuri
(b) Warna urine keruh, sedimen kotor atau kecokelatan
(c) Berat jenis menurun
(d) Osmolalitas menurun
(e) Klirens kreatinin menurun
(f) Natrium meningkat
(g) Protein meningkat
(2) Darah
(a) Serum kreatinin meningkat
(b) Blood urea nitrogen meningkat
(c) Kadar kalium meningkat
(d) Hematokrit menurun
(e) Hemoglobin menurun
(f) Natrium, kalsium menurun
(g) Magnesium/posfat meningkat
(h) Protein (khususnya albumin menurun)
(i) pH menurun
b) Pyelogram Retrograd menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter.
c) Arteriogram mengidentifikasi adanya massa
d) Ultrasonoginjal menentukan ukuran ginjal, adanya massa, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
e) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.
b. Analisa
Analisa data merupakan proses berfikir yang meliputi kegiatan pengelompokkan data dan menginterpretasikan kelompok data tersebut. Kemudian dibandingkan dengan standar normal sehingga dapat menentukan masalah. Dalam menganalisa data harus divalidasi kembali setelah itu dikelompokkan ke dalam data subjektif dan objektif, kemudian diidentifikasi pada masalah dan penyebab.
c. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang jelas tentang masalah klien dan penyebabnya. Selain itu harus spesifik berfokus pada kebutuhan klien dengan mengutamakan prioritas dan diagnosa yang muncul harus dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada Gangguan Sistem Perkemihan : Gagal Ginjal Kronis ( CRF ) menurut Marilynn E. Doenges, Barbara Engram, dan Brunner and Suddart adalah sebagai berikut :
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium.
2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet, dan perubahan membran mukosa mulut.
3) Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan.
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisa.
5) Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
6) Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial, dan tahanan vaskular sistemik; ketidakseimbangan elektrolit; akumulasi toksin (urea)
7) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi toksin dalam tubuh, edema/dehidrasi, penurunan aktivitas/mobilisasi
8) Risiko tinggi terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan kurang pengetahuan, sistem pendukung tidak adekuat
2. Perencanaan
Perencanaan adalah merupakan suatu proses kegiatan merencanakan asuhan keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan kesehatan klien dan mengatasi masalah keperawatan. Pada perencanaan mengandung unsur promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan melibatkan klien dan keluarga. Selain itu dalam merencanakan suatu tindakan harus berorientasi pada tujuan dan sesuai dengan etiologi. Sesuai dengan diagnosa yang dirumuskan diatas, maka dapat dirumuskan pula tujuan dan intervensi keperawatan, yaitu :
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium.
Tujuan : Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan.
Hasil yang diharapkan :
- Menunjukkan perubahan-perubahan berat badan badan yang lambat
- Mempertahankan pembatasan diet dan cairan
- Menunjukkan turgor kulit normal tanpa edema
- Menunjukkan tanda-tanda vita normal
- Menunjukkan tidak adanya distensi vena leher
- Melaporkan adanya kemudahan dalam bernafas atau tidak terjadi napas pendek
- Melakukan hygiene oral dengan sering
- Melaporkan penurunan rasa haus
- Melaporkan berkurangnya kekeringan pada membran mukosa mulut
2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet, dan perubahan membran mukosa mulut.
Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat
Hasil yang diharapkan :
- Mengkonsumsi protein yang mengandung nilai biologis tinggi
- Memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam batasan diet
- Mengkonsumsi makanan tinggi kalori dalam batasan diet
- Mematuhi medikasi sesuai jadwal untuk mengatasi anoreksia dan tidak menimbulkan rasa kenyang
- Menjelaskan dengan kata-kata sendiri rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan kadar kreatinin dan urea
- Mengkonsulkan daftar makanan yang dapat diterima
- Melaporkan peningkatan nafsu makan
- Menunjukkan tidak adanya perlambatan atau penurunan berat badan yang cepat
- Menunjukkan turgor kulit yang normal tanpa edema, kadar albumin plasma dapat diterima
3) Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan.
Tujuan : Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang bersangkutan
Hasil yang diharapkan :
- Menyatakan hubungan antara penyebab ginjal dan konsekuensinya
- Menjelaskan pembatasan cairan dan diet sehubungan dengan kegagalan regulasi ginjal
- Menyatakan hubungan antara gagal ginjal dengan kebutuhan penanganan menggunakan kata-kata sendiri
- Menanyakan tentang pilihan terapi, yang merupakan petunjuk kesiapan belajar
- Menyatakan rencana untuk melanjutkan kehidupan normalnya sedapat mungkin
- Menggunakan informasi dan instruksi tertulis untuk mengklarifikasi pertanyaan dan mencari informasi tambahan
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisa.
Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi
Hasil yang diharapkan :
- Berpartisipasi dalam meningkatkan tingkat aktivitas dan latihan
- Melaporkan peningkatan rasa sejahtera
- Melakukan istirahat dan aktivitas secara bergantian
- Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih
5) Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
Tujuan : Memperbaiki konsep diri
Hasil yang diharapkan :
- Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif dan pada saat ini tidak mungkin lagi digunakan akibat penyakit dan penanganan (pemakaian alkohol dan obat-obatan; penggunaan tenaga yang berlebihan)
- Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan reaksinya terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan
- Mencari konseling profesional, jika perlu, untuk menghadapi perubahan akibat gagal ginjal
- Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual
6) Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial, dan tahanan vaskular sistemik; ketidakseimbangan elektrolit; akumulasi toksin (urea)
Tujuan : Mempertahankan curah jantung
Hasil yang diharapkan :
- Tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal
- Nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler
7) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi toksin dalam tubuh, edema/dehidrasi, penurunan aktivitas/mobilisasi
Hasil yang diharapkan :
- Mempertahankan kulit utuh
- Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan /cedera kulit
8) Risiko tinggi terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan kurang pengetahuan, sistem pendukung tidak adekuat
Hasil yang diharapkan :
- Mendemonstrasikan keinginan untuk mengikuti program terapeutik perawatan di rumah yang dianjurkan
- Mengungkapkan pemahaman tentang instruksi pulang, mendemonstrasikan kemampuan untuk merawat sisi akses vaskuler
3. Pelaksanaan
Implementasi atau pelaksanaan merupakan perwujudan dari rencana yang sudah dibuat sendiri dengan masing-masing diagnosa keperawatan, yang sesuai dengan sarana dan prasarana yang ada. Perawat menerapkan keterampilan, sikap, dan pengetahuannya sesuai dengan ilmu pengetahuan. Pelaksanaan dilaksanakan sesuai dengan masalah yang muncul, dapat bersifat dependen maupun kolaboratif. Adapun pelaksanaan harus memperhatikan :
a. Sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan.
b. Sesuai dengan prioritas tindakan.
c. Pencatatan ditulis dengan jelas, ringkas, istilah baik dan benar serta dengan menggunakan kata kerja.
d. Mencantumkan paraf/nama jelas dan waktu pelaksanaan tindakan.
4. Evaluasi
Tahap Evaluasi atau tahap penilaian adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya. (Effendi, 1995 : 40)
Evaluasi dikategorikan sebagai formatif dan sumatif. Evaluasi formatif terjadi secara periodik selama pemberian perawatan; sedangkan evaluasi sumatif terjadi pada akhir aktivitas, seperti : di akhir penerimaan, pemulangan atau pemindahan ke tempat lain, atau di akhir kerangka waktu tertentu, seperti di akhir sesi penyuluhan.
Untuk daftar pustaka tgl anda lihat adri mana kutipannya saya dapatkan.
Konsep Dasar Gagal Ginjal Kronik
Gagal ginjal kronik menurut Brunner & Suddarth, alih bahasa Kuncara, Y., dkk (2002 : 1448) mendefinisikan “gagal ginjal kronik atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah)”.
Menurut Suyono, S.,dkk (2001 : 427), adalah “ Suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif, dan cukup lanjut “.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronik merupakan kondisi yang permanen yang disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel dimana ginjal gagal untuk membuang sampah metabolik (ureum dan sampah nitrogen lain) serta gagal untuk mempertahakan keseimbangan cairan dan elektrolit yang berakhir dengan kerusakan yang menyebabkan terjadinya uremia.
2. Anatomi Fisiologi
Sistem perkemihan terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Dalam makalah ini penyusun akan banyak mengungkap mengenai organ ginjal.
a. Anatomi ginjal
1) Makroskopis
Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor). Ginjal pada orang dewasa penjangnya sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan berat kedua ginjal kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau ginjal beratnya antara 120-150 gram.
Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada 2 buah yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang daripada ginjal wanita. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan dua daerah yang berbeda yaitu korteks dan medulla.
Medulla terbagi menjadi baji segitiga yang disebut piramid. Piramid-piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid membentuk duktus papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul (Price, S.,dkk, alih bahasa Anugrah, P,1995 ; Syaifuddin, 1995).
2) Mikroskopis
Tiap tubulus ginjal dan glumerulusnya membentuk satu kesatuan (nefron). Nefron adalah unit fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang mengosongkan diri keduktus pengumpul. (Price,S.,dkk,alih bahasa Anugrah,P.,1995 : 773)
b. Vaskularisasi ginjal
Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kava inferior yang terletak disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam hilus, arteri tersebut bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara piramid selanjutnya membentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola interlobularis yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini kemudian membentuk arteriola aferen pada glomerulus (Price, S., et all, alih bahasa Anugrah,P.,1995; Syaifuddin.,1995)
Glomeruli bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler peritubular. Dartah yang mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena selanjutnya menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh sekitar 1200 ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal berada pada korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat khusus aliran darah ginjal adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal arteiol afferen mempunyai kapasitas intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap perubahan tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus tetap konstan ( Price,S.,et all, alih bahasa Anugrah,P.,1995;Syaifuddin.,1995).
c. Persarafan pada ginjal
Menurut Price,S.,et all, alih bahasa Anugrah,P.,1995 : 773, “Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor), saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk kedalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk keginjal”.
d. Fisiologi ginjal
Menurut Syaifuddin, 1995 : 108, “ Fungsi ginjal yaitu mengeluarkan zat-zat toksik atau racun; mempertahankan keseimbangan cairan; mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh; mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh; mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir sari protein ureum, kreatinin dan amoniak”.
Tiga tahap pembentukan urine :
1) Filtrasi glomerular
Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler.
2) Reabsorpsi
Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu : non elektrolit, elektrolit dan air. Setelah filtrasi langkah kedua adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang sudah difiltrasi.
3) Sekresi
Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion hidrogen.
Pada tubulus distalis, transfor aktif natrium sistem carier yang juga telibat dalam sekresi hidrogen dan ion-ion kalium tubular. Dalam hubungan ini, tiap kali carier membawa natrium keluar dari cairan tubular, cariernya bisa hidrogen atau ion kalium kedalam cairan tubular “perjalanannya kembali” jadi, untuk setiap ion natrium yang diabsorpsi, hidrogen atau kalium harus disekresi dan sebaliknya.
Pilihan kation yang akan disekresi tergantung pada konsentrasi cairan ekstratubular (CES) dari ion-ion ini (hidrogen dan kalium).
Pengetahuan tentang pertukaran kation dalam tubulus distalis ini membantu kita memahami beberapa hubungan yang dimiliki elektrolit dengan lainnya. Sebagai contoh, kita dapat mengerti mengapa bloker aldosteron dapat menyebabkan hiperkalemia atau mengapa pada awalnya dapat terjadi penurunan kalium plasma ketika asidosis berat dikoreksi secara theurapeutik.
3. Etiologi
Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut Price, S., dkk, alih bahasa Anugrah, P,1995 ; Ignatavicius, D., dkk, 1995 adalah sebagai berikut :
a. Infeksi
1) Pyelonefritis kronis
2) Tuberkulosis
b. Penyakit peradangan
Glomerulonefritis
c. Penyakit vaskular hipertensif
1) Nefrosklerosis benigna
2) Nefrosklerosis maligna
3) Stenosis arteria renalis
d. Gangguan jaringan penyambung
1) Lupus eritematosus sistemik
2) Poliarteritis nodosa
3) Sklerosis sistemik progresif
e. Gangguan kongenital dan herediter
1) Penyakit ginjal polikistik
2) Asidosis tubulus ginjal
f. Penyakit metabolik
1) Diabetes melitus
2) Gout
3) Hiperparatiroidisme
4) Amiloidosis
g. Nefropati toksik
1) Penyalahgunaan analgesik
2) Nefropati timbal
h. Nefropati obstruktif
1) Saluran kemih bagian atas
a) Kalkuli
b) Neoplasma
c) Fibrosis retroperitoneal
2) Saluran kemih bagian bawah
a) Hipertrofi prostat
b) Striktur uretra
c) Anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.
4. Patofisiologi
Gagal ginjal kronis merupakan penyakit renal tahap akhir (ESRD) yang merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) Ini dapat disebabkan oleh penyakit sistemik seperti diabetes melitus, glomerulonefritis kronis; pielonefritis; hipertensi yang tidak dapat dikontrol; obstruksi traktus urinarius.
Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat. Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah gomeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal.
Penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (GFR) dapat dideteksi dengan mendapatkan urin 24 jam untuk pemeriksaan klirens kreatinin. Menurunnya filtrasi gomerulus (akibat tidak berfungsinya glomeruli) klirens kreatinin akan menurun dan kadar kreatinin serum akan meningkat. Selain itu kadar urea darah (BUN) biasanya meningkat. Kreatinin serum merupakan indikator yan paling sensitif dari fungsi renal karena substansi ini diproduksi secara konstan oleh tubuh. BUN tidak hanya dipengaruhi oleh penyakit renal, tetapi juga oleh masukan protein dalam diet, katabolisme (jaringan dan luka RBC), dan medikasi seperti steroid.
Ginjal juga tidak mampu untuk mengkonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal,respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit sehari-hari tidak terjadi. Hipertensi dapat terjadi akibat aktivasi aksis renin-angiotensin dan kerjasama keduanya meningkatkan sekresi aldosteron sehingga terjadi retensi cairan dan natrium.
Terjadi asidosis metabolik seiring dengan ketidakmampuan ginjal mengekskresiakn muatan asam ( H +) yang berlebihan. Penurunan sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus ginjal untuk menyekresi amonia (NH 3 -) dan mengabsorpsi natrium bikarbonat (HCO 3 -).
Anemia dapat terjadi akibat dari produksi eritropoetin yang tidak adekuat, memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi, dan kecenderungan untuk mengalami perdarahan akibat status uemik terutama saluran gastrointestinal.
Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat dapat terjadi karena menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal, terdapat peningkatan kadar fosfat serum dan sebaliknya penurunan kadar serum kalsium. Namun demikian pada gagal ginjal, tubuh tidak berespons secara normal terhadap peningkatan sekresi parathormon, dan akibatnya kalsium di tualng menurun, menyebaban perubahan pada tulang dan penyakit tulang. Selain itu, metabolit aktif vitamin D (1,25-dihidrokolekalsiferol) yang secara normal dibuat ginjal menurun seiring dengan berkembangnya gagal ginjal.
5. Dampak-dampak Terhadap Sistem Tubuh Lain
1) Gangguan pada sistem gastrointestinal
a) Anoreksia, nausea dan vomitus, yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein didalam usus, terbentuknya zat-zat toksik akibat metabolisme bakteri usus seperti amonia.
b) Faktor uremik disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur diubah oleh bakteri di mulut menjadi amonia sehingga nafas berbau amonia
2) Kulit
a) Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning-kuningan akibat urokkkrom. Gatal-gatal dengan ekskoriasi akibat toksin uremik dan pengendapan kalsium di pori-pori kulit.
b) Ekimosis akibat gangguan hematologis
c) Bekas-bekas garukan akibat gatal
3) Sistem hematologi
a) Anemia, dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
(1) Berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritropoesis pada sumsum tulang menurun
(2) Hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik
(3) Defisiensi besi, asam folat, dan lain-lain, akibat nafsu makan yang berkurang.
(4) Perdarahan, paling sering pada saluran cerna dan kulit
(5) Fibrosis sumsum tulang akibat hiperparatiroidisme sekunder.
b) Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia
Gangguan ini mengakibatkan perdarahan yang disebabkan oleh agregasi dan adhesi trombosit yang berkurang serta menurunnya faktor trombosit III dan ADP.
c) Gangguan fungsi leukosit.
Gangguan ini mengakibatkan fagositosis dan kemotaksis berkurang, fungsi limfosit menurun sehingga imunitas tubuh menurun.
4) Sistem saraf dan otot
a) Restless Leg Syndrom
Pasien merasa pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan
b) Burning Feet Syndrom
Rasa kesemutan dan seperti terbakar, terutama ditelapak kaki.
c) Ensefalopati Metabolik
Lemah, tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi, tremor, asteriksis, mioklonus, kejang.
d) Miopati
Kelemahan dan hipertrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal.
5) Sistem kardiovaskuler
a) Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron.
b) Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditism efusi perikaardial, penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini, dan gagal jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi.
c) Gangguan irama jantung akibat aterosklerosis dini, gangguan elektrolit dan klasifikasi metastasik
d) Edema akibat penimbunan cairan.
6) Sistem endokrin
a) Gangguan seksual : libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki akibat produksi testosteron dan spermatogenesis yang menurun. Sebab lain juga dihubungkan dengan metabolik tertentu (seng, hormon paratiroid). Pada wanita timbul gangguan menstruasi, gangguan ovulasi sampai amenorea
b) Gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin
Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin <15>
Konsep dasar Penyakit-Peronitis
2. Anatomi
Susunan saluran pencernaan :
A. Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terbagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Bagian luar atau vestibula, yaitu ruang antara gusi, bibir dan pipi
a) Bibir
Terdiri atas dua lipatan daging yang membentuk gerbang mulut. Disebelah luar ditutupi oleh kulit dan di sebelah dalam ditutupi oleh selaput lendir (mukosa).
b) Pipi
Dilapisi dari dalam oleh mukosa yang mengandung papilla.
2. Bagian dalam atau rongga mulut yang dibatasi oleh tulang maksilaris, palatum, mandibulla dan faring
a) Gigi
(1) Gigi sulung
(2) Gigi tetap
b) Lidah
Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir :
(1) Radiks lingua
(2) Dorsum lingua
(3) Apeks lingua
B. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan esophagus, didalam lengkung faring terdapat tonsil yaitu kumpulan kelenjar limpa yang banyak mengandung limposit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.
C. Esophagus
Merupakan struktur berbentuk tubular yang menghubungkan faring dengan lambung. Esophagus terletak di belakang trakea dan di depan tuang punggung.
D. Rongga Abdomen
Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi 2 bagian – abdomen yang sebenarnya, yaitu rongga sebelah atas dan lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil.
Batas-batas abdomen :
- Atas : diafragma
- Bawah : pintu masuk panggul dari panggul besar
- Depan dan kedua sisi : otot-otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga sebelah bawah
- Belakang : tulang punggung dan otot polos dan quadratus lumborum
Isi abdomen :
Sebagian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus dan usus besar.
1. Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang. Lambung terletak di oblik kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat di bawah diafragma. Kapasitas normal lambung 1 – 2 liter. Secara anatomis lambung terbagi atas fundus, korpus dan antrum pylorus
2. Usus halus
Usus halus merupakan tabung kompleks berlipat-lipat yang membentang dari pylorus sampai katup ilosekal, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan
a) Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, mulai dari pylorus sampai yeyenum. Duodenum terletak pada daerah epigastrium dan umbilikalis. Pada bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lendir yang disebut papilla vateri. Pada papilla vateri ini bermuara saluran empedu (duktus kaledokus) dan saluran pancreas (duktus pankreatitis).
Empedu dibuat dari hati untuk dikeluarkan ke duodenum melalui duktus kaledokus yang fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan lipase.
Pankreas juga menghasilkan amylase yang berfungsi mencerna hidrat arang menjadi disakarida dan tripsin yang berfungsi mencerna protein menjadi asam amino atau albumin dan polipeptida.
b) Yeyenum dan Ileum
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang 6 meter. Sambungan yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas. Lekukan-lekukan yeyenum menduduki bagian kiri atas rongga abdomen, sedangkan ileum cenderung menduduki bagian bawah kanan rongga abdomen dan rongga pelvis. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang orifisium ileosekal.
3. Usus Besar
Usus besar merupakan tabung muscular berongga dengan panjang sekitar 1,5 meter yang terbentang dari sekum sampai canalis ani.
a) Sekum
Pada sekum terdapat katup ileosekal dan appendiks yang melekat pada ujung sekum. Katup ileosekal mengontrol aliran kimus dari ileum ke sekum. Appendiks sebagai organ pertahanan terhadap infeksi, kadang appendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa menimbulkan perforasi dindingnya kedalam rongga abdomen.
b) Kolon
(1) Kolon ascendens
Panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur keatas dari ileum kebawah hati.
(2) Kolon Transversum
Panjangnya 38 cm, membujur dari kolon ascendens sampai ke kolon descendens berada dibawah abdomen
(3) Kolon Descendens
Panjangnya 25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah
(4) Kolon Sigmoid
Merupakan lanjutan dari kolon descendens terletak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.
c) Rektum
Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus.
E. Anus
Adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dari udara luar. Dinding anus diperkuat oleh 3 sfingter :
a) Sfingter ani internus berada diatas, bekerja tidak menurut kehendak
b) Sfingter levator ani, bekerja tidak menurut kehendak
c) Sfingter ani eksternus berada dibawah, bekerja menurut kehendak
3. Fisiologi
Usus halus mempunyai fungsi utama dalam pencernaan dan absorpsi bahan-bahan nutrisi dan air. Proses pencernaan dimulai dari mulut dan lambung oleh kerja ptyalin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan yang masuk. Proses dilanjutkan didalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pancreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak dan protein menjadi zat-zat yang sederhana. Adanya bikarbonat dalam secret pancreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pancreas. Kerja empedu terjadi sebagai akibat dari sifat detergen asam-asam empedu yang dapat melarutkan zat-zat lemak. Pergerakan peristaltic usus halus bergerak dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai continue isi lambung. Selanjutnya sisa absorpsi dari usus halus dilanjutkan ke usus besar dan berakhir di anus.
Fungsi peritoneum :
1) Menutupi sebagian dari rongga abdomen dan pelvis
2) Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan
3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen
4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi
4. Etiologi
1. Peritonitis Primer
a. Sindrom nefrotik
b. Sirosis hepatic
2. Peritonitis Sekunder
a. Ruftur atau perforasi pada saluran cerna
b. Terdapatnya sumber infeksi intra peritoneal
3. Peritonitis karena pemasangan benda saing kedalam rongga peritonium
Pemasangan kateter pentrikoperitonial, kateter peritoneo-jugular dan continuous ambulatori peritoneal dialisis
5. Tanda dan Gejala
- Rasa sakit pada daerah abdomen
- Dehidrasi
- Lemas
- Nyeri tekan pada daerah abdomen
- Defence musculair
- Bising usus berkurang atau menghilang
- Nafas dangkal
- Tekanan darah menurun
- Nadi kecil dan cepat
- Renjatan
- Berkeringat dingin
- Pekak hati menghilang
6. Patofisiologi
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen kedalam rongga abdomen biasanya sebagai akibat dari inflamasi, infeksi, iskemia, trauma, atau perforasi tumor. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri sehingga terjadi proliferasi bakterial, terjadi edema jaringan, dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein, sel darah putih, debris seluler dan darah. Respon segera dari saluran usus adalah hipermotilitas, diikuti oleh ileus paralitik, disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus.
Perporasi dapat terjadi pada Typus Abdominalis akibat tukak (ulkus) yang menebal pada cecum dan colon yang menembus lapisan otot atau daerah yang berongga sehingga dapat menyebabkan memar yang menyebabkan permeabilitas meningkat sehingga mengakibatkan perdarahan yang berdampak kebocoran pada peritoneum sehingga terjadilah peritonitis.
Menurut penyebabnya, peritonitis dibagi :
- Peritonitis Primer
Terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritoneum serta bisanya terjadi pada anak-anak dengan riwayat sindrom nefrotik dan sirosis hepatic. Kuman masuk kerongga peritoneum melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui alat genital.
- Peritonitis Sekunder
Terjadi bila bakteri masuk ke rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak dan bisanya dari lumen saluran cerna. Dalam keadaan normal peritoneum dapat mengatasi masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma. Akan tetapi, bila banyak bakteri yang masuk atau secara terus-menerus dapat menyebabkkan peritonitis, apalagi bila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, hemoglobin dan jaringan nekrotik atau immunitas pasien menurun, biasanya terdapat campuran jenis bakteri yang menyebabkan peritonitis, sering bakteri-bakteri aerob atau anaerob.
- Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneum
Kateter pentrikuloperitoneal
Yang digunakan untuk mengurangi cairan serebrospinalis pada klien dengan hidrochepalus, sehingga apabila cairan serebrospinalis mengandung bakteri maka dapat menyebabkan peritonitis.
Kateter peritoneo-jugular
Dipasang untuk mengurangi asites. Daerah yang terpasang kateter ini sering mengalami infeksi yang disebabkan oleh stapillococcus aureus
Continuous ambulatory peritonial dialysis
Infeksi disebabkan karena kontaminasi cairan dialysis atau kateter, infeksi ini biasanya disebabkan oleh stapillococcus aureus dan kadang-kadang juga disebabkan oleh bakteri gram negatif, bakteri anaerob atau jamur.
7. Manajemen Medik
1. Peritonitis primer
Antibiotic
Pembedahan
2. Peritonitis sekunder
Transfusi darah (plasma atau whole blood dan albumin)
Cairan parenteral (RL, Dextrose 5% atau NaCl 0,9%)
Kortikosteroid, misalnya : metil prednisone 30 mg/ kg bb/ hari (apabila terdapat renjatan)
Pemberian oksigen jika hypoxia
Pemasangan pipa nasogastrik tube untuk dekompresi
Pemberian analgetik dan sedatif
Pembedahan
Antibiotic intra perineal (missal 100 cc – 200 cc Canamisin 0,5 %)
Antibiotic parenteral dan atau oral
3. Peritonitis karena pemasangan benda asing kedalam rongga peritoneum
Pemberian antibiotic spectrum luas
Pencabutan atau reposisi kateter
8. Evaluasi Diagnostik
Leukositosis, hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. elektrolit serum dapat menunjukkan perubahan kadar Kalium, Natrium dan Clorida.
Sinar X dada dapat menunjukkan udara dan kadar cairan serta lengkung usus yang terdistensi, pemindaian CT abdomen dapat menunjukkan pembentukkan abses. Aspirasi peritoneal dan pemeriksaan kultur serta sensitifitas cairan teraspirasi dapat menunjukkan infeksi dan mengidentifikasi organisme penyebab
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn.E., Alih bahasa I Made Kariasa. 2001. Rencana Asuhan Keperwatan, Jakarta : EGC.
FKUI.1996. Ilmu Penyakit Dalam , Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
FKUI. 1982. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 2. Jakarta : Media Aesculapius.
Hudak dan Gallo alih bahasa Alledekania, Betty Susanto, Teressa, Yasmin. 1987. Keperawatan Kritis Edisi IV. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Ignatavicius,Donna D, et al.1995. Medical Surgical Nursing A Nursing Process Approach Edisi II. USA: W.B Sauders Company.
Pearce, Evelyn. C., Alih bahasa Sri Yuliani Handoyo.1985.Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Jakarta : Gramedia,
Price, Sylvia.A., Alih bahasa Peter Anugrah.1995.Patofisiologi , Jakarta :EGC.
Smeltzer and Bare,Alih bahasa Agung Nugroho. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah Volume 1, Jakarta : EGC.
Penyebab Glaukoma , Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala
Glukoma sudut terbuka tidak menunjukan gejala sampai pada perjalanan penyakit yang sudah lanjut. Awitannya insidius, progresif lambat, dan kehilangan lapang pandang perifer kecil tidak dirasakan. Ketika kehilangan lapang pandang menjadi lebih jelas bagi pasien, kerusakan ireversibel, ekstensi saraf optikus biasanya sudah terjadi.
Gejala glukoma sudut tertutup meliputi nyeri, pandangan halo (melihat halo disekitar benda), pandangan kabur, mata merah, dan perubahah bentuk mata. Nyeri okuler mungin disebabkan oleh peningkatan TIO cepat, implamasi atau akibat efek samping yang ditimbulkan oleh obat (misalnya spasme otot silier). Nyeri okuler berat dapat disertai mual, muntah, berkeringat, atau bradikardia. Mata merah mungkin berhubungan dengan iritis akut, reaksi obat, glukoma neovaskuler, hivema, perdarahan subkonjungtia atau tekanan vena episkleral yang meningkat. Edema kornea akibat peningkata TIO dan dekompesasi epitel kornea dapat mengakibatakn pandangan halo. Pandangan kabur episodik juga sering dijumpai. Beberapa pasien merasa ada perubahan penampilan mata, termasuk kornea memburam, pergeseran okuler, dan perubahan posisi, ukuran atau bentuk pupil.
Dinamika Humor Aquous
1. Pembentuka aquous humor yang berlebih, keadaan ini jarang.
2. Hambatan pada pengaliran humor aquous dari COP ke COA karena adanya blok pupil.
3. Hambatan aliran humor aquous dari COA ke kanal schlemm yang terjadi di trabekel, atau didepan trabekel misalnya adanya sudut sempit, membran didepan trabekel.
4. Hambatan pembuangannya misalnya hambatan pada kanalis schlemm, saluran kolektor atau uveosklerar walaupun jarang.
(Dikumpulkan dari berbagi sumber)
Anatomi dan Fisiologi Sistem penglihatan
• Ruangan pada mata
Bagian dalam bola mata terdiri dari 2 rongga ; anterior dan posterior. Rongga anterior teletak didepan lensa, selanjutnya dibagi lagi kedalam dua ruang ; ruang anterior ( antara kornea dan iris ) dan ruang posterior ( antara iris dan lensa ). Rongga anterior berisi cairan bening yang dinamakan humor aqueous yang diproduksi dalam badan ciliary, mengalir kedalam ruang posterior melewati pupil masuk keruang anterior dan dikeluarkan melalui saluran schelmm yang menghubungkan iris dan kornea ( sudut ruang anterior ).
• Iris dan lensa
Iris adalah berwarna, membran membentuk cairan ( bundar ) mengandung dilator involunter dan otot – otot spingter yang mengatur ukuran pupil. Pupil adalah ruangan ditengah – tengah iris, ukuran pupil bervariasi dalam merespon intensitas cahaya dan memfokuskan objek ( akomodasi ) untuk memperjelas penglihatan, pupil mengecil jika cahaya terang atau untuk penglihatan dekat.
Lensa mata merupakan suatu kristal, berbentuk bikonfek ( cembung ) bening, terletak dibelakang iris, terbagi kedalam ruang anterior dan posterior. Lensatersusun dari sel – sel epitel yang dibungkus oleh membrab elastis, ketebalannya dapat berubah – ubah menjadi lensa cembung bila refraksi lebih besar.
• Otot – otot mata
Otot – otot mata terdiri dari dua tipe; ekstrinsik dan intrinsik. Otot – otot intrinsi bersifat volunter ( dibawah sadar ), diluar bola mata yang mengontrol pergerakan diluar mata. Otot – otot intrinsik bersifat involunter ( tidak disadari ) berada dalam badan ciliary yang mengontrol ketebalan dan ketipisan lensa, iris dan ukuran pupil.
• Sudut filtrasi
Sudut filtrasi ini terdapat didalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan akhir dari membran descemet dan membran bowman lalu ke posterior 0,75 mm, kemudian kedalam mengelilingi kanal schelmm dan trabekula sampai ke COA. Akhir dari membran descemet disebut garis schwalbe. Limbus terdiri dari 2 lapisan epitel dan stroma. Epitelnya dua kali setebal epitel kornea. Didalam stromanya terdapat serat – serat saraf dan cabang akhir dari A. siliaris anterior. Bagian terpenting dari sudut foltrasi adalah trabekula, yang terdiri dari :
1. Trabekula korneoskeral, serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma kornea dan menuju kebelakang, mengelilingi kanal schelmm untuk berinsersi pada sklera.
2. Trabekula uveal, serabut berasal dari lapisan dalam stroma kornea, menuju ke skleralspur ( insersi dari m. siliarir ) dan sebagian ke m. siliaris meridional.
3. serabut berasal dari akhir membran descemet ( garis schwalbe ), menuju kejaringan pengikat m. siliaris radialis dan sirkularis.
b. Fisiologi Penglihatan
• Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini disebut kesalahan refraksi.
• Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Pemglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap (konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dinbantu dengan perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal.
• Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.
• Tekanan dalam bola mata (intra occular pressure/IOP)
Tekanan dalam bola mata dipertahankan oleh keseimbangan antara produksi dan pengaliran dari humor aqueous. Pengaliran dapat dihambat oleh bendungan pada jaringan trabekula (yang menyaring humor aquoeus ketika masuk kesaluran schellem) atau dfengan meningkatnya tekanan pada vena-vena sekitar sclera yang bermuara kesaluran schellem. Sedikit humor aqueous dapat maengalir keruang otot-otot ciliary kemudian ke ruang suprakoroid. Pemasukan kesaluran schellem dapat dihambat oleh iris. Sistem pertahanan katup (Valsava manuefer) dapat meningkatkan tekanan vena. Meningkatkan tekanan vena sekitar sklera memungkinkan berkurangnya humor aquoeus yang mengalir sehingga dapat meningkatkan IOP. Kadang-kadang meningkatnya IOP dapat terjadi karena stress emosional.
Teori Tentang Myoma Uteri
C. PATOLOGI ANATOMI
Dikenal dua tempat myoma uteri yaitu pada serviks uteri hanya 1 – 3 % dan sisanya pada korpus uteri. Myoma uteri dapat dibedakan sesuai dengan tempat dimana tumor tersebut tumbuh, yaitu :
1. Myoma Submukosum
Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus, myoma ini kadang-kadang dapat tumbuh terus dalam cavum uterus dan berhubungan dengan dinding uterus dengan tangkai sebagai polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks dan sebagian kecil atau besar memasuki vagina yang disebut Myomgeburt.
2. Myoma Intramural
Myoma ini terdapat didinding uterus diantara serabut miometrium sehingga dapat menyebabkan pembesaran uterus.
3. Myoma Subserosum
Apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Myoma ini dapat tumbuh diantara kedua ligamentum latum menjadi mioma intra ligamenter dan dapat tumbuh pula pada jaringan lain misalnya ligamentum atau omentum dan apabila tangkainya terputus karena trombosis atau nekrosis, maka mioma ini akan membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut Wandering / Parasitic Fibroid.
Besar uterus tergantung kepada besar myoma masing-masing, berat uterus bisa sampai 5 kg atau lebih. Didalam uterus mungkin ada satu myoma, akan tetapi jumlahnya banyak sekitar 5 sampai 30 saja, pernah ditemukan sebanyak 200 myoma dalam satu uterus.
Jika ada myoma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri, maka korpus tampak bundar dan konsistensi padat dan bila terdapat banyak myoma maka uterus terlihat seperti ada benjol-benjol dengan konsistensi padat, kadang kala bila terletak pada dinding depan uterus myoma dapat menonjol kedepan, sehingga sering menimbulkan keluhan miksi. Myoma uteri lebih banyak ditemukan pada multipara atau pada wanita infertilitas relatif, tidak jelas apa yang menyebabkan infertilitas itu. Myoma uteri jarang ditemukan pada wanita dibawah umur 40 tahun keatas.
D. PERUBAHAN SEKUNDER MYOMA
1. Atropi
Setelah menopause dan rangsangan estrogen hilang atau sesudah kehamilan myoma uteri menjadi kecil.
2. Degenerasi hyaline
Perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut, tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen, jaringan ikat bertambah, berwarna putih dan keras, disebut “myoma durum”
3. Degenerasi kistik
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma.
4. Degenerasi membatu (calcareous degeneration )
Terjadi pada wanita usia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras.
5. Degenerasi Merah (Carneus Degeneration)
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas, diperkirakan karena suatu nekrosis sub akut sebagai gangguan vaskularisasi. Degenarasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan.
6. Degenerasi Lemak
Jarang terjadi dan merupakan kelanjutan degenerasi hialin.
E. GEJALA DAN TANDA-TANDA
Hampir separuh kasus miomaGejala-gejala tergantung dari lokasi myoma, besarnya myoma dan perubahan-perubahan dalam myoma. Gejala-gejala dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Perdarahan tidak normal
Perdarahan ini sering bersipat Menorhoeragia mekanisme perdarahan ini tidak diketahui benar, akan tetapi faktor – faktor yang kiranya memegang peranan dalam hal ini ialah meluasnya permukaan endometrium dan gangguan dalam kontraktilitas miometrium. Perdarahan dapat pula bersifat metroragia yang bisa disebabkan mioma sub mukosum akan tetapi mungkin disebabkan oleh yang lain, seperti hiperplasia endometrium atau adenokarsinoma endometri.
2. Rasa Nyeri
Dapat terjadi apabila :
a) Mioma menyempitkan kanalis cervikalis
b) Mioma sub mukosum sedang dikeluarkan dari rongga rahim
c) Ada penyakit adneksa ( inflamasi pada tuba dan ovarium ) seperti adneksitis. Salpingitis ( inflamasi akut atau kronis pada tuba uterina ) oovoritis ( inflamasi pada ovarium )
d) Terjadi degenerasi merah atau putaran tangkai
3. Tanda-tanda Penekanan
Terdapatnya tanda-tanda penekanan tergantung dari besar dan lokasi myoma uteri. Tekanan bisa terjadi pada pada traktus urinarius, pada usus, dan pada pembuluh-pembuluh darah. Akibat tekanan terhadap kandung kemih ialah distorsi dengan gangguan miksi dan terhadap ureter bisa menyebabkan hidro ureter. Tekanan pada rektum dapat menyebabkan obstipasi dan nyeri defekasi. Tekanan terhadap pembuluh-pembuluh darah dalam panggul dapat menyebabkan pembesaran pembuluh-pembuluh vena, edema pada tungkai dan rasa nyeri pelvis.
4. Infertilitas dan Abortus
Infertilitas dapat terjadi jika mioma intra mural menutup atau menekan pars interstisialis tuba, myoma submukosum memudahkan terjadinya abortus. Apabila ditemukan myoma pada wanita dengan keluaran infertilitas, harus dilakukan pemeriksaan yang seksama terhadap sebab-sebab lain dari infertilitas, sebelum menghubungkannya dengan adanya myoma uteri.
F. DAMPAK MYOMA UTERI TERHADAP KEHAMILAN DAN PERSALINAN
1. Mengurangi kemungkinan kehamilan karena endometrium kurang baik
2. Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi dari rongga uterus, khususnya pada myoma sub mukosum.
3. Dalam kehamilan myoma kadang-kadang sangat membesar sehingga menekan pada organ-organ sekitarnya.
4. Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada myoma yang sub mukosum dan intramural.
5. Persalinan dapat terhalang apabila myoma yang terletak pada bagian bawah korpus uteri atau pada serviks merintangi turunnya kepala janin dalam rongga pelvis.
G. DAMPAK KEHAMILAN DAN PERSALINAN TERHADAP MYOMA UTERI
1. Tumor menjadi lebih lunak dalam kehamilan, dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan sirkulasi didalamnya, sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis ditengah tumor. Tumor tampak merah (degenarasi merah) atau tampak seperti daging (degenerasi karnossa).
2. Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri diperut yang disertai dengan gejala rangsangan peritonium dan gejala peradangan, walaupun dalam hal ini peradangan bersifat suci hama (steril). Lebih lagi komplikasi ini terjadi dalam masa nifas karena sirkulasi dalam tumor mengurang akibat perubahan sirkulasi yang dialami oleh wanita setelah bayi lahir.
3. Tumor tumbuh lebih cepat dalam kehamilan akibat hipertropi dan edema, terutama dalam bulan-bulan pertama, mungkin karena pengaruh hormonal setelah kehamilan 4 bulan, tumor tidak bertambah besar lagi.
4. Myoma Sub Serosum yang bertangkai dapat mengalami putaran tangkai akibat desakan uterus yang makin lama makin membesar.
H. DIAGNOSIS
Diagnosis myoma uteri dalam kehamilan biasanya tidak sulit, kadang-kadang penderita sendiri merasa adanya benda dalam rongga perut bagian bawah. Akan tetapi kadang-kadang diagnosis ini salah, terutama pada kehamilan kembar atau myoma kecil disangka bagian kecil janin. Dalam persalinan lebih menonjol waktu ada HIS sehingga mudah dikenal.
Myoma yang lunak dan tidak menyebabkan kelainan bentuk uterus sangat sulit untuk dibedakan dari uterus gravidarus. Bahkan pada laparatomi, sewaktu perut terbuka, kadang-kadang tidak mungkin untuk didiagnosis yang tepat. Dalam hal ini kerokan (biopsi) diagnostik sangat diperlukan, akan tetapi tindakan ini bisa menimbulkan kesulitan karena dengan adanya myoma, kavum uteri menjadi tidak lurus.
I. PENANGANAN / PENGOBATAN
Beck dan Whitehouse mengutarakan bahwa 55 % dari smua myoma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun. Oleh sebab itu, jika myoma uteri masih kecil dan tidak menimbulkan gejala dan khususnya bagi penderita yang mendekati masa menopause, pengobatan tidak diperlukan. Cukup dilakukan pemeriksaan pelvis secara rutin tiap 3 atau 6 bulan. Pada umumnya pada penderita myoma uteri tidak dilakukan operasi untuk mengangkat myoma dalam kehamilan. Demikian pula tidak dilakukan abortus provokatus. Apabila terjadi degenerasi merah pada myoma dengan gejala-gejala seperti diterangkan diatas, biasanya sikap konservatif dengan istirahat baring dan pengawasan yang ketat memberi hasi yang memuaskan.
1. Pengobatan Penunjang
Khusus sebagai penunjang pengobatan bagi penderita anemia karena hipermenorea, dapat diberikan ferrum, transfusi darah, diet kaya protein, kalsium dan vitamin C.
2. Pengobatan Operatif
a) Radiotherapy, pasangan radium, hormonal anti estrogen yang diberikan pada :
1) Hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi
2) Uterus harus lebih kecil dari kehamilan 3 bulan
3) Bukan jenis sub mukosa
4) Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rectum
5) Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menimbulkan menopause
b) Myiomektomi
Myomektomi atau operasi pengangkatan myoma tanpa mengorbankan uterus dilakukan pada myoma intramural, myoma sub mukosum dan myoma sub serosum bertangkai atau jika fungsi uterus masih hendak dipertahankan, pada myoma sub mukosum yang dilahirkan dalam vagina, umumnya tumor dapat diangkat pervaginam tanpa mengangkat uterus. Operasi myomektomi :
1) Dilakukan bila masih menginginkan keturunan
2) Syaratnya harus dilakukan kuretage dulu, untuk menghilangkan kemungkinan keganansan
3) Kerugiannya :
a) Melemahkan dinding uterus
b) Rupture uteri pada waktu hamil
c) Menyebabkan perlekatan
c. Histerektomi
Jika myoma uteri perlu dioperasi, maka tindakan yang dilakukan adalah histerektomi, umumnya dilakukan histerektomi abdominal, akan tetapi jika uterusnya tidak terlalu besar dan apalagi jika terdapat pula prolapsus uteri, histerektomi vaginal dapat dipertimbangkan. Pad histerektomi, myoma pada serviks uteri perlu diperhatikan jalannya ureter. Operasi histerktomi dilakukan apabila :
1) Myoma uteri besarnya diatas 14 minggu kehamilan
2) Pada wanita muda sebaiknya ditinggalkan satu atau dua ovarium, maksudnya untuk :
a) Menjaga jangan terjadi menopause sebelum waktunya
b) Menjaga gangguan coronair/aterisklerosis umum.
J. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Klien dengan gangguan sistem reproduksi akan memberikan respon psikososial yang spesifik karena merupakan organ vital yang sangat privasi
Tahapan proses keperawatan
1. Pengkajian
Merupakan tahap awal dalam mengumpulkan data klien
a. Komunikasi dengan klien untuk validasi data
b. Menggunakan kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti
c. Hati-hati dalam bertanya karena ada data-data yang sangat rahasia, seperti bagaimana pola hubungan seksual ibu
1) Pengumpulan data
a) Identitas
• Identitas Klien : Nama, umur, jenis kelamin, agama pendidikan, pekerjaan diagnosa medis, alamat, No. Medrec
• Identitas penanggung jawab : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan hubungan dengan klien.
b) Riwayat Kesehatan
(1) Keluhan Utama
• Nyeri (Jenis, Intensitas, waktu, durasi, daerah yang menyebabkan nyeri bertambah, atau berkurang), hubungan nyeri dengan menstruasi, seksualitas, fungsi urinaria, dan gastrointestinal.
• Perdarahan (pada saat kehamilan, setelah menopause, karakteristik, faktor pencetus, jumlah, warna, konsistensi)
• Pengeluaran cairan/secret melalui vagina (iritasi, gatal, nyeri, jumlah, warna, konsistensi)
• Masa (pada mamae, karekterisrik, hubungannya dengan menstruasi, kekenyalan, ukuran, nyeri dan pembesaran limfe)
• Keluhan fungsi reproduksi
(2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Pengembangan keluhan utama dengan PQRST
(3) Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang pernah dialamai masa anak-anak, penyakit kronis pada masa dewasa, riwayat infertilitas, penyakit gangguan metabolisme/nutrisi, penggunaan obat-obatan radiasi yang lama, peradangan panggul, rupture appendik peritonitis.
(4) Riwayat Genito Reproduksi
Riwayat menstruasi, usia pertama menstruasi, siklus, durasi, jumlah darah yang keluar, dismenore.
• Jika menopause, mentruasi terakhir, gejala klimaksterium, pemeriksaan papsmear, pemeriksaan payudara, riwayat STDS
• Jika pernah hamil: waktu persalinan, metoda persalinan, komplikasi saat melahirkan.
• Aktivitas seksual : kekuatan respon seksual, rasa nyeri.
(5) Riwayat Kesehatan Keluarga
DM, kardiovaskuler, kehamilan kembar, kanker, gangguan genetik, kongenital.
c) Pemeriksaan Fisik
(1) Secara umum: tinggi badan berat badan bentuk, system pernafasan, system kardiovaskuler, sistem persarafan.
(2) Secara khusus:
(a) Pemerikasaan payudara: ukuran, kesimetrisan, massa, retraksi jaringan parut, kondisi puting susu.
(b) Pemeriksan abdomen : adanya masa abdominopelvic
(c) Genetalia eksterna : inpeksi dan palpasi dengan posisi litotomi bertujuan mengkaji kesesuaian umur dengan perkembangan sistem reproduksi, kondisi rambut pada simpisis pubis dan vulva, kulit dan mukosa vulva, tanda-tanda peradangan, bengkak dan pengeluaran cairan vagina.
(d) Pelvis : dengan mengunakan spekulum dilakukan inpeksi servik yaitu warna, bentuk, dilatasi servik, erosi, nodul, masa, cairan pervaginam, perdarahan, lesi atau luka. Setelah spekulum dilepas dapat dilakukan pemeriksaan bimanual yaitu : memasukan dua jari kedalam vagina untuk pemeriksaan dinding posterior vagina ( adanya masa, ukuran, bentuk, konsistensi, mobilitas uterus, mobilitas ovarium, adneksa).
(e) Pemeriksaan rectum dan rekto vagina.
d) Status sosial ekonomi :
Tempat Tanggal lahir, lingkungan, posisi dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, sumber stress, situasi financial, aktivitas dan support system.
e) Pemeriksaan Penunjang
(1) Pemeriksaan Diagnostik :
(a) Papsmear : untuk mengetahui keadaan servik
(b) Sistoskopi dan intravena pielogram : untuk mengetahui kandung kemih.
(c) MRI / CT Scan abdomen : untuk menilai penyebaran dari tumor
(2) Pemeriksaan Hematologi
(3) Pemeriksaan EKG dan Rontgen
2) Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infiltrasi sel Tumor ke saraf
b) Gangguan rasa aman : Cemas
c) Gangguan Eliminasi
d) Intoleransi terhadap aktivitas
3) Perencanaan
a) Diagnosa Keperawatan : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infiltrasi sel Tumor ke saraf.
(1) Intervensi :
Tentukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan, perhatikan isyarat verbal dan non verbal
Rasional :
Membantu membedakan karakteristik khusus dan nyeri
(2) Intervensi :
Latih dan berikan informasi cara untuk mengatasi nyeri
Rasional :
Meningkatkan pemecahan masalah sehingga membantu mengurangi nyeri
(3) Intervensi
Atur posisi tidur senyaman mungkin
Rasional :
Meningkatkan kenyamanan
(4) Intervensi
Anjurkan penggunaan relaksasi nafas dalam dan distraksi
Rasional :
Relaksasi otot dan mengalihkan perhatian sehingga dapat mengurangi nyeri.
b) Diagnosa Keperawatan : Gangguan rasa aman : Cemas berhubungan dengan
(1) Intervensi :
Berikan penjelasan tetang proses penyakit
Rasional :
Agar klien mengetahui penyakit yang dideritanya
(2) Intervensi :
Jelaskan setiap prosedur tindakan yang akan dilakukan
Rasional :
Memberikan pengertian pemahaman terhadap setiap tindakan yang akan dilakukan
(3) Intervensi :
Berikan motivasi pada klien untuk kesembuhannya
Rasional :
Membangun kepercayaan diri untuk segera sembuh
(4) Intervensi :
Anjurkan klien untuk lebih banyak berdoa
Rasional :
Memperkuat aspek psikologis klien dan menambah keyakinannya akan proses pengobatan.
c) Diagnosa Keperawatan : Gangguan Eliminasi urine ; poliuria berhubungan dengan kapasitas blader berkurang akibat penekanan dari myoma
(1) Intervensi :
Jelaskan penyebab
Rasional :
Klien mengerti penyebab poliuri
(2) Intervensi :
Anjurkan BAK secara terjadwal
Rasional :
Mebiasakan BAK secara terjadwal
d) Diagnosa Keperawatan : Intoleransi terhadap aktivitas
(1) Intervensi :
Kaji tingkat kemampuan klien beraktivitas
Rasional :
Perawat dapat merencanakan tindakan perawatan mandiri pada klien dan dibantu oleh perawat
(2) Intervensi :
Ukur tanda-tanda vital tiap 4 jam
Rasional :
Perawat dapat mengukur tingkat kemampuan klien
(3) Intervensi :
Bantu klien untuk personal hygiene : mandi, sikat gigi, dan kebersihan vulva
Rasional :
Untuk mencegah terjadinya infeksi
(4) Intervensi :
Anjurkan pada klien untuk makan – makanan yang bergizi
Rasional :
Mencegah terjadinya anemia akibat perdarahan
4) Pelaksanaan
Pada tahap ini perawat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan yang sudah disusun. Setelah melakukan tindakan keperawatan kemudian perawat mendokumentasikan semua tindakan keperawatan sesuai dengan waktu, tempat, dan ditanda tangani. Hal ini sebagai pertanggungjawaban dan pertanggung gugatan perawat untuk menghindari liabilitas.
5) Evaluasi
Mengukur sejauh mana klien mencapai tujuan yang spesifik dari rencana keperawatan , identifikasi faktor-faktor posisif dan negatif yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan, revisi rencana perawatan dilakukan secara berkesinambungan, adanya modifikasi atau terminasi perawatan.
Daftar Pustaka :
( Sarwono Prawirohardjo , 1982 ; 282).
Dasar Anatomi
Yang paling besar bagian dari otak terdiri atas otak besar, yang mana dipecah di kanan dan kiri hemisphere. Otak besar manusia mengendalikan tindakan volunter, pikir, bicara, dan memori. Kebanyakan binatang menyusui mempunyai suatu otak besar yang kecil, tetapi pada manusia menyusun kebanyakan dari otak.
Bagian Korteks, atau " Otak kecerdasan," adalah lapisan luar otak besar manusia, menyusun kebanyakan badan sel neurons, atau sel syaraf. Kebanyakan dari pekerjaan otak memproses informasi dilakukan dalam kawanan otak kecerdasan. Inilah di mana cetakbiru disimpan itu berisi informasi yang penting kecerdasan, memori, kepribadian, emosi, bicara, dan kemampuan untuk bergerak kita dan berfungsi yang umum dikenal dan jalan kompleks. Serabut Syaraf menemukan sumsum otak dasar kulit pohon membawa pesan ke dalam otak untuk pengolahan tambahan. Pesan ini kemudian adalah menyiarkan ke bagian lain sistem nerves, yang menyelesaikannya.
Midbrain, menempatI bagian yang lebih dalam di dalam struktur otak, bertindak sebagai suatu papan hubung selular, memelihara lingkup otak yang berbeda memberitahukan satu sama lain. Ini adalah penting bagi otak untuk menyelesaikan fungsi yang paling rumit, sebab perintah yang bersamanya memerlukan koordinasi dan penaklukan sesuai.
Struktur yang pusat otak berisi thalamus, hypothalamus, dan kelenjar pituitari. Thalamus membawa pesan dari organ/bagian badan yang berhubungan dengan perasaan kepada otak. Hypothalamus mengatur fungsi otomatis seperti perubahan di dalam tingkat tarip denyut nadi, dahaga, selera, dan seksual dan tidur pola teladan. uga mengatur produksi kelenjar pituitari berbagai hormon yang berperan pertumbuhan, metabolisme, cairan dan saldo/timbangan mineral, fungsi seksual, dan badan menjawab tekanan. Empat bilik jantung (rongga di dalam otak) berisi cerebrospinal cairan, yang melindungi struktur otak bagus, memelihara jaringan/tisu otak, dan mengangkut barang sisa.
Punggung otak adalah dibagi menjadi tiga bagian. Otak besar ( Latin untuk " otak kecil") ditempatkan; terletak di bawah belahan bumi yang cerebral dan mengendalikan kemampuan kita untuk membuat pergerakan motor seimbang dan dikoordinir. Medulla Oblongata, Yang menghubungkan otak kepada yang tertinggi tali yang mengenai tulang belakang, mengendalikan banyak dari tindakan yang tanpa disengaja dari badan kita seperti peraturan denyut jantung, bernafas, dan pencernaan. Pons adalah suatu khusus rombongan serabut syaraf yang menghubungkan midbrain dengan medulla oblongata dan bertindak sebagai suatu high-functioning papan hubung.
Tali yang mengenai tulang belakang adalah suatu merindukan batang jaringan/tisu menyusun dari neurons dan mendukung sel yang ditutup oleh meningeal selaput. Berkembang dari dasar medulla oblongata, tali yang mengenai tulang belakang dikepung dan dilindungi oleh suatu berbadan tegap satuan tulang berbentuk gelang menghubungkan ruas-ruas tulang belakang yang bersama-sama menyusun;merias kolom yang mengenai tulang belakang. Kolom yang mengenai tulang belakang digolongkan oleh daerah: cervical (bhb.dg.tengkuk) ( leher), yang berkenaan dengan dada ( tulang rusuk cage/upper punggung), lumbar ( mid-/lower punggung) dan sacral ( tailbone). Kegelisahan bercabang dari tali yang mengenai tulang belakang, melintas berkembang dan ruas-ruas tulang belakang yang bertulang ke luar ke organ/ bagian badan dan badan memisahkan mereka secara rinci " wired." Di dalam ruang antar ruas-ruas tulang belakang adalah suatu material elastis menghubungkan tulang rawan. Bantal Tulang rawan ini, menghubungkan disk mengenai tulang belakang, mengijinkan pergerakan fleksibel antar ruas-ruas tulang belakang sedemikian sehingga punggung kita dapat menekuk dan menyerap goncangan ketika kita menjalankan, melompat, dan jika tidak menggunakan diri kita.
http://kidshealth.org/parent/general/body_basics/brain_nervous_system_p2.html
Fisiologi Normal
Peraturan dari badan basis dasar berfungsi. Otak, terutama sekali hypothalamus, adalah bertanggung jawab untuk pemeliharaan temperatur badan, mengatur apakah kita berkeringat atau menggigil dalam rangka menyimpan sistem kita di rata-rata 98.6 derajat Fahrenheit ( 36 derajat tingkat Celsius), seperti halnya tak terbilang lain tindakan tanpa disengaja yang kita hampir tidak pernah memikirkan, mencakup yang bernafas, pencernaan, peredaran, memboroskan produksi, dan pengeluaran hormon. [Itu] mengerjakan ini lebih lanjut dengan pengiriman dorongan/gerakan hati ke kegelisahan pengatur di otot hati/jantung, otot lembut, dan kelenjar/penekan.
Proses badan pengatur dikendalikan oleh suatu sistem mengenal sebagai sistem nerves yang autonomic. Sistem nerves yang autonomic terdiri dari dua menentang sistem, yang simpatik dan sistem nerves yang parasympathetic. Otak menggunakan sistem nerves yang simpatik untuk mempercepat denyut jantung kita dan bernafas dan untuk mengkoordinir perubahan di alir darah melalui/sampai pembuluh darah yang menyediakan berbagai organ/ bagian badan dalam hal tekanan mendadak. Ini adalah bagian dari " perkelahian atau penerbangan" mekanisme, yang mana [adalah] ditemani oleh pelepasan/release hormon adrenaline (juga mengenal sebagai epinephrine) dari kelenjar/penekan yang tentang ginjal yang membantu menyampaikan suatu surge menggerakkan kepada otot kita untuk suatu getaway [ cepat di wajah bahaya segera. Sistem nerves yang parasympathetic mempunyai kebalikan mempengaruhi, menyiapkan badan kita untuk suatu status lebih penuh ketenangan. Sistem yang parasympathetic adalah menyetem sedang dalam proses pencernaan, membiarkan enzim diatur waktu melepaskan dan mengkoordinir bergeraknya organ/ bagian badan dan otot yang lembut yang menyusun;merias bidang yang pencernaan yang mengijinkan kita untuk secara efisien memperoleh bahan gizi dan energi hasil dari makanan kita makan.
Kelenjar pituitari, menempatkan di bawah otak besar manusia, dengan seketika di bawah hypothalamus, adalah suatu produsen pemimpin hormon (para pesuruh kimia yang menjaga tetap instruksi bloodstream bagi lain organ/ bagian badan badan dan jaringan. Kelenjar pituitari menghasilkan hormon yang mempengaruhi pertumbuhan, waktu menjadi masak seksual, metabolisme, cairan badan dan saldo/timbangan mineral, dalam wanita-wanita, produksi dada memerah susu dan serangan tenaga kerja berhubungan dengan kelahiran bayi.
Kecerdasan/Inteligen, Pelajaran, dan memori. Kebanyakan binatang bersandar pada naluri/bakat/instink dibanding/bukannya pelajaran untuk survival. Manusia, bagaimanapun, mempercayakan lebih pada apa mereka belajar dan ingat dibanding naluri/bakat/instink mereka. Yang biasanya, sisi sebelah kiri dari otak besar manusia mengendalikan kemampuan untuk berbicara, untuk komunikasi;kan menggunakan bahasa, dan untuk memecahkan permasalahan yang menggunakan logika. Belahan bumi cerebral yang benar mengendalikan perasaan kita, pemikiran, dan kecenderungan/kemiringan kreatif.
Berbagai hal mereka telah melakukan, mempelajari, dan melihat disimpan [yang] pusat memori otak kita. Otak bisa memproses informasi berhubungan dengan perasaan dalam segala bentuk, menyimpannya dalam uniknya " sistem pengarsipan," dan kemudian mendapat kembalinya ketika diperlukan. Informasi diproses kulit pohon yang cerebral, dan kemudian, jika kita merasakan bahwa . ini informasi adalah cukup penting untuk ingat untuk selamanya, dilewati dalam batin dalam wujud pesan syaraf kepada lain daerah otak (seperti hippocampus dan amygdala) untuk perolehan kembali dan penyimpanan jangka panjang. Pesan berjalan sepanjang jalan kecil ini, mereka mempengaruhi penghubung neurons yang dilibatkan sedang dalam proses memori.
Pikiran sehat. Otak kita secara terus menerus menerima isyarat berhubungan dengan perasaan yang menginformasikannya kebutuhan badan untuk beberapa macam perubahan atau reaksi untuk berlangsung. Sebagai contoh, kapan kamu berpikir, " aku merasakan dingin, maka saya harus mengenakan suatu jaket penghangat" atau ketika kamu tertawakan ke luar nyaring pada suatu lelucon lucu, otak mu ceritakan [kepada] badan mu bagaimana cara mengkoordinir dan menyelesaikan tindakan itu- dan kemudian otot mu bereaksi terhadap instruksi ini. Kamu dapat menaruh pada jaket penghangat itu bahkan waktu kamu sedang tertawa, terima kasih kepada kemampuan dan kompleksitas otak untuk dengan seketika menangani beberapa pesan berhubungan dengan perasaan datang dan menyiarkan ulang ke dalam tindakan bersama dengan kilat mempercepat. Otak menerima isyarat berhubungan dengan perasaan dari pikiran sehat lima kita: penglihatan, tatap muka, rasa, bau, dan sentuhan.
Penglihatan. Penglihatan mungkin ceritakan kepada kita lebih banyak tentang dunia dibanding pengertian lain. Cahaya yang memasuki mata membentuk suatu gambaran kacau-balau; terbalik; sungsang pada retina, yang mana terdiri atas 130 juta light-responsive sel. Ketika masing-masing pikiran sehat sel cahaya, mengirimkan suatu isyarat sepanjang syaraf yang berhubung dengan mata kepada suatu area kulit pohon di belakang otak untuk memproses. Otak mengeraskan gambaran sebelah kanan dan ceritakan kepada kita apa yang kita sedang melihat. Dengan menarik, masing-masing mata kita meneliti suatu obyek dari suatu posisi berbeda, sehingga gambar-an masing-masing lihat adalah sedikit berbeda. Otak mengkonversi gambaran ke dalam three-dimensional gambaran tunggal.
Tatap muka. Tiap-Tiap bunyi kita dengar adalah hasil gelombang suara memasuki telinga kita dan menyebabkan gendang telinga kita untuk bergetar. Getaran ini kemudian adalah mentransfer sepanjang tulang yang kecil telinga bagian dalam, isyarat syaraf yang diubah jadi di labirin, dan menjaga tetap spesifik mendengar kegelisahan kepada suatu area di punggung otak. Kulit pohon otak kemudian memproses pesan ini, menceritakan kita apa yang kita sedang mendengar.
Mencicipi. Lidah berisi kecil kelompok sel berhubungan dengan perasaan memanggilkan perasa pada lidah yang bereaksi ke bahan-kimia di makanan. Perasa pada lidah Manusia bereaksi kepada empat rasa: manis, asam, menyehatkan, dan pahit. Kombinasi dari rasa ini adalah selera kita rasa. Pesan dikirim dari perasa pada lidah kepada batang otak, dan kemudian kepada thalamus, jika mereka dianalisa sebelum dikirim kepada area di kulit pohon yang bertanggung jawab untuk memproses rasa. Kelenjar/Penekan berhubungan dengan ludah [kita/kami], berhubungan kepada batang otak, dirangsang ketika kita mencicipi, membaui, atau genap memikirkan sesuatu yang lezat.
Bau. Sel Pencium di selaput lendir lapisan masing-masing lubang hidung bereaksi ke bahan-kimia yang kita menghirup dan mengirimkan pesan sepanjang kegelisahan pencium spesifik yang secara langsung kepada otak untuk memproses. Perasaan bau kita lekat dihubungkan kepada pengertian rasa kita - seseorang yang dilahirkan tanpa suatu sistem pencium berfungsi juga tidak punya konsep rasa sungguhpun mereka mempunyai perasa pada lidah fungsional. Ilmuwan percaya bahwa ada 50 bau utama, dan bahwa kita dapat membedakan antara lebih dari 10,000 bau berbeda. Bau juga main suatu bagian penting di atraksi dan untuk kawin binatang, yang mengenali satu sama lain oleh bau badan tertentu sebagai hasil pelepasan/release unsur menghubungkan pheromones. Bahan-Kimia seperti hormon ini dirasakan melalui/sampai hidung oleh vomeronasal organ/ bagian badan. Organ/ bagian badan ini telah baru-baru ini yang ditemukan manusia juga, dan menjadi minat tertentu kepada industri kosmetik dalam penyelidikan nya untuk menghasilkan parfum baru dan colognes itu adalah bagi manusia.
Sentuhan. Kulit mu berisi lebih dari 4 juta sel yang peka rangsangan berhubungan dengan perasaan yang terutama dipusatkan jari, lidah, dan bibir. Akhiran Syaraf ini adalah sensitip untuk sentuh, memaksa, temperatur, dan sakit. Mereka mengumpulkan informasi berhubungan dengan perasaan dan menyiarkan ulangnya melalui/sampai bundel syaraf spesifik kembali ke sistem nerves yang pusat untuk memproses dan reaksi mungkin. Sebagai contoh, kapan kamu secara kebetulan sentuh sesuatu tanggapan berhubungan dengan perasaan panas di perjalanan ujungjarimu dengan cepat kembali ke otak, yang dengan seketika mengkoordinir tanggapan protektif yang membuat kamu menarik tangan mu dalam keadaan tergesa-gesa; terburu-buru!
Adalah menarik untuk catat bahwa ketika kamu tersandung - suatu , kamu menyadari cahaya memaksa kamu rasa di dalam suatu pecahan suatu detik/second, tetapi mengambil sebentar lebih panjang untuk merasakan sakit yang menemani itu. Ini adalah sebab kegelisahan sentuhan yang berhubungan dengan perasaan membawa pesan kepada otak lebih cepat dari kegelisahan yang adalah bertanggung jawab untuk sensasi sakit.
Keseimbangan dan koordinasi. Saluran berbentuk setengah lingkaran yang unik labirin secara terus-menerus menginformasikan otak kepala dan posisi badan. Jika kamu tiba-tiba jatuh/hilang keseimbangan mu , labirin yang siaga otak, dan otak dengan seketika menyiarkan ulang suatu isyarat ke otot mu untuk memposisikan kembali diri mereka dalam cara-cara yang itu mengijinkan kamu untuk tinggal kedudukan dan memperoleh kembali keseimbangan mu. Pada suatu hiburan pemintalan memarkir pengendaraan, pesan boleh ber;ubah juga dengan cepat untuk otak untuk menyimpan atas, dan kamu boleh merasakan pusing atau dimabukkan dari mabuk kalau naik mobil dan lain-lain untuk beberapa saat.
http://kidshealth.org/parent/general/body_basics/brain_nervous_system_p2.html
Wednesday, February 18, 2009
Tugas kuliah : Sistem Perkemihan
Mengatur keseimbangan air dan mineral di dalam tubuh,mengeluarkan zat-zat sisa(misalnya urea, dan amoniak).
1.Proses pembentukan urine
Ginjal mengandung blebih dari 1 juta neprhon yang terdiri dari satu renal karpuskal dan tubulus-tubulus dengan bentuk yang jelas.Setiap hari ada sekitar 1700L
Darah (1,2L/menit),yang mengalir melalui nepron yang terletak di dalam korteks renalis.Kapile-kapiler gromerolus menghasilkan sekitar 180L cairan filtrat setiap hari,99% akan di serap kembali oleh system tubulus dan masuk ke dalam darah.Sisa cairan akan menjadi lebih pekat di dalam medulla renalis di ansa henle dan tubulus colligentos.Akhirnya cairan mengalir ke dalam renal cilicus,urn dan pelvis renis melalui ureter masuk ke dalam vesica urinaria dan dari sini dikeluarkan melalui uretra (kira-kira 1,5L/hari).
Komposisi normal urine
jimlah:900-1500ml/24 jam (bervariasi sesuai dangan asupan cairan dan jumlah cairan yang keluar melalui jalan lain).
Berat jenis:N02-1003(yang menandakan jumlah substansi yang terr=larut di dalamnya),
Reaksi:Asam PH sekitar 0,6.
Warna:Sehubungan dengan urokom (pigmen yang berasal tak tentu).
-Kompisisi
a.Air
b.Urea 20-30 dalam 24 jam
c.Asam urat 0,6 gram dalam 24 jam
d.Kretinin 1-2 gram dalam 24 jam
e.Natrium kaium ffosfat
f.klorida sulfat.
Bagian-Bagian Nefron
nefron terbentuk dari tubulus renalis,merupakan gromerolus dan berhubungan dengan pembuluh darah.Masing-masing tubulus renalis merupakan tubulus yang berbengkok-bengkok,di selaputi oleh lapisan sel-ssel kuboid.Tubulus renalis mulai sebagai kapsula bowmandula,lapisan terbentuk mangkuk menutupi gromerolus;saling melilitkan diri membentuk tubulus kovolute proksimal,menjalar dan korteks sebagian medulla dan sebagian lagi ke bagian korteks membentuk tubulus konvolute distal berakhir dgn memasuki tubulus pengumpul.
Pencernaan
1.mulut:Memasukkan makanan
2.Lambung:Menampung makana dalam kantung dan melepaskan makanan tersebut secara bertahap dalam usus.
3.Usus halus:Mensekresikan cairan usus,menerima cairan empedu dan pancreas,mencerna makanan,mengabsorbsi air,gram dan vitamin.
4.Usus Besar
mernsekresikan kalium ke dalam klandungan kolon.
Perkemihan
1. Ureter
2. kandung kemih
3. uretra
proses feses
Bahan makanan di serat pembuluh getah bening melalui lipatan usus kemudian masuk usus besar kemudian bubur bahabn makanan itu di padatkan,di tampung melalui gerak antiperistaltik yang terdiri dari bakteri yang dikeluarkan.
5.Suplai darah dari arteria renalis dari aorta,kemudian arteria renalis kanan melewati bagian belakang vena kava inferior,jumlah darah lewat melalui ginjal nadalah sangat besar .Sedangkan suplai darah yang melalui vena renalis ke dalam vena kava inferior lalu vena kava renalis kiri melalui bagian depan.
2.Proses Berkemih
bagian cairan dari darah (bebas dari se-sel darah dan protein )difilter di bawah tekanan ke dalam tubulus yang panjang dalam ginjal,tubulus ginjal secara selektif permiabel dan kebanyakan terhadap cairan dan setiap perrsenyawaan esensial direabsorbsi kembali ke dalam darah.kemudian sampah nitrogen dan asam-asam di buang dalam bentuk urine yang mengalir ke ureter kedalam kandung kemih dan di ekresikan pada invral waktu melalui uretra atau pada saat terjadi miksi.
komposisi cairan tubuh manusia
Air ialah komponen yang paling banyak di tubuh manusia, menyusun sekitar 60% berat tubuh dengan kisaran antara 40% sampai 80% kandungan H2O seseorang berada dalam rentang konstan selama suatu periode waktu, terutama disebabkan oleh efisiensi ginjal mengatur keseimbangan H2O.
Cairan yang bersikulasi di seluruh tubuh di dalam ruang cairan intrasel (CIS) dan ekstrasel (CES) mangandung elektrolit , mineral dan sel.
2. –Asam
- Sidemia
- Anion
- Bosa
- Kation
- Elektrolit
- Ion
- Pn
3. Tekanan osmotik merupakan tekanan dengan kekuatan untuk menarik air dan kekutatan ini bergantung pada jumlah molekul di dalam larutan suatu larutan dengan kosentrasi solut yang tinggi tekanan osmotik yang tinggi sehingga air akan tertarik masuk ke dalam larutan tersebut . sedangkan tekanan hidrostatik adalah tekanan yang di hasilkan atau suatu likuid di dalam sebuah ruangan. Darah dan cairan arteri akan memasuki kapiler jika tekanan hidrostatik lebih tinggi dari tekanan interstitial, sehingga cairan dan solut berpindah dari kapiler menuju sel.
6. Elektrolit merupakan sebuah unsur atau senyawa , yang jika melebur atau pelarut lain jika melebur atau larut di dalam air atau pelarut lain akan pecah manjadi ion dan mampu membawa muatan listrik . Elektrolit yang memeliki muatan positif di sebut kation sedangkan elektrolit yang mem,eliki muatan negatif di sebut anion.
Elektrolit sangat penting pada banyak fungsi tubuh, termasuk fungsi tubuh termasuk fungsi neorromuskular dan keseimbangan asam basa. Contoh : mineral, zat besi dan zink.
8. Hormon utama yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit adalah ADH aldesteron , glukokor tikoid. Keadaan kekurangan air akan meninggkatkan osmolalitas darah dan keadaan ini akan di respons oleh kelenjar hipofisis dengan melepaskan ADH . ADH akan menurunkan produksi urine dengan cara meningkatkan reabsorpsi air oleh tubulus gijal. Aldesteron merupakan suatu mineralokortikoid yang di produksi atau korteks aldernal . Aldesteron mengatur tubulus ginjal mengekskresikan kalium dan mengabsorpsi dan di kembalikan ke volume darah.kekurangan volume cairan darah mnisalnya karena pendarahan kehilangan cairan pencernaan , dapat menstimulsi sekresi aldesteron ke dalam darah. Glukokortikoid mempengaruhi keseimbangan air dan elektrolit.
7. Fungsi utama Na yaitu:
• Untuk mempertahankan keseimbangan air
• Menstranmisi implus saraf
• Melakuka kontraksi otot
Kalium
• Untuk mengatur eksitabilitas ( rangsangan ) heuromuskular dan kontraksi otot
• Pengaturan keseimbangan asam basa karena ion kalium dapat di tukar denagn ion hidrogen
Pengertian Asam dan Basa
Asam ialah sekelompok zat yang mengandung disosias, atau terpisah (terurai) apabila berada dalam larutan untuk menghasilkan H+ bebas dan anion (ion bermuatan negatif).
Basa ialah bahan yang dapat berikatan dengan H+ bebas dan dengan demikian menarik ion tersebut dari larutan. Basa kuat dapat lebih mudah berikatan dengan H+ dari pada basa lemah.
3 sistem utama yang mengatur kosentrasi ion H2 yaitu:
1.Sistem penyangga Asam dan Basa kimiawi dalam cairan tubuh :
2.Pusat pernafasan
3.Ginjal
3. a. Sistem penyangga asam basa kimiawi dalam cairan tubuh yang dengan segera bergabung dengan asam atau basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen yang berlebihan ; Sistem Penyangga asam karbonat : bikarbonat fungsi penyangga CES primer terhadap perubahan asam non karbonat. ; sistem penyangga Protein : penyangga CIS primer dan menyangga CES. ; Sistem penyangga Hemoglobin : penyangga utama terhadap perubahan asam karbonat; Sistem penyangga fosfat : penyangga sistem kemih yang penting, juga menyangga CIS.
b. Pusat pernafasan mengatur pembuangan CO2 dari cairan ekstraseluler
c. Ginjal yang dapat mengekskresikan urin asam atau urin alkalin sehingga menyesuaikan kembali konsentrasi ionhidrogen cairan ekstraseluler menuju normal.
Peran Ginjal:
1.Mengontrol keseimbangan asam basa dengan mengeluarkan urin yang asam atau basa
1. Mencegah kehilangan Bicnat dalam urin
2. Ginjal mengatur konsentrasi ion hidrogen cairan ekstrasiluler melalui 3 mekanisme dasar:
sekresi ion hidrogen
reabsorbsi ion bicnat yang di saring
produksi ion bicnat baru
3. Memelihara volume plasma yang sesuai, sehingga sangat berperan dalam pengaturan jangka-panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai pengatur keseimbagan dan H2O.
4. Memelihara osmolaritas ( konsentrasi zat terlarut) berbagai cairan tubuh, terutama melalui pengaturan H2O. Mensekresikan (eliminasi) produk-produk sisa (buangan) dalam metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat, dan kreatinin. Jika dibiarkan menumpuk, zat sisa tersebut bersifat toksik, treutama bagi otak.
5. Mengekresikan bnayak senyawa asing, misalnya obat, zat penambah pada makanan, pestisida dan bahan-bahan oksida dan nutrisi lainya yang berhasil masuk kedalam tubuh.
6. Mensekresikan eritropoietin, suatu hormon yang dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
7. Mensekresikan renin suatu hormon enzimatik yang memicu reaksi berantai yang penting dalam konservasi garam oleh ginjal.
8. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya.
Topik pendidikan kesehatan yang dapat diberikan kepada pasien dengan kasus distensi abdomen, dan Bladder distensi
Bladder distensi ialah peregangan kandung kemih
Topik yang dapat diberikan yaitu
Sistem perkemihan : Jika pasien ada keinginan untuk berkemih maka jangan ditahan karena antara saluran pencernaan dan perkemihanitu berbeda.
Apabila pasien ingin BAB tapi takut hecting akan membuka kembali dengan cara memberikan penyuluhan tentang eliminasi. Jadi boleh BAB tapi tidak boleh banyak mengedan karena jika banyak mengedan dikhawatirkan hecting akan membuka kembali. Apabila pasien tetap takut BAB harus dibantu dengan huknah gliserin/ penggunaan obat sopositoria, karena apabila feses tidak dikeluarkan akan mengakibatkan tubuh akan keracunan, distensi abdomen, dan muntah proyektil.
Penyuluhan Kesehatan ”Diet Tinggi Serat” dengan tujuan merangsang peristaltik usus agar BAB atau defekasi dapat normal kembali.
Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi :
Makanan cukup kalori dan protein
Meningkatkan vitamin terutama B1 dan B kompleks dan mineral, untuk memelihara kekuatan otot pencernaan .
Banyak minum atau cairan dua-dua setengah liter sehari, untuk melancarkan defekasi atau melunakkan feses.
Tingg serat dan bahan makanan yang dapat merangsang peristaltik usus.
Bahan makanan yang dianjukan susu,agar-agar, gula, beras atau karbohidrat, sayuran, sebagian dalam bentuk mentah, kacang-kacangan, buah-buahan, terutama yang dapat dimakan kulitnya.








