Metodologi Perencanaan E-Business

Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba

Uji normalitas data dalam penelitian

Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:

Tilawatil Quran KH. Muammar ZA

ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.

Contoh Khutbah Bahasa Sunda

Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan

Ciri-ciri Pasar Monopoli

Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.

Showing posts with label Keperawatan Maternitas. Show all posts
Showing posts with label Keperawatan Maternitas. Show all posts

Monday, July 15, 2013

Tips Menjaga Produktivitas ASI pada Ibu yang Bekerja

Beberapa tips yang dapat dilakukan pada ibu yang bekerja agar produktivitas ASI-nya tetap terjaga, yaitu : 
1. Relaks 
Stres mampu mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi ASI. Pilihlah tempat yang nyaman dan tenang. Sambil memompa cobalah pandangi foto sang buah hati sambil mendengarkan musik yang menenangkan. Adanya kelekatan antara ibu dan anak akan memperbanyak ASI yang diproduksi. 
2. Pompalah Sesering Mungkin 
Memompa dengan sering, menyebabkan gudang ASI kosong. Jika gudang ASI kosong, maka pabrik ASI akan segera membuatnya. Cobalah untuk memompa setiap 3 jam sekali dan pompalah sedikitnya selama 20 menit. 
3. Jangan Lupa Cuci Tangan 
Cucilah tangan sebelum memerah. Perhatikan kebersihan peralatan yang digunakan, karena dikhawatirkan dapat membuat susu yang diperas tercemar. 
4. Banyak Minum Cairan Hangat 
Minum air putih, susu, atau jus buah dapat membantu tubuh memiliki cairan yang memadai. Ini dapat mempengaruhi produksi ASI. Hindari mengkonsumsi soda, alkohol, kopi, jamu, atau minuman yang mengandung kafein, karena dapat mempengaruhi kualitas ASI. Jangan merokok karena akan mempengaruhi produktivitas ASI. 
5. Perhatikan Alat Kontrasepsi yang digunakan 
Konsultasikan ke dokter, dan pilihlah alat kontrasepsi yang aman dan tidak mempengaruhi produktivitas ASI. 
6. Jaga Kondisi Tubuh 
Cukup mengkonsumsi sayuran dan buah berserat. Lakukan olah raga secara rutin, istirahatlah ketika bayi sedang tidur. Jangan sungkan minta pertolongan orang lain, bila memang membutuhkan. 
(Wordpress, 2008)

Tujuh Langkah Keberhasilan ASI Eksklusif

Langkah – langkah yang terpenting dalam persiapan keberhasilan menyusui secara eksklusif adalah sebagai berikut : 
a. Mempersiapkan payudara bila diperlukan.
b. Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui.
c. Menciptakan dukungan keluarga, teman dan sebagainya.
d. Memilih tempat melahirkan yang “Sayang Bayi” seperti “Rumah Sakit Sayang Bayi” atau “Rumah Bersalin Sayang Bayi”.
e. Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara Eksklusif.
f. Mencari ahli persoalan menyusui seperti klinik laktasi atau konsultasi laktasi (Lactation Consultan), untuk persiapan apabila menemui kesukaran.
g. Mencipatakan suatu sikap yang positif tentang ASI dan menyusui
(Roesli, 2000)

Beberapa Masalah pada saat Ibu Menyusui

Masalah – masalah yang dihadapi ibu – ibu menyusui sehubungan dengan proses laktasi, diantaranya : 
1. Puting datar atau terbenam
Dengan menggunakan pompa puting, puting susu yang datar atau terbenam dapat di bantu agar menonjol dapat dicekap oleh mulut bayi. Upaya ini dapat dimulai sejak kehamilan 37 minggu dan biasanya hanya perlu dibantu hingga bayi berusia 5-7 bulan dengan usaha yang tekun dan kerjasama yang baik antara Ibu dan bayi akan mampu mengatasi masalah ini. Jika payudara untuk kondisi seperti ini, ASI dapat diperas terlebih dahulu sebelum bayi mulai mengisap.

2. Puting Lecet
Puting susu dapat mengalami lecet, retak atau terbentuk celah-celah. Cara mencegahnya dapat diperhatikan hal-hal berikut :
a. Olesi puting susu dengan ASI setiap kali hendak dan sesudah menyusui 
b. Jangan menggunakan BH terlalu ketat
c. Jangan membersihkan puting susu dan daerah areola dengan sabun, alkohol, dan obat-obatan yang dapat merangsang kulit atau puting susu.
d. Posisi menyusui hendaknya dengan cara bervariasi.
e. Lepaskan isapan bayi setelah selesai menyusui dengan cara yang benar, yaitu dengan cara menekan dagu bayi atau meletakkan jari kelingking Ibu kesudut mulut bayi dan menekannya sampai lepas dari payudara.
f. Jika rasa nyeri dan luka tidak terlalu berat, Ibu dapat terus menyusui.
g. Jika rasa nyeri berlangsung hebat atau luka makin berat, puting susu yang sakit dapat di istirahatkan selama 24 jam.

3. Payudara Bengkak
Payudara yang bengkak terjadi karena hambatan antara vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Untuk mengatasinya, lakukan tahapan-tahapan berikut ini :
a. Kompres payudara dengan handuk, lalu masase ke arah puting hingga payudara teraba lebih lemas dan ASI dapat keluar melalui puting
b. Susukan bayi tanpa di jadwal sampai payudara terasa kosong
c. Urutlah payudara mulai dari tengah, lalu kedua telapak tangan kesamping, kebawah dengan sedikit tekanan keatas dan lepaskan dengan tiba-tiba
d. Keluarkan ASI sedikit mempermudah bayi mengisap
e. Susukan bayi lebih sering demikian juga pada malam hari, meskipun bayi harus digunakan.

4. Saluran Susu Tersumbat
Keadaan ini dapat timbul akibat tekanan jari pada waktu menyusui, pemakaian penyokong payudara yang telalu ketat atau adanya komplikasi payudara bengkak yang tak segera diatasi. Jika Ibu merasa nyeri, payudara dapat dikompres dengan air hangat sebelum menyusui dan kompres setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak.

5. Mastitis dan Abses Payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain :
a. Kompres hangat dan pemijatan
b. Rangsangan Axsitosyn
c. Pemberian antibiotik
d. Istirahat total dan obat untuk menghilangkan  rasa sakit

6. Sindrom ASI kurang
Ibu sering mengeluh bahwa ASInya kurang atau tidak mencukupi kebutuhan bayi. Umumnya keluhan ini timbul karena informasi dan pengetahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

7. Ibu sakit
Pada umumnya, Ibu sakit masih tetap dapat menyusui bayinya karena bayi telah dihadapkan pada penyakit Ibu sebelum gejala timbul dan dirasakan oleh Ibu.

8. Ibu menderita Hepatitis (HBS Ag positif dan AIDS (HIV positif))
Ibu menderita hepatitis, AIDS tidak diperkenankan menyusui bayinya karena dapat menularkan virus kepada bayinya melalui ASI. Namun faktor resiko penularan virus pada anaknya saat menyusui masih menjadi kontroversi.

9. Ibu Bekerja
Selama cuti, Ibu hendaknya terus menyusui bayinya, “melatih” untuk menyusui dengan botol sebagai persiapan jika masa cuti telah habis adalah tindakan yang salah.

10. Ibu Melahirkan Bedah Caesar
Ibu dapat menyusui bayi segera setelah Ibu sadar penuh dengan bantuan perawat. Bedah Caesar dengan anastesi regional (spihal) tidak menghambat kontak dini Ibu dan  bayi setelah lahir. Posisi menyusui yang dianjurkan.
a. Posisi Ibu terbaring miring dengan bahu dan kepala yang ditopang bantal. Sementara bayi disusukan dengan kaki kearah Ibu.
b. Apabila Ibu sudah dapat duduk, bayi dapat ditidurkan di bantal diatas pangkuan Ibu dengan posisi kaki bayi mengarah kebelakang Ibu, yaitu dibawah lengan Ibu.
(Swara, 2003)

Thursday, March 24, 2011

Proses Keperawatan Pada Klien Sectio Caesarea

Proses keperawatan adalah langkah-langkah sistematis untuk penyelesaian masalah klien. Langkah-langkah sistematis tersebut dibagi dalam lima tahap meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Haryanto, 1998: 3).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendapatkan data klien berdasarkan kebutuhan dasar manusia dan memberikan gambaran mengenai keadaan klien.
Tahap pengkajian terdiri dari kegiatan yaitu pengumpulan data, pengelompokan data, dan analisa data.

a. Pengumpulan Data
Langkah ini merupakan langkah awal dan dasar dari proses keperawatan. Dalam pengkajian, data dikumpulkan secara lengkap dari berbagai sumber, antara lain dari klien, keluarga, pemeriksaan medis maupun catatan kesehatan klien.
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi dari klien meliputi unsur Bio-Psiko-Sosial-Spiritual secara komprehensif.
Data yang dikumpulkan terdiri atas :
1) Identitas
a) Identitas Klien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan terahir, pekerjaan, golongan darah, alamat lengkap, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor medrek, dan diagnosa medis.
b) Identitas Penanggung jawab
Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan terahir, hubungan dengan klien, dan alamat lengkap.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Berupa keluhan yang dirasakan klien pada saat dilakukan pengkajian. Biasanya pada klien post partus dengan tindakan sectio caesarea mengeluh nyeri pada luka operasi.
b) Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai dirawat dirumah sakit. Berkaitan dengan keluhan utama yang dijabarkan dengan PQRST yang meliputi hal-hal yang meringankan dan memberatkan. Kualitas dan kuantitas dari keluhan, penyebaran serta tingkat kegawatan atau skala dan waktu.
c) Riwayat Kesehatan yang Lalu
Apakah klien pernah menderita penyakit yang sama pada kehamilan sebelumnya atau ada faktor predisposisi terhadap kehamilan.


d) Riwayat Kesehatan Keluarga
Ditanyakan pada klien atau keluarganya, apakah ada keluarga klien yang mempunyai penyakit keturunan, dan penyakit menular.
e) Riwayat Ginekologi dan Obstetri
(1) Riwayat Ginekologi
(a) Riwayat Menstruasi
Meliputi menarche, lamanya haid, siklus haid, banyaknya darah, keluhan, sifat darah, dan haid terakhir.
(b) Riwayat Perkawinan
Umur berapa waktu menikah (usia suami dan klien), sudah berapa lama menjalani pernikahan dan berapa lama usia pernikahan.
(c) Riwayat Keluarga Berencana
Alat kontrasepsi yang dipakai apa, adakah gangguan yang dirasakan, kapan mulai berhenti dan apa alasannya.
(2) Riwayat Obstetri
(a) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
Meliputi tanggal partus, umur kehamilan, jenis persalinan, tempat/penolong, jenis kelamin, panjang badan bayi, berat lahir bayi, kelainan kehamilan, kelainan bayi, kelainan masa nifas, keadaan masa nifas, keadaan anak sekarang apakah sehat atau meninggal.
(b) Riwayat Kehamilan Sekarang
Apakah klien memeriksakan kehamilannya dimana, berapa kali, teratur apa tidak, mendapat imunisasi lengkap atau tidak, keluhan yang dirasakan saat hamil, adakah perdarahan, berapa berat badan sebelum hamil, selama hamil, sesudah melahirkan dan penambahan berat badan saat hamil.
(c) Riwayat Persalinan Sekarang Dengan Sectio Caesarea
Jam berapa masuk kamar operasi, berapa lama operasi, berat badan dan panjang bayi waktu lahir, jenis anastesi yang digunakan, dan jenis operasi yang digunakan.
3) Pemeriksaaan Fisik
a) Keadaan Umum
1. Kesadaran
Biasanya klien tampak lemah, kesadaran compos mentis atau terjadi penurunan kesadaran yang diakibatkan efek anestesi.
2. Tanda-tanda vital
Beberapa perubahan tanda-tanda vital bisa terlihat, peningkatan kecil sementara baik peningkatan tekanan darah sistol maupun diastol dapat timbul. Fungsi pernafasan kembali ke fungsi saat wanita tidak hamil, dan setelah rahim kosong diafragma menurun, aksis jantung kembali normal.
b) Sistem Pernafasan
Biasanya frekuensi nafas meningkat lebih dari 24x/menit jika terjadi nyeri, irama nafas vesikuler, Biasanya pada pasien dengan anestesi umum sering mempunyai keluhan batuk.
c) Sistem Kardiovaskuler
Apakah ada peningkatan vena jugularis, konjungtiva anemis karena adanya pendarahan saat persalinan post sectio caesarea, tetapi jika terjadi pendarahan hebat dapat disertai dengan adanya penurunan hemoglobin yang tajam, kapilaritas dapat terjadi penurunan akibat gangguan perpusi pada perifer, tekanan darah dapat meningkat jika disertai dengan riwayat pre-eklamsi berat yaitu sistol 140 mmHg atau lebih dan diastolik 100 mmHg atau lebih.
d) Sistem Pencernaan
Mukosa bibir akan terjadi kering akibat anestesi, bising usus tidak ada atau lemah jika post anestesi dapat terjadi mual atau muntah ini disebabkan oleh efek sentral dari anastesi atau akibat iritasi lambung oleh obat yang tertelan, sehingga menimbulkan nyeri tekan di efigastrium dan akan terjadi konstipasi satu sampai tiga hari post sectio caesarea akibat aktivitas usus terhambat.
e) Sistem Reproduksi
(1) Payudara
Pada hari kedua post partus baik normal maupun post sectio caesarea, keadaan payudara sama dengan saat hamil, kira-kira hari ketiga payudara menjadi besar, keras dan nyeri yang menandakan permulaan sekresi air susu dan kalau areola payudara dipijat, keluarlah cairan putih dari puting susu, ditambah dengan klien belum menetekan sehingga payudara bengkak.
(2) Uterus
Pada persalinan normal maupun post sectio caesarea setelah plasenta lahir konsistensi uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Pada post operasi sectio casarea mungkin akan terjadi perlambatan pengecilan uterus akibat dari adanya luka operasi pada uterus.

(3) Vulva
Pada persalinan normal maupun post sectio caesarea terjadi pengeluaran lochea, ada beberapa jenis lochea, diantaranya lochea rubra, lochea sanguilenta, lochea serosa, lochea alba.
(4) Perineum
Pada post sectio caesarea tidak akan ada perubahan atau perlukaan.
f) Sistem Perkemihan
Pada pasien post sectio caesarea dapat terjadi vasokontriksi pada pembuluh darah ginjal sehingga terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat mengakibatkan produksi urine menurun.
g) Sistem Integumen
Biasanya dilihat turgor kulitnya, keadaan rambut mulai dari kebersihan dan distribusi. Dilihat apakah ada strie gravidarum, linea alba dan apakah ada luka post operasi pada abdomen klien
h) Sistem Persyarafan
Tidak terjadi penurunan kesadaran pada sectio caesarea karena menggunakan anestesi spinal ataupun umum.
i) Sistem Endokrin
Kaji adanya pembesaran kelenjar tiroid, adanya keringat yang berlebihan, adanya hipo/hiperpigmentasi, riwayat penyakit diabetes militus, dan kaji pengeluaran ASI.
j) Sistem Muskuloskeletal
(1) Ekstremitas atas
Pada post sectio caesarea dapat terjadi kelemahan sebagai dampak anestesi yang mendefresikan sistem saraf pada muskuloskeletal sehingga menurunkan tonus otot. Setiap wanita nifas memiliki derajat diastasis rektus abdominis yang berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor termasuk kondisi umum dan tonus otot.
(2) Ekstremitas bawah
Pada post sectio caesarea dapat terjadi kelemahan sebagai dampak anestesi yang mendefresikan sistem saraf pada muskuloskeletal sehingga menurunkan tonus otot, serta kaji apakah ada tanda-tanda tromboplebitis yang diakibatkan kurangnya mobilitas fisik.
4) Pemeriksaan Fisik Pada Bayi
Pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir yaitu dilakukan dengan cara head to toe mulai dari kepala sampai ekstremitas disertai dengan refleks- refleks nya.
5) Pola Aktivitas Sehari-Hari
a) Pola Nutrisi
(1) Makan
Biasanya pada post sectio caesarea klien mengalami mual akibat pengaruh anestesi tetapi nanti hilang dengan sendirinya.
(2) Minum
Pada klien post sectio caesarea biasanya baik, dianjurkan klien banyak minum.
b) Pola Eliminasi
Pada post sectio caesarea biasanya pemenuhan eliminasi BAK tidak terganggu. Pada hari ke 2 post sectio caesarea klien masih terpasang kateter. Pemenuhan eliminasi BAB biasanya terganggu karena kondisi klien yang lemah dan sakit pada daerah abdomen sehingga klien takut untuk BAB.
c) Pola Istirahat Tidur
Karena klien merasa nyeri pada daerah luka operasi, maka biasanya tidur klien kurang dari kebutuhan. Hal ini juga bisa disebabkan oleh cemas yang datang dari klien.
d) Pola Aktivitas dan Latihan
Karena kondisi klien yang lemah dan ditambah adanya luka operasi pada abdomen. Biasanya aktivitas dan latihan klien terganggu.
e) Pola Personal Hygine
Karena kondisi klien yang lemah dan terdapat luka operasi pada abdomen biasanya pemenuhan personal hygine (mandi, cuci rambut gosok gigi gunting kuku) klien terganggu.
f) Ketergantungan Fisik
Apakah klien mempunyai ketergantungan fisik seperti merokok, minum-minuman keras, dan obat-obatan.
6) Aspek Psikososial dan Spiritual
a) Pola fikir dan persepsi
Apakah klien mengatakan mengetahui atau tidak tentang cara perawatan payudara, rencana akan memberikan ASI atau tidak, dan alat kontrasepsi yang akan klien pakai setelah melahirkan.
b) Persepsi diri
Hal apa yang dipikirkan klien saat dilakukan pengkajian.
c) Konsep diri
(1) Peran yaitu apakah klien menerima perannya sekarang yaitu sebagai seorang ibu dari anaknya.
(2) Identitas yaitu klien seorang istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya.
(3) Gambaran diri yaitu bagaimana penerimaan klien terhadap anggota tubuhnya yang sekarang yang tidak sempurna lagi yaitu adanya luka sectio caesarea
(4) Ideal diri yaitu bagaimana persepsi klien mengenai tubuhnya, apakah klien menerima perannya yang sekarang, dan bagaimana harapan klien kedepannya.
(5) Harga diri yaitu bagaimana perasaan klien tentang harga dirinya, apakah klien merasa dihargai atau tidak.
d) Hubungan/komunikasi
Bahasa dan komunikasi yang digunakan klien sehari-hari.
e) Kebiasaan seksual
Kebiasaan seksual sebelum hamil, setelah hamil, dan rencana akan berhubungan seksual setelah melahirkan.
f) Sistem spiritual
Agama yang diyakini klien dan keyakinan klien mengenai kesehatannya.
7) Data Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium terjadi penurunan hemoglobin <10 gr/dL bila terjadi pendarahan, peningkatan leukosit <11.300 mm3 bila terjadi infeksi. 8) Therapi Therapi yang digunakan klien post sectio caesarea. b. Analisa Data Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien. Analisa data yaitu proses intelektual yang meliputi kegiatan menyelidiki, mengklasifikasi dan mengelompokan data. Kemudian mencari kemungkinan penyebab dan dampak serta menentukan masalah atau penyimpangan yang terjadi.

Thursday, July 8, 2010

Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas

1) Fase Taking In
Fase ini merupakan periode ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama samapi hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Kelelahan membuat ibu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurant tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini memebuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya. Komunikasi yang baik sangat diperlukan pad fase ini.

2) Fase Taking Hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bay, selain itu perasaannya sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurangb hati-hati. Pada saat ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupkan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.

3) Fase Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.

Tuesday, March 16, 2010

Perkembangan Mental Balita Usia 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-9 bulan, 9-12 bulan

Sumber catatan kuliah & Buku Keperawatan/kedokteran:
Dari lahir sampai 3 bulan
• Belajar mengangkat kepala
• Melihat kemuka orang dengan tersenyum.
• Bereaksi terhadap suara/bunyi.
• Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak.
• Mengoceh.

Dari 3 bulan sampai 6 bulan
• Mengangkat kepala .
• Mulai belajr meraih benda-benda yang ada disekitarnya.
• Menaruh benda-benda dimulutnya.
• Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.

Dari 6 sampai 9 bulan
• Dapat duduk tanpa dibantu.
• Dapat tengkurep dan berbalik sendiri.
• Dapat merangkak meraih benda atau mendekati orang.
• Bergembira dengan melempar benda-benda,
• Mengeluarkan suara yang tanpa arti.
• Mengenal muka anggota keluarga dan takut dengan orang asing.

Dari 9 sampai 12 bulan
• Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu.
• Dapat berjalan dengan dituntun.
• Menirukan suara.
• Mengulang bunyi yang didengarrnya.
• Belajar satu atau dua kata.
• Berpartisipasi dalam permainan.

Wednesday, February 24, 2010

Tanda-tanda Preeklampsia Berat

Preeklampsia berat ditandai dengan:
a) Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar > 30 – 50 mmHg.
b) Peningkatan berat badan lebih dari 0,5 kg/minggu selama trimester kedua dan ketiga atau peningkatan berat badan yang tiba-tiba sebesar 2 kg setiap kali.
c) Proteinuria 5 sampai 10 g/L dalam 24 jam.
d) Edema umum, bengkak semakin jelas di wajah, mata, jari, bunyi paru rales bisa terdengar.
e) Oliguria :

Tanda-tanda Preklampsia Ringan

Preeklampsia ringan ditandai dengan:
a) Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmHg atau lebih, peningkatan tekanan darah diastolik sebesar > 15 mmHg.
b) Peningkatan berat badan lebih dari 0,5 kg/minggu selama trimester kedua dan ketiga atau peningkatan berat badan yang tiba-tiba sebesar 2 kg setiap kali.
c) Proteinuria sebesar 300 mg/L dalam 24 jam atau > 1 g/L.
d) Edema dependen, bengkak di mata, jari , wajah, bunyi pulmoner tidak terdengar.
e) Keluaran urine sama dengan pemasukan > 30 ml/jam.
f) Nyeri kepala sementara.
g) Tidak ada gangguan penglihatan.
h) Tidak ada keluhan nyeri ulu hati.
i) Kreatinin serum dalam batas normal.
j) Tidak terjadi trombositopenia.
k) Peningkatan AST minimal.
l) Hematokrit meningkat
m) Perfusi plasenta pada janin menurun.
n) Premature placental aging pada janin tidak jelas (Bobak, 2004:638).

Tuesday, January 12, 2010

Pengertian Dukun Bayi

Dukun Bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.
( DepKes RI, 1993)



Monday, November 9, 2009

TANDA – TANDA AKAN TERJADI PERSALINAN

Berikut hal-hal yang terjadi  ketika mau melahirkan, jadi waspadalah anda para suami...agar persalinannya berjalan dengan lancar...

• Mules dan kenceng – kenceng yang lebih sering dan lama
• Pengeluaran darah dan lendir dari vagina meningkat
• Pecahnya ketuban
• Nafas lebih cepat
• Mual dan muntah
• Keringat banyak
• Anus terbuka
• Sakit pinggang meningkat
• Perut amat sakit disentuh
• Merasa ingin BAB
• Keinginan menejan yang tak terkontrol