Metodologi Perencanaan E-Business

Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba

Uji normalitas data dalam penelitian

Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:

Tilawatil Quran KH. Muammar ZA

ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.

Contoh Khutbah Bahasa Sunda

Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan

Ciri-ciri Pasar Monopoli

Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.

Showing posts with label Keperawatan Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keperawatan Keluarga. Show all posts

Monday, October 5, 2009

Kriteria Penilaian Lomba Balita Sehat

Ini dia beberapa kriteria yang biasanya dilombakan :
1. BB dan TB sesuai umur
2. Perkembangan motorik halus, kasar, sosialisasi dan bahasa sesuai umur
3. Rambut berkilau
4. Mata bersinar
5. Lincah
6. Selalu tersenyum dan ceria
7. Kulit tidak kusam
8. Memiliki KMS
9. Imunisasi lengkap sesuai dengan usia
10. Perkembangan motorik halus sesuai umur
11. Perkembangan motorik kasar sesuai umur
12. Sosialisasi sesuai umur
13. Perkembangan bahasa sesuai umur




Sunday, October 4, 2009

Tentang Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), Tujuan & Sasaran

Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah usaha perbaikan gizi masyarakat yang berintikan penyuluhan gizi, melalui peningkatan peran serta masyarakat dan didukung kegiatan yang bersifat lintas sektoral, Dilaksanakan oleh berbagai sektor terkait (kesehatan, BKKBN, Pertanian Dalam Negeri), Dikbud, PKK, dan lain-lain.
( Depkes RI. 1993: 2)
Pengertian lain mengenai UPGK adalah:
a. Merupakan usaha keluarga sendiri untuk memperbaiki keadaan gizi seluruh anggota keluarga,
b. Dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat dan petugas berbagai sektor sebagai motivator, pembimbing dan pembina,
c. Merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari dan juga merupakan bagian integral dari pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,
d. Secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana kepada keluarga dan masyarakat.

3. Tujuan UPGK
a. Tujuan Umum: Mendorong perubahan sikap dan perilaku yang mendukung perbaikan gizi anak balita dan keluarga melalui peningkatan pengertian, partisipasi dan pemerataan hasil kegiatan untuk mencapai keluarga sadar gizi menuju terjadinya manusia berkualitas.
b. Tujuan Khusus
1) Partisipasi dan pemerataan kegiatan:
a) Semua anggota masyarakat ikut serta aktif dalam penyelenggaraan kegiatan. Penanggungjawab kegiatan adalah anggota masyarakat setempat yang telah mendapat latihan.
b) Pada daerah UPGK, kegiatan meluas ke semua RW
c) Pada setiap RW, semua balita (anak dibawah 5 tahun), ibu hamil dan ibu menyusui tercakup dalam kegiatan.
2) Perubahan tingkah laku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi.
a) Semua balita ditimbang setiap bulan, dan hasil timbangannya dicatat di KMS
b) Semua bayi disusui ibunya sampai usia 2 tahun atau lebih dan mendapat makanan lain yang sesuai dengan kebutuhannya
c) Semua anak yang berumur 1-4 tahun mendapat 1 kapsul vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan
d) Semua anak yang mencret segera diberi minum larutan gula garam atau larutan oralit


4. Sasaran UPGK
Secara garis besar sasaran UPGK dapat dikelompokkan menjadi :
a. Sasaran Langsung:
Sasaran langsung adalah perorangan atau keluarga yang bersedia melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri dalam rangka mewujudkan keluarga sadar gizi. Sasaran ini pada garis besarnya dapat disegmentasikan menjadi:
a) Keluarga Balita (Ibu, bapak, anggota keluarga yng ditugasi mengasuh anak)
b) Ibu muda
c) Ibu Hamil
d) Ibu menyusui
e) Masyarakat umum
b. Sasaran tidak langsung:
Yang dimaksud dengan sasaran tidak langsung adalah perorangan atau institusi yang diharapkan dapat membantu secara aktif baik sebagai pengajar (motivator), maupun sebagai penyedia jasa kelompok UPGK dalam rangka melembagakan dan memberdayakan keluarga sadar gizi. Sasaran ini antara lain terdiri dari:
a) Kelompok yang mempunyai pengaruh dan menentukan dalam proses pengambilan keputusan misalnya : pemuka masyarakat baik formal maupun informal (pemuka agama, kepala adat, dan lain-lain )
b) Kelompok / institusi masyarakat di tingkat desa, KPD, KWT, PKK, Pramuka, Karang Taruna, LSM, LKMD, Lembaga Agama, Kader dan lain sebagainya.
c) Kelompok Petugas KIE dari sektor-sektor yang terkait dalam berbagai tingkat daerah, meliputi:
(1) Sektor kesehatan (Petugas Rumah Sakit, Petugas Puskesmas dan lain-lain)
(2) Sektor Keagamaan (Petugas KUA, motifator UPGK jalur agama, penyuluh agama, guru agama)
(3) Sektor Pertanian
(4) Sektor BKKBN
(5) Sektor Pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, Azis. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Madika
Arikunto, S. 2002. Metode Penelitian. Jakarta : Rhineka Cipta
Dep. Kes RI 1979. Buku Pedoman Petugas Lapangan UPGK. Jakarta : Dep. Kes RI
Dep. Kes RI 1993. Pedoman KIE-UPGK. Jakarta : Dep. Kes RI
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1989. Jakarta : PT. Gramedia
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rhineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rhineka Cipta
Nursalam, 2002. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Soediaoetama, Achmad Djaeni. Prof Dr. 2000. Ilmu Gizi. Jakarta Timur: Dian Rakyat
http://www.gizi.net/kebijakan-gizi/download/Panzi-Final.doc, diakses 28 Februari 2008
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/, diakses tanggal 4 Maret 2008
http://docs.yahoo.com/info/terms/, diakses tanggal 4 Maret 2008


Thursday, May 28, 2009

Cara Menyikat Gigi Yang Benar

Menyikat gigi anak balita yg sedang aktif bergerak ke sana ke mari memang sulit. Cobalah tips-tips berikut ini :
1. Mengenalkan dan membiasakan anak menggunakan sikat gigi dpt dimulai saat gigi atas dan bawah masing2 berjumlah 4/6. Masa uji coba kira-kira 2-3 minggu.

2. Di dpn sebuah cermin, pangkulah anak dgn posisi membelakangi kita. Dgn begitu anak akan melihat sendiri bgmn kegiatan menyikat gigi ini.

3. Sekalipun anak baru punya 4 gigi di bag depan atas dan bawah, teknik penyikatannya tetap sama sprt teknik saat menyikat gigi orang dewasa, yaitu:
 Lakukan secara perlahan dr bag gusi ke arah permukaan gigi (vertikal).
 U/ bag permukaan kunyah, baik gigi atas maupun bawah, teknik menyikatnya a/ menarik sikat ke arah luar mulut (horisontal).
 Menyikat gigi tdk blh dua arah atau bolak balik. Jd, cukup searah saja. jk teknik ini dilakukan dgn bnr, hasilnya bs lbh maksimal sementara kesehatan gusi pun tetap terjaga.
4. Pilihlah sikat gigi khusus u/ anak. Atau jika gigi anak kurang dari 4 gunakan kasa steril yg telah dibasahi air matang. Dgn melilitkannya di jari telunjuk, "sikat gigi" ini terbukti efektif krn bs menjangkau tempat2 sisa makanan yg susah dibersihkan. Bila anak sudah bisa menerima sikat gigi, teruskan kebiasaan membersihkan giginya dgn sikat gigi.

5. Pembersihan serupa jg hrs dilakukan pd langit2, dinding mulut, permukaan lidah dan gusi.

6. u/ tahap pengenalan lebih baik tdk memakai pasta gigi. Gunakan air hangat matang saja.

7. Setelah berjalan bbrp minggu dan anak sudah tdk melakukan penolakan lagi, tak ada salahnya memperkenalkan sedikit demi sedikit pasta gigi khusus u/ anak. Ada beragam rasa yg dpt dipilihnya.

8. Krn anak belum bisa berkumur, jgn lupa menyediakan lap basah atau tisu. Tentu saja hal ini tdk blh dilakukan trs-mnrs krn anak tetaplah hrs diajarkan cara berkumur sekaligus membuang kumurannya itu


Thursday, May 21, 2009

TEORI-TEORI INTELEGENSIA

1. Teori “Two Factors”
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia berpen¬dapat bahwa inteligensi itu meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memiliki kedua kemampuan mi yang keduanya menentukan penampilan atau perilaku mentalnya.

2. Teori “Primary Mental Abilities”
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat bah¬wa inteligensi merupakan penjelmaan dan kemampuan primer, yaitu (a) kemampuan berbahasa: verbal comprehension, (b) ke¬mampuan mengingat: memory; (c) kemampuan nalar atau berpikir logis: reasoning; (d) kemampuan tilikan ruang: spatial factor; (e) kemampuan bilangan: numerical ability; (I) kemampuan mengguna¬kan kata-kata: word fluency; dan (g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat: perceptual speed.

3. Teori “Multiple Intelligence”
Teori ini dikemukakan oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dan tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu sebagai berikut:

1) Operasi Mental (Proses Berpikir)
(a) Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
(b) Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehi¬dupan sehari-hari).
(c) Memory recording (ingatan yang segera).
(d) Divergent production (berpikir melebar = banyak kemung¬kinan jawaban).
(e) Convergent production (berpikir memusat = hanya satu j awaban/alternatif).
(f) Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu itu baik, akurat, atau memadai).

2) Content (Isi yang dip ikirkan)
(a) Visual (bentuk kongkret atau gambaran).
(b) Auditory.
(c) Word meaning (semantic).
(d) Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata, angka dan not musik).
(e) Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).


3) Product (Hasil Berpikir)
(a) Unit (item tunggal informasi).
(b) Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
(c) Relasi (keterkaitan antarinformasi).
(d) Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan).
(e) Transformasi (perubahan, modifikasi atau redefinisi in¬formasi).
(f) Implikasi (informasi yang merupakan saran dan informasi item lain).

Keterkaitan dengan ketiga kategori tersebut di atas, selanjutnya dapat disimak dalam contoh berikut.
1) Untuk dapat mengisi deretan angka 3, 6, 12, 24, ... memerlukan “convergent operation” (hanya satu jawaban yang benar) de¬ngan “symbolic content” (angka) untuk memperoleh suatu “rela¬tionship product” (angka rangkap berdasarkan pola hitungan sebelumnya).

2) Untuk membuat lukisan abstrak tentang suatu fenomena kehi¬dupan, memerlukan kemampuan “divergent thinking operation” (banyak kemungkinan jawaban) tentang “visual content” untuk menciptakan “transformasional product” (objek nyata yang di¬transformasikan ke dalam pandangan pelukis).

Menurut Guilford, keterkaitan antara ketiga kategori berpikir atau kemampuan intelektual tersebut, telah melahirkan 180 kombinasi kemampuan. Model struktur intelektual Guilford ini telah mengembangkan wawasan tentang hakikat inteligensi dengan menambah faktor-faktor, seperti: “social judgment” (evaluasi ter¬hadap orang lain), dan kreativitas (berpikir “divergent”).


d. Teori “Triachic of Intelligence”
Teori ini dikemukakan oleh Robert Stenberg (1985, 1990). Teori ini merupakan pendekatan proses kognitif untuk memahami inteli¬gensi. Stenberg mengartikannya sebagai suatu “deskripsi tiga ba¬gian kemampuan mental” (proses berpikir, mengatasi pengalaman atau masalah baru, dan penyesuaian terhadap situasi yang diha¬dapi) yang menunjukkan tingkah laku inteligen. Dengan kata lain, tingkah laku inteligen itu merupakan produk (hasil) dan penerapan strategi berpikir, mengatasi masalah-masalah baru secara kreatif dan cepat, dan penyesuaian terhadap konteks dengan menyeleksi dan beradaptasi dengan lingkungan.

1) Proses Mental (Berpikir)
a) Meta Component: perencanaan aturan, seleksi strategi, dan mo¬nitoring (pemantauan). Contohnya mengidentifikasi masalah, alokasi perhatian dan pemantauan bagaimana strategi itu dilaksanakan.
b) Performance Components: melaksanakan strategi yang terse¬leksi. Melalui komponen ini memungkinkan kita untuk memper¬sepsi dan menyimpan informasi baru.
c) Knowledge — Acquisition Components: memperoleh pengetahuan baru, seperti: memisahkan informasi yang relevan dengan yang tidak relevan dalam rangka memahami konsep-konsep baru.

2) Coping with new experience
Tingkah laku inteligen dibentuk melalui dua karakteristik, yaitu:
a) Insight, atau kemampuan untuk menghadapi situasi baru secara efektif
b) Automaticity, atau kemampuan untuk berpikir dan memecahkan masalah secara otomatis dan efisien.
Dengan demikian, tingkah laku inteligen itu melibatkan kemam¬puan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah baru dan bersifat otomatis: kecepatan dalam menemukan solusi-solusi baru dalam proses yang rutin dan dapat dilakukan tanpa banyak menggunakan usaha kognisi.

3) Adapting to environment
Yaitu kemampuan untuk memilih dan beradaptasi dengan tuntutan atau norma lingkungan. Kemampuan mi sangat penting bagi individu dalam meraih kesuksesan hidupnya, seperti dalam memilih karier, keterampilan sosial dan bergaul dalam masyarakat secara baik. Secara visual,