Metodologi Perencanaan E-Business
Dapatkan dukungan manajemen eksekutif dan sponsor bisnis. Identifikasi tujuan bisnis utk selesaikan rencana e-bisnis . Identifikasi anggota tim dari individu-individu yg akan terliba
Uji normalitas data dalam penelitian
Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain:
Tilawatil Quran KH. Muammar ZA
ngat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa.
Contoh Khutbah Bahasa Sunda
Surupna panon poe dina wanci magrib kamari, jadi ciciren rengsena ibadah saum urang salila sabulan campleng, kuru cileuh kentel peujit dina waktu sabulan, lantaran ngalaksanakeun saum jeung taraweh sarta ibadah–ibadah Ramadan
Ciri-ciri Pasar Monopoli
Pasar monopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran yang ditandai oleh adanya satu penjual/produsen dipasar berhadapan dengan permintaan seluruh pembeli atau konsumen.
Saturday, June 29, 2013
MANAJEMEN PEMASARAN JASA
Sunday, February 21, 2010
Teknik-teknik Analisis Kebutuhan Pegawai
a) Teknik Perkiraan Jangka Pendek
Simamora (1997) mengemukakan bahwa teknik perkiraan jangka pendekakan kebutuhan sumber daya manusia didasarkan pada : 1) analisis anggaran, 2) analisis beban kerja dan 3) analisis struktutr organisasi.
b) Teknik Perkiraan Jangka Panjang
Teknik Perkiraan Jangka Panjang terdiri atas : 1) analisis permintaan 4) analisis kecenderungan (Trend), 5) analisis statistik, 6) analisis bagan penempatan, 7) analisis Markov, dan 8) Model peramalan agregat
Dimensi-dimensi yang ada pada diri manusia
(2) Bekerja dengan pihak lain dalam hal membantu, baik individu maupun tim untuk mencapai suatu tujuan
Sunday, January 17, 2010
Manajemen Stress
Oleh: Mamat Rohimat,from blog Great Investor
PENDAHULUAN
Baru-baru ini, banyak sekali orang yang melakukan tindakan bunuh diri, bahkan tindakan bunuh diri tersebut dilakukan di Mal-Mal terkenal. Tentu, ada pemicu dari orang-orang tersebut untuk melakukan tindakan bunuh diri. Secara umum, pemicu tersebut adalah stress (tekanan) terhadap mental yang tak sanggup lagi diatasi sehingga menimbulkan keputusasaan untuk tetap bertahan hidup, dan karenanya memutuskan untuk mengakhiri hidup (bunuh diri) dengan harapan masalahnya akan berakhir.
Stress pasti dirasakan oleh semua orang. Namun, ada orang yang mampu mengatasi stress tersebut dengan baik, dan ada pula yang tak mampu mengatasinya. Kemampuan untuk mengelola stress (stress management) akan menjadi penentu kekuatan orang untuk menjalani hidup dengan berbagai permasalahannya.
PEMBAHASAN
Definisi Stress
Stress secara bahasa berarti tekanan. Adapun secara istilah, stress adalah suatu tekanan terhadap mental seseorang yang diakibatkan oleh kekecewaan atas apa yang dialaminya.
Secara umum stress dapat didefinisikan sebagai berikut:
Stress = fungsi (kekecewaan)
Kekecewaan = fungsi (kenyataan ≠ harapan)
Stress Management
Tekanan terhadap mental jika tidak dikelola dengan baik bisa menimbulkan gangguan jiwa (gila) dan putus asa (bunuh diri). Untuk itu, pengelolaan terhadap stress merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Berikut adalah metode untuk mengelola stress:
Stress Avoiding (Menghindari Stress)
Jika memperhatikan definisi di atas, maka untuk menghindari stress, orang harus menghindari kekecewaan. Untuk bisa menghindari kekecewaan, maka 2 hal yang bisa dilakukan:
1. selalu memastikan bahwa kenyataan (hasil) bisa sesuai dengan harapan, atau
2. jangan berharap (hilangkanlah harapan)
Alternatif pertama, memastikan agar kita bisa selalu mencapai apa yang kita harapkan bisa disebut mustahil. Hal ini, karena banyak faktor yang tidak berada dalam kontrol kita yang menentukan hasil dari usaha yang kita lakukan.
Alternatif kedua, jika mengambil sampai titik ekstrem untuk tidak berharap apa pun juga mustahil. Bahkan, orang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang sudah tidak punya harapan atau putus asa. Padahal, kita juga diminta untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah, karena tidaklah orang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali dia telah kafir (mengingkari) Tuhannya. Dengan demikian, yang paling relevan adalah jangan berharap kepada sesuatu yang tidak pantas diharapkan, jangan berharap kepada sesuatu yang bersifat uncontrollable.
Stress Managing (Mengelola Stress)
Yang dimaksud manajemen stress adalah menerima stress sebagai suatu keadaan, menghadapi dan menyikapinya dengan sikap yang benar sehingga stressor apa pun yang terjadi kepada kita, tidak akan menyebabkan dampak yang besar seperti gangguan kejiwaan (gila) ataupun putus asa (bunuh diri).
Berikut adalah beberapa tahapan stress management:
1. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang terjadi ataupun yang akan terjadi, telah Allah tetapkan untuk kita, dan telah tercatat di dalam kitab lauhul mahfudz.
2. Perbanyaklah berdo’a.
Karena kita tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan kepada kita, maka selalulah berdo’a untuk mendapatkan kebaikan atas usaha yang kita lakukan. Boleh jadi, dengan do’a itu, Allah mengubah ketetapan-Nya kepada kita, dari tadinya “buruk” menjadi “baik”. Tentu saja bukan Allah plin-plan, namun karena Allah mendorong manusia untuk memperbanyak berdo’a. Lagipula, tidak ada yang tahu ketetapan Allah sebelum terjadi, sehingga jika pun Allah mengubahnya karena mengabulkan do’a kita, tidak akan ada yang mencela Allah dan Allah tetap memiliki hak prerogatif untuk menjalankan ketetepan-Nya ataupun membatalkannya.
3. Selalulah bersikap positif (husnudzhan), bahwa apapun yang terjadi kepada kita, itulah yang terbaik.
Boleh jadi kegagalan sedang menimpa kita. Namun, yakinkanlah di dalam hati, mungkin ini bukanlah kegagalan, namun adalah kejadian agar kita bisa memiliki kesempatan untuk lebih banyak belajar dan meraih kesempatan yang lebih baik di tempat lain.
Memiliki sikap positif (husnudzhan) adalah kunci utama dalam stress management. Hal ini karena orang yang selalu bersikap positif tidak akan pernah mengalami stress, dan akan mampu menghadapi permasalahan apa pun. Untuk itu, sikap positif adalah kekuatan, dan kita dianjurkan untuk selalu bersikap positif (husnudzhan) terhadap apa pun, terutama terhadap Allah. Hal ini disebutkan dalam suatu hadits qudsi, Allah berkata: “Sesungguhnya Aku, tergantung kepada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”.
Dengan demikian, milikilah sikap positif (husnudzhan) terutama kepada Allah, bahwa Allah Maha Menyayangi kita, Allah akan memberikan kepada kita jalan yang terbaik.
4. Jadikanlah Allah sebagai prioritas dan tujuan utama.
Sebagaimana telah kita bahas, bahwa stress diakibatkan oleh kekecewaan, sedangkan kekecewaan disebabkan oleh kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Dengan demikian, untuk menghindari kekecewaan, jadikanlah ridha Allah sebagai harapan kita, dan merupakan tujuan utama dari setiap kegiatan (perbuatan) yang kita lakukan.
Inilah esensi dari Ikhlas. Ikhlas secara bahasa adalah murni. Sedangkan secara istilah, ikhlas adalah memurnikan ibadah dan tujuan dari setiap amal hanya kepada Allah dan hanya untuk mendapatkan ridha Allah.
Untuk itu, seseorang yang menjadikan Allah (ridha Allah, Pencipta Manusia) sebagai tujuan utama hidupnya, maka akan terhindar dari stress. Begitu pun Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadikan sebagai tujuan hidup yang diwujudkan dengan beribadah hanya kepada-Nya sehingga Allah akan meridhainya.
5. Yakinlah bahwa setiap perbuatan (baik) yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah itu, akan selalu berhasil dengan baik (selalui diridhai Allah, dan Allah akan membalas dengan kebaikan).
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah:
اِنَّمَاالْاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى الدُّ نْيَا يُصِيْبُهَا اَوْ اِلَى امْرَاَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَا جَرَ اِلَيْهِ
“Sesungguhnya, tidak lain setiap amal itu tergantung kepada niatnya dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya kepada dunia, maka ia akan mendapatkan dunia. Barang siapa yang hijrahnya kepada wanita, maka ia akan menikahinya. Maka hijrah itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah” (HR Bukhari No 1 & HR Muslim No 1080).
6. Berserah diri (tawakkal) atas hasil usaha yang kita lakukan kepada Allah
Setelah kita berusaha semampu kita dengan sungguh-sungguh sehingga kita sudah tidak melihat lagi sesuatu yang bisa kita kerjakan, maka serahkanlah hasil urusan itu kepada Allah. Karena kita hanya dituntut untuk berusaha, adapun hasilnya adalah urusan Allah.
KESIMPULAN
Untuk bisa mengelola stress dengan baik, maka kita harus yakin bahwa segala sesuatu telah Allah tetapkan, jauh sebelum kita lahir dan bahkan telah tercatat di lauhul mahfud. Kita hanya diminta untuk berusaha semampu kita dengan sesungguhnya dan banyak berdo’a untuk kebaikan kita. Lalu kita ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Kita juga harus menjadikan Allah sebagai prioritas dan tujuan kita sehingga hanya kepada Allah-lah kita berharap. Dengan demikian, akan terminimisasilah kekecewaan. Selain itu, selalulah bersikap positif (husnudzhan) bahwa Allah akan menjadikan kepada kita yang terbaik atau ambillah hikmah (pelajaran), bahkan dari keburukan yang kita rasakan. Kita juga harus yakin bahwa usaha kita yang baik selama berniat untuk mendapatkan ridha Allah, pasti akan memiliki nilai kebaikan buat kita, dan akan menjadi sebab tercapainya tujuan utama kita, mendapatkan ridha Allah
Monday, January 4, 2010
Pengertian Kinerja Pegawai
Adapun pengertian kinerja, yang dikemukakan oleh Agus Dharma dalam bukunya “Manajemen Prestasi” yaitu sebagai berikut: “Kinerja pegawai adalah sesuatu yang dicapai oleh pegawai, prestasi kerja yang diperhatikan oleh pegawai, kemampuan kerja berkaitan dengan penggunaan peralatan kantor”. (Dharma,1991:105)
Sejalan dengan pengertian tersebut, A.A. Anwar Prabu Mangkunegara dalam bukunya “Evaluasi Kinerja SDM”, mengatakan bahwa:
“Kinerja Karyawan (Prestasi Kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. (Mangkunegara,2005:9)
Sedangkan penegertian Kinerja pegawai menurut Bambang Kusriyanto yang dikutip oleh Harbani Pasolong dalam bukunya “Teori Administrasi Publik” adalah “Kinerja pegawai adalah hasil kerja perseorangan dalam suatu organisasi”. (Pasolong, 2007:175)
Adapun pengertian kinerja menurut Stephen Robbins yang diterjemahkan oleh Harbani Pasolong: “Kinerja adalah hasil evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dibandingkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.”(Pasolong,2007:176)
Berdasarkan pengertian kinerja dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat ditafsirkan bahwa kinerja pegawai erat kaitannya dengan hasil pekerjaan seseorang dalam suatu organisasi, hasil pekerjaan tersebut dapat menyangkut kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu. Kinerja pegawai tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan dan keahlian dalam bekerja, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh semangat kerjanya.
Friday, November 27, 2009
Prinsip-prinsip Motivasi Kerja
Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin.
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
Pemimpin mengakui bahwa bawahan (pegawai ) mempunyai andil di dalam usaha pencapaian tujuan.Dengan pengakuan tersebut, pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai bawahan untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.
Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang di inginkan pegawai bawahan, akan memotivasi pegawai bekerja apa yang diharapkan pemimpin.
Wednesday, November 25, 2009
Kegiatan Pengembangan Karir
1. Prestasi Kerja
Kegiatan paling penting untuk memajukan karir adalah prestasi kerja yang baik, karena hal ini mendasari semua kegiatan pengembangan karir lainnya.
2. Exposure
Kemajuan karir juga ditentukan oleh exposure. Yang berarti menjadi dikenal oleh orang – orang yang memutuskan promosi, transfer, dan kesempatan – kesempatan karir lainnya.
3. Permintaan Berhenti
Bila seorang karyawan melihat kesempatan karir yang lebih besar di tempat lain, permintaan berhenti mungkin merupakan suatu cara untuk mencapai sasaran karir.
4. Kesetiaan Organisasional
Dalam organisasi, orang – orang meletakkan kemajuan karir tergantung pada kesetiaan organisasional, kesetiaan organisasional rendah pada umumnya ditemui pada diri sarjana baru dan para profesional.
5. Mentors dan Sponsors
Mentor adalah orang yang menawarkan bimbingan karir informal. Bila mentor dapat memotivasi karyawan untuk kegiatan – kegiatan pengembangan karir, maka dia menjadi sponsor. Sponsor adalah orang dalam organisasi yang dapat menciptakan kesempatan – kesempatan pengembangan karir bagi orang lain.
6. Kesempatan – kesempatan Untuk Tumbuh
Bila karyawan meningkatkan kemampuan, maka berarti mereka memanfaatkan kesempatan untuk tumbuh. Hal ini berguna dalam pengembangan SDM internal maupun bagi pencapaian rencana karir karyawan.
Wednesday, November 18, 2009
Teknik Kepemimpinan menurut Pamudji
Adapun teknik-teknik kepemimpinan menurut Pamudji yaitu:
1. Teknik Pematangan atau Penyiapan Pengikut
Teknik ini dapat berupa teknik penerangan maupun propaganda. Teknik penerangan ini dimaksudkan untuk memberikan keterangan yang jelas dan faktual kepada orang-orang, sehingga mereka dapat memiliki keterangan yang jelas dan dalam mengenai sesuatu hal yang menyebabkan timbulnya kemauan untuk mengikuti pemimpin sesuai dengan rasa, hati dan akal mereka. Hal ini berbeda dengan teknik propaganda yang berusaha untuk memaksakan kehendak atau keinginan pemimpin, bahkan kadang-kadang bagi pengikutnya tidak ada pilihan lain, dengan menggunakan ancaman-ancaman hukuman (sanksi-sanksi).
2. Teknik Human Relations
Proses atau rangkaian kegiatan memotivasi orang, yaitu keseluruhan proses pemberian motif (dorongan) agar orang mau bergerak. Dalam hal ini yang dapat dijadikan motif yaitu pemenuhan kebutuhan yang meliputi kebutuhan fisik (sandang, pangan, dan papan) serta kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan untuk diikut sertakan dan lain-lain. Dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan tersebut menyebabkan orang-orang bersedia mengikuti pemimpin yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
3. Teknik menjadi teladan
Pemberian contoh yang baik dari pemimpin agar para bawahan dapat mengikuti sikapnya yang baik dalam bertindak. Dengan memberikan contoh- contoh yang baik, diharapkan orang- orang yang digerakkan mau mengikuti apa yang dilihat. hakekat dari pemberian contoh ini diwujudkan dalam dua aspek, yaitu aspek negatif dalam bentuk larangan- larangan atau pantangan- pantangan dan aspek positif dalam bentuk anjuran- anjuran atau keharusan- keharusan berbuat.
4. Teknik Persuasi dan Pemberian Perintah
Teknik persuasif atau ajakan menunjukkan kepada suatu suasana dimana antara kedudukan pimpinan dengan bawahan tidak terdapat batasan- batasan yang jelas, sehingga pemimpin tidak dapat menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sedangkan teknik pemberian perintah yaitu menyuruh orang yang diberi perintah untuk mematuhi yang memberi perintah melakukan sesuatu. Ketaatan terhadap perintah disebabkan karena wibawa pemimpin yang timbul karena pemimpin memiliki kelebihan- kelebihan disamping pemimpin tersebut diterima sebagai bagian dari mereka, dan mendapat kepercayaan juga karena adanya rasa patuh atas dasar hukum di kalangan pengikut.
5. Teknik Penggunaan Sistem Komunikasi yang cocok
Teknik penggunaan sistem komunikasi yang cocok yaitu menyampaikan suatu maksud atau keinginan kepada pihak lain baik dalam bentuk penerangan, persuasi, perintah dan sebagainya. dalam hal ini yang terpenting bahwa apa yang diinginkan pimpinan dalam memberikan perintah dapat dipahami dengan baik oleh bawahan, sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam melaksanakan tugas. Biasanya komunikasi ini bersifat dua arah, yaitu dari pimpinan ke bawahan yang berisi perintah- perinyah atau informasi- informasi dan dari bawahan ke atasan yang berisikan laporan- laporan dan saran- saran.
6. Teknik Penyediaan Fasilitas- Fasilitas
Jika sekelompok orang sudah siap untuk mengikuti ajakan pemimpin maka orang- orang tersebut harus diberi fasilitas- fasilitas dan kemudahan- kemudahan. Adapun yang dimaksud dengan fasilitas dan kemudahan di sini adalah:
a. Kecakapan, yang dapat diberikan melalui pendidikan dan pelatihan.
b. Uang, biasanya disediakan dalam anggaran belanja.
c. Waktu, mutlak diperlukan untuk melakukan sesuatu walaupun tersedia fasilitas- fasilitas lainnya sedangkan waktu selalu terbatas.
d. Perlengkapan keja.
e. Perangsang, adalah sesuatu untuk menarik sehingga dapat menimbulkan kegairahan atau keinginan untuk memilikinya atau mendapatkannya. hal ini dapat berupa materi seperti penghasilan tambahan dan dapat berupa non materi berupa kebanggaan dan kepuasan.
(Pamudji 2001:Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia)
Friday, October 30, 2009
Kebaikan dan keburukan pasar persaingan sempurna
1. Persaingan sempurna memaksimumkan efisiensi
Sebelum menerangkan kebaikan dari pasar persaingan sempurna ditinjau dari sudut efisiensi, terlebih dahulu akan diterangkan dua konsep efisiensi yaitu:
b. Efisiensi Alokatif
Untuk melihat apakah efisiesi alokatif dicapai atau tidak, perlulah dilihat apakah alokasi sumber-sumber daya keberbagi kegiatan ekonomi/produksi telah dicapai tingkat yang maksimum atau belum. Alokasi sumber-sumber daya mencapai efisiensi yang maksimum apabila dipenuhi syarat berikut : harga setiap barang sama dengan biaya marjinal untuk memproduksi barang tersebut. Berarti untuk setiap kegiatan ekonomi, produksi harus terus dilakukan sehingga tercapai keadaan dimana harga=biaya marjinal. Dengan cara ini produksi berbagai macam barang dalam perekonomian akan memaksimumkan kesejahteraan masyarakat.
Efisiensi dalam persaingan sempurna
Didalam persaingan sempurna, kedua jenis efisiensi ynag dijelaskan diatas akan selalu wujud. Telah dijelaskan bahwa didalam jangka panjang perusahaan dalam persaingan sempurna akan mendapat untung normal, dan untung normal ini akan dicapai apabila biaya produksi adalah yang paling minimum. Dengan demikian, sesuai dengan arti efisiensi produktif yang telah dijelaskan dalam jangka panjang efisiensi produktif selalu dicapai oleh perushaan dalam persaingan sempurna.
Telah juga dijelaskan bahwa dalam persaingan sempurna harga = hasil penjualan marjinal. Dan didalam memaksimumkan keuntungan syaratnya adalah hasil penjualan marjinal = biaya marjinal. Dengan demikian didalam jangka panjang keadaan ini berlaku: harga = hasil penjualan marjinal = biaya marjinal. Kesamaan ini membuktikan bahwa pasar persaingan sempurna juga mencapai efisiensi alokatif.
Dari kenyataan bahwa efisiensi produktif dan efisiensi alokatif dicapai didalam pasar persaingan sempurna.
2. Kebebasan bertindak dan memilih
Persaingan sempurna menghindari wujudnya konsentrasi kekuasaan di segolonan kecil masyarakat. Pada umumnya orang berkeyakinan bahwa konsentrasi semacam itu akan membatasi kebebasan seseorang dalam melakukan kegiatannya dan memilih pekerjaan yang disukainya. Juga kebebasaannya untuk memilih barang yang dikonsumsikannya menjadi lebih terbatas.
Didalam pasar yang bebas tidak seorang pun mempunyai kekuasaan dalam menentukan harga, jumlah produksi dan jenis barang yang diproduksikan. Begitu pula dalam menentukan bagaimana faktor-faktor produksi digunakan dalam masyarakat, efisiensilah yang menjadi factor yang menentukan pengalokasinya. Tidak seorang pun mempunyai kekuasan untuk menentukan corak pengalokasiannya. Selanjutnya dengan adanya kebebasaan untuk memproduksikan berbagai jenis barang maka masyarakat dapat mempunyai pilihan yang lebih banyak terhadap barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya. Dan masyarakat mempunyai kebebasan yang penuh keatas corak pilihan yang akan dibuatnya dalam menggunakan factor-faktor produksi yang mereka miliki.
Disamping memiliki kebaikan-kebaikan, pasar persaingan sempurna juga memiliki keburukan-keburukan antara lain :
1. Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi
Dalam pasar persaingan sempurna teknologi dapat dicontoh dengan mudah oleh perusahaan lain. Sebagai akibatnya suatu perusahaan tidak dapat meemperoleh keuntungan yang kekal dari mengembangkan teknologi dan teknik memproduksi yang baru tersebut. Oleh sebab itulah keuntungan dalam jangka panjang hanyalah berupa keuntungan normal, Karena walaupun pada mulanya suatu perusahaan dapat menaikkan efisiensi dan menurunkan biaya, perusahaan-perusahaan lain dalam waktu singkat juga dapat berbuat demikian. Ketidakkekalan keuntungan dari mengembangkan teknologi ini menyebabkan perusahaan-perusahaan tidak terdorong untuk melakukan perkembangan teknologi dan inovasi.
Disamping oleh alasan yang disebutkan diatas, segolongan ahli ekonomi juga berpendapat kemajuan teknologi adalah terbatas dipasar persaingan sempurna karena perusahaan-perusahan yang kecil ukurannya tidak akan mampu untuk membuat penyelidikan untuk mengembangkan teknologi yang lebih baik. Penyelidikan seperti itu sering kali sangat mahal biayanya dan tidak dapat dipikul oleh perusahaan yang kecil ukurannya.
2. Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya sosial
Didalam menilai efisiensi perusahaan yang diperhatikan adalah cara perusahaan itu menggunakan sumber-sumber daya. Ditinjau dari sudut pandangnan perusahaan, penggunaannya mungkimn sangat efisien. Akan tetapi, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat, adakalanya merugikan.
3. Membatasi pilihan konsumen
Karena barang yang dihasilkan perusahaan-perusahan adalah 100 persen sama, konsumen mempunyai pilihan yang terbatas untuk menentukan barang yang akan dikonsumsinya.
4. Biaya dalam pasar persaingan sempurna mungkin lebih tinggi
Didalam mengatakan biaya produksi dalam pasar persaingan sempurna adalah paling minimum,tersirat (yang tidak dinyatakan)pemisalan bahwa biaya produksi tidak berbeda. Pemisalan ini tidak selalu benar. Perusahaan-perusahaan dalam bentuk pasar lainnya mungkin dapat mengurangi biaya produksi sebagai akibat menikmati skala ekonomi,perkembangan teknologi dan inovasi.
Suatu corak distribusi pendapatan tertentu menimbulkan suatu pola permintaan tertentu dalam masyarakat. Pola permintaan tersebut akan menentukan bentuk pengalokasian sumber-sumber daya. Ini berarti distribusi pendapatan menentukan bagaimana bentuk dari penggunaan sumber-sumber daya yang efisien. Kalau distribusi pendapatan tidak merata maka penggunaan sumber-sumber daya (yang dialokasikan secara efisien) akan lebih banyak digunakan untuk kepentingan golongan kaya.
Friday, October 23, 2009
Pemimpin sebagai agen perubahan
1. Mengubah karir seorang bawahan dengan rotasi, promosi, mutasi.
2. Mengubah sistem kerja pada unit kerja.
3. Mengubah struktur organisasi.
4. Mengubah kejibijakan eksternal dan internal.
5. Melakukan berbagai perubahan-perubahan yang lain.
Perubahan itu tentu saja bukan sekedar dengan menambah dan menghilangkan sesuatu dan membuat bingung pihak lain, tetapi merupakan perubahan yang konseptual, yang disertai dengan perhitungan dampak dan implikasinya, dan semata-mata untuk kemajuan perusahaan, bukan untuk menonjolkan kewenangan atau identitas diri.
Perubahan yang didasari oleh konsepsi dan kreasi itu dilakukan dalam kerangka inovasi yang tidak pernah berhenti. Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab (Drake, 1999, Donkerley, 1940, Flemming, 1935), juga atas perubahan yang dilakukannya.
Untuk menjadi agen perubahan, pemimpin unit kerja harus memenuhisyarat sebagai berikut :
1. Memiliki kekuasaan dan kewenagan untuk mengubah.
2. Memiliki kemampuan teknis dan non-teknis.
3. Memiliki wawasan tentang perubahan (management of change).
4. Memiliki ambisi yang kuat untuk melakukan sesuatu yang baru.
5. Mendapat dukungan dari berbagai pihak.
6. Memiliki sarana perubahan yang diperlukan.
7. Memiliki pengetahuan yang luas tentang hal yang akan diubah.
Bila syarat tersebut dipenuhi barulah akan terjadi perubahan yang dapat dinilai dan dievaluasi hasilnya. Apabila hasilnya positif, pendapatan yang meningkat, terjadinya efisiensi kerja, atau hasil positif lain, barulah pemimpin tersebut dapat disebut berhasil dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan.
Monday, October 19, 2009
Tugas Kuliah : Teori X&Y Douglas McGregor tentang asumsi yang dianut oleh para manajer
1. Pada dasarnya pegawai tidak menyukai pekerjaan, jika mungkin berusaha menghindarinya.
2. Karena pegawai tidak menyukai pekerjaan, maka mereka harus dipaksa, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
3. Para pegawai akan mengelakkan tanggung jawab dan mencari pengarahan yang formal sepanjang hal itu terjadi.
4. Kebanyakan pegawai menempatkan rasa aman diatas faktor lain yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan memperlihatkan sedikit ambisi.
1. Para pegawai dapat mnelihat pekerjaan sebagai sesuatu yang biasa seperti halnya istirahat dan bermain.
2. Manusia akan menentukan arahnya sendiri dan mengendalikan diri, jika mereka merasa terikat kepada suatu tujuan.
3. Rata-rata orang dapat belajar untuk menerima dan mencari tanggung jawab.
4. Kreativitas-kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan yang baik-tersebar luas pada seluruh populasi dan tidak selalu merupakan hak dari mereka yang menduduki fungsi manajerial.
Implikasi dari teori-X dan teori-Y terhadap teori organisasi, McGregor berargumentasi bahwa asumsi teori-Y lebih disukai dan dapat membimbing para manajer dalam merancang organisasi mereka serta dapat memotivasi pegawai-pegawainya
Tuesday, September 22, 2009
Tujuan Didirikannya BUMN/BUMD
1. Guna efisiensi ekonomi yang meliputi alokasi teknologi dan manajerial.
2. Kemampuan memperoleh laba, yang merupakan sumber pendapatan negara berupa pajak penghasilan atas laba yang diperoleh BUMN dan bagian laba yang diterima pemerintah sebagai pemilik. Meningkatkan kemampuan laba adalah penting bagi BUMN karena menjadi sumber dana intern juga merupakan sumber pendapatan pemerintah.
3. Distribusi pendapatan, merupakan alat pemerintah untuk mengadakan distribusi pendapatan melalui kebijksanaan harga di bawah rata-rata atau dengan keputusan investasi yang mengabaikan economies of scale untuk meningkatkan pendapatan riil golongan tertentu.
4. Tujuan bersifat makro, sebagai alat kebijaksanaan pemerintah mempunyai tujuan yang bersifat aggregate, antara lain untuk memperluas kesempatan kerja, memperbaiki neraca pembayaran, menekan inflasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Tujuan BUMN selalu terdiri dari tujuan sosial dan tujuan komersial. Sebaiknya tujuan sosial dibedakan dari tujuan komersial, untuk tujuan sosial pemerintah memberi subsidi sedang tujuan komersial dibayar oleh konsumen.Turut campur tangan pemerintah dalam perekonomian dalam bentuk BUMN/BUMD, secara ekonomis merupakan tindakan untuk mengatasi kegagalan mekanisme pasar dalam distribusi sumber daya secara optimal, yang berarti pula mengatasi adanya kegagalan mekanisme pasar dalam mencapai nilai ekonomis yang optimal atas sumber daya.
Kegagalan pasar pertama adalah kegagalan yang disebabkan oleh struktur pasar di mana tingkat teknologi yang menyebabkan turunnya biaya (decreasing cost technology) menyebabkan terbentuknya monopoli secara alamiah (natural monopoly) atau oligopoli. Apabila terjadi monopoli atau oligopoli maka pasar akan dikuasai oleh sebuah atau beberapa perusahaan yang mempunyai kekuatan pasar untuk mendapatkan keuntungan yang berlebihan dengan mengurangi produksi dan menaikkan harga di atas biaya marginal.
Kegagalan pasar yang lain adalah eksternalitas yaitu adanya perbedaan nilai dan manfaat sosial dengan manfaat dan nilai pribadi (Mangkoesoebroto. 1993:43). Kegagalan pasar yang lain adalah kegagalan mekanisme pasar secara dinamis yang disebabkan belum berkembangnya pasar modal dan keengganan pihak swasta terhadap resiko usaha. Apabila kondisi ini dibiarkan tanpa adanya turut campur tangan pemerintah maka akan terjadi kebangkrutan, dan pengangguran yang mempunyai akibat luas terhadap perekonomian suatu negara.
BUMN mempunyai peran penting dalam pembangunan negara berkembang. Timbulnya BUMN dapat disebabkan oleh beberapa alasan : karena kegagalan mekanisme pasar mencapai alokasi sumber daya secara optimal, disebabkan adanya monopoli dan eksternalitas, alasan idiologi, alasan sosial politis, dan sebagai warisan sejarah.
Wednesday, September 9, 2009
Fungsi Manajemen
a. Forecasting, yaitu kegiatan meramal, memproyeksikan atau mengadakan tafsiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum rencana yang lebih pasti dibuat/dilakukan seperti contoh sebelum membuat suatu rencana terlebih dahulu meramalkan berapa besar kebutuhan yang diperlukan.
b. Planning termasuk Budgeting yaitu penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan yang memiliki batasan-batasan yang agak komplek dan rumit dan menetapkan apa yang harus dicapai, dimana harus dicapai, bagaimana hal itu tercapai serta berapa besar anggaran yang dibutuhkan untuk mencapainya maka batasan perumusan perencanaan merupakan penetapan jawaban pada enam pertanyaan, yaitu :
- Tindakan apa yang harus dikerjakan;
- Apa sebabnya tindakan itu harus dikerjakan;
- Dimana tindakan itu harus dilaksanakan;
- Kapan tindakan itu dilaksanakan;
- Siapa yang melakukan tindakan tersebut;
- Dan bagaimana caranya melaksanakan tindakan itu;
c. Organizing, yaitu dimaksudkan untuk mengelompokkan kegiatan yang diperlukan yang ditetapkan berdasarkan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi serta dapat dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam pengelompokan didasarkan pada penetapan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing.
d. Staffing, atau Assembling; fungsi ini erat kaitannya dengan organisasi berupa penyusunan wadah legal suatu organisasi. Staffing berhubungan dengan penetapan orang yang akan melakukan aktivitas dan memangku jabatan, untuk itu diperlukan adanya usaha pengembangan tenaga kerja sejak merekrut tenaga kerja, memberi tugas agar memberi daya guna yang maksimal.
e. Directing/Comanding, yaitu fungsi manajemen yang berhubungan dalam usaha memberi bimbingan, saran, perintah dan instruksi pada bawahan dalam pelaksanaan tugas untuk mencapai hasil secara tepat dan baik sesuai harapan.
f. Leading, yaitu fungsi manajemen sebagai pekerjaan manajer (Pimpinan) agar orang-orang mau melakukan tindakan, memberi semangat, memperbaiki sikap pada bawahan dan lain-lain.
g. Coordinating yaitu fungsi ini bertujuan agar tidak terjadi kekacauan dalam setiap tindakan yang dilakukan maka perlu adanya kordinasi yang harmonis dalam mencapai tujuan organisasi;
h. Motivating yaitu berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan agar mau melakukan kegiatan secara sukarela sesuai yang dikehendaki oleh atasan tersebut.
i. Controlling atau pengawasan atau sering disebut pengendalian yaitu berupa penilaian dan sekaligus bila perlu mengadakan koreksi secara dini sehingga apa yang dilakukan bawahan tidak menyimpang dari rel atau jalan yang telah direncanakan;
j. Reporting, yaitu berupa penyampaian perkembangan atau hasil-hasil kegiatan atau pemberian keterangan yang berkenaan dengan tugas-tugas yang telah dilaksanakan dalam mencapai tujuan dalam bentuk gambaran tentang pelaksanaan tugas yang memberi laporan.
Sunday, September 6, 2009
Model-Model Pelatihan
a. Magang, memberikan keterampilan dan pengalaman praktis kepada pegawai tentang pekerjaannya
b. Reskilling Training, memberikan pengetahuan dan keterampilan lain
c. Pelatihan klasikal, memberikan penyegaran wawasan dan pengetahuan agar lebih creative dan inovative
d. Leadership Training, memberikan kesempatan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baru ditinjau dari praktek dan teori
e. Group Dynamic, pengembangan potensi dan kemampuan individual melalui kegiatan kelompok dengan pengembangpan creativity, kemampuan memecahkan masalah, menganalisis, mempengaruhi orang lain dan berkomunikasi
f. Human Interaction Training, memberikan kemampuan berkomunikasi, penyesuaian diri terhadap norma kelompok, toleransi, kerja sama dan pengertian kepada orang lain
g. Participative training, pengembangan kemampuan berpartisipasi
h. Snowball Training Model, kelompok kecil dengan jumlah peserta lima orang melatih lima orang lagi hingga pelatihan ini berantai
i. Cognitive training, pembinaan terhadap bernagai aspek kognitif seperti kreatifitas, pemecahan masalah, pembuatan keputusan, kepemimpinan, komunikasi, kerjasama logika dan penguasaan wawasan
j. Partnership atau Collaborative,diarahkan bekerjasama dengan pihak lain.
Friday, September 4, 2009
Unsur-unsur Organisasi
Personil atau anggota yang menggabungkan diri kedalam ikatan formal.
Visi, yaitu pandangan atau citra para anggota mengenai keadaan organisasinya di masa depan dan tujuan, yaiut apa yang mau dicapainya yang sesuai dengan visinya tadi.
Misi organisasi, atau tugas besar yang harus diemban oleh organisasi dan tugas atau fungsi yang dibagikan kepada anggota untuk dilaksanakan.
Wewenang, yang merupakan legitimasi hak bertindak tiap orang dalam melaksanakan tugas.
Struktur, yang menunjukkan kedudukan tiap orang didalam kelompoknya.
Hubungan-hubungan, yang menjadi dasar kerjasama antar anggota.
Formalitas, yaitu aturan tretulis yang mengatur semua unsur agar menjadi resmi, sehingga organisasi menjadi formal.
Sumber energi, yang mendukung gerak kelompok atau organisasi, sehingga organisasi selalu dinamis. Tak ada organisasi yang statis, kecualki bagan strukturnya yang ditempel didinding kantor.
Proses kegiatan organisasi yang dilakukan oleh semua orang untuk mencapai tujuan (administrasi). Di dalam administrasi inilah adanya proses khusus yang disebut manajemen.
Antar- antar unsur-unsur ini ada saling kaitan dan saling berinteraksi, dalam arti saling mempengaruhi dan saling bergantung sehingga juga saling menentukan agar secara keseluruhan organisasi berfungsi mencapai tujuannya secara efisien.
Thursday, September 3, 2009
Jenis-Jenis dan Mekanisme Koordinasi
a. Intern yaitu koordinasi yang langsung dilakukan oleh atasan kepada bawahannya dalam suatu organisasi yang sama :
koordinasi vertikal yaitu koordinasi struktural,
koordinasi horizontal.
koordinasi diagonal.
b. Ekstern yaitu koordinasi yang dilakukan oleh suatu organisasi dengan organisasi lainnya,
koordinasi vertikal.
koordinasi diagonal.
2 Mekanisme Koordinasi.
Koordinasi hanya mungkin dilakukan apabila terdapat kesadaran dan kesediaan sukarela dari individu-individu didalam unit organisasi yang memiliki pekerjaan yang saling bergantung. Dengan demikian dalam koordinasi dilakukan hubungan 2 atau lebih individu atau unit organisasi, sehingga dalam koornasi sangat dibutuhkan peran komunikasi. Dengan adanya komunikasi yang efektif diharapkan tidak akan timbul kesalah- pahaman diantara pelaku-pelaku koordinasi.
Dengan demikian komunikasi sangat penting keberadaannya dalam suatu koordinasi, sebab komunikasi merupakan jalinan yang dapat menimbulkan pengertian antar pihak yang satu dengan yang lainnya (komunikator dan komunikan), sehingga apapun yang disampaikan baik berupa perintah, saran maupun petunjuk dapat dipahami dan dilaksanakan. (berbagai sumber)
Sunday, August 9, 2009
Manfaat Analisa SWOT
- Untuk melakukan perencanaan dalam upaya mengantisipasi masa depan dengan melakukan pengkajian bedasarkan pengalaman masa lampau, ditopang sumber daya dan kemampuan yang miliki saat ini yang akan diproyeksikan kemasa depan.
- Untuk menganalisis kesempatan/peluang dan kekuatan dalam membuat rencana jangka panjang.
- Untuk mengatasi ancaman dan kelemahan yang mempunyai kecendrungan menghasilkan rencana jangka pendek, yaitu rencana untuk perbaikan.
- Untuk mengidentifikasi Faktor eksternal (O dan S) dan Faktor Internal (S da W)
Friday, July 17, 2009
Konsep Etika Pelayanan Publik
Kemudian Tahun 1950-an, muncul perkembangan pemikiran baru. Hal ini terlihat dalam karya Anderson (dalam Keban, 1994: 51) menyempurnakan aspek standard yang digunakan dalam pembuatan keputusan. Karya Anderson menambah suatu point baru, bahwa standard-standard yang digunakan sebagai dasar keputusan tersebut sedapat mungkin merefleksikan nilai-nilai dasar dari masyarakat yang dilayani.
Di tahun 1960-an, muncul lagi pemikiran baru lewat tulisan Golembiewski (dalam Keban, 1994: 51) menambah elemen baru yaitu standar etika mungkin mengalami perubahan dari waktu-kewaktu dan karena itu administrator harus mampu memahami perkembangan dan bertindak sesuai standard-standard perilaku tersebut.
Pada permulaan tahun 1970-an, beberapa tulisan merefleksikan kecenderungan baru, tulisan Hart (dalam Keban, 1994) mempromosikan nilai-nilai social equity sebagai pedoman dasar administrasi negara, dan menyarankan teori keadilan dan rawls sebagai pedoman etika bagi masyarakat maupun administrator sebagai individu. Kecenderungan baru juga terlihat pada tulisan Henry (dalam Keban, 1994) yang menekankan tanggung jawab atau keharusan administrator publik untuk memperhatikan aspek etika, dan tidak hanya melekat pada aspek efesiensi, ekonomi, dan prinsip-prinsip administrasi. Menurut Henry, teori rawls tentang justice al fanicres sangat bermanfaat untuk dipertimbangkan dalam praktek administrasi negara. Dengan demikian aspek yang ditambahkan dalam permulaan tahun 1970-an ini adalah aspek keadilan dan tanggung jawab.
Sejak permulaan tahun 1970-an ada beberapa tokoh penting yang sangat mempengaruhi etika administrator publik, dua diantaranya adalah John Rohr dan Terry L.Cooper. Rohr (dalam Keban,1994: 51-52) menyarankan agar administrator dapat menggunakan regime norms yaitu nilai-nilai keadilan, persamaan, dan kebebasan sebagai pengambilan keputusan terhadap berbagai alternatif kebijaksanaan dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Dengan cara demikian, administrator negara dapat menjadi etis (being ethical). Namun, menurut Cooper (dalam Keban,1994: 51) etika sangat melibatkan substantive reasoning tentang kewajiban, konsekwensi dan tujuan akhir; dan bertindak etis (doing ethics) adalah melibatkan pemikiran yang sistematis tentang nilai-nilai yang melekat pada pilihan-pilihan dalam pengambilan keputusan. Pemikiran Cooper menunjukkan administrator yang etis adalah administrator yang selalu terikat pada tanggung jawab dan peranan organisasi, sekaligus bersedia menerapkan standard etika secara tepat pada pembuatan keputusan administrasi.
Terkait dengan di atas, (Kumorotomo,1992: 7) mendefinisikan etika pelayanan publik sebagai suatu cara dalam melayani publik dengan menggunakan kebiasaan-kebiasaan yang mengandung nilai-nilai hidup dan hukum atau norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia yang dianggap baik.
Sedangkan Darwin, 1999 (dalam Widodo, 2001) mengartikan etika birokrasi sebagai seperangkat nilai yang menjadi acuan atau penuntun bagi tindakan manusia organisasi. Dalam kaitan tersebut, (Widodo, 2001: 241) menyebutkan etika administrasi negara adalah merupakan wujud kontrol terhadap administrasi negara dalam melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi dan kewenangannya. Manakala administrasi negara menginginkan sikap, tindakan dan perilakunya dikatakan baik, maka dalam menjalankan tugas pokok fungsi dan kewenangannya harus menyandarkan pada etika administrasi negara.
Menurut Fadillah (2001: 27) etika pelayanan publik adalah suatu cara dalam melayani publik dengan menggunakan kebiasaan-kebiasaan yang mengandung nilai¬nilai hidup dan hukum atau norma yang mengatur tingkah laku manusia yang dianggap baik.
Sedangkan etika dalam konteks birokrasi menurut Dwiyanto (2002: 188) mengatakan, etika birokrasi digambarkan sebagai suatu panduan norma bagi aparat birokrasi dalam menjalankan tugas pelayanan pada masyarakat. Etika birokrasi harus menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan organisasnya. Etika harus diarahkan pada pilihan-pilihan kebijakan yang benar-benar mengutamakan kepentingan masyarakat luas.
Oleh karena etika mempersoalkan “baik-buruk” dan bukan “benar-salah” tentang sikap, tindakan dan perilaku manusia dalam berhubungan dengan sesamanya baik dalam masyarakat maupun organisasi publik, maka etika mempunyai peran penting dalam praktek administrasi negara.
Dalam paradigma “dikotomi politik dan administrasi” sebagaimana dijelaskan oleh Wilson (dalam Widodo, 2001: 245) menegaskan, pemerintah memiliki dua fungsi yang berbeda, yaitu fungsi politik yang berkaitan dengan pembuatan kebijakan (public policy making) atau pernyataan apa yang menjadi keinginan negara, dan fungsi administrasi yaitu, adalah berkenaan dengan pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut.
Kekuasaan membuat kebijakan publik berada pada kekuasaan politik (political master), dan melaksanakan kebijakan politik tersebut merupakan kekuasaan administrasi negara. Namun, administrasi negara dalam menjalankan kebijakan politik tersebut memiliki kewenangan secara umum disebut “discretionary power”, yaitu keleluasaan untuk menafsirkan suatu kebijakan politik dalam bentuk program dan proyek, maka timbul suatu pertanyaan, apakah ada jaminan dan bagaimana menjamin kewenangan itu digunakan secara “baik dan tidak secara buruk”. Atas dasar itulah etika di perlukan dalam administrasi publik. Etika dapat dijadikan pedoman, referensi, petunjuk tentang apa yang harus dilakukan oleh aparat birokrasi dalam menjalankan kebijakan politik, dan sekaligus digunakan sebagai standar penilaian apakah perilaku aparat birokrasi dalam menjalankan kebijakan politik dapat dikatakan baik atau buruk.
Beberapa pandangan yang mendukung arti pentingnya etika dalam etika administrasi negara seperti dikutip (Kartasasmita, 1977) sebagai berikut: “Birokrasi melenceng dari keadaan yang seharusnya. Birokrasi selalu dilihat sebagai masalah teknis dan bukan masalah moral, sehingga timbul berbagai persoalan dalam bekerjanya birokrasi publik”. Birokrasi sebagai bentuk organisasi yang ideal, telah merusak dirinya dan masyarakatnya dengan ketiadaan norma-norma, nila-nilai dan etika yang berpusat pada manusia, Hummel (dalam Widodo, 2001: 246).
Sementara pemahaman pelayanan publik yang disediakan oleh birokrasi merupakan wujud dari fungsi aparat birokrasi sebagai abdi masyarakat dan abdi negara. Sehingga maksud dari publik servis tersebut demi mensejahterakan masyarakat. Kaitan dengan tersebut Widodo (2001: 269) mengartikan, pelayanan publik sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sehubungan dengan itu, dikemukakan Thoha (1988: 119) kondisi masyarakat terjadi suatu perkembangan yang sangat dinamis, tingkat kehidupan masyarakat yang semakin baik merupakan indikasi dari empowering yang dialami oleh masyarakat. Hal ini, berarti masyarakat semakin sadar akan apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Masyarakat semakin berani untuk mengajukan tuntutan, keinginan dan aspirasinya kepada pemerintah. Masyarakat semakin kritis dan semakin berani untuk melakukan kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah.
Dengan kondisi masyarakat semakin kritis, birokrasi publik dituntut mengubah posisi dan peran (revitalisasi) dalam memberikan layanan publik. Dari yang suka mengatur dan memerintah berubah menjadi suka melayani, dari yang suka menggunakan pendekatan kekuasaan, berubah menjadi suka menolong menuju ke arah yang fleksibel kolaburatis dan dialogis, dan dari cara-cara yang sloganis menuju cara-cara kerja yang realistik pragmatis (Thoha, 1988: 119).
Dalam kondisi masyarakat seperti digambarkan tersebut, aparat birokrasi harus dapat memberikan layanan publik yang lebih professional, efektif, efisien, sederhana, transparan, terbuka, tepat waktu, responsive, adaftif dan sekaligus dapat membangun kualitas manusia dalam arti meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktif menentukan masa depannya sendiri (Effendi, 1986: 213)
Selanjutnya pelayanan publik yang professional adalah pelayanan publik yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan yaitu aparatur pemerintah. (Widodo, 2001: 270-271). Ciri-cirinya yaitu :
(1) efektif lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi tujuan dan sasaran;
(2) sederhana mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan;
(3) kejelasan dan kepastian (transparan), mengandung arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai; (a) prosedur tata cara pelayanan, (b) persyaratan pelayanan, baik teknis maupun persyaratan administrative, (c) unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan, (d) rincian biaya/tartif pelayanan dan tata cara pembayarannya, dan (e) jadwal waktu penyelesaian pelayanan;
(4) keterbukaan mengandung arti prosedur/tatacara persyaratan, satuan kerja/pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian waktu/tarif serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib di informasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak;
(5) efisiensi mengandung arti; (a) persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang berkaitan, (b) dicegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait;
(6) ketepatan waktu kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan;
(7) responsif lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi apa yang menjadi masalah, kebutuhan dalam aspirasi masyarakat yang dilayani; dan
(8) adaptif adalah cepat menyesuaikan terhadap apa yang menjadi tuntutan, keinginan dan aspirasi masyarakat yang dilayani yang senantiasa mengalami tumbuh kembang.
Thursday, July 9, 2009
14 Prinsip Organisasi Henry fayol
9. Rantai scalar, Garis wewenang dari manajemen puncak sampai ke tingkat yang paling rendah merupakan rantai scalar. Komunikasi harus mengikuti rantai ini. Tetapi, jika dengan mengikuti rantai tersebut malah tercipta kelambatan, komunikasi silang dapat diizinkan jika disetujui oleh semua pihak, sedangkan atasan harus diberitahhu.
10. Tata tertib, Orang dan bahan harus ditempatkan pada tempat dari waktu yang tepat.
11. Keadilan, Para manajer harus selalu baik dan jujur terhadap para bawahan
12. Stabilitas masa kerja para pegawai, Perputaran (turnover) pegawai yang tinggi adalah tidak efisien. Manajemen harus menyediakan perencanaan personalia yang teratur dan memastikan bahwa untuk mengisi kekosongan harus selalu adda pengganti
13. Inisiatif, Para pegawai yang diizinkan menciptakan dan melaksanakan rencana-rencana akan berusaha keras
14. Esprit de corps, Mendorong team spirit akan mmembangun keselarasan dan persatuan di dalam organisasi (dari sebuah sumber buku)
Thursday, June 11, 2009
Standar analisis belanja pengeluaran pemerintah
Beberapa aspek penting dalam proses penghitungan standar analisis belanja menurut PAU SE-UGM, 2000: 24) adalah sebagai berikut:
1) Merumuskan tugas pokok dan fungsi unit kerja.
2) Merumuskan satuan ukur unit kerja yang nantinya dapat digunakan untuk melihat sampai seberapa jauh unit kerja mampu melaksanakan tupoksinya.
3) Menghitung biaya rata-rata untuk setiap kegiatan.
4) Menghitung besarnya kebutuhan belanja unit kerja.
5) Menentukan standar analisis belanja unit kerja.