Saturday, May 16, 2009

MEKANISME TRAUMA KEPALA

Mekanisme cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologi dari trauma kepala kepala. Pada trauma kepala terjadi akselerasi (gerakan yang cepat dan mendadak yang terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam) dan deselerasi (penghentian akselerasi secara mendadak yaitu jika kepala membentur benda yang tidak bergerak). Pada waktu akselerasi berlangsung, terjadi dua kejadian yaitu akselerasi tengkorak ke arah dampak (kup) dan pergeseran otak ke arah yang berlawanan dengan arah dampak primer (kontra kup). Apabila akselerasi disebabkan oleh pukulan pada oksiput, maka pada tempat di bawah tampak terdapat tekanan positif akibat identasi ditambah tekanan positif yang dihasilkan oleh akselerasi tengkorak ke arah dampak dan penggeseran otak ke arah yang berlawanan. Di seberang tempat terdapat tekanan negatif akibat akselerasi kepala yang ketika itu juga akan ditiadakan oleh tekanan yang positif yang diakibatkan oleh pergeseran seluruh otak.

Maka pada trauma kepala dengan dampak pada oksiput, gaya kompresi di bawah berdampak cukup besar untuk bisa menimbulkan lesi. Lesi tersebut bisa berupa perdarahan pada permukaan otak yang berbentuk titik-titik besar dan kecil tanpa kerusakan pada duramater (lesi kontusio). Jika lesi terjadi di bawah dampak disebut lesi kontusio “kup” dan jika terjadi di seberang dampak disebut lesi kontusio “kontra kup”. Sehingga dari sana bisa timbul gejala-gejala deficit neurologist berupa reflek babinski yang positif dan kelumpuhan UMN. Setelah kesadaran pulih kembali, si penderita biasanya menunjukkan gambaran “organic brain syndrom” dan berdampak juga pada autoregulasi pembuluh darah serebral, sehingga terdapat vasoparalisis.
Akselerasi dan penggeseran otak yang terjadi bersifat linear dan bahkan akselerasi yang sering kalidiakibatkan oleh trauma kepala disebut akselerasi rotarik. Pergeseran otak pada akselerasi dan deselerasi linear dan rotarik bisa menarik dan memutuskan vena-vena yang menjembatani selaput arakhnoida dan dura sehingga timbul perdarahn subdural. Vena-vena tersebut “Bridging Veins”.

Related Posts:

  • KONSEP DASAR SKIZOFRENIA DAN WAHAM1. Pengertiana. Skizoprenia“Skizoprenia is a major mental disorder with psychotic symptoms marked by a profound with withdrawal from interpersonal relationships and cognitive perceptual disturbanced that make dealing with rea… Read More
  • MATERI PENYULUHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)A. PengertianDemam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan terutama oleh gigitan nyamuk aedes aegypti.B. Ciri- Ciri Nyamuk Penyebar Penyakit 1. Warna hitam dengan… Read More
  • Anatomi dan Fisiologi Ginjala. Anatomi ginjal1) MakroskopisGinjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor). Ginjal … Read More
  • Diare, Penyebab,Bahaya, Tanda dan Gejala serta tata cara penyembuhannya1. Pengertian DiareDiare adalah berak encer atau cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam 24 jam.2. Penyebab Diarea. Minum air tidak dimasakb. Makan jajanan kurang bersihc. Makan dengan tangan yang kotord. Berak disembarang temp… Read More
  • Infeksi Saluran ReproduksiA. Infeksi Saluran Reproduksi1. ISR tanpa melalui hubungan seksualPenyakit ini lebih banyak terjadi akbat kuman yang terdapat pada saluran vagina mengalami pertumbuhan secara luar biasa. Contoh: bacterial viginosis dan berbag… Read More

0 comments: