Jumat, 23 Januari 2009

INFEKSI SALURAN NAFAS BAWAH

INFEKSI SALURAN NAFAS BAWAH
ARDS
Adalah kegagalan pertuykaran gas dalam pau.
Tanda : Hipoksemia, hiperkabia, hipoksemia dan hiperkarbia
AGD : benafas pada udara kamar : PaO2 < 50 mmHg
PaCO2 > 50 mmHg
Etiologi :
Hipersekesi, spasme bronkhus dan edema mukosa.
Spasme bonkus terjadi pada : astma, bonkitis konis yang dapat bekembang menjadi empisema.
Spasme bronkhus pada astma dapat terjadi akibat :
1. reaksi imunologi
2. zat seperti asap
3. debu
4. udara dingin
5. serotonin dan histamin.
Dikenal 2 bentuk kelainan yaitu :
1. Bonkhitis, yaitu keusakan terutama pada jalan nafas, timbul hipoksemia, hipekarbia akibat retensi CO2 dan yang mendepresi pusat nafas seperti narkotika.
2. empisema, yaitu keusakan terutama berupa empisema pau, paCO2 tidak terlalu tinggi.
ETIOLOGI GAGAL NAFAS AKUT
1. Otak : neoplasma, epilepsi, hematoma subdual, keacunan mofin.
2. Susunan neuro-muskulus : miastenia gavis, polyneuitis, analgesia spinal tinggi, pelumpuh otot, prostigmin dan rawat + ventilator.
3. dinding thorax, diafragma yaitu : luka tusuk toaks, uptur diafragma.
4. Pau : astma, infeksi pau, benda asing, pneumo / hematoaks, edema pau dan aspiasi.
5. Kadiovaskule : gagal jantung, emboli paru.
6. Pasca bedah thorax, laparatomi.

PATHOFISIOLOGI
Tiga mekanisme patologi yang mendasari terjadinya ARDS :
1. hipoventilasi
2. gangguan difusi, tejadi akibat penebalan membran alveoli kapiler. Misal : fibosis interstitial, pnemonia intestitial.
3. pintas intra pulmoner, ruang rugi, gangguan perbandingan ventilasi perfusi. Darah yang memperfusi tidak mengalami difusi.


Gejala klinis dan pemeriksaan :
1. diagnosa pasti ADS adalah AGD
2. Batuk dan dahak
3. Apnoe
4. Sianosis
Perubahan pola nafas : berkuang, betambah, paradoksal, kelelahan.
Pemeiksaan respirasi : laju nafas, isi semenit, TV. Inspirasi, kapasitas vital dan TV ekspiasi.
AGD : PH, PaCO2, PaO2.
Kadiovaskuler : Nadi, BP, CVP, gejala pada jantung dan EKG.
Thoax foto.

PENATALAKSANAAN
1. Atasi hipoksemia ( theapi O2 )
2. atasi hiperkarbia ( perbaiki ventilasi ) yaitu : perbaiki jalan nafas, ventilasi bantuan.
3. Fisiotheapi dada.


PPOM
Yaitu istilah untuk penyakit pau yang lama dan ditandai oleh peningkatan esistensi tehadap aliran udara sebagai gambaan patologis utama.
Ada 3 yaitu :
1. bonchitis konis
2. Bonchiectasis
3. Asma bonchiale.

1. Bronchitis konis
Yaitu suatu gangguan klinis yang ditandai dengan produksi mukus berlebihan dalam bronkhus dan berlangsung lama.
Etiologi : meokok, polusi udara (daerah industri ) dan cuaca.
Gejala : batuk produktif, auskultasi : ronchi, sputum meningkat, sianosis, hipoventilasi karena hipoksia dan hiperlapnia dan laboratorium : PaO2 menurun, PCO2 meningkat dan lekosit meningkat serta test spirometri.
Penatalaksanaan : stop rokok, antibiotik, hidrasi, bonchodilator dan ekspektoran serta drainage postural.

2. Bronchiectasis
Yaitu dilatasi yang tidak dapat pulih lagi dari bronchus dan bonkiolus.
Etiologi : pnemonitis yang beulang, aspirasi benda asing dan neoplasma.
Gambaran klinis : batuk kronik, sputum poduktif, bau busuk dan hemoptisis.
Penatalaksanaan : Hygiene bonchial, postural drainage dan antibiotik.

3. Astma Bonchiale.
Yaitu penyempitan jalan nafas sebagai akibat dari meningkatnya respon bonchial terhadap suatu angsangan.
Etilogi : gangguan sistem saaf otonon, gangguan sistem imun.
Gejala : batuk, sesak dan nafas berbunyi. Gejala tidak selalu muncul tergantung deajatnya.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Data demogafi
2. RKK
3. RK masa lalu
4. kebiasaan hidup sehai – hari, meokok dan alkohol.
5. Pengauh lingkungan
6. faktor psikologis
7. Pemeriksaan fisik :
a. Inspeksi : sianosis, pergerakan dada, tipe pernafasan, penggunaan otot – otot pernafasan tambahan dan tanda – tanda sianosis.
b. Palpasi : geakan dada pada saat inspiasi dan sirkulasi perifer.
c. Perkusi : Bunyi pau pada saat dilakukan perkusi.
d. Auskultasi : ronchi ; basah : akumulasi sputum, kering / wheezing : bonchospasme.
8. Test diagnostik : tes fungsi paru, thorax foto dan laboatorium.

KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG TIMBUL
1. Tidak efektifnya jalan nafas s.d. akumulasi sputum ; spasme bronchus.
2. Tidak efektifnya petukaran gas s.d. bonchospasme; akumulasi sputum
3. Potensial tejadinya gangguan nutisi kuang dai kebutuhan tubuh s.d. anoeksia; mual.
4. Potensial tejadinya infeksi s.d. pertahanan primer tidak adekuat.
5. Kuangnya pengetahuan tentang penyakitnya s.d. kuangnya informasi, misintepetasi infomasi.
6. Gangguan asa aman : cemas s.d. keadaan penyakitnya.



OEDEMA PARU
Yaitu akumulasi caian yang tidak nomal di lua pembuluh daah ( intestitial) di pau – paru.
Ada 2 macam yaitu :
1. Intestitial pulmonay edema yaitu caian yang ada di jaringan interstitial.
2. Air space edema, yaitu caian memenuhi atau mengalir sampai ke alveoli.
Klasifikasi :
1. meningkatnya pergerakan xcaian melalui kapiler – kapiler di paru menuju paru.
2. Pasien dengan multisistem disfunction.
Penyebab :Intravaskuler volume overload dan peningkatan tekanan vena pulmonary.

TRAUMA DADA
a. PULMONARY CONTUSION
Kerusakan parenchim paru yang disebabkan oleh masuknya darah atau cairan ke dalam ruang interstitial paru.
Manifestasi klinik : tachypnea, tachycardia, auskultasi : rales, pleuritis chest pain dan secret berlebihan.
Kontusio paru ini dapat menimbulkan respiratory failure yang disebabkan menurunnya complience paru yaitu menurunkan area gas exchange.

PENATALAKSANAAN
1. Maintenance ventilasi dan oksigenasi
Endotacheal intubation, bila respirasi distress : ventilator yaitu dengan PEEP untuk mengembangkan pau dan memberikan positive pressure ventilation., diuretik untuk mengurangi oedema dan koreksi gangguan keseimbangan asam basa, bila asidosis metabolik koreksi.
2. Faktu tulang iga
Mendasai terjadinya kontusio paru, pada keadaan lain dapat menyebabkan atelektasis dan pneumonia. Jika fragmen masuk dapat menyebabkan laserasi pleua, pneumothoraks dan hemopneumothorak.
Manifestasi klinik : nyeri bila dada begeak, nyeri tekan pada aea fraktur, kepitasi di atas faktur, nyeri menjalar sepanjang tulang iga dan espirasi lambat dan dangkal.
Penatalaksanaan : Analgetik non narkotik :
3. Flail Chest

Reaksi:

0 komentar: