Minggu, 17 Januari 2010

Manajemen Stress

STRESS MANAGEMENT
Oleh: Mamat Rohimat,from blog Great Investor

PENDAHULUAN
Baru-baru ini, banyak sekali orang yang melakukan tindakan bunuh diri, bahkan tindakan bunuh diri tersebut dilakukan di Mal-Mal terkenal. Tentu, ada pemicu dari orang-orang tersebut untuk melakukan tindakan bunuh diri. Secara umum, pemicu tersebut adalah stress (tekanan) terhadap mental yang tak sanggup lagi diatasi sehingga menimbulkan keputusasaan untuk tetap bertahan hidup, dan karenanya memutuskan untuk mengakhiri hidup (bunuh diri) dengan harapan masalahnya akan berakhir.
Stress pasti dirasakan oleh semua orang. Namun, ada orang yang mampu mengatasi stress tersebut dengan baik, dan ada pula yang tak mampu mengatasinya. Kemampuan untuk mengelola stress (stress management) akan menjadi penentu kekuatan orang untuk menjalani hidup dengan berbagai permasalahannya.

PEMBAHASAN
Definisi Stress
Stress secara bahasa berarti tekanan. Adapun secara istilah, stress adalah suatu tekanan terhadap mental seseorang yang diakibatkan oleh kekecewaan atas apa yang dialaminya.
Secara umum stress dapat didefinisikan sebagai berikut:
Stress = fungsi (kekecewaan)
Kekecewaan = fungsi (kenyataan ≠ harapan)

Stress Management
Tekanan terhadap mental jika tidak dikelola dengan baik bisa menimbulkan gangguan jiwa (gila) dan putus asa (bunuh diri). Untuk itu, pengelolaan terhadap stress merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Berikut adalah metode untuk mengelola stress:
Stress Avoiding (Menghindari Stress)
Jika memperhatikan definisi di atas, maka untuk menghindari stress, orang harus menghindari kekecewaan. Untuk bisa menghindari kekecewaan, maka 2 hal yang bisa dilakukan:
1. selalu memastikan bahwa kenyataan (hasil) bisa sesuai dengan harapan, atau
2. jangan berharap (hilangkanlah harapan)
Alternatif pertama, memastikan agar kita bisa selalu mencapai apa yang kita harapkan bisa disebut mustahil. Hal ini, karena banyak faktor yang tidak berada dalam kontrol kita yang menentukan hasil dari usaha yang kita lakukan.
Alternatif kedua, jika mengambil sampai titik ekstrem untuk tidak berharap apa pun juga mustahil. Bahkan, orang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang sudah tidak punya harapan atau putus asa. Padahal, kita juga diminta untuk tidak berputus asa atas rahmat Allah, karena tidaklah orang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali dia telah kafir (mengingkari) Tuhannya. Dengan demikian, yang paling relevan adalah jangan berharap kepada sesuatu yang tidak pantas diharapkan, jangan berharap kepada sesuatu yang bersifat uncontrollable.
Stress Managing (Mengelola Stress)
Yang dimaksud manajemen stress adalah menerima stress sebagai suatu keadaan, menghadapi dan menyikapinya dengan sikap yang benar sehingga stressor apa pun yang terjadi kepada kita, tidak akan menyebabkan dampak yang besar seperti gangguan kejiwaan (gila) ataupun putus asa (bunuh diri).
Berikut adalah beberapa tahapan stress management:
1. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang terjadi ataupun yang akan terjadi, telah Allah tetapkan untuk kita, dan telah tercatat di dalam kitab lauhul mahfudz.
2. Perbanyaklah berdo’a.
Karena kita tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan kepada kita, maka selalulah berdo’a untuk mendapatkan kebaikan atas usaha yang kita lakukan. Boleh jadi, dengan do’a itu, Allah mengubah ketetapan-Nya kepada kita, dari tadinya “buruk” menjadi “baik”. Tentu saja bukan Allah plin-plan, namun karena Allah mendorong manusia untuk memperbanyak berdo’a. Lagipula, tidak ada yang tahu ketetapan Allah sebelum terjadi, sehingga jika pun Allah mengubahnya karena mengabulkan do’a kita, tidak akan ada yang mencela Allah dan Allah tetap memiliki hak prerogatif untuk menjalankan ketetepan-Nya ataupun membatalkannya.
3. Selalulah bersikap positif (husnudzhan), bahwa apapun yang terjadi kepada kita, itulah yang terbaik.
Boleh jadi kegagalan sedang menimpa kita. Namun, yakinkanlah di dalam hati, mungkin ini bukanlah kegagalan, namun adalah kejadian agar kita bisa memiliki kesempatan untuk lebih banyak belajar dan meraih kesempatan yang lebih baik di tempat lain.
Memiliki sikap positif (husnudzhan) adalah kunci utama dalam stress management. Hal ini karena orang yang selalu bersikap positif tidak akan pernah mengalami stress, dan akan mampu menghadapi permasalahan apa pun. Untuk itu, sikap positif adalah kekuatan, dan kita dianjurkan untuk selalu bersikap positif (husnudzhan) terhadap apa pun, terutama terhadap Allah. Hal ini disebutkan dalam suatu hadits qudsi, Allah berkata: “Sesungguhnya Aku, tergantung kepada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”.
Dengan demikian, milikilah sikap positif (husnudzhan) terutama kepada Allah, bahwa Allah Maha Menyayangi kita, Allah akan memberikan kepada kita jalan yang terbaik.
4. Jadikanlah Allah sebagai prioritas dan tujuan utama.
Sebagaimana telah kita bahas, bahwa stress diakibatkan oleh kekecewaan, sedangkan kekecewaan disebabkan oleh kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Dengan demikian, untuk menghindari kekecewaan, jadikanlah ridha Allah sebagai harapan kita, dan merupakan tujuan utama dari setiap kegiatan (perbuatan) yang kita lakukan.
Inilah esensi dari Ikhlas. Ikhlas secara bahasa adalah murni. Sedangkan secara istilah, ikhlas adalah memurnikan ibadah dan tujuan dari setiap amal hanya kepada Allah dan hanya untuk mendapatkan ridha Allah.
Untuk itu, seseorang yang menjadikan Allah (ridha Allah, Pencipta Manusia) sebagai tujuan utama hidupnya, maka akan terhindar dari stress. Begitu pun Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadikan sebagai tujuan hidup yang diwujudkan dengan beribadah hanya kepada-Nya sehingga Allah akan meridhainya.
5. Yakinlah bahwa setiap perbuatan (baik) yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah itu, akan selalu berhasil dengan baik (selalui diridhai Allah, dan Allah akan membalas dengan kebaikan).
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah:


اِنَّمَاالْاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى الدُّ نْيَا يُصِيْبُهَا اَوْ اِلَى امْرَاَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَا جَرَ اِلَيْهِ

“Sesungguhnya, tidak lain setiap amal itu tergantung kepada niatnya dan seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya kepada dunia, maka ia akan mendapatkan dunia. Barang siapa yang hijrahnya kepada wanita, maka ia akan menikahinya. Maka hijrah itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah” (HR Bukhari No 1 & HR Muslim No 1080).
6. Berserah diri (tawakkal) atas hasil usaha yang kita lakukan kepada Allah
Setelah kita berusaha semampu kita dengan sungguh-sungguh sehingga kita sudah tidak melihat lagi sesuatu yang bisa kita kerjakan, maka serahkanlah hasil urusan itu kepada Allah. Karena kita hanya dituntut untuk berusaha, adapun hasilnya adalah urusan Allah.

KESIMPULAN
Untuk bisa mengelola stress dengan baik, maka kita harus yakin bahwa segala sesuatu telah Allah tetapkan, jauh sebelum kita lahir dan bahkan telah tercatat di lauhul mahfud. Kita hanya diminta untuk berusaha semampu kita dengan sesungguhnya dan banyak berdo’a untuk kebaikan kita. Lalu kita ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Kita juga harus menjadikan Allah sebagai prioritas dan tujuan kita sehingga hanya kepada Allah-lah kita berharap. Dengan demikian, akan terminimisasilah kekecewaan. Selain itu, selalulah bersikap positif (husnudzhan) bahwa Allah akan menjadikan kepada kita yang terbaik atau ambillah hikmah (pelajaran), bahkan dari keburukan yang kita rasakan. Kita juga harus yakin bahwa usaha kita yang baik selama berniat untuk mendapatkan ridha Allah, pasti akan memiliki nilai kebaikan buat kita, dan akan menjadi sebab tercapainya tujuan utama kita, mendapatkan ridha Allah

Reaksi:

0 komentar: