Senin, 18 Mei 2009

GAMBARAN HARGA DIRI REMAJA OBESITAS

Pada saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita kegemukan. Berdasarkan data yang diterima oleh WHO (World Health Organization) kian hari, kian bertambah jumlah penderita yang mengalami masalah kelebihan berat badan. Menurut data penelitian terakhir di Amerika Serikat sekitar 30 % orang dewasa menderita obesitas dan 1 dari 7 anak menderita masalah yang sama. Center of Disease Control menyebut ini sebagai wabah (Cita-Cinta, September 2003). Sedangkan di Indonesia sendiri Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI mencatat diperkirakan 210 juta penduduk Indonesia pada tahun 2000, jumlah penduduk yang overweight diperkirakan 76,7 juta (17,5%) dan penderita obesitas berjumlah lebih dari 9,8 juta (4,7 %). Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2000 di Jakarta, tingkat prevalensi obesitas pada anak remaja 12-18 tahun ditemukan 6,2 % dan pada umur 17-18 tahun11,4 %. Kasus obesitas pada remaja lebih banyak ditemukan pada wanita (10,2 %) dibanding pria (3,1 %) (Sjarif, 2000).
Obesitas adalah simpanan energi yang berlebihan dalam bentuk lemak, yang berdampak buruk pada kesehatan dan perpanjangan usia (Wurtman, 2000). Obesitas menurut klinis adalah suatu kondisi abnormal dimana terdapat penumpukkan lemak pada jaringan adipose sampai pada taraf mengganggu kesehatan (Soegih, 2002). Sedangkan menurut Dariyo (2004) yang dimaksud dengan obesitas adalah kelebihan berat badan dari ukuran normal yang sebenarnya. World Health Organization (WHO) mengklasifikasian obesitas dengan cara membagi antara berat badan (kg) dengan tinggi badan (m)2, dimana hasil yang didapatkan berupa Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kategori : normal (18,5 – 24,9), overweight (29,0 - 29,9), obesitas tingkat 1 (30,0 – 34,4), obesitas tingkat 2 (35,0 – 39,9), dan obesitas tingkat 3 (40,0) (Mangoenprasodjo, 2005). Menurut Mayer (2002) obesitas merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Dampak buruk obesitas terhadap kesehatan, sangat berhubungan dengan berbagai macam penyakit yang serius, seperti tekanan darah tinggi, jantung , diabetes melitus dan penyakit pernafasan (Soegih, 2002).

Akhir-akhir ini banyak bermunculan obat penurun lemak tubuh di berbagai media komunikasi baik televisi maupun koran. Obat-obat tersebut dijual dalam berbagai bentuk mulai dari berbentuk krim hingga tablet. Kemunculan berbagai obat penurun lemak ini disebabkan banyaknya konsumen yang tertarik membelinya, terutama bagi individu yang mengalami kegemukan. Kegemukan merupakan suatu momok bagi setiap individu selain berbahaya bagi kesehatan juga dapat membuat seseorang tidak menarik dari segi fisik.
Menurut Schacter (Sarafino,1998), orang yang mengalami obesitas cenderung lebih sensitif dalam berinteraksi dengan orang yang tidak mengalami obesitas. Penelitian Bray , 1999; Brownell, 1998 menghasilkan bahwa orang yang mengalami obesitas mempunyai dampak yang buruk pada kesehatan dan interaksi sosial yang berlangsung selama rentang usia anak-anak hingga dewasa (Sarafino, 1998). Hal yang umum secara psikologis muncul bersamaan dengan kegemukan adalah Body Image Dispragment yaitu seseorang yang kegemukan merasa bahwa tubuhnya aneh sekali dan tidak disukai sehingga orang lain memandangnya dengan jijik dan permusuhan (Stunkard & Medelson, 1990). Keadaan ini memberi anggapan bahwa dunia memandang orang gemuk dengan penghinaan. Konsekuensinya, seseorang dengan keadaan tersebut cenderung untuk menarik diri, malu dan secara sosial tidak dewasa (Brownell, 2000). Kecenderungan menjadi gemuk atau obesitas, dapat mengganggu sebagaian anak pada masa puber dan menjadi sumber keprihatinan selama tahun-tahun awal masa remaja (Hurlock, 1999).
Masa remaja adalah masa yang menyenangkan, namun juga merupakan masa yang kritis dan sulit, karena merupakan masa transisi atau masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial (Dariyo, 2004). Berkaitan dengan pertumbuhan fisik tersebut, bentuk tubuh yang ideal dan wajah yang menarik merupakan hal yang diidam-idamkan hampir oleh semua orang, apalagi bagi remaja yang mulai mengembangkan konsep diri dan juga hubungan heteroseksual (Hurlock, 1999).
Kegemukan dapat menjadi masalah penting bagi siklus perkembangan remaja. Menurut Conger & Petersen dalam Sarafino (1998), pada masa remaja biasanya mulai bersibuk diri terhadap penampilan fisiknya dan ingin mengubah penampilan mereka dengan memberikan perhatian yang lebih terhadap masalah-masalah kulit, ingin memiliki tubuh yang ideal, ingin lebih tinggi atau pendek dan tentu saja ingin memiliki berat badan yang ideal. Keinginan ini disebabkan karena remaja sering merasa tidak puas terhadap penampilan dirinya. Ketidakpuasan ini akhirnya membuat remaja merasa tidak percaya diri dan menganggap penampilan dirinya sebagai suatu yang menakutkan. Pada masa remaja sangat mementingkan penampilan, penyimpangan dari tipe tubuh mereka dapat diasosiasikan dengan kehilangan harga diri (Sprinthall & Collins, 2000). Remaja yang mengalami obesitas, biasanya akan menjadi pasif dan depresi, karena sering tidak dilibatkan pada kegiatan yang dilakukan oleh teman sebayanya (Ade, 2006). Pada penelitian terhadap remaja obesitas oleh Mendelson & White dalam Sarafino, 1994, bahwa remaja obesitas cenderung menurun secara konsisten harga dirinya. Harga diri memiliki hubungan yang erat terhadap berat badan ideal seorang remaja. Remaja yang memilki berat badan ideal cenderung dapat diterima di lingkungan, sehingga remaja tersebut memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi. Begitu juga sebaliknya, apabila remaja tersebut memiliki berat badan yang kurang ideal oleh lingkungannya, maka dapat membuat remaja tersebut menjadi tidak percaya diri dan akhirnya merasa harga dirinya rendah (Ade, 2006).


Reaksi:

2 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

daftar pustakanya mana ya?