Senin, 15 Juli 2013

Hasil – Hasil Penelitian Yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita

Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh transmisi satu agen infeksius tertentu atau produk-produk toksinnya, dari manusia atau yang terinfeksi ke host yang rentan, baik secara langsung atau tidak langsung. Penyakit Infeksi dan kurang gizi.
Menurut WHO (2002) setiap tahun kurang lebih 11 juta balita diseluruh dunia ,meninggal oleh penyakit-penyakit infeksi seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, malaria dan campak dan 54 % dari kematian tersebut berkaitan adanya kurang gizi yang masih tinggi. (Hadi,2005)
Mendapatkan makanan yang aman adalah hak azasi setiap orang (ICN,Roma,1992). Kenyataannya belum semua orang mendapatkan akses makanan yang aman ini ditandai dengan tingginya angka kematian dan kesakitan yang diakibatkan oleh Penyakit Bawaan Makanan (PBM). Diare merupakan salah satu yang dapat menyebabkan terjadi gizi buruk melalui mekanisme kehilangan cairan dan ketidakseimbangan cairan elektrolit tubuh selama diare berlangsung serta dapat mempengaruhi proses penyerapan zat-zat gizi/ malabsorbsi yang dapat menyebabkan tubuh kekurangan gizi dan gangguan pertumbuhan. Selain diare, terdapat lebih dari 250 jenis penyakit karena konsumsi makanan. Konsekuensi yang ditimbulkan oleh PBM ini antara lain: gizi buruk, dampak sosial ekonomi dimasyarakat dan penyakit-penyakit sekunder. (Taslim,2007)

Ketersediaan Pangan Ditingkat Rumah Tangga
Ketersediaan pangan keluarga dipengaruhi oleh penyediaan pangan ,kemampuan untuk membeli, dan perilaku memanfaatkan pangan dengan benar. Tidak terpenuhinya kebutuhan pangan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan memburuknya keadaan gizi dan kasehatan setiap anggota keluarga.
Masalah gizi buruk pada balita disebabkan oleh beberapa faktor yang pada akhirnya anak tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup selama kurun waktu lama, kemungkinan karena ketiadaan pangan di rumah tangga atau kelalaian orang tua dalam mengasuh bayi dan balita. Ketersediaan pangan di rumah tangga berkaitan dengan tingkat pendidikan, pelayanana kesehatan, sosial ekonomi, budaya maupun pertanian. ( Taslim, 2007)
Ketersediaan pangan yang cukup di masyarakat tidak menjamin ketersediaan pangan rumah tangga yang kurang baik, akan berpengaruh pada pendistribusian yang kurang pada anggota kelaurga, sehigga anak balita yang dalam masa pertumbuhan memerlukan asupan yang lebih banyak. Setiap rumah tangga dan anggota memperoleh makanan yang cukup dan status gizinya baik. Pengetahun ibu dalam mengolah makanan yang baik dan sehat juga mempengaruhi pola konsumsi balita. (Hadi, 2005)
Kebiasaan makan seseorang erat kaitannya dengan status gizinya baik jenis maupun frekuensi makanan yang dikonsumsi. Makanan minimal harus mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh seperti karbohidrat (zat tenaga), protein (zat pembangun), lemak(zat pembakar), dan vitamin serta mineral.(Nini, 2007).

Reaksi:

0 komentar: