Kumpulan Tilawatil Quran H.Muammar ZA dkk

Ingat jaman-jaman kecil dulu, anda pasti mengenal qori termasyhur pada era itu, ya Ustad H.Muammar ZA, kali ini saya ingin berbagi file ngaji atau tilawatil quran yang beliau baca dengan teman duetnya Ustad Chumaidi, Filenya ada beberapa..silahkan anda download

Tips Pola Tidur Bayi yang Baik

Pola hidup bayi sangat mempengaruhi pola hidup orangtuannya, oleh karena itu orang tua bisa mengajarkan bahwa malam hari adalah waktu tidur , dengan mempraktekan petunjuk berikut

Sang Pencerah : Anda Akan Kemana di Masa Muda Ini?

Ketika usia menginjak dewasa, mungkin ketakutan akan terjadi pada sebagian orang, ketakutan kalau tidak bisa melewatinya dengan benar. Tumbuh besar menjadi seorang remaja yang dewasa memerlukan berbagai tempaan dan kesabaran

Kumpulan Ceramah Ustad Abu Syauqi

Ustad Abu Syauqi, adalah seorang pendiri Rumah Zakat yang terkenal di Bandung, lewat blog ini saya ingin berbagi file ceramah yang beliau sampaikan beberapa tahun lalu yang saya dapatkan secara online di situs 4 share.com Ukuran seluruh file ceramah ini mencapai 600 MB, jadi bersabar yah untuk mendownloadnya

Kumpulan Leaflet Keperawatan/Kebidanan

Bagi Anda Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan, Berikut kumpulan Leaflet yang biasanya jadi sarana promosi kesehatan kepada masyarakat..

Jumat, 23 Januari 2009

Materi Kuliah : CEDERA KEPALA

CEDERA KEPALA
Cedara kepala Þ trauma daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala.

Patofisiologi
· Kranium Þ struktur kuat berisi darah, jaringan otak dan cairan serebrospinal.
· Fungsi serebral tergantung pada adekuatnya nutrisi seperti oksigen, glukosa
· Cedara Þ gegar otak, memar otak atau laserasi, fraktur dan atau hematoma (injury vaskuler; epidural atau subdural he­matoma)
· Cedara kepala Þ dapat berupa percepatan (aselerasi) atau perlambatan (deselerasi).
· Trauma Þ primer (trauma yang langsung mengenai kepala saat kejadian)
Þ sekunder (kelanjutan dari trauma primer, dapat terjadi peningkatan tekanan intrakranial, kerusakan otak, infeksi dan edema serebral).
Epidural hematoma

injury kepala, ada fraktur pada tulang tengkorak dan terdapat lesi antara tulang tengko­rak dan dura.

Perdarahan dapat meluas hingga menekan serebral oleh karena adanya tekanan arteri yang tinggi.

Gejalanya :
♥ letargi,
♥ delirium,
♥ hemiparise
♥ pupil dilatasi
♥ Nadi, nafas lambat
♥ sukar untuk dibangunkan, akhirnya coma
Subdural hamatoma
Þ cedera kepala

ruptur pembuluh vena

­ perdarahan terjadi antara dura dan serebrum atau antara duramater dan lapisan arachnoid.
Dua type :
Sub­dural hematoma akut Þ kontusio atau laserasi yang berkembang beberapa menit atau jam.
Manifestasi tergantung pada besarnya kerusakan pada otak dan usia anak, dapat berupa :
♣ Kejang
♣ Sakit kepala
♣ Muntah
♣ Meningkatnya lingkar kepala
♣ Iritabel
♣ Perasaan mengantuk

Sub­dural hematoma kronik.
Serebral hematoma

perdarahan akibat adanya memar dan robekan pada serebral

­ perubahan vaskularisasi berakibat pada statisnya vaskularisasi, anoxia, dilatasi dan edema.

­ herniasi otak yang mendesak ruang disekitar­nya

­ peningkatan tekanan intrakranial.
Dalam 24 - 72 jam akan tampak perubahan status neurologi.

Fraktur pada cedera kepala :
☺ fraktur linier,
☺ fraktur depresi,
☺ fraktur basiler,
☺ fraktur compound (laserasi kulit dan fraktur
tulang).

Perubahan oksigenisasi akibat trauma otak dapat dilihat pada bagan berikut:
Gangguan oksigenisasi

­ Kekurangan suplay glukosa

­ Gangguan metabolisme

­ Edema jaringan otak

Meningkatnya volume dan tekanan intrakranial

Tekanan intrakranial meningkat

Herniasi

Komplikasi :
♪ Hemorrhagic
♪ Infeksi
♪ Edema
♪ Herniasi
Etiologi :
∯ Kecelakaan
∯ jatuh
∯ kecelakaan kendaraan motor atau sepeda & mobil.
∯ Kecelakaan pada saat olah raga,
∯ anak dengan ketergantungan,
∯ anak yang cedera akibat kekerasan.

Manifestasi Klinis
¶ Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
¶ Kebingungan
¶ Iritabel
¶ Pucat
¶ Mual dan muntah
¶ Pusing kepala
¶ Terdapat hematoma
¶ Kecemasan
¶ Sukar untuk dibangunkan
¶ fraktur è cairan serebrospinal keluar dari hidung
(rhinorrhea)
& telinga (otorrhea) bila fraktur tulang
temporal.

Penatalaksanaan Terapeutik :
[ Observasi 24 jam
[ Jika masih muntah sementara puasakan dulu
[ Berikan terapi intravena bila indikasi
[ Anak diistirahatkan atau tirah baring

Prophylaksis bila indikasi :
6 Pemberian obat-obat untuk vaskularisasi
6 Pemberian obat analgetik
6 Pembedahan bila indikasi

PENGKAJIAN

1. Hal penting yang harus diperhatikan :
% saat kejadian
% tempat
% bagaimana posisi saat kejadian
% serangannya
% lamanya
% faktor pencetus
% adanya fraktur dan status kesadaran
2. Status neurologi
' perubahan kesadaran
' pusing kepala
' vertigo
' menurunnya refleks
' malaise
' kejang
' iritabel
' kegelisahan atau agitasi
' pupil; ukuran, refleks terhadap cahaya.
' Hemiparesis
' Letargi
' Coma
3. Status gastrointestinal
( mual- muntah
4. Status kardiopulmonal
) kesukaran bernafas atau sesak
) depresi nafas
) nafas lambat
) hipotensi
) bradikardi

Diagnose Keperawatan
1. Risiko tidak efektif bersihan jalan nafas dan tidak efektif pola
L nafas berhubungan dengan
L gagal nafas
L adanya sekresi
L gangguan fungsi pergerakan
- meningkatnya tekanan intrakranial
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
- edema serebral
- peningkatan tekanan intrakranial
3. Kurangnya perawatan din berhubungan dengan
- tirah baring
- menurunnya kesadaran
4. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
5. Risiko injury berhubungan dengan
- menurunnya kesadaran
- meningkatnya tekanan intrakranial
6. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala
7. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya injury
8. Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala
9. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi
Tujuan Perencanaan :
1. Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan :
Q tidak ada sesak atau kesukaran bernafas
Q jalan nafas bersih
Q pernafasan dalam batas normal
2. Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan
Q tidak ada pusing hebat
Q kesadaran tidak menurun
Q tidak terdapat tanda-tanda peningkatan intrakranial
3. Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan
Q berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan
Q tempat tidur bersih
Q tubuh anak bersih
Q tidak ada iritasi pada kulit
Q buang air besar dan kecil dapat dibantu
4. Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cairan atau dehidrasi yang ditandai dengan
Q membran mukosa lembab
Q integritas kulit baik
Q nilai elektrolit dalam batas normal
5. Anak terbebas dan injury
6. Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan
Q anak tidak mengeluh nyeri
Q tanda-tanda vital dalam batas normal

7. Anak akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan
Q tidak ditemukan tanda dan gejala infeksi
Q suhu tubuh normal
Q lekosit dalam batas normal
Q tidak ada pus dan luka
8. Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas berkurang yang ditandai dengan
Q tidak gelisah
Q orang tua dapat mengekspresikan perasaan tentang
kondisi dan aktif dalam perawatan anak
9. Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tetap utuh

Perencanaan Tindakan :

1. Meningkatkan kepatenan jalan nafas dan pola nafas yang efektif :
v Kaji A,B,C
v Kaji anak, apakah ada fraktur servikal dan vertebra. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra
v Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada sekret segera lakukan pengisapan lendir
v Kaji status pernafasan; kedalamannya, usaha dalam bernafas
v Ada fraktur servikal 8 posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 - 30 derajat
v Pemberian oksigen sesuai program
v Kaji tanda-tanda vital setiap 2 - 4 jam
v Cegah adanya aspirasi oleh sekret dengan pengaturan posisi kepala miring ke samping untuk drainage

2. Meningkatkan perfusi jaringan serebral
— Tinggikan posisi kepala 15 - 30 derajat dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis
— Hindari hal-hal yang dapat meningkatkan peningkatan tekanan intrakranial; tekanan pada vena leher, pembalikan posisi dan samping ke samping, mi dapat menyebabkan kompresi pada vena leher. FIeksi atau hiperekstensi pada leher, rotasi kepala, valsava maneu­ver, rangsangan nyeri, prosedur ( pengisapan lendir atau suction, perkusi)
— Bila akan memiringkan anak, harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan; fleksi. Jadi harus secara bersamaan
— Berikan pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver
— Hindari tangisan pada anak; lingkungan tenang, gunakan sentuhan terapeutik, hindari percakapan yang emosional.
— Pemberian obat-obat untuk mengurangi edema atau tekanan intrakranial sesuai program; seperti mannitol
— Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan karena dapat meningkatkan edema serebral
— Monitor intake dan output
— Buat jadual untuk intervensi perawatan agar mengurangi gangguan yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial
— Pemberian cairan hiperosmolar sesuai program
— Monitor status neurologi; tingkat kesadaran, refleks
— Lakukan kateterisai bila indikasi
— Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi dan pemenuhan nutrisi
— Libatkan orang tua dalam perawatan anak dan jelaskan hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial

3. Meningkatkan pemenuhan kebutuhan aktivitas sehari-hari
† Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas; makan-minum,mengenakan pakaian, BAK dan BAB, membersihkan tempat tidur, dan kebersihan perseorangan
† Berikan makanan via parenteral bila indikasi
† Pantau intake dan output
† Perawatan kateter bila terpasang
† Kaji adanya konstipasi; bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB
† Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan demonstrasikan, seperti bagaimana cara memandi­kan anak.

4. Meningkatkan status hidrasi
å Kaji intake dan ouput
å Kaji tanda-tanda dehidrasi; turgor kulit, membran mukosa dan ubun-ubun atau mata cekung dan output urine
å Berikan cairan intravena sesuai program

5. Menghindari terjadinya injury
¯ Kaji status neurologi anak; perubahan kesadaran, kurangnya respon terhadap nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas pergerakan menurun, dan kejang
¯ Kaji tingkat kesadaran dengan GCS ( Glasgow Coma Scale)
¯ Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai protokol
¯ Berikan istirahat antara intervensi atau pengobatan
¯ Berikan analgetik sesuai program
¯ Pemberian obat diuretik; seperti mannitol

6. Meningkatkan rasa nyaman
ä Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala; catat lokasi nyeri, lamanya, serangannya, nadi meningkat, nafas cepat atau lambat, berkeringat banyak.
ä Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi
nyeri
ä Kurangi rangsangan
ä Pemberian obat analgetik sesuai program
ä Ciptakan suasana lingkungan yang nyaman termasuk
tempat tidur
ä Berikan sentuhan terapeutik
ä Lakukan distraksi; relaksasi

7. Menghindari terjadinya infeksi
i Kaji adanya drainage pada area lukai Monitor tanda-tanda vital; suhui Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hatii Kaji tanda dan gejala adanya meningitis, termasuk; kaku
kuduk, iritabel, sakit kepala, demam, muntah dan kejang

8. Mengurangi rasa cemas orang tua dan anakv Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur yang
akan dilakukan; tujuannyav Anjurkan orang tua untuk selalu berada di samping anakv Ajarkan anak dan orang tua untuk mengekspresikan
perasaanv Gunakan komunikasi terapeutik

9. Menghindari terjadinya gangguan integritas kulit
h Lakukan latihan pergerakan (ROM)
h Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai
h Rubah posisi setiap 2 jam sekali atau sesuai kebutuhan dan kondisi
h Kaji area kulit; adanya lecet
h Lakukan ‘ back rub’ setelah mandi di area yang potensial menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan nyeri

Perencanaan Pemulangan

Jelaskan tentang kondisi anak yang memerlukan perawatan dan pengobatan
Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi, termasuk menurun­nya kesadaran, perubahan gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah, dan perubahan bicara
Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan; efek samping, dan reaksi
Ajarkan pada orang tua untuk menghindari injury bila kejang; penggunaan sudip Iidah, mempertahankan jalan nafas selama kejang
Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas sehari-hari di rumah; kebutuhan kebersihan personal, makan-minum, aktivitas bermain, dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas fisik
Ajarkan bagaimana untuk mencegah injury; seperti menggunakan alat pengaman
Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai jadual
Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan intrakranial

INFEKSI SALURAN NAFAS BAWAH

INFEKSI SALURAN NAFAS BAWAH
ARDS
Adalah kegagalan pertuykaran gas dalam pau.
Tanda : Hipoksemia, hiperkabia, hipoksemia dan hiperkarbia
AGD : benafas pada udara kamar : PaO2 < 50 mmHg
PaCO2 > 50 mmHg
Etiologi :
Hipersekesi, spasme bronkhus dan edema mukosa.
Spasme bonkus terjadi pada : astma, bonkitis konis yang dapat bekembang menjadi empisema.
Spasme bronkhus pada astma dapat terjadi akibat :
1. reaksi imunologi
2. zat seperti asap
3. debu
4. udara dingin
5. serotonin dan histamin.
Dikenal 2 bentuk kelainan yaitu :
1. Bonkhitis, yaitu keusakan terutama pada jalan nafas, timbul hipoksemia, hipekarbia akibat retensi CO2 dan yang mendepresi pusat nafas seperti narkotika.
2. empisema, yaitu keusakan terutama berupa empisema pau, paCO2 tidak terlalu tinggi.
ETIOLOGI GAGAL NAFAS AKUT
1. Otak : neoplasma, epilepsi, hematoma subdual, keacunan mofin.
2. Susunan neuro-muskulus : miastenia gavis, polyneuitis, analgesia spinal tinggi, pelumpuh otot, prostigmin dan rawat + ventilator.
3. dinding thorax, diafragma yaitu : luka tusuk toaks, uptur diafragma.
4. Pau : astma, infeksi pau, benda asing, pneumo / hematoaks, edema pau dan aspiasi.
5. Kadiovaskule : gagal jantung, emboli paru.
6. Pasca bedah thorax, laparatomi.

PATHOFISIOLOGI
Tiga mekanisme patologi yang mendasari terjadinya ARDS :
1. hipoventilasi
2. gangguan difusi, tejadi akibat penebalan membran alveoli kapiler. Misal : fibosis interstitial, pnemonia intestitial.
3. pintas intra pulmoner, ruang rugi, gangguan perbandingan ventilasi perfusi. Darah yang memperfusi tidak mengalami difusi.


Gejala klinis dan pemeriksaan :
1. diagnosa pasti ADS adalah AGD
2. Batuk dan dahak
3. Apnoe
4. Sianosis
Perubahan pola nafas : berkuang, betambah, paradoksal, kelelahan.
Pemeiksaan respirasi : laju nafas, isi semenit, TV. Inspirasi, kapasitas vital dan TV ekspiasi.
AGD : PH, PaCO2, PaO2.
Kadiovaskuler : Nadi, BP, CVP, gejala pada jantung dan EKG.
Thoax foto.

PENATALAKSANAAN
1. Atasi hipoksemia ( theapi O2 )
2. atasi hiperkarbia ( perbaiki ventilasi ) yaitu : perbaiki jalan nafas, ventilasi bantuan.
3. Fisiotheapi dada.


PPOM
Yaitu istilah untuk penyakit pau yang lama dan ditandai oleh peningkatan esistensi tehadap aliran udara sebagai gambaan patologis utama.
Ada 3 yaitu :
1. bonchitis konis
2. Bonchiectasis
3. Asma bonchiale.

1. Bronchitis konis
Yaitu suatu gangguan klinis yang ditandai dengan produksi mukus berlebihan dalam bronkhus dan berlangsung lama.
Etiologi : meokok, polusi udara (daerah industri ) dan cuaca.
Gejala : batuk produktif, auskultasi : ronchi, sputum meningkat, sianosis, hipoventilasi karena hipoksia dan hiperlapnia dan laboratorium : PaO2 menurun, PCO2 meningkat dan lekosit meningkat serta test spirometri.
Penatalaksanaan : stop rokok, antibiotik, hidrasi, bonchodilator dan ekspektoran serta drainage postural.

2. Bronchiectasis
Yaitu dilatasi yang tidak dapat pulih lagi dari bronchus dan bonkiolus.
Etiologi : pnemonitis yang beulang, aspirasi benda asing dan neoplasma.
Gambaran klinis : batuk kronik, sputum poduktif, bau busuk dan hemoptisis.
Penatalaksanaan : Hygiene bonchial, postural drainage dan antibiotik.

3. Astma Bonchiale.
Yaitu penyempitan jalan nafas sebagai akibat dari meningkatnya respon bonchial terhadap suatu angsangan.
Etilogi : gangguan sistem saaf otonon, gangguan sistem imun.
Gejala : batuk, sesak dan nafas berbunyi. Gejala tidak selalu muncul tergantung deajatnya.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Data demogafi
2. RKK
3. RK masa lalu
4. kebiasaan hidup sehai – hari, meokok dan alkohol.
5. Pengauh lingkungan
6. faktor psikologis
7. Pemeriksaan fisik :
a. Inspeksi : sianosis, pergerakan dada, tipe pernafasan, penggunaan otot – otot pernafasan tambahan dan tanda – tanda sianosis.
b. Palpasi : geakan dada pada saat inspiasi dan sirkulasi perifer.
c. Perkusi : Bunyi pau pada saat dilakukan perkusi.
d. Auskultasi : ronchi ; basah : akumulasi sputum, kering / wheezing : bonchospasme.
8. Test diagnostik : tes fungsi paru, thorax foto dan laboatorium.

KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG TIMBUL
1. Tidak efektifnya jalan nafas s.d. akumulasi sputum ; spasme bronchus.
2. Tidak efektifnya petukaran gas s.d. bonchospasme; akumulasi sputum
3. Potensial tejadinya gangguan nutisi kuang dai kebutuhan tubuh s.d. anoeksia; mual.
4. Potensial tejadinya infeksi s.d. pertahanan primer tidak adekuat.
5. Kuangnya pengetahuan tentang penyakitnya s.d. kuangnya informasi, misintepetasi infomasi.
6. Gangguan asa aman : cemas s.d. keadaan penyakitnya.



OEDEMA PARU
Yaitu akumulasi caian yang tidak nomal di lua pembuluh daah ( intestitial) di pau – paru.
Ada 2 macam yaitu :
1. Intestitial pulmonay edema yaitu caian yang ada di jaringan interstitial.
2. Air space edema, yaitu caian memenuhi atau mengalir sampai ke alveoli.
Klasifikasi :
1. meningkatnya pergerakan xcaian melalui kapiler – kapiler di paru menuju paru.
2. Pasien dengan multisistem disfunction.
Penyebab :Intravaskuler volume overload dan peningkatan tekanan vena pulmonary.

TRAUMA DADA
a. PULMONARY CONTUSION
Kerusakan parenchim paru yang disebabkan oleh masuknya darah atau cairan ke dalam ruang interstitial paru.
Manifestasi klinik : tachypnea, tachycardia, auskultasi : rales, pleuritis chest pain dan secret berlebihan.
Kontusio paru ini dapat menimbulkan respiratory failure yang disebabkan menurunnya complience paru yaitu menurunkan area gas exchange.

PENATALAKSANAAN
1. Maintenance ventilasi dan oksigenasi
Endotacheal intubation, bila respirasi distress : ventilator yaitu dengan PEEP untuk mengembangkan pau dan memberikan positive pressure ventilation., diuretik untuk mengurangi oedema dan koreksi gangguan keseimbangan asam basa, bila asidosis metabolik koreksi.
2. Faktu tulang iga
Mendasai terjadinya kontusio paru, pada keadaan lain dapat menyebabkan atelektasis dan pneumonia. Jika fragmen masuk dapat menyebabkan laserasi pleua, pneumothoraks dan hemopneumothorak.
Manifestasi klinik : nyeri bila dada begeak, nyeri tekan pada aea fraktur, kepitasi di atas faktur, nyeri menjalar sepanjang tulang iga dan espirasi lambat dan dangkal.
Penatalaksanaan : Analgetik non narkotik :
3. Flail Chest

PNEUMONIA

Adalah peradangan yang mana tedapat konsolidasi disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat.

PATHOFISIOLOGI
Petukaran gas tidak dapat berlangsung pada daeah konsolidasi dan darah yang mengali tidak dapat befungsi sehingga tejadi hipoksemia.
60 % pneumonia pneumococcus dan sampai effusi pleura, empysema juga dapat terjadi pada beberapa kasus.
Paling banyak tejadi pada bayi dan oang tua, timbul oleh kaena aspirasi bahan – bahan infeksius yaitu pada bronchus distal dan alveoli. Serta karena esiko tinggi immune menurun dan penyakit gangguan immune.

KLASIFIKASI PNEUMONIA
1. Pneumonia tipikal / klasik
Timbul semua umur, ada iwayat alkoholisme, ISPA dan influenza virus.

PENGKAJIAN
Subjektif : onset dan lama batuk, demam, warna dan konsistensi sputum, therapi.
Objektif : takipneu, gerakan dada nyeri, ekspansi terbatas serta vokal fremitus meningkat.
Auskultasi : bonchovesikuler, bronchial dan tedapat suara nafas tambahan.

TEST DIAGNOSTIK
· Rontgen : konsolidasi lobar
· Kultu dan sensitifitas test
· Leukositosis
· Hipoksemia yaitu asidosis

ANALISA WARNA SPUTUM :
1. mukoidtidak berwana / jernih : poses non infeksi
2. kuning / kem : staphilokokus peumoniae
3. Hijau : pseudomonas pneumoniae
4. curent jelly : klebsiella
5. bekarat : pneumokokal pneumonia.
6. DIAGNOSA KEPERAWATAN
7. 1. jalan nafas tidak efektif
8. Pola nafas tidak efektif
9. gangguan rasa nyaman nyeri
10. Defisit pengetahuan
11. kuang nutisi : kuang ai kebutuhan tubuh.

IMPLEMENTASI
1. therapi obat yaitu antibiotik : di kultur dulu.
2. Terapi oksigen yaitu bila PO2 mulai dai 60 mmHg maka diberikan nasal / sungkup.
3. mempemudah penapasan yaitu posisi duduk tegak atau semi tegak.
4. menyiapkan ventilasi, humidifikasi dan temperatur yang nyaman.
5. membantu kenyamanan dan ADL
6. mengendalikan lingkungan yaitu :
isolasi untuk pneumonia stapilokokus dan memcuci tangan.
7. Konseling dan penyuluhan.

2. PNEUMONIA TIPIKAL
Disebabkab oleh karena mycoplasma pneumonia
Laki – laki lebih banyak daipada wanita.
Ditandai dengan : ronchi inspiratorius, tidak ada konsolidasi, rontgen bercak infiltrat segmental.
Pengobatan : eritromycin, rifampicin
Bila tidak diobati maka dapat tejadi : DIC, gagal ginjal, myocaditis, pericarditis, meningoencephalitis dan athritis.

2. PNEUMONIA CRANII
Yaitu pada pasien dengan immunosupesi sepeti pasien AIDS.
Gejala : demam, malaise, batuk non poduktif dan dyspnea.
Obat : Trimetopin dan sulfametoxazole.

3. PNEUMONIA ASPIRASI
Akibat terhiup bahan – bahan ke dalam saluan nafas.

4. PNEUMONIA HEMATOGEN
Yaitu organisme patogen menyeba ke paru – paru melalui pembuluh darah.

ORGANISME PENYEBAB INFEKSI PNEUMONIA PADA OANG DEWASA :
I. sindoma pneumonia tipikal / klasik
pneumonia bakterialis : sering ( streptokokus pneumonia)
jarang (H. influenza dan stapilokokus aureus)
II. Sindoma pneumonia atipikal
Sering ( mycoplasma pneumonia dan virus ) sedangkan yang jarang ( legionella pneumonia dan pneumocystia cranii).
III. Sindroma pneumonia aspirasi.
Pasien yang dirawat,, mendapat theapi antibiotik yaitu : floa phaingeal, stapilokokus aueus, klebsiella aeruginosa, seatimacescens, eschericia coli dan enteobacter seta poteus.
Pasien yang rawat jalan : floa phaingeal yaitu campuan anaeob / aerob.
IV. Sindoma pneumonia hematogen
Stapilokokus aureus, eschericia coli dan anaerob enterik.


TBC
Adalah penyekit oleh kaena basil mycobacterium tubeculosa terutama mengenai paru – paru dan juga ogan lainnya.
84 % terjadi di paru – pau.
Sedangkan yang lainnya yaitu di limpatik, pleural, genitouinary, tulang, sendi, meningeal dan peritoneal.

PATHOFISIOLOGI
· Penyebab utama M. TBC dan yang lainnya yaitu M. Bovis seta M. africanus.
· Penularan aiborne dai orang yang teinfeksi, infeksi TBC biasanya sembuh sendiri bila immune baik.
· Basil tubekel tetap di dalam paru – paru dalam bentuk dorman, berdinding yaitu pada fase istirahat seta lesi perkapuan ( ghon lesion / tuberkel ghon).
· Bila mengalami stress fisik / emosi maka basil tersebut mulai aktif dan bermultiplikasi sehingga immune menurun lalu TBC aktif.

Manifestasi klinik :
Batuk non produkif, bila tidak diobati maka menjadi poduktif.
Hemoptisis, hemorraghe, nyeri dada, dysnea, keringat malam, malaise, BB menurun, anoexia, fatique dan gambaan X – ay : lesi inflamasi pada segmen apek dan posterior lobus atas segmen superior pada lobus bawah.

PENGKAJIAN DIAGNOSTIK
1. tes tuberkulin : bahan yang dugunakan OT ( old tubeculin dan PPD (puified potein derivation ) yaitu tes mantoux sebanyak 0,1 ml. Interpretasi hasil setelah 48 jam yaitu lihat induasinya (bukan eritemanya).
2. hasil ; reaksi bermakna bila lebih atau sama dengan 10 mm, eaksi meagukan bila hanya 5 – 9 mm.
3. Pemeiksaan rontgen : foto thoax AP dan lateral yaitu effusi pleua pada TBC pleura.
4. Pemeriksaan sputum : sputum pada pagi hari yaitu dengan jumlah 4 ml yaitu untuk mengidentifikasi M TBC yaitu basil tahan asam.
5. Bilas lambung : untuk menampung sputum yang tertelan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Jalan nafas tidak efektif
2. kurangnya pengetahuan.

IMPLEMENTASI
· Theapi obat :
INH (Isoniazid), Rifampisin (RIF), Piazinamide(PZA), ethambutol (EMB) dan streptomysin.
INH 300mg + IF 600 mg setiap hai (30 hari).
INH 15 mg / kg + RIF 600 mg 2 X peminggu (8 minggu )
· Pengendalian lingkungan untuk mencegah kontaminasi udaa oleh doplet yaitu :
pasien diobati dengan anti TBC
menutup hidung dan mulut pada saat batuk, bersin dan tertawa.
tempat tissue dalam kantong kertas dan dibuang.
· Pendidikan kesehatan klien dan keluarga.





















TUMOR DAN KEGANASAN

KEPALA DAN LEHER
Dapat mempengaruhi penafasan, makan, gambaran diri, bicara , komunikasi dan penampilan fisik.
Bila diketahui dini maka dapat diobati, pognosis tegantung lama dan lokasi tumor.
Bila tidak diobati maka dapat meninggal dalam waktu 2 tahun post diagnosa.

PATHOFISIOLOGI
80 % oleh kaena kasinoma sel squamosa.
Patogenesis yaitu behubungan dengan penggunaan tembakau, alkohol yaitu ditunjukkan sebagai ulseratif malignan. Pekembangan malignancy mukosa membutuhkan waktu beberapa tahun sehungga mukosa mendapat substansi iritasi yang pada akhirnya tubuh berespon. Tansfomasi yaitu hiperplasia atau keratosis yang akhirnya menjadi etaplasi squamous. Substansi iitasi beisi casinogenik yaitu atypia atau displacia.
Metastase yaitu melalui sistem limpha yaitu paling banyak terkena adalah pada paru dan hati.
Etiologi : tembakau dan alkohol,pengunyah tembakau, perokok pipa, marijuana dan voice abuse, cronic laringitis, debu industri kimia, steroid dan lalai oal hygiene.

PENGKAJIAN
· Nyeri
· Bengkak pada mulut, tenggook dan leher
· Sulit mengunyah
· Perubahan warna mulut / lidah yaitu meah putih keabu – abuan, coklat gelap atau hitam.
· Lesi oal tidak sembuh – sembuh dalam waktu 2 minggu
· Sering pedarahan oral, baal mulut/ bibir/ muka.
· Perubahan pada gigi
· Sensasi terbakar saat minum cairan panas.
· Sensasi nyei telinga unilateral
· Nafas pendek
· Serak / peubahan kualitas suara, anoexia dan kehilangan BB.

INFEKSI SALURAN NAFAS ATAS

SINUSITIS
· Definisi :
Adalah Inflamasi membran mukosa satu atau lebih rongga sinus.
· Klasifikasi :
1. Sinusitis akut
Akibat obstruksi alian sekresi dari sinus yang menyebabkan infeksi, biasanya setelah initis alegi akut maupun konis juga akibat lain seperti deviasi septum nasal, polips, tumor, inhalasi polusi udara konis / penggunaan kokain, tauma facial, intubasi naso tacheal / fibrosis cistic
2. Sinusitis konis
Membran mukosa menjadi tebal secara pemanen akibat inflamasi lama atau berulang atau inflamasi.
· ETIOLOGI
Steptococcus pneumoniae, haemophilus inluenza, diplococcus, bacteioides, infeksi anaerob.
Sinusitis sering timbul pada sinus maxillaris dan fontalis.

PENGKAJIAN
Manifestasi klinik:
Pembengkakan dan kongesti nasal, headeache, facial pessure dan nyeri, tenderness, demam ingan, dan drainase puulen / darah.

INTERVENSI
Non sugical manajemen
· Antibiotik spektum luas, analgetik, dekongestan, humidifikasi uap dan iigasi nasal dengan saline.
· Meningkatkan intake lebih dai 10 gelas perhari kecuali ada kontraindikasi medis.
· Bila tidak behasil dilakukan pembedahan.
· Sugical manajemen
· Antral irigation (maxillay antral puncture and lavage).
· Posedur lain :
Caldell – luc pocedure
Webbe – fegusson incision
Endoscopic sinus surgery

PERAWATAN POST OPERASI PADA SINUS
1. posisi semi fowler untuk meningkatkan drainage dan menguangi bengkak
2. Lakukan oal hygiene dengan hati – hati
3. kompes es yaitu dengan pogam selama 24 jam
4. ganti balutan yaitu catat tipe dan jumlah dainage
5. makan makanan yang lembut dan tingkatkan intake cairan.
6. Membetasi valsava manuver yaitu 2 minggu post operasi.



EPISTAKSIS
Adalah Masalah yang disebabkan kaena jaringan kapiler yang banyak dalam rongga hidung pecah.
Etiologi : tauma, hipetensi, discasia darah (leukemia), inflamasi, tumo, menuunnya kelembaban, telalu meniup hidung.

PENGKAJIAN
· Pedarahan setelah bersin / meniup hidung, catat jumlah dan wana darah, ttv.
· Kaji jumlah, durasi dan penyebab pedarahan sebelumnya.

INTERVENSI
1. cauterisasi dengan silve nitat / elektocautery
2. Packing anterio dan posterior
3. obsv. Distess pernafasan dan toleansi packing
4. oksigen, bedest dan antibiotik
5. Oal cae dan adekuat hidasi hindai sedative
6. Observasi satuasi O2 dan monitor jantung.
Setelah packing diangkat berikan jelly, humidifikasi untuk melembabkan dan mencegah rebleeding.

PERAWATAN EMERGENCY PADA EPISTAKSIS
1. Posisi tegak yaitu untuk mencegah aspirasi dan ke lambung
2. yakinkan klien untuk tenang yaitu mengurangi lemas dan tekanan darah
3. Lakukan penekanan pada bagian lateral hidung selama lima menit, lakukan kompress dingin pada hidung dan muka jika mungkin.
4. jika packing nasal dipelukan, gunakan balutan tampon nasal.
5. untuk mencegah ebleeding, instruksikan klien untuk tidak meniup hidung beberapa jam setelah daah behenti.
6. Cari bantuan medis jika tindakan tidak efektif dan jika perdarahan sering tejadi.

PHARINGITIS
Adalah peradangan pada memban mukosa pharinx, mungkin tejadi secara simultan dengan initis akut dan sinustis.
Etiologi : multifaktor yaitu paling banyak beta hemolitik goup alpa steptococcus.
Pada dewasa sering oleh karena virus, insiden yang paling sering adalah pada musim dingin.
Bakterial :
Steptococcus, staphylococcus, haemofilus influenza, pneumococcus, corynebacterium dypteria dan neisseria gonorhoe.
Virus :
adenovirus, hinovius, cytomegalo vius, epstein bar vius
Vius influenza, vius cossackie A. dan echovius.
Lain – lain sepeti clamidia, mycoplasma peumoniae, candida, bisa juga karena fisik dan kimia yaitu alkohol, tembaga, panas, iitasi, dehidrasi dan trauma.
PENGKAJIAN
Tanda : luka dan kering tengorok, nyeri dan panas luka, adynophagia, disphagia dan demam.
Inspeksi : tenggook hiperemia, eitematosus tonsil dengan tanpa exudat, lymphadenophati cervical.
Kultur tenggook sangat penting untuk bedakan vius dan bakteri.
Pada pemeiksaan fisik yaitu sulit membedakan virus atau bakteri.
Pharingitis virus : self limiting disease yaitu 3 – 10 hari.
Phaingitis bakteri : glomerulonefitis acute : 7 – 10 hari post nyeri akut dan ematic fever selama 3 – 5 minggu post infeksi acut streptococcus.

INTERVENSI
Pharingitis Virus : tidak menggunakan antibiotik, istiahat, meningkat caian, humidifikasi udara, analgetik, gurgle saline hangat.
Pharingitis Bacterial : antibiotik dan suppotive sepeti pada vius, tempeatur.



Kamis, 22 Januari 2009

Cara Naikin Trafik Blog Anda

Inilah cara naikin trafik blog anda :
Jika anda telah memiliki situs blog, langkah berikutnya yang harus anda kerjakan adalah memperkenalkan situs anda ke khalayak ramai. Tentunya anda akan senang dan gembira bila artikel, puisi atau cerita yang anda publikasikan lewat situs blog dikomentari oleh orang lain. Dan anda tentunya tidak mau kalau hasil karya anda tersebut cuman anda saja yang menikmatinya.Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat anda tempuh untuk meningkatkan traffic situs blog anda dengan cara memperkenalkannya ke khalayak ramai. 1. Daftar ke Direktori khusus BlogPaling tidak ke beberapa situs di bawah ini :
Tugas blog direktori ini adalah mengirimkan data dan postingan anda ke berbagai search engine, termasuk tiga search engine besar yaitu http://google.com , http://msn.com, http://yahoo.com.(2) Tukar Link ( blogroll ) atau Link ExchangeAjaklah teman atau siapa saja yang memiliki pengunjung yang banyak untuk saling tukar link ( BlogRoll dalam istilah dunia Blogging ). Mintalah kepada mereka untuk memasukkan link anda, selanjutnya sebagai imbalannya andapun memasukkan link milik mereka di situs blog anda.Atau anda dapat mendaftarkan ke penyedia link exchange, seperti di http://bravenet.comatau anda dapat mencarinya melalui search engine dengan mengetikkan keyword "free link exchange"Atau kalau kebetulan anda menemukan ada orang lain yang memasukkan alamat blog anda dalam daftar linknya, maka anda harus membalas budi dengan memasukkan link miliknya kedalam direktori link anda. Kalau tidak anda akan dicap sebagai "Blogger Pelit". Mau apa nggak????Silakan lakukan cek dengan mengetikkan nama blog anda seperti ini http://technorati.com/search/nama_blog_anda atau blog siapa saja yg ingin Anda ketahui. Contoh : http://technorati.com/search/ebookmania.blogspot.com lalu tekan search, silakan anda lihat hasilnya.(3) Banyak memberi komentar di Blog lainRajin-rajinlah berkunjung ke blog lain dan jangan lupa untuk senantiasa meninggalkan komentar anda dan mengetikkan alamat web blog anda.(4) Pasang fasilitas Chat BoxUntuk menarik perhatian pengunjung anda dapat menambahkan fasilitas interaktif sepeti, Chat Box. Untuk memperoleh secara gratis silakan daftarkan ke http://www3.cbox.ws atau anda dapat melihat contohnya di blog http://ebookmania.blogspot.com yang ada disebelah kanan.(5) Tulis alamat Blog di Signature eMail andaSo... jangan lupa buat signature email dengan mengisikan alamat web blog anda. Setiap orang yang anda kirimi email tentunya akan senantiasa membaca bagian akhir dari email anda dan mereka akan tergerak hatinya untuk paling tidak mencoba mengkliknya.(6) Konten anda harus menarikInilah yang tidak kalah seru dan penting. Ingatlah bahwa orang yang duduk di depan komputer dan browsing internet adalah orang yang butuh informasi untuk dirinya, maka andalah orang yang akan memberikan informasi tersebut. Carilah tema yang banyak diminati oleh orang ( yang biasa disebut dengan Tag ). Untuk mengetahuinya anda dapat melihatnya pada situs http://technorati.com

Keperawatan Perioperatif

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Keperawatan perioperatif adalah fase penatalaksanaan pembedahan yang merupakan pengalaman yang unik bagi pasien. Kata perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencangkup 3 fase pengalaman pembedahan yaitu praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif.
A. Fase Praoperatif
Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi.prioritas pada prosedur pembedahan yang utama adalah inform consent yaitu pernyataan persetujuan klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan yang berguna untuk mencegah ketidaktahuan klien tentang prosedur yang akan dilaksanakan dean juga menjaga rumah sakit dan petugas kesehatan dari klien dan keluarganya mengenai tindakan tersebut
Infom consent dilakukan apabila sudah termasuk:
Informasi pembedahan yang akan dilakukan
Memberitahukan nama dan kualifikasi orang atau petugas yang akan melakukan pembedahan
Menjelaskan resiko termasuk kerusakan jaringan, kemungkinankomplikasi dan kemungkinan kematian
Rasio kesuksesan pembedahan
Alternatif lain yang dapat ditempuh
Hak – hak klien terhadap consent yang akan dilakukan bila terjadi pembatalan kemudian
Manajemen Keperawatan :
1. Pengkajian
Pengkajian pasien bedah meliputi mengevaluasi faktor – faktor fisik dan psikologis secara luas. Pada pengkajian preoperatif termasuk mengkaji kebutuhan sebelum dan sesudah operasi juga diperlukan screening test untuk mengetahui kondisi dan kesiapan klien secara fisik.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan pasien perioperatif dapat mencangkup :
1) Ansietas yang berhubungan dengan pengalaman bedah dan hasil pembedahan.
2) Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan protokol praoperatif dan harapan pascaoperatif.
3. Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama pasien bedah dapat meliputi menghilangkan ansietas praoperatif dan peningkatan pengetahuan tentang persiapan praoperatif dan harapan pascaoperatif.
Aktifitas keperawatan pada klien preoperatif adalah pendidikan kesehatan, yang merupakan aktifitas vital pada fase ini. Adalah 4 dimensi pada penkes ini yaitu :
§ Informasi termasuk hal yang akan terjadi pada klien, kapan dan apa yang akan dialami klien, bagaimana sensasi dan ketidaknyamanan yang diduga oleh klien
§ Psikososial suport untuk menghilanhkan kecemasan
§ Aturan yang dianut klien suport orang sekitarnya
§ Latihan keterampilan termasuk pergerakan, nafas dalam, batuk efektif, menahan insisidengan tangan atau bantal dan menggunakan spinometer
4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1) Ansietas dikurangi
§ Mendiskusikan kekhawatiran yang berkaitan dengan tipe ansietas dan induksi dengan ahli anastesi
§ Mengungkapkan suatu pemahaman tentang medikasi praanastesi dan anastesi umum
§ Mendiskusikan kekhawatiran saat – saat terakhiran dengan perawat atau dokter
§ Mendiskusikan masalah – masalah finansial dengan pekerja sosial, bila diperlukan
§ Meminta kunjungan pendeta bila diperlukan
§ Benar – benar relaks setelah dikunjungi oleh anggota tim kesehatan
2) Menyiapkan terhadap intervensi pembedahan
§ Ikut serta dalam persiapan praoperatif
§ Menunjukan dan menggambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi
§ Menelaah informasi tentang perawatan pascaoperaf
§ Menerima medikasi paranastesi
§ Tetap berada ditempat tidur
§ Relax selama trasformasi ke unit operasi
§ Menyebutkan rasiional penggunaan pagar tempat tidur

B. Fase Intraoperatif
Fase intraoperatif dari perawatan perioperatif dimulai ketika pasien masuk atau pindah kebagian atau departemen bedah dan berakhir pada saat pasien dipindahkan keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktifitas dapat meliputi : memasang infus (IV), memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologismenyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.
Type Anastesi :
a. General Anastesy yaitu hilangnya seluruh sensasi dan kesadaran termasuk reflek batuk dan reflek muntah sehingga harus dijaga dari adanya aspirasi. Biasanya diberikan secara intra vena atau inhalasi.
b. Regional Anastesi yaitu menghambat jalannya impuls saraf ke dan darin area atau bagian tubuh. Klien kehilangan sensasi pada sebagian tubuhnya tetapi tetap sadar.
Tekhnik Anastesi Regional :
1.Topikal (Surface) yaitu anastesi langsung pada kulit dan membran mukosa untuk menbuka bagian kulit, luka dan luka bakar. Misalnya lidocaine dan benzocaine, jenis ini biasanya cepat diserap dan bereaksi cepat.
2.Local Aqnastesi (Infiltrasi), yaitu anestesi yang disuntikan pada area tertentu dan digunakan untuk pembedahan minor, misalnya lidocaine atau tetracaine 0,1%
3.Blick Nerve (Bier Block), obat anastesi disuntikan didaerah syaraf atau kumpulan syaraf kecil untuk menghasilkan sesasi pada daerah kecil pada tubuh.
4.Anastesi Spinal, termasuk blik pada subbarracnoid. Yaitu obat anastesi disuntikan kedaerah ke daerah surrachnoid sampai ke spinal cord.
5.Epidural Anastesi, injeksi pada daerah dalam spinal tetapi diluar duramater.
Manajemen Keperawatan :
1. Pengkajian
Pengkajian menggunakan data dan catatan dari pasien untuk mengidentifikasi variabel yang dapat mempengaruhi perawatan dan yang berguna sebagai pedoman untuk mengenbangkan rencana paerawat pasien individual, yaitu :
§ Identifikasi pasien
§ Validasi data yang dibutuhkan dengan pasien perkebijakan bagian
§ Telaah catatan pasien terhadap adanya:
a) Informed yang benar dengan tanda tangan pasien
b) Kelengkapan catatan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik
c) Hasil pemeriksaan diagnostik
d) Kelengkapan riwayat dan pengkajian kesehatan
e) Ceklis praoperatif
§ Lengkapi pengkajian keperawatan praoperatif segera
a)Status fisiologis, misalnya tingkat sehat – sakit, tingkat kesadaran
b) Status Psikosial, misalnya ekspresi kekhawatiran , tingkat ansietas, masalah komunikasi verbal, mekanisme koping
c)Status fisik, misalnya tempat operasi, kondisi kulit dan efektivitas persiapan, pencukuran, atau obat penghilangh rambut, sendi tidak beergerak
2. Perencanaan
a. Menginterpretasi variabel – variabel umum dan menggabungkan variabel tersebut kedalam rencana asuhan :
§ Usia, ukuran, jenis kelamin, prosedur bedah, tipe anestesia yang direncanakan, ahli anestesi dan anggota tim
§ Ketersedian peralatan s[pesifik yang dibutuhkan untuk prosedur dan ahli bedah
§ Kebutuhan medikasi non rution, komponen darah, instrumen
§ Kesiapan ruangan untuk pasien, kelengkapan pengaturan fisik, kelengkapan instrumen, pealatan jahit dan pengadaan balutan
b. Mengidentifikasi aspek –aspek lingkungan ruang operasio yang dapat secara negatif mempengaruhipasien :
1) Fisik
a) Suhu dan kelembaban ruangan
b) Bahaya peralatan listrik
c) Kontaminasi potensial
d) Hilir mudik yang tidak peerlu
2) Psikososial
a) Kebisingan
b) Kurang mengenal sebagai individu
c) Rasa diabaikan tanpa pengantar di tempat tunggu
d) percakapan yang tidak peerlu
3. Intervensi
a. Berikan asuhan keperawatan berdasarkan pada prioritas kebutuhan pasien :
1). Atur dan jaga agar peralatan syaktion berguna dengan baik.
2). Atur peralatan pemantauan invasif.
3). Bantu saat pemasangan jalur (arteri /CVP ).
4). Lakukan tindakan kenyamanan fisik yang sesuai bagi pasien.
5). Posisikan pasien dengan tepat untuk prosedur anastesi dan pembedahan, pertahankan kelurusan tubuh sesuai fungsi.
6). Ikuti tahapan sesuai dengan prosedur bedah :
a. Lakukan scrab/bersihan dengan terampil
b.Berespon terhadap kebutuhan pasien dengan antisipasi peralatan dan bahan apa yang dibutuhkan sebelu diminta.
7). Ikuti prosedur yang telah ditetapkan sebagai contoh :
a. Perawatan dan pemakaian darah dan komponen darah
b.Perawatan dan penanganan spesimen, jaringan dan kultur.
c.Persiapan kulit antiseptik
d.Membuka dan menutup sarung tangan.
e.Menghitung kasa, instrumen, jarum.
f.Tekhnik septik
g.Penatalaksanaan kateter urine.
h.Penatalaksanaan drainase
8). Komunikasikan situasi yang merugikan pada ahli bedah, ahli anastesi/ perawat yang bertanggung jawab/ bertindak yang tepat untuk mengontrol atau menangani situasi.
9). Gunakan peralatan secara bijaksana untuk menghemat biaya.
10).Bantu ahli bedah dan anastesi untuk menerapkan rencana penerapan mereka.
b. Bertindak sebagai advotkat pasien
1) Berikan privasi fisik
2) Jaga kerahasiaan
3) Berikan keselamatan dan kenyamanan fisik
c. Informasikan pasien dengan pengalaman intraoperatif
1) Jelaskan segala stimulasi sensori yang akan dialami.
2) Gunakan keterampilan komunikasi umum
d. Koordinasi aktivitas bagi personil lain yang terlibat dalamperawatan pasien. Seperti X – ray, laboratorium, ICU.
e. Operasikan dan atasi semua masalah peralatan yang umumnya digunakan diruang operai dan tugaskan dilayanan khusus.
f. Ikutserta dalam konferensi perawatan pasien.
g. Dokumentasikan semua observasi dan tindakan.
h. Komunikasikan baik verbal dan tulisan mengenai status kesehatan pasien saat pemindahan dari ruang operasi.
4. Evaluasi
a. Mengevaluasi kondisi pasien dengan cepat sebelum dikeluarkan dari ruang operasi yaitu cara bernafas, warna kulit, selang invasif ( IV), drain kateter berfungsi secara normal, balutan adekuat tidak terlalu ketat.
b.Ikut serta dalam mrngidentifikasi praktek keperawatan pasien yang tidak aman dan menanganinya dengan baik.
c. Ikut serta dalam mengevaluasi keamanan lingkungan.
d.Melaporkan dan mendokumentasikan
e. Menunjukkan pemahaman tentang prinsip aseptik dan praktek keperawatan teknis.
f. Mengenali tanggung gugat legal dari keperrawatan preoperatif.

C. Fase Postoperatif
Fase postoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah. Pada fase postoperatif langsung, fokus termasuk mengkaji efek dari agen anastesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan berfokus pada tingkat penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, dan tindak lanjut serta rujukan penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti oleh pemulangan.
Manajemen Keperawatan :
1. Pengkajian
Pengkajian segera setelah bedah saat kembali ke unit klinik terdiri atas :
§ Respirasi: kepatenan jalan napas, frekuensi, karakter, sifat dan bunyi napas.
§ Sirkulasi: tanda – tanda vital termasuk tekanan darah, kondisi kulit
§ Neurologi: tingkat respon
§ Drainase: adanya drainase
§ Kenyamanan: tipe nyeri dan lokal, mual, muntahdan perubahan posisi yang dibutuhkan
§ Psikologi: sifat dan dari pertanyaan pasien
§ Keselamatan: kebutuhan akan pagar tempat tidur, selang infus tidak tersumbat
§ Peralatan: diperiksa untuk fungsi yang baik
2. Diagnosa
Berdasarkan pada pengkajian, diagnosa keperawatan sebagai berikut:
§ Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan efek depresan dan anastesi
§ Nyeri dan ketidaknya nyamanan postoperatif
§ Resiko terhadap cedera
§ Hipotermi
§ Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
§ Perubahan eliminasi urinarius
§ Konstipasi yang berhubungan dengan motilitas lambung dan usus
§ Kerusakan mobilitas fisik
§ Ansietas tentang diagnosis postoperatif
3. Intervensi dan Evaluasi
1) Memastikan fungsi pernapasan yang optimal dan meninngkatkan ekspansi paru, dengan evaluasi: pasien mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal
a. Melakukan pelatihan napas dalam
b. Menunjukan bunyi napas bersih
c. Menggunakan spirometer insentif sesuai dengan yang diresepkan.
d. Menunjukkan suhu tubuh yang normal
e. Menunjukkan hasil rontgen yang normal.
f. Berbalik dari satu posisi ke posisi lainnya sesuai dengan yang diintruksikan
2). Meredakan nyeri dan mual muntah, peredaan nyeri tergantung pada letak lokasi pembedahan, perubahan posisi pasien, distraksi, dan pemijatan punggung dengan lotion yang menyegarkan dapat sangat membantu dalam ketidak nyamanan. Dengan evaluasi :
a. Nyeri berkurang atau hilang
b. Tidak ada tanda – tanda infeksi.
c. Mual dan muntah tidak terjadi
3). Mempertahankan suhu tubuh, suhu ruangan dipertahankan dengan nyaman dan selimut disediakan mencegah menggigil,dengan evaluasi :
a. Menunjukkan suhu normal
b. Bebas dari menggigil
c. Tidak meninjukkan tanda – tanda kedinginan
d. Tidak mengalami disritmia jantung
4). Menghindari cedera, melalui pemantauan yang cermat ketika pasien sadar dari pengaruh anastesi, dengan evaluasi hasil :
a. Terhindar dari cedera
b. Menerima untuk menaikkan pagar tempat tidur ketika dibutuhkan
5). Mempertahankan status nutrisi, memberikan diet yang adekuat, nutrisi parenteral, dengan evaluasi hasil :
a. Menunjukkan motilitas gastrointestinal meningkat
b. Bising usus normal
c. Kembali pada diet normal
d. Berat badan norma sesuai dengan tinggi badan
6). Meningkatkan Fungsi urinarius normal, dicoba semua metode yang diketahui dapat membantu pasien dalam berkemih, pemasangan kateter, dengan evaluasi :
a. Berkemih adekuat
b. Menunjukkan retensi
7). Konstipasi, jika cairan atau serat dan laksatif tidak efektif, enema dapat digunakan, dengan evaluasi :
a. Bising usus normal
b. Bebas dari distres abdomen
c. Pola eliminasi adekuat
8). Mengurangnya ansietas dan mencapai kesejahteraan psikososial, dibuat tentang perawatan dirumah yang diperlukan setelah pemulangan, kunjungan perawatan dirumah diatur jika diperlukan, dengan evaluasi :
a. Ikut serta dalam perawatan diri
b. Mengekspresikan antisipasi tentang mengunjungi teman dan keluarga berbicara secara positif tentang rencana mendatang.

Keperawatan Perioperatif

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Keperawatan perioperatif adalah fase penatalaksanaan pembedahan yang merupakan pengalaman yang unik bagi pasien. Kata perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencangkup 3 fase pengalaman pembedahan yaitu praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif.
A. Fase Praoperatif
Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi.prioritas pada prosedur pembedahan yang utama adalah inform consent yaitu pernyataan persetujuan klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan yang berguna untuk mencegah ketidaktahuan klien tentang prosedur yang akan dilaksanakan dean juga menjaga rumah sakit dan petugas kesehatan dari klien dan keluarganya mengenai tindakan tersebut
Infom consent dilakukan apabila sudah termasuk:
Informasi pembedahan yang akan dilakukan
Memberitahukan nama dan kualifikasi orang atau petugas yang akan melakukan pembedahan
Menjelaskan resiko termasuk kerusakan jaringan, kemungkinankomplikasi dan kemungkinan kematian
Rasio kesuksesan pembedahan
Alternatif lain yang dapat ditempuh
Hak – hak klien terhadap consent yang akan dilakukan bila terjadi pembatalan kemudian
Manajemen Keperawatan :
1. Pengkajian
Pengkajian pasien bedah meliputi mengevaluasi faktor – faktor fisik dan psikologis secara luas. Pada pengkajian preoperatif termasuk mengkaji kebutuhan sebelum dan sesudah operasi juga diperlukan screening test untuk mengetahui kondisi dan kesiapan klien secara fisik.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan pasien perioperatif dapat mencangkup :
1) Ansietas yang berhubungan dengan pengalaman bedah dan hasil pembedahan.
2) Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan protokol praoperatif dan harapan pascaoperatif.
3. Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama pasien bedah dapat meliputi menghilangkan ansietas praoperatif dan peningkatan pengetahuan tentang persiapan praoperatif dan harapan pascaoperatif.
Aktifitas keperawatan pada klien preoperatif adalah pendidikan kesehatan, yang merupakan aktifitas vital pada fase ini. Adalah 4 dimensi pada penkes ini yaitu :
§ Informasi termasuk hal yang akan terjadi pada klien, kapan dan apa yang akan dialami klien, bagaimana sensasi dan ketidaknyamanan yang diduga oleh klien
§ Psikososial suport untuk menghilanhkan kecemasan
§ Aturan yang dianut klien suport orang sekitarnya
§ Latihan keterampilan termasuk pergerakan, nafas dalam, batuk efektif, menahan insisidengan tangan atau bantal dan menggunakan spinometer
4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1) Ansietas dikurangi
§ Mendiskusikan kekhawatiran yang berkaitan dengan tipe ansietas dan induksi dengan ahli anastesi
§ Mengungkapkan suatu pemahaman tentang medikasi praanastesi dan anastesi umum
§ Mendiskusikan kekhawatiran saat – saat terakhiran dengan perawat atau dokter
§ Mendiskusikan masalah – masalah finansial dengan pekerja sosial, bila diperlukan
§ Meminta kunjungan pendeta bila diperlukan
§ Benar – benar relaks setelah dikunjungi oleh anggota tim kesehatan
2) Menyiapkan terhadap intervensi pembedahan
§ Ikut serta dalam persiapan praoperatif
§ Menunjukan dan menggambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi
§ Menelaah informasi tentang perawatan pascaoperaf
§ Menerima medikasi paranastesi
§ Tetap berada ditempat tidur
§ Relax selama trasformasi ke unit operasi
§ Menyebutkan rasiional penggunaan pagar tempat tidur

B. Fase Intraoperatif
Fase intraoperatif dari perawatan perioperatif dimulai ketika pasien masuk atau pindah kebagian atau departemen bedah dan berakhir pada saat pasien dipindahkan keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktifitas dapat meliputi : memasang infus (IV), memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologismenyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.
Type Anastesi :
a. General Anastesy yaitu hilangnya seluruh sensasi dan kesadaran termasuk reflek batuk dan reflek muntah sehingga harus dijaga dari adanya aspirasi. Biasanya diberikan secara intra vena atau inhalasi.
b. Regional Anastesi yaitu menghambat jalannya impuls saraf ke dan darin area atau bagian tubuh. Klien kehilangan sensasi pada sebagian tubuhnya tetapi tetap sadar.
Tekhnik Anastesi Regional :
1.Topikal (Surface) yaitu anastesi langsung pada kulit dan membran mukosa untuk menbuka bagian kulit, luka dan luka bakar. Misalnya lidocaine dan benzocaine, jenis ini biasanya cepat diserap dan bereaksi cepat.
2.Local Aqnastesi (Infiltrasi), yaitu anestesi yang disuntikan pada area tertentu dan digunakan untuk pembedahan minor, misalnya lidocaine atau tetracaine 0,1%
3.Blick Nerve (Bier Block), obat anastesi disuntikan didaerah syaraf atau kumpulan syaraf kecil untuk menghasilkan sesasi pada daerah kecil pada tubuh.
4.Anastesi Spinal, termasuk blik pada subbarracnoid. Yaitu obat anastesi disuntikan kedaerah ke daerah surrachnoid sampai ke spinal cord.
5.Epidural Anastesi, injeksi pada daerah dalam spinal tetapi diluar duramater.
Manajemen Keperawatan :
1. Pengkajian
Pengkajian menggunakan data dan catatan dari pasien untuk mengidentifikasi variabel yang dapat mempengaruhi perawatan dan yang berguna sebagai pedoman untuk mengenbangkan rencana paerawat pasien individual, yaitu :
§ Identifikasi pasien
§ Validasi data yang dibutuhkan dengan pasien perkebijakan bagian
§ Telaah catatan pasien terhadap adanya:
a) Informed yang benar dengan tanda tangan pasien
b) Kelengkapan catatan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik
c) Hasil pemeriksaan diagnostik
d) Kelengkapan riwayat dan pengkajian kesehatan
e) Ceklis praoperatif
§ Lengkapi pengkajian keperawatan praoperatif segera
a)Status fisiologis, misalnya tingkat sehat – sakit, tingkat kesadaran
b) Status Psikosial, misalnya ekspresi kekhawatiran , tingkat ansietas, masalah komunikasi verbal, mekanisme koping
c)Status fisik, misalnya tempat operasi, kondisi kulit dan efektivitas persiapan, pencukuran, atau obat penghilangh rambut, sendi tidak beergerak
2. Perencanaan
a. Menginterpretasi variabel – variabel umum dan menggabungkan variabel tersebut kedalam rencana asuhan :
§ Usia, ukuran, jenis kelamin, prosedur bedah, tipe anestesia yang direncanakan, ahli anestesi dan anggota tim
§ Ketersedian peralatan s[pesifik yang dibutuhkan untuk prosedur dan ahli bedah
§ Kebutuhan medikasi non rution, komponen darah, instrumen
§ Kesiapan ruangan untuk pasien, kelengkapan pengaturan fisik, kelengkapan instrumen, pealatan jahit dan pengadaan balutan
b. Mengidentifikasi aspek –aspek lingkungan ruang operasio yang dapat secara negatif mempengaruhipasien :
1) Fisik
a) Suhu dan kelembaban ruangan
b) Bahaya peralatan listrik
c) Kontaminasi potensial
d) Hilir mudik yang tidak peerlu
2) Psikososial
a) Kebisingan
b) Kurang mengenal sebagai individu
c) Rasa diabaikan tanpa pengantar di tempat tunggu
d) percakapan yang tidak peerlu
3. Intervensi
a. Berikan asuhan keperawatan berdasarkan pada prioritas kebutuhan pasien :
1). Atur dan jaga agar peralatan syaktion berguna dengan baik.
2). Atur peralatan pemantauan invasif.
3). Bantu saat pemasangan jalur (arteri /CVP ).
4). Lakukan tindakan kenyamanan fisik yang sesuai bagi pasien.
5). Posisikan pasien dengan tepat untuk prosedur anastesi dan pembedahan, pertahankan kelurusan tubuh sesuai fungsi.
6). Ikuti tahapan sesuai dengan prosedur bedah :
a. Lakukan scrab/bersihan dengan terampil
b.Berespon terhadap kebutuhan pasien dengan antisipasi peralatan dan bahan apa yang dibutuhkan sebelu diminta.
7). Ikuti prosedur yang telah ditetapkan sebagai contoh :
a. Perawatan dan pemakaian darah dan komponen darah
b.Perawatan dan penanganan spesimen, jaringan dan kultur.
c.Persiapan kulit antiseptik
d.Membuka dan menutup sarung tangan.
e.Menghitung kasa, instrumen, jarum.
f.Tekhnik septik
g.Penatalaksanaan kateter urine.
h.Penatalaksanaan drainase
8). Komunikasikan situasi yang merugikan pada ahli bedah, ahli anastesi/ perawat yang bertanggung jawab/ bertindak yang tepat untuk mengontrol atau menangani situasi.
9). Gunakan peralatan secara bijaksana untuk menghemat biaya.
10).Bantu ahli bedah dan anastesi untuk menerapkan rencana penerapan mereka.
b. Bertindak sebagai advotkat pasien
1) Berikan privasi fisik
2) Jaga kerahasiaan
3) Berikan keselamatan dan kenyamanan fisik
c. Informasikan pasien dengan pengalaman intraoperatif
1) Jelaskan segala stimulasi sensori yang akan dialami.
2) Gunakan keterampilan komunikasi umum
d. Koordinasi aktivitas bagi personil lain yang terlibat dalamperawatan pasien. Seperti X – ray, laboratorium, ICU.
e. Operasikan dan atasi semua masalah peralatan yang umumnya digunakan diruang operai dan tugaskan dilayanan khusus.
f. Ikutserta dalam konferensi perawatan pasien.
g. Dokumentasikan semua observasi dan tindakan.
h. Komunikasikan baik verbal dan tulisan mengenai status kesehatan pasien saat pemindahan dari ruang operasi.
4. Evaluasi
a. Mengevaluasi kondisi pasien dengan cepat sebelum dikeluarkan dari ruang operasi yaitu cara bernafas, warna kulit, selang invasif ( IV), drain kateter berfungsi secara normal, balutan adekuat tidak terlalu ketat.
b.Ikut serta dalam mrngidentifikasi praktek keperawatan pasien yang tidak aman dan menanganinya dengan baik.
c. Ikut serta dalam mengevaluasi keamanan lingkungan.
d.Melaporkan dan mendokumentasikan
e. Menunjukkan pemahaman tentang prinsip aseptik dan praktek keperawatan teknis.
f. Mengenali tanggung gugat legal dari keperrawatan preoperatif.

C. Fase Postoperatif
Fase postoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah. Pada fase postoperatif langsung, fokus termasuk mengkaji efek dari agen anastesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan berfokus pada tingkat penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, dan tindak lanjut serta rujukan penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti oleh pemulangan.
Manajemen Keperawatan :
1. Pengkajian
Pengkajian segera setelah bedah saat kembali ke unit klinik terdiri atas :
§ Respirasi: kepatenan jalan napas, frekuensi, karakter, sifat dan bunyi napas.
§ Sirkulasi: tanda – tanda vital termasuk tekanan darah, kondisi kulit
§ Neurologi: tingkat respon
§ Drainase: adanya drainase
§ Kenyamanan: tipe nyeri dan lokal, mual, muntahdan perubahan posisi yang dibutuhkan
§ Psikologi: sifat dan dari pertanyaan pasien
§ Keselamatan: kebutuhan akan pagar tempat tidur, selang infus tidak tersumbat
§ Peralatan: diperiksa untuk fungsi yang baik
2. Diagnosa
Berdasarkan pada pengkajian, diagnosa keperawatan sebagai berikut:
§ Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan efek depresan dan anastesi
§ Nyeri dan ketidaknya nyamanan postoperatif
§ Resiko terhadap cedera
§ Hipotermi
§ Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
§ Perubahan eliminasi urinarius
§ Konstipasi yang berhubungan dengan motilitas lambung dan usus
§ Kerusakan mobilitas fisik
§ Ansietas tentang diagnosis postoperatif
3. Intervensi dan Evaluasi
1) Memastikan fungsi pernapasan yang optimal dan meninngkatkan ekspansi paru, dengan evaluasi: pasien mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal
a. Melakukan pelatihan napas dalam
b. Menunjukan bunyi napas bersih
c. Menggunakan spirometer insentif sesuai dengan yang diresepkan.
d. Menunjukkan suhu tubuh yang normal
e. Menunjukkan hasil rontgen yang normal.
f. Berbalik dari satu posisi ke posisi lainnya sesuai dengan yang diintruksikan
2). Meredakan nyeri dan mual muntah, peredaan nyeri tergantung pada letak lokasi pembedahan, perubahan posisi pasien, distraksi, dan pemijatan punggung dengan lotion yang menyegarkan dapat sangat membantu dalam ketidak nyamanan. Dengan evaluasi :
a. Nyeri berkurang atau hilang
b. Tidak ada tanda – tanda infeksi.
c. Mual dan muntah tidak terjadi
3). Mempertahankan suhu tubuh, suhu ruangan dipertahankan dengan nyaman dan selimut disediakan mencegah menggigil,dengan evaluasi :
a. Menunjukkan suhu normal
b. Bebas dari menggigil
c. Tidak meninjukkan tanda – tanda kedinginan
d. Tidak mengalami disritmia jantung
4). Menghindari cedera, melalui pemantauan yang cermat ketika pasien sadar dari pengaruh anastesi, dengan evaluasi hasil :
a. Terhindar dari cedera
b. Menerima untuk menaikkan pagar tempat tidur ketika dibutuhkan
5). Mempertahankan status nutrisi, memberikan diet yang adekuat, nutrisi parenteral, dengan evaluasi hasil :
a. Menunjukkan motilitas gastrointestinal meningkat
b. Bising usus normal
c. Kembali pada diet normal
d. Berat badan norma sesuai dengan tinggi badan
6). Meningkatkan Fungsi urinarius normal, dicoba semua metode yang diketahui dapat membantu pasien dalam berkemih, pemasangan kateter, dengan evaluasi :
a. Berkemih adekuat
b. Menunjukkan retensi
7). Konstipasi, jika cairan atau serat dan laksatif tidak efektif, enema dapat digunakan, dengan evaluasi :
a. Bising usus normal
b. Bebas dari distres abdomen
c. Pola eliminasi adekuat
8). Mengurangnya ansietas dan mencapai kesejahteraan psikososial, dibuat tentang perawatan dirumah yang diperlukan setelah pemulangan, kunjungan perawatan dirumah diatur jika diperlukan, dengan evaluasi :
a. Ikut serta dalam perawatan diri
b. Mengekspresikan antisipasi tentang mengunjungi teman dan keluarga berbicara secara positif tentang rencana mendatang.











Rabu, 21 Januari 2009

MATERI ELEKTROKARDIOGRAFI (EKG)

A. Prinsip Dasar
Aktivitas elektrik ditimbulkan oleh sel jantung sebagai ion yang bertukar melewati membrane sel
Elektroda yang dapat menghantarkan aktivitas listrik dari jantung ke mesin EKG ditempatkan pada posisi yang strategis di ekstremitas dan precordium dada.
Energi elektrik yang sangat sensitive kemudian diubah menjadi grafik yang ditampilkan oleh mesin EKG. Tampilan ini disebut elektrokardiogram.
Kontraksi jantung direpresentasikan dalam bentuk gelombang pada kertas EKG, dan dinamakan gelombang P, Q, R, S, dan T.
Bentuk gelombang ini ditunjukkan pada defleksi terhadap garis isoelektrik (garis yang menunjukkan tidak adanya energi). Garis isoelektrik dapat ditentukan dengan melihat interval dari T hingga P.
· Gelombang P adalah defleksi positif yang pertama dan merepresentasikan depolarisasi atrium.
· Gelombang Q merupakan defleksi negative pertama setelah gelombang P. Gelombang R merupakan defleksi positif pertama setelah gelombang P.
· Gelombang S merupakan defleksi negative setelah gelombang R.
· Bentuk gelombang QRS biasanya dilihat sebagai satu unit dan merepresentasikan depolarisasi ventrikel.
· Gelombang T mengikuti gelombang S dan bergabung dengan kompleks QRS sebagai segmen ST. Gelombang T merepresentasikan kembalinya ion ke dalam sisi (appropriate) dalam membrane sel. Ini sama dengan relaksasi dari serabut otot dan menggambarkan repolarisasi ventrikel.
· Interfal QT merupakan waktu antara gelombang Q dan gelombang T.


B. Indikasi
Miokardium infark dan tipe penyakit arteri koroner lainnya, seperti angina.
Disritmia jantung
Pembesaran jantung.
Gangguan elektrolit, terutama kalsium dan kalium.
Penyakit inflamasi pada jantung.
Efek obat-obatan pada jantung seperti digitalis (lanoxin) dan Tricyclic antidepressants






C. Lead EKG dan interpretasi gelombang normal
EKG standard terdiri dari 12 leads (I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1, V2, V3, V4, V5, V6)
a. Setiap lead mencatat aktivitas elektrik jantung dari posisi anatomi yang berbeda
b. Identifikasi dari perubahan miokardium pada lead tertentu dapat membantu menentukan kondisi patologis.
Amplitudo normal dari gelombang P kurang lebih 3 mm, durasi normal dari gelombang P adalah 0,04-0,11 detik. Gelombang P yang lebih dari nilai ini diketahui adanya deviasi dari normal.
Interval PR diukur dari naiknya gelombang P ke sambungan QR dan normalnya sekitar 0,12 dan 0,20 detik.
a. Interval PR merepresentasikan waktu transmisi impuls dari nodus SA ke nodus AV.
b. Adanya kelambatan pada nodus AV untuk memungkinkan pengisian ventricular yang adekuat untuk mempertahankan stoke volume yang normal (jumlah darah yang dikeluarkan setiap kontraksi).
Kompleks QRS mengandung gelombang dan segmen yang berbeda, yang dapat dievaluasi secara terpisah. Kompleks QRS normalnya sekitar 0,06 dan 0,10 detik.
a. Gelombang Q, penurunan pertama setelah gelombang P, biasanya dalamnya kurang dari 3 mm. Gelombang Q yang sangat defleksi merupakan keadaan yang tidak normal pada jantung yang sehat. Gelombang Q patologis biasanya mengidentifikasi adanya old MI.
b. Gelombang R merupakan gelombang defleksi positif pertama setelah gelombang P, normalnya memiliki tinggi sekitar 5-10mm. Peningkatan dan penurunan amplitude menjadi sangat signifikan pada beberapa kondisi penyakit. Hipertropi ventricular akan menimbulkan gelombang R yang sangat tinggi karena hipertropi otot memerlukan arus listrik yang sangat kuat untuk depolarisasi.
Segmen ST dimulai di akhir gelombang S, merupakan defleksi negative pertama setelah gelombang R dan berakhir pada peningkatan gelombang T.
Gelombang T mereprentasikan repolarisasi serabut miokardium atau keadaan istirahat dari kerja miokardium, gelombang T harus selalu ada. Gelombang T normal tidak boleh lebih dari 5 mm pada semua lead, kecuali lead precordial (V1-V6), dimana disini dapat setinggi 10 mm.


D. Hal-hal yang harus diperhatikan saat perawatan pasien
Lakukan pemeriksaan EKG atau monitor EKG yang terus menerus jika ada indikasi.
a. Berikan privasi dan minta klien untuk melepaskan pakaiannya, terutama di bagian dada, pergelangan tangan dan mata kaki.
b. Tempatkan lead pada dada dan ekstremitas sesuai label, gunakan self-adhesive electrode atau gel yang larut air atau bahan-bahan pengkonduksi lainnya.
c. Instruksikan klien untuk tetap berbaring, tidak bergerak, batuk atau berbicara saat dilakukan pencatatan EKG untuk mencegah terjadinya artifact.
d. Yakinkan mesin EKG telah terpasang pada saklar dan grounded
e. Jika dilakukan monitoring jantung terus menerus, ajarkan klien parameter gerakan dan tidak panic ketika terdengar suara alam.
Interpretasi EKG.
Tentukan frekuensi denyut jantung. Apakah terlalu cepat, lambat atau normal
1. Penentuan frekuensi denyut jantung dengan cepat dapat dilakukan dengan menghitung jumlah kompleks QRS dalam interval waktu 6 detik dan kalikan kompleks QRS yang didapat dengan 10.
Catatan : Kita harus berhatu-hati dengan metode ini, karena metode ini hanya akurat untuk irama yang terjadi dalam interval normal dan tidak dapat digunakan untuk menentukan frekuensi denyut jantung dengan irama yang irregular. Untuk keakuratan, ketidakteraturan irama selalu dihitung untuk setiap 1 menit.
2. Frekuensi denyut jantung juga dapat dihitung dengan membagi 300 dengan jumlah lima kotak besar yang ada diantara 2 kompleks QRS. Tiga ratus blok besar merepresentasikan 1 menit pada kertas EKG.
b. Kemudian tentukan iramanya. Apakah iramanya regular, irregular, regulary irregular atau irregulary irregular ?
c. Akhirnya, perhatikan setiap gelombang dan segmenb untuk melihat adanya abnormalitas.
1. Lihat gelombang P, apakah ada untuk setiap kompleks QRS? Apakah gelombang ini tidak ada, seperti pada junction rhythm? Apakah digantikan oleh bentuk gelombang lain? Seperti apa bentuknya? Apakah mirip , bentuknya bagus atau bentuknya berubah seperti pada fibrilasi atrial atau takikardi atrial paroksimal?
2. Hitung interval PR. Interval PR yang terlalu lama dapat menjadi prekrusor untuk berbagai heart block karena terapi obat atau penyakit miokardial.
3. Lihat adanya gelombang Q patologis atau jika waktunya lebih dari 0,04 detik dan jika dalamnya lebih dari 3 mm atau lebih besar dari sepertiga tinggi gelombang R.
4. Hitung kompleks S. Apakah mereka identik dalam bentuknya? Apakah mereka turun terlalu awal? Apakah bentuknya bervariasi? Apakah ada jarak dan aneh, menunjukkan adanya kontraksi ventikular premature?
5. Perhatikan segmen ST. Elevasi segmen ST menunjukkan adanya pola injury dan biasanya terjadi pada perubahan awal di miokardial infark akut. ST depresi terjadi pada keadaan iskemi. Perubahan kadar kalsium dan kalium juga mempengaruhi segmen ST.
6. Lihat gelombang T. Apakah defleksi positif atau negatif? Gelombang T yang terbalik mengindikasikan terjadinya iskemia.
7. Hitung interval QT. Interval QT yang normal tidak lebih dari satu setengah interval PR. Interval QT yang terlalu lama mengindikasikan toksisitas digitalis, quinidine yang terlalu lama (Quinaglute) atau terapi prokainamide (Pronestyl) atau hipomagnesia.

E. Alat dan bahan yang diperlukan
Mesin EKG
Kertas grafik EKG
Jelly
Tissue gulungKapas alcohoL

(kUMPULAN MATERI KULIAH - diambil dr berbagai sumber)

Selasa, 20 Januari 2009

Menjadi Kaya Lewat Blogger

Kaya, Terkenal!! memiliki banyak Uang, mobil, Rumah Mewah, tentunya adalah Impian Banyak Orang, termasuk Gw salah satunya....
Beragam cara orang buat untuk mencapai tujuan ini, tentunya ada yang halal and ada juga cara yang haram..semuanya sah2 saja..dengan resiko yang mesti ditanggung oleh setiap orangnya...ha2x...
Kalo temen Gw yang dah dasarnya...dari bokap nyokapnya kaya...gw liat mereka dengan gampangnya..meraih semuanya..dari mulai kuliah, yg tongkrongannya mobil, handphone yg gonta-ganti mulu, apalagi urusan cewe...wah jauh...gw sih yg ortunya cuman PNS, cuman bisa ngurut dada....
Tapi...kenyataan ini mesti gw balik, kehidupan gw yg cuman sekali aza...mesti gw gunain sebaik2nya...mang susah ngedobrak keadaan hidup, kalo gw liat kehidupan orang2 kaya..sebenernya ortu2 nya sih, berjuang bgt hebat buat dapetin semuanya....
nah seperti ungkapan presiden anyar Amerika " bahwa tidak ada yang tidak mungkin "
buktinya dia adalah kulit hitam pertama yg jadi orang No. satu di negeri itu...
Jadi....Bukan ga mungkin, gw...loe , semuanya bisa jadi orang kaya, hebat dan berpengaruh
nah mulai gw...cari2 tuh...kiat2 sukses jadi orang kaya, ntah dari buku2 ampe mbahnya buku...Google...dari situ gw nemuin satu kata " Kaya Lewat Blogger"
banyak banget situs yg menawarkan , bahwa dia bisa bikin kaya seseorang, hanya dengan membeli produk yg dia jual...semcam ongkos lah...berbagi pengetahuan...
pertamanya sih gw agak percaya....tapi lama kelamaan setelah satu tahun gw belajar...gw mulai tahu, bahwa ungkapan itu bisa jadi benar, bisa jadi salah besar...
Ternyata untuk membuat anda kaya lewat blogger ada banyak sekali kerumitan disana,ada beberapa hal yg mesti loe siapin :
1. Materi/konsep Blog, wah ini penting bgt...kalo blog loe ga menarik, tentunya ga ada yg baca...kalo ga ada yg baca...alamat percuma loe nge blog..he2x...loe ga akan punya pelanggan, apalgi trafic web yg OK...dijamin, mesti loe pasangin iklan dari ad sense, dr manapun, ga akan mendatangkan doku
2. Pengetahuan tentang javascript/html/css, gw dulu agak lama and susah banget masukin iklan di blog gw, tapi setelah temen gw yg di ITB ngajarin gw...buat masukin kode iklan ke blog gw...gw ngerasa...agak sedikit mudah....ntar deh gw ajarin..kalo mau loe kirim e-mail ksong ke aglocoon@gmail.com, dijamin gw terangin ampe jelas banget..he2x
3. Desain Blog, ini juga penting, pilih template yg minimalis and ga ribet...loe bisa liat mbah google...cuman putih doang, tapi ngasilin duitnya...seabgreg
4. Koneksi Internet, ini penting juga bro...coba kalo loe tiap nge posting blog or nge blog..lewat warnet mulu, waduh dijamin jebol, loe!! mending kalo loe dah punya modal pasang internet pake Speedy, yg bisa di share 7 orang, jadi agak lumayan tuh...hemat...kalo kgk salayh...Rp. 120.000/bln..unlimite dlagi
5. Komunikasi antar Blog, ini dia komunitas yg harus loe jalin....cari komunitas yg bisa membuat blog loe kian terkenal, hari demi hari...
setelah blog terkenal...banyak2 berdoa..agar banyak orang yang nge klik iklan di blog loe...Baru deh...qt akan menuai..apa yg kita buat
Semoga Sukses ya Semuanya...dan di dunia ini semuanya mungkin, hari ini loe mungkin gembel...tapi besok2 loe adalah org paling sukses and kaya..hanya gara2 nge blog...AMIIIn jgn lupa doain gw juga....

Senin, 19 Januari 2009

Contoh : ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN DIAGNOSA P1A0 PARTUS MATURUS SPONTAN HARI 1 DIRUANG 17 A RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG

I. PENGKAJIAN
A. Identitas
a. Identitas Klien
Nama : Ny. R
Umur : 18 Tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Karyawan
Alamat : Kp. Bongkor 04 / 03 Ciumbuleuit Bandung
Diagnosa Medis : PIA0 Partus Marutus Spontan Hari ke 1
Tanggal Masuk : 17 April 2008, jam 09. 50 WIB
Tanggal Pengkajian : 18 April 2008, jam 08. 30 WIB
No. Medrec : 08041025

b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. A
Umur : 20 Tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Karyawan
Alamat : Kp. Bonhkor 04 / 03 Ciumbuleuit bandung
Hub. Dengan Klien : Suami

B. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada luka episiotami

b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada saat melakukan pengkajian tanggal 18 April 2008 jam 08.30 WIB. Klien mengeluh nyeri pada luka perineum karena ada luka episiotomi .Nyeri dirasakan seperti diiris – iris, skala nyeri 2 (1 – 5), nyeri dirasakan sewaktu – waktu, klien mengatakan jika batuk terasa nyeri, nyeri berkurang jika tidak bergerak.

c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat riwayat hipertensi dan klien mengatakan sewaktu klien kecil klien memiliki riwayat Bronchitis tetapi sekarang sudah sembuh.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu kklien mengatakan dikeluarga klien tidak ad yang memiliki riwayat hipertensi, ibu klien juga mengatakan semua anaknya pernah mempunyai riwayat Bronshitis bahkan anaknya yang kedua memiliki riwayat Efusi Pleura, Dikekuarga klien ada yang mengalami kelahiran dengan Sectio Caesarea yaitu adik klien.

e. Riwayat Obstetri dan Ginekologi
1. Riwayat Ginekologi
a. Riwayat Menstruasi
· Menarche usia 12 tahun
· Siklus 28 hari, lama 3 – 4 hari secara teratur
· Sifat darah Kental
· Keluhan tidak ada
· HPHT 12 juli 2007
· Taksiran Persalinan 19 april 2008
b. Riwayat Perkawinan
· Usia Pernikahan 1 tahun
· Lama Pernikahan 1 tahun
· Pernikahan yang ke 1
c. Riwayat Keluarga Berencana
Klien mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi. Rencana setelah melahirkan ini klien akan menggunakan alat kontrasepsi suntik.
2. Riwayat Obstetri
a. Riwayat Kehamilan Sekarang
G1PoAo merupakan kehamilan pertama, pemeriksaan selama hamil teratur, ibu memeriksakan kehamilannya
b. Riwayat Persalinan Sekarang
C. Pemeriksaan Fisik
D. Pola Aktivitas Sehari – hari
E. Aspek Psikologis dan Spiritual
II. ANALISA DATA
III. DIAGNOSA KEPERAWATAN
IV. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
V. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS

I. DEFINISI
Merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arahnoid dan piamatter di otak serta spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri dan virus meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan protozoa juga terjadi. (Donna D.,1999).
II. ETIOLOGI
1. Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
1. · Haemophillus influenzae
2. · Nesseria meningitides (meningococcal)
3. · Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)
4. · Streptococcus, grup A
5. · Staphylococcus aureus
6. · Escherichia coli
7. · Klebsiella
8. · Proteus
9. · Pseudomonas
2. Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna
3. Jamur
4. Protozoa
( Donna D., 1999)




III. PATHOFISIOLOGI
Agen penyebab

Invasi ke SSP melalui aliran darah

Bermigrasi ke lapisan subarahnoid

Respon inflamasi di piamatter, arahnoid,CSF dan ventrikuler

Exudat menyebar di seluruh saraf cranial dan saraf spinal

Kerusakan neurologist
( Donna D., 1999)
Selain dari adanya invasi bakteri, virus, jamur maupun protozoa, point d’entry masuknya kuman juga bisa melalui trauma tajam, prosedur operasi, dan abses otak yang pecah, penyebab lainnya adalah adanya rinorrhea, otorrhea pada fraktur bais cranii yang memungkinkan kontaknya CSF dengan lingkungan luar.
Meningitis Bakterial
Bakteri penyabab yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitides (meningococcal). Pada lingkungan yang padat seperti lingkungan asrama, barak militer, pemukiman padat lebih sering ditemukan kasus meningococcal meningitis.
Faktor pencetus terjadinya meningitis bacterial diantaranya adalah :
· Otitis media
· Pneumonia
· Sinusitis
· Sickle cell anemia
· Fraktur cranial, trauma otak
· Operasi spinal
Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system kekebalan tubuh seperti AIDS.
Meningitis Virus
Disebut juga dengan meningitis aseptic, terjadi sebagai akibat akhir/sequeledari berbagai penyakit yang disebabakan oleh virus spereti campak, mumps, herpes simplex dan herpes zoster. Pada meningitis virus ini tidak terbentuk exudat dan pada pemeriksaan CSF tidak ditemukan adanya organisme. Inflamasi terjadi pada korteks serebri, white matter dan lapisan meninges. Terjadinya kerusakan jaringan otak tergantung dari jenis sel yang terkena. Pada herpes simplex, virus ini akan mengganggu metabolisme sel, sedangkan jenis virus lain bisa menyebabkan gangguan produksi enzyme neurotransmitter, dimana hal ini akan berlanjut terganggunya fungsi sel dan akhirnya terjadi kerusakan neurologist.
Meningitis Jamur
Meningitis cryptococcal merupakan meningitis karena jamur yang paling serimh, biasanya menyerang SSP pada pasien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantungdari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi. Gejala klinisnya bia disertai demam atau tidak, tetapi hamper semuaklien ditemukan sakit kepala, nausea, muntah dan penurunan status mental
IV. KOMPLIKASI
Komplikasi yang bisa terjadi adalah ;
· Gangguan pembekuan darah
· Syok septic
· Demam yang memanjang
V. MANIFESTASI KLINIS
1. Aktivitas / istirahat ;
Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia
2. Sirkulasi ;
Riwayat endokarditis, abses otak, TD ↑, nadi ↓, tekanan nadi berat, takikardi dan disritmia pada fase akut
3. Eliminasi :
Adanya inkontinensia atau retensi urin
4. Makanan / cairan :
Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering
5. Higiene :
Tidak mampu merawat diri
6. Neurosensori ;
Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, “Hiperalgesia”meningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan oenglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, , hemiparese, hemiplegia, tanda”Brudzinski”positif, rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki
7. Neyri / kenyamanan :
Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh
8. Pernafasan :
Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas ↑, letargi dan gelisah
9. Keamanan :
Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi.

10. Penyuluhan / pembelajaran :
Riwayat hipersensitif terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lumbal Pungsi
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan protein.cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan TIK.
Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur posistif terhadap beberapa jenis bakteri.
Meningitis Virus : tekanan bervariasi, CSF jernih, leukositosis, glukosa dan protein normal, kultur biasanya negative
Glukosa & LDH : meningkat
LED/ESRD : meningkat
CT Scan/MRI : melihat lokasi lesi, ukuran ventrikel, hematom, hemoragik
Rontgent kepala : mengindikasikan infeksi intrakranial
VII. PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi penyebaran infeksi
2. Resiko tinggi gangguan perfusi serebral
3. Resiko tinggi trauma
4. Nyeri
5. Gangguan mobilitas fisik
6. Gangguan persepsi sensori
7. Cemas
8. Kurang pengetahuan mengenai penyebab infeksi dan pengobatan

VIII. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
( ada pada lampiran)
RINGKASAN TUTORIAL DISKUSI
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGITIS
Nama :
NPM : 1302220712
Kelompok : II
Tutor : Ibu Tuti Herawati, SKp.
Klasifikasi Meningitis :
· Purulenta & Serosa
Purulenta : penyebabnya adalah bakteri ( misalnya : Pneumococcus, Meningococcus ), menghasilkan exudat. Leukosit, dalam hal ini Neutrofil berperan dalam menyerang mikroba, neutrofil akan hancur menghasilkan exudat.
Serosa : penyebabya seperti mycobacterium tuberculosa & virus, terjadi pada infeksi kronis. Peran limfosit & monosit dalam melawan mikroba dengan cara fagositosis, tidak terjadi penghancuran, hasilnya adalah cairan serous
· Aseptik & Septik
Aseptik : Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan lumbal pungsi, hasilnya negative, misalkan penyebabnya adalah virus.
Septik : Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan kultur lumbal pungsi hasilnya positif , misalkan penyebabnya adalah bakteri pneumococcus.
Faktor resiko terjadinya meningitis :
1. Infeksi sistemik
Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia, TBC, perikarditis, dll.
2. Trauma kepala
Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis cranii yang memungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui othorrhea dan rhinorhea
3. Kelaianan anatomis
Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran telinga tengah, operasi cranium
Terjadinya pe ↑ TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai berikut :
Agen penyebab → reaksi local pada meninges → inflamasi meninges → pe ↑ permiabilitas kapiler → kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial → pe ↑ volume cairan interstisial → edema → Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat → pe ↑ TIK
Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor.
Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan fleksi pada kepala klien yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh adanya iritasi meningeal khususnya pada nervus cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot bagian belakang leher, sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas.
Sedangan pada pemeriksaan Kernigs sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau iritasi sudah mencapai ke medulla spinalis bagian bawah.
Hidrosefalus pada meningitis terjadi karena mekanisme sebagai berikut :
Inflamasi local → scar tissue di daerah arahnoid ( vili ) → gangguan absorbsi CSF → akumulasi CSF di dalam otak → hodosefalus
Perbedaan Ensefalitis dengan meningitis :
Ensefalitis Meningitis
Kejang Kaku kuduk
Kesadaran ↓ Kesadaran relative masih baik
Demam ↓ Demam ↑
Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan mengalami Meningo-ensefalitis.
Penatalaksanaan medis meningitis :
1. Antibiotik sesuai jenis agen penyebab
2. Steroid untuk mengatasi inflamasi
3. Antipiretik untuk mengatasi demam
4. Antikonvulsant untuk mencegah kejang
5. Neuroprotector untuk menyelamatkan sel-sel otak yang masih bisa dipertahankan
6. Pembedahan : seperti dilakukan VP Shunt ( Ventrikel Peritoneal Shunt )
(Kumpulan Tugas Kuliah - Dikumpulkan dari berbagai sumber)

Tugas Kuliah Tentang Ginekologi

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menstruasi merupakan proses siklik, dalam proses menstruasi terjadi perdarahan pervaginam secara siklik yang tidak hanya menunjukan parubahan pada endometrium, namun juga pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium. Siklus menstruasi normal durasi 21-35 hari, dengan jumlah darah 20-60 ml, adapun irregulaer dalam siklus menstruasi diantaranya : oligomenore, polimenore, menoragi, metroragi, menometroragi, hipomenore, hipermenore, dan intermenstrual bleeding
Keputihan adalah keluarnya sekret bukan darah dari vagina, hampir dialami oleh seluruh wanita. Keputihan diaktakan normal apabila tidak berlebihan, tidak berbau, dan berwarna jernih. Adapun macam-macam keputihan seperti: vulvovaginitis candida, bakterial vaginosis, vaginal trichomoniasis, infeksi serviks yang terdiri dari: gonorrhoea, clamydia, dan virus
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana cara kita agar daerah kewanitan kita bersih dari keputihan?
b. Berapa hari siklus normal menstruasi yang dialami oleh setiap wanita?
c. Keputihan yang bagaimana yang dikatakan normal
1.3 Tujuan Pembuatan
Untuk mengetahui bagaimana proses menstruasi yang selama ini dialami oleh seorang wanita, dan bagaiamana siklus menstruasi yang normal, untuk mengetahui bagaimana keputihan yang normal dan yang abnormal serta cara memelihara vagina yang baik dan sehat
1.4 Prosedur Pemecahan Masalah
Materi ini saya peroleh dari power point mata kuliah ginekologi





BAB II
ISI

A. PEMERIKSAAN GINEKOLOGI

Anamnesa
Keluhan Utama
Riwayat penyakit yang lalu
Haid
Lekore
Riwayat reproduksi
Riwayat KB
Inspeksi
Genitalia eksterna & tanda-tanda sex sekunder
Pemeriksaan dengan spekulum (inspekulo):
- Dinding vagina
- Sekret dari can. Servikalis?
- Esio, polyp, ulkus pada portio?
· Dengan pemeriksaan inspekulo dan pemeriksaan selanjutnya:
- Papsmear
- IVA
- Kolposkopi dll
3 Palpasi
· Pemeriksaan Bimanual
· Mengetahui ukuran, letak dan kemungkinan pergerakan organ genitalia interna:
- Portio: Bentuk dan konsistensi
- Uterus: Jari dalam pada forniks posterior, jari luar menekan uterus ditentukan besar, bentuk, letak dan kemungkinan pergerakannya

- Andeksa dan parametrium:
o Ovarium
o Parametrium: Lemas/tegang, massa, nyeri tekan?
· Pemeriksaan Rektovaginal:
Guan: memeriksa proses-proses di blk, kiri/kanan uterus


DIAGNOSTIK SIKLUS
1. Apusan Vagina:
· Naik turunnya kadar estrogen sehingga mempengaruhi epitel vagina
· Dengan sediaan apus ditent:
§ Indeks karyotip: persentase sel-sel dengan inti kariotipik
§ Indeks eosinofil: perbandingan sel-sel eosinofil terhadap basofil
§ Indeks maturasi: perbandingan sel parabasal, intermediate, superfisia
· Normal: indeks kariotipik dan eosinofil meninggi saat ovulasi
· Indeks maturasi: gambaran proliferasi ep. Vagina
· Pem. Sitodiagnostik: pem. Hormonal pada pubertas prekoks, gangguan pertumbuhan genitalia, gangguan siklus, dll

2. Sekret serviks
· Spinbarkeit test:
Dengan pinset lendir serviks di tarik menjadi benangn sepanjang 6-8 cm, karena lendir serviks menjadi sangat kental dibawah pengaruh estrogen
· Fern test
Setetes lendir serviks dikeringkan pada gelas obyek sehingga gambaran kristal berbentuk daun paku
· Kurtase bertahap
Dengan mikrokuret sehingga endometrium diambil dan diperiksa secara PA
· Kurve suhu basal
Ditentukan : Apakah siklus ovulatoar dan kapan ovulasi
· Analisa Hormonal
o Estrogen
o Progesteron
o C17 ketosteroid
o 17 hidroksisteroid
o Hormon gonadotropin
· Test Kehamilan
o Kurva suhu basal: pemanjangan fase sekresi > 15-16 hari
o Percobaan biologis: Ascheim Zondek, Galli Mainini
o Reaksi imunologis: pp test, beta HCG
· Pemeriksaan gangguan pertumbuhan alat reproduksi
o Pemeriksaan kromosom
o Pemeriksaan granulasi netrofil (drum stick)
o Karyogram
· Pemeriksaan kemungkinan keganasan
o Pemeriksaan papsmear
o Biopsi
o Kolposkopi
o Konisasi
o Kuretase bertahap
o Laparoskopi
· Pemeriksaan infertilitas
o Kurve suhu basal
o Kuretase premenstruil/hari pertama haid
o Analisa sperma
o Post koital test
o Pertubasi
o Histerosalpingografi


· Pemeriksaan kelainan intraabdomen
o Laparoskopi
o Kuldoskopi
o Punksi kavum douglas
o Kolpotomi
o Laparotomi diagnostik

B. ENDOMETRIOSIS

1. DEFINISI
Endometriosis (eksternal maupun internal) adalah jaringan endometrium (kelenjar dan stroma) yang terdapat diluar kavum uteri.
Lesi-lesi tersebut memiliki sifat sama dengan endometrium didalam kavum uteri sehingga berada di bawah pengaruh estrogen dan progesteron. Jumlah reseptor estrogen dan progesteron lesi endometrium lebih sedikit (60%) dibandingkan jaringan endometrium.
2. INSIDENSI
Angka kejadian yang pasti di masyarakat tidak di ketahui, diperkirakan 10% Eusia 15-50 tahun mengalami endometrium, pasien infertilitas 40% memiliki endometriosis, pada pasien nyeri panggul: 20 % penderita endometriosis, remaja dengan nyeri panggul: 50% dengan endometriosis.
3. PATOGENESIS
Patogenesis endometriosis belum pasti sehingga dampak terhadap pengelolaan endometriosis. Banyak teori dikemukakan antara lain:
v Teori implantasi
v Teori metaplasia coeloem
v Teori stimulasi hormon
v Fenomena induksi
v Transplantasi mekanik
v Metastase benigna
v Sisa sel dan komposit
· Faktor-faktor pencetus kejadian endometriosis:
v Teori mekanik
v Kelainan kongenital terhadap genital
v Uterus retrofleksi
v Faktor hormonal
v Faktor inflamasi
· Etiologinya pun sampai saat ini tidak jelas sehingga ada 3 teori:
v Retrogad menstruasi
v Transportasi hematogen/limfatik
v Metaplasia coeloemik
› Teori Retrograd/Refluks menstruasi
Dapat menjelaskan sebagian besar tempat/lokasi endometriosis, dan tidak dapat menjelaskan :
· Mengapa tidak terjadi pada semua wanita?
· Mengapa terjadi di tempat yang jauh dari uterus?
Transportsi jaringan endometrium secara langsung oleh pembuluh darah/limfa
› Teori Transportsi Hematogen/limfatik
Transportasi jaringan endometrium oleh pembuluh darah dan limfa, sehingga jaringan endometrium ditemukan oleh vena yterina dan KGB.
› Teori Metaplasia Coelomik
Peritoneum dengan adanya perangas akan mengalami metaplasia menajdi bentuk jaringan endometrium. Dengan teori ini dapat di jelaskan mengapa endometrium tumbuh pada tempat yang jauh dari uterus.
4. DIAGNOSIS ENDOMETRIOSIS

© Anamnesa
- Dismenore
- Nyeri perut bawah
- Nyeri anus
- Nyeri punggung bawah
- Dispareuni
- Nyeri BAK
- Perdarahan bercak: akibat gangguan keseimbangan hormonal
© Pemeriksaan Bimanual
- Nodul di sekitar ligamen sakrouterina yang nyeri bila di sentuh
- Dapat teraba massa diadneksa
- Perlengketan dengan adneksa
- Seringkali tanpa kelainan pada pemeriksaan fisik
- Pada umumnya diagnosis endometriosis berdasarkan 4kelompok:
§ Diagnosis klinis
§ Tehnik imaging
§ Laparoskopi
§ Serum imunoassay
5. GAMBARAN LAPAROSKOPIK ENDOMETRIOSIS

© Lesi endometriosis sangat bervariasi:
o Warna: merah, coklat, hitam, biru, putih, bahkan tiodak berwarna
o Bentuk: ’Powder Burn’nodul
© Gambaran lain:
o Lesi kemerahan hemoragik
o Adhesi subovarian
o Kista endometriosis
© Derajat endometriosis berdasarkan skor dari American Fertility Society
o Stadium 1 (minimal): 1-5
o Stadium 2 (mild): 6-15
o Stadium 3(moderate): 16-40
o Stadium 4 (severe): > 40
6. PENATALAKSANAN ENDOMETRIOSIS
Agar pengobatan endometriosis tidak terlambat dan mendapatkan hasil yang memuaskan, fikirkan adanya endometriosis:
· Dismenore/nyeri pevik kronik
· Pasien infertilitas yang belum hamil dengan pengobatan
· Dismenore pada usia remaja
Perlu dilakukan diagnosis yang tepat sehingga segera lakukan pengobatan. Keterlambatan terhadap berkembang ke arah lebih berta dan infertilitas. Tindakan yang dianut saat ini yaitu menghilangkan lesi dengan pembedahan. Laparoskopi operatif menjadi dimensi baru: Kerusakan jaringan sangat kecil, parut bekas operasitidak besardan perawatan lebih singkat. Tindakan operatif umumnya menggunakan energi laser atau elektro koagulasi.
7. TERAPI OPERATIF PADA ENDOMETRIOSIS
Pertimbangan preservasi fungsi reproduksi caranya yaitu dengan laparotomi dan laparoskopi operatif. Tujuannya: Mengangkat semua lesi, adhesiolisis, mempertahankan anatomi yang normal. Pengangkatan lesi dilakukan dengan cara laser CO2 dan elektro koagulasi. Kista endometriosis ukurannya <> 3 cm dengan ovarektomi.
8. TERAPI MEDIS PADA ENDOMETRIOSIS
Estrogen merangsang pertumbuhan endometriosis sehingga supresi sintesa estrogen dengan cara medis
· Oral Kontrasepsi
- Pilkombinasi dosis rendah:1x1 tab/hari selama 6-12 bulan
- Mengurangi dismenore dan nyeri pelvis pada 60-90%
· Progestin
- Efek: desidulisasi jaringan endometriummenjadi atrofi
- MPA: 150 mg tiap 3 bulan
- Megastrol Asetat: 40 mg perhari
· Danazol
- Lebih efektif dibandingkan dengan cara medis lain
- Lebih menghilangkan keluhan 90%
- Angka residit lebih tinggi di banding GnRH Agonis
- Dosis 800 mg
- Efek samping: BB meningkat, retensi air, acne, hot flushes, hirsutisme
· GnRH Agonis
- Leuprid, Buserelin
- Prinsip: Menekan produk estrogen menjadi lesi tidak aktif, avaskularisasi kista coklat danmenekan pr. Inflamasi
- Dosis: Buserelin 400mg/ hari dan leuprolide 500gr/hari
- Efek samping: Seperti gangguan klimakterik pada menopause
9. TERAPI KOMBINASI PADA ENDOMETRIOSIS
Meskipun tindakan opertif dilakukan sebaik-baiknya sehingga tidak semua lesi dapat dihilangkan. Perlu terapi kombinasi pembedahan dan terapi medika mentosa. Terapi hormonal diberikan pascaopersi selama 6 bulan. Pemilihan terapi tingkat stadium endometriosis:
Standar ringan: cukup pemberian gestragen dosis tinggi
Pemberian gestragen dosis rendah: hanya menghilangkan keluhan dan kemungkinan residit tinggi

C.GANGGUAN MENSTRUASI

v Siklus Menstruasi Normal
o Terdapat 2 Segmen:
§ Siklus Ovarium terdapat:fase folekuler dan fase luteal
§ Siklus endometrium, sekresi dan endometrium
o Menstruasi Normal
§ Durasi: 21-35 hari
§ Jumlah darah: 20-60 ml
v Irregularitas Siklus Menstruasi
· Oligomenore: Haid jarang, siklus irreguler, interval biasanya > 35 hari
· Polimenore: Haid sering, siklus reguler, interval < 2 hari
· Menoragi: Siklus reguler, jumlahnya banyak (> 80 ml) dan lama (> 5ml)
· Metroragi: Haid tidak teratur
· Menometroragi: Jumlah banyak, waktu lama, irreguler, interval sering
· Hipomenore: Jumlah haid sedikit, siklus reguler
· Hipermenore: Jumlah haid banyak, siklus reguler
· Intermenstrual bleeding: Perdarahan biasanya tidak banyak terjadi diantara 2 siklus mens
v Amenore
ü Amenore primer
o Belum mens pada wanita usia 16 tahun tanda kelamin sekunder
o Belum mens pada wanita usia 14 tahun, tidak disertai tidak ada pertumbuhan tanda kelamin sekunder
ü Amenore sekunder
o Tidak menstruasi selama 3-6 bulan berturut-turut pada wanita yang sebelumnya telah menstruasi
v Dismenore
Ø Kelainan ginekolgi yang sering ditemukan biasanya terjadi pada 50% wanita yang haid
Ø Disminore primer: Kelainan organik
Ø Gejalanya: Nyeri beberapa jam/segera setelah onset haid, menetap 48-72 jam danhilang setelah partus
Ø Pemeriksaan Fisik
Ø Dismenore sekunder: Ditemukan ada kelainan pelvis
Ø Gejalanya: Beberapa tahun setelah onset mens, nyeri mulai dirasakan 1-2 minggu sebelum mens danmenetap beberapa hari setelah mens berhenti
Ø Etiologi
· Ginekologis
· Genitourinaria
· Gastroinstestial
· Neurologis
v PerdarahanUterus Disfungsi
Perdarahan abnormal dari uterus (lama, frekuensi, jumlah) yang terjadi dalamsiklus menstruasi tanpa ditemukannya kelainan-kelainan organ, hematologi dan kehamilan; semata-mata merupakan kelainan HPO
o Jenis PUD berdasarkan usia:
§ Perimenars
§ Masa reproduksi
§ Perimenopause
o Pemeriksaan penunjang pada PUD:
§ Pemeriksaan Hematologi
§ Pemeriksaan Hormon Reproduksi

D.VAGINAL DISCHARGE (FLUOR ALBUS)

Keluarnya secret bukan darah dari vagina. Hampir dialami oleh seluruh wanita. Dikatakannormal apabila tidak berlebihan,tidak berbau, dan berwarna jernih
1) Keputihan normal
a. Ph vagina: Asam, flora normal
b. Vagina yang sehat yaitu mengeluarkan sekret yang normal serta cegah infeksi
c. Sekret vagina meningkat pada:
I. Hormonal: haid, kehamilan,pil KB
II. Kelelahan
III. Rangsangan seksual
2) Keputihan abnormal
§ Perubahan warna
§ Konsistensi kental
§ Cairan banyak

Gejala:
§ Sekret banyak
§ Gatal/panas dan rasa terbakar
§ Iritasi dan bau yang tidak sedap
§ Nyeri saat berkemih/berhubungan
§ Etiologi fluor albus
§ Infeksi bakteri: N. Gonorrhoeae, chl. Trachomatis, G.Vaginalis, Mikoplasma
§ Infeksi virus: Herpes,pox virus, papova virus
§ Infeksi jamur: Candida Albicans
§ Infeksi Protizoa: T.VAGINALIS, E. HISTOLITICA
3) Vulvovaginitis Candida
75% wanita pernah mengalami penyebab utamanya yaitu candida albicans(80-90%), candida glabrata (10-20%), danfaktor yang menyebabkan resiko yaitu: DM yang tidak terkontrol, kortikosteroid, antibiotika dan kehamialn serta KB spiral
4) Bakterial Vaginosis
Vaginitis nonspesifik merupakan penyebab semua vaginosis. Adapun faktor-faktor predisposisinya yaitu: IUD, pembersih vagina, multi sex partner serta sering melakukan kuretase. Gejalanya seperti sekret vagina berbau amis, sekret berwarna putih keabuan dan encer sampai kental. Adapun berbagai macam terapi seperti: Metrodinazol 2x500 mg, p.o selama 7 hari, klindamisisn/metrodinazol ovula selam 5 hari adapun pilihan lainnya: Ampisilin 4x500 mg/hari, p.o selama 7 hari
5) Vaginal Trichomoniasis
Vaginal trichomoniasis sering terjadi akibat IMS, perlengkapan mandi atau bibir kloset. Gejalanya: sekret encer, berbusa, warna kuning, bau amis, imflamasia vulva/vagina, gatal yang berlebihan dan frekuensi berkemih meningkat. Adapun berbagai terapi diantaranya: Metrodinazol 3x500 mg/hari p.o selama 7 hari tidak boleh diberikan pada wanita hamil, terutama trimester 1. Adapun pillihan lain yaitu klotrimazol 100 mg/hari intravaginal slam 7 hari, kedua pasangan harus terapi, dan hindari koitus sampai terapi selesai
6) Infeksi Serviks
Ada 3 penyakit yang termasuk kedalam infeksi serviks yaitu:
§ Gonorrhoea yang etiologinya yaitu neiss, gonorrhoea, 85% biasanya terjadi asimptomatik, terjadi gangguan sekret mucopurulen. Adapun terapinya: Doksisiklin 2x100 mg/hari, p.o selam 7 hari, single dose ceftriaxone, dan pilihan lainnya:n Tetrasiklin 4x500 mg, p.o selama 7 ahri, pp 4,8 juta unit, Ampisilin 3,5 gr, Amoksilin 3 gr
§ Clamydia yang etiologinya Cl. Trachomatis, biasanya terjadi pada usia 20-40 tahun, sekret mucopurulen dan STD, diagnosisnya Floroscent Antibody Test/Cult. Adapun terapinya: Dosisiklin 2x100 mg, selama 7 hari, dan pilihan lainnya: Tetrasiklin, eritromisin 4x500 mg p.o selama 7 hari atau 4x250 mg p.o selama 14 hari
§ Virus karena terjadi dari infeksi kondiloma accuminata dan herpes genitalia, cairan dari vagina berbau tanpa gatal, tidak sembuh dengan terapi biasa bisa dideteksi dengan cara papsmear, dan bisa ditularkan pula lewat hubungan seksual
§
E. ORGAN REPRODUKSI WANITA DAN FISIOLOGI MENSTRUASI

Menstruasi merupakan suatu proses siklik, dalam proses menstruasi terjadi perdarahan pervaginam secara siklik yang tidak hanya menunjukan perubahan pada endometrium dan stroma, namun juga pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium.


Pada ovarium menyebabkan stimulasi:
Perubahan folikel
Biosintesis dan sekresi hormon
Maturasi oosit
Ovulasi
Fungsi corpus luteum
Perubahan hormonal pada siklus ovarium menyebabkan perubahan penting pada jaringan reproduktif. Bila terjadi kehamilan menstruasi terjadi 14 atau 2 hari setelah ovulasi. Pada masa anak-anak ovarium belum menjalankan fungsinya, ovarium baru mengalami perubahan pada masa pubertas, rata-rata pubertas terjadi pada usia 12-13 tahun, dengan terjadinya ovarium terjadi perubahan-perubahan yaitu: Thelars, Pubars, Pertumbuhan rambut-rambut ketiak dan Menars. Poros hipotalamus, Hipofisis, dan ovarium telah aktif selama kehidupan janin, setelah 2 tahun pertama kehidupan postnatal poros ini dalam keadaan istirahat sampai tercapai pubertas.
Hipotalamus, secara anatomi terdiri dari 3 zona yaitu: Periventrikuler, medial, lateral, Hormrn-hormon yang diproduksi: vasopresin, oksitosin, dan releasing dan inhibitory factors.
Hipofisis, terletak didalam sella tursika, didasar otak, Dibagi menjadi 3 daerah yaitu: Anterior (Adenohipofisis), Posterior (Neurohipofisis), dan Pars Intermediet.
Hipofisis Posterior hormon-hormon yang dihasilkan yaitu: Vasopresin dan Oksitosin. Hipofisis Anterior berdasarkan imunositologi terdapat 5 macam sel:
v Asidofilik: somatrotop dan laktotrof
v Basofilik: kortikotrop, tirotrop, dan gonadotrop
Hormon-hormon yang dihasilkan oleh hipofisis anterior yaitu:
· Gonadotrop: LH Dan FSH
· Somatrotrop: Growth Hormon
· Tirotrop: TSH
· Laktotrop: Prolaktin
· Kortikotrop: ACTH dan MSH
Ovarium memiliki fungsi yaitu: sbagai pertumbuhan folikel dan mengeluarkan ovum sintesa dan sekresi hormon steroid. Folikel-folikel mengandung oosit, jumlah folikel maksimal dicapai pada kehamilan 16-20 minggu. Masing-masing folikel terdapat: Lapisan terluar yaitu sel theka yang menghasilkan androgen, androstenedion, dan testosteron, dan lapisan dalamnya yaitu el granulosa yang menghasilkan estrogen dan progesteron. Sel theka dan granulosa memiliki reseptor gonadotropin dan mengeluarkan hormon-hormon steroid. Pada siklus menstruasi hanya 1 folikel yang matang dan mengalami ovulasi.
Siklus ovarium terdiri dari: Stadium folikuler yang menghasilkan folikuler dini, midfolikuler, dan folikuler lanjut, Stadium luteal yangt menghasilkan luteal dini dan luteal lanjut
Fase folikuler menyediakan sejumlah folikel yang siap berovulasi sehingga pertumbuhan folikel dari folikel primordial, menjadi folikel de graff, lama fase ini yaitu: 10-14 hari. Dalam setiap 1 siklus menstruasi akan terpilih kurang lebih 20 folikel yang akan dipromosikan untuk ovulasi, folikel berkembang menjadi multiplikasi sel-sel granulosa dan terbentuk celah dalam lapisan tersebut berisi cairan, cairan dalam antrum semakin meningkat, sel granulosa terdesak kepinggir sehingga oosit dilapisi beberapa sel granulosa dan menonjol kedalam sehingga terbentuk zona plusida.
Perubahan stroma ovarium akan berdiferensiasi menjadi theca interna dan eksterna, sel theca interna memproduksi steroid sebagai prekursor estradiol, folikel de graaf semakin membesar dan semakin menonjol ke permukaan ovarium, sel germinal semakin tipis sehingga lama kelamaa pecah, oosit akan terlepas sehingga hanya 1 oosit yang terpilih untuk ovulasi.
Fase midfolikuler karakteristik ditandai oleh pemilihan folikel dominan ini mungkin berhubungan dengan densitas reseptor FSH, kemampuan produksi estrogen dan dukungan vaskuler masing-masing folikel

(Kumpulan Tugas Kuliah - dikumpulkan dari berbagai sumber)
















BAB 111
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Menstruasi merupakan proses siklik, dalam proses menstruasi terjadi perdarahan pervaginam secara siklik yang tidak hanya menunjukan parubahan pada endometrium, namun juga pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium. Siklus menstruasi normal durasi 21-35 hari, dengan jumlah darah 20-60 ml, adapun irregulaer dalam siklus menstruasi diantaranya : oligomenore, polimenore, menoragi, metroragi, menometroragi, hipomenore, hipermenore, dan intermenstrual bleeding
Keputihan adalah keluarnya sekret bukan darah dari vagina, hampir dialami oleh seluruh wanita. Keputihan diaktakan normal apabila tidak berlebihan, tidak berbau, dan berwarna jernih. Adapun macam-macam keputihan seperti: vulvovaginitis candida, bakterial vaginosis, vaginal trichomoniasis, infeksi serviks yang terdiri dari: gonorrhoea, clamydia, dan virus