Kamis, 21 Mei 2009

TEORI-TEORI INTELEGENSIA

1. Teori “Two Factors”
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia berpen¬dapat bahwa inteligensi itu meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memiliki kedua kemampuan mi yang keduanya menentukan penampilan atau perilaku mentalnya.

2. Teori “Primary Mental Abilities”
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat bah¬wa inteligensi merupakan penjelmaan dan kemampuan primer, yaitu (a) kemampuan berbahasa: verbal comprehension, (b) ke¬mampuan mengingat: memory; (c) kemampuan nalar atau berpikir logis: reasoning; (d) kemampuan tilikan ruang: spatial factor; (e) kemampuan bilangan: numerical ability; (I) kemampuan mengguna¬kan kata-kata: word fluency; dan (g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat: perceptual speed.

3. Teori “Multiple Intelligence”
Teori ini dikemukakan oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dan tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu sebagai berikut:

1) Operasi Mental (Proses Berpikir)
(a) Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
(b) Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehi¬dupan sehari-hari).
(c) Memory recording (ingatan yang segera).
(d) Divergent production (berpikir melebar = banyak kemung¬kinan jawaban).
(e) Convergent production (berpikir memusat = hanya satu j awaban/alternatif).
(f) Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu itu baik, akurat, atau memadai).

2) Content (Isi yang dip ikirkan)
(a) Visual (bentuk kongkret atau gambaran).
(b) Auditory.
(c) Word meaning (semantic).
(d) Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata, angka dan not musik).
(e) Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).


3) Product (Hasil Berpikir)
(a) Unit (item tunggal informasi).
(b) Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
(c) Relasi (keterkaitan antarinformasi).
(d) Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan).
(e) Transformasi (perubahan, modifikasi atau redefinisi in¬formasi).
(f) Implikasi (informasi yang merupakan saran dan informasi item lain).

Keterkaitan dengan ketiga kategori tersebut di atas, selanjutnya dapat disimak dalam contoh berikut.
1) Untuk dapat mengisi deretan angka 3, 6, 12, 24, ... memerlukan “convergent operation” (hanya satu jawaban yang benar) de¬ngan “symbolic content” (angka) untuk memperoleh suatu “rela¬tionship product” (angka rangkap berdasarkan pola hitungan sebelumnya).

2) Untuk membuat lukisan abstrak tentang suatu fenomena kehi¬dupan, memerlukan kemampuan “divergent thinking operation” (banyak kemungkinan jawaban) tentang “visual content” untuk menciptakan “transformasional product” (objek nyata yang di¬transformasikan ke dalam pandangan pelukis).

Menurut Guilford, keterkaitan antara ketiga kategori berpikir atau kemampuan intelektual tersebut, telah melahirkan 180 kombinasi kemampuan. Model struktur intelektual Guilford ini telah mengembangkan wawasan tentang hakikat inteligensi dengan menambah faktor-faktor, seperti: “social judgment” (evaluasi ter¬hadap orang lain), dan kreativitas (berpikir “divergent”).


d. Teori “Triachic of Intelligence”
Teori ini dikemukakan oleh Robert Stenberg (1985, 1990). Teori ini merupakan pendekatan proses kognitif untuk memahami inteli¬gensi. Stenberg mengartikannya sebagai suatu “deskripsi tiga ba¬gian kemampuan mental” (proses berpikir, mengatasi pengalaman atau masalah baru, dan penyesuaian terhadap situasi yang diha¬dapi) yang menunjukkan tingkah laku inteligen. Dengan kata lain, tingkah laku inteligen itu merupakan produk (hasil) dan penerapan strategi berpikir, mengatasi masalah-masalah baru secara kreatif dan cepat, dan penyesuaian terhadap konteks dengan menyeleksi dan beradaptasi dengan lingkungan.

1) Proses Mental (Berpikir)
a) Meta Component: perencanaan aturan, seleksi strategi, dan mo¬nitoring (pemantauan). Contohnya mengidentifikasi masalah, alokasi perhatian dan pemantauan bagaimana strategi itu dilaksanakan.
b) Performance Components: melaksanakan strategi yang terse¬leksi. Melalui komponen ini memungkinkan kita untuk memper¬sepsi dan menyimpan informasi baru.
c) Knowledge — Acquisition Components: memperoleh pengetahuan baru, seperti: memisahkan informasi yang relevan dengan yang tidak relevan dalam rangka memahami konsep-konsep baru.

2) Coping with new experience
Tingkah laku inteligen dibentuk melalui dua karakteristik, yaitu:
a) Insight, atau kemampuan untuk menghadapi situasi baru secara efektif
b) Automaticity, atau kemampuan untuk berpikir dan memecahkan masalah secara otomatis dan efisien.
Dengan demikian, tingkah laku inteligen itu melibatkan kemam¬puan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah baru dan bersifat otomatis: kecepatan dalam menemukan solusi-solusi baru dalam proses yang rutin dan dapat dilakukan tanpa banyak menggunakan usaha kognisi.

3) Adapting to environment
Yaitu kemampuan untuk memilih dan beradaptasi dengan tuntutan atau norma lingkungan. Kemampuan mi sangat penting bagi individu dalam meraih kesuksesan hidupnya, seperti dalam memilih karier, keterampilan sosial dan bergaul dalam masyarakat secara baik. Secara visual,


Reaksi:

0 komentar: