Senin, 19 Januari 2009

SISTEM PERNAPASAN

Alat-alat Pernapasan Manusia adalah :
1. Saluran lubang hidung (nares anterior)
2. Hidung
3. Tekak (faring)
4. Pangkal tenggorok (laring)
5. Batang tenggorok (trakea)
6. Cabang tenggorok (bronkus)
7. Rongga torak

1) Saluran Lubang Hidung (Nares Anterior)
Adalah saluran-saluran di dalam lubang hidung. Saluran-saluran itu bermuara kedalam bagian yang dikenal sebagai rongga hidung (vestibulum). Vestibulum itu dilapisi dengan epitelium organ yang bersambung dengan kulit. Lapisan ini memuat sejumlah kelenjar sebasea yang ditutupi oleh buluh kasar. Kelenjar-kelenjar itu bermuara ke dalam rongga hidung.

2) Hidung
Ujung hidung ditunjang oleh tulang rawan dan pangkal hidung ditunjang oleh tulang nasalis. Kedua lubang hidung menghubungkan atmosfer dengan rongga hidung. Rongga hidung dibatasi oleh dua tipe mukosa, yaitu mukosa respirasi hangat dan jalannya masuk udara dan mukosa olfaktory yang berisi receptor-receptor saraf pembau. Rongga hidung dibagi menjadi dua kanan dan kiri oleh septum nasalis.
a. Bagian depan septum ditunjang oleh tulang rawan
b. Bagian belakang ditunjang oleh tulang vomer dan tonjolan tulang ethmoid.
Batas-batas rongga hidung adalah bagian bawah (tulang palatum, maksila); bagian samping (tulang maksila, konkha nasalis inferior, ethmoid); bagian atas (tulang ethmoid) dan bagian tengah (septum nasalis).
Rambut-rambut kasar yang bertujuan untuk menjaring debu-debu kasar dan serangga.
Pada dinding lateral terdapat 3 tonjolan yang disebut :
1. Konkha nasalis superior
2. Media
3. Inferior
Maka udara pernapasan akan mengalir melalui celah-celah ketiga tonjolan tersebut dan udara inspirasi akan dipanaskan oleh darah di dalam kapiler dan dilembabkan oleh lender yang disekresikan oleh sel goblet.
Juga debu-debu udara pernapasan dapat diperangkap oleh lendir-lendir digerakkan oleh silia ke belakang menuju faring.
Sel-sel pembau berhubungan dengan saraf otak pertama (nervus alfaktorius).
Empat rongga paranasal berhubungan dengan rongga hidung:
Sinus maksilaris
Frontalis
Ethmoidal
Sfenoidal
Kesebalah atas rongga hidung berhubungan dengan kelopak mata melalui duktus lakminalis. Disebelah belakang rongga hidung berhubungan dengan masofaring melalui dua lubang yang disebelah koane.
Fungsi hidung, terdiri dari :
Bekerja sebagai saluran udara pernapasan
Sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
Dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa
Membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lender (mukosa) atau hidung.
3) Tekak (Faring)
Tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Hubungan faring dengan organ lain = ke atas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantara lubang yang bernama korona.
Rongga Tekak, dibagi dalam tiga bagian :
1. Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasafaring.
2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istimus fausium disebut orofaring.
3. Bagian bawah sekali dinamakan lanigofaring.

4) Pangkal Tenggorok (Laring)
Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain :
1. Katilago teroid (1 buah) depan jakun (Adam is Aple), sangat jelas terlihat pada pria.
2. Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker.
3. Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin.
4. Kartilagi epiglottis (1 buah).
Pita suara ini berjumlah 2 buah, dibagian atas adalah pita suara palsu dan tidak mengeluarkan suara yang disebut dengan ventrikularis. Dibagian bawah adalah pita suara yang sejati yang membentuk suara yang disebut vokalaris, terdapat dua buah otot. Oleh gerakan dua buah otot ini maka pita suara dapat bergetar dengan demikian pita suara (rema glottides) dapat melebar dan mengecil, sehingga di sini terbentuklah suara.

Proses Pembentukan Suara :
ü Tahap Mendengar
Sinyal bunyi mula-mula diterima oleh area auditorik primer → menyandikan sinyal tadi ke dalam bentuk kata-kata → di interpretasikan di area wernicke → penentuan buah pikiran dan kata-kata yang akan diucapkan (area wernicke) → penjalaran sinyal ke area brocca melalui fasikulus arkuatus → aktivasi program ketrampilan motorik (area brocca) untuk mengatur pembentukan kata → penjalaran sinyal yang sesuai ke korteks motorik untuk mengatur otot-otot bicara → gerakan otot-otot mulut, lidah, laring, pita suara yang brtanggung jawab untuk intonasi, waktu dan perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara.
ü Tahap Membaca
Penerimaan kata-kata lebih banyak pada area visual primer → menyandikan dalam bentuk kata-kata → interpretasi di regio girus angularis → pengenalan penuh di area wernicke → sda.
ü Terbentuknya suara merupakan hasil dari kerja sama antara rongga mulut, rongga hidung, laring. Lidah dan bibir.

5) Batang Tenggorok (Trakea)
Trakea dibagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan dan kiri, yang masing-masing masuk ke paru kanan dan kiri. Cabang terkecil dikenal sebagai bronkiolus.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.

6) Cabang Tenggorok (Bronkus)
Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis ke IV dan ke V. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar dan merupakan kelanjutan dari trakea yang arahnya hampir vertikal dari pada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudutyang lebih tajam.
Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecilsampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantung udara). Bronkiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronkiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.
Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru, yaitu tempat pertukaran gas.
Asinus terdiri dari
bronkiolus respiratorius, yang terkadang memiliki kantung udara kecil atau alveoli pada dindingnya.
Duktus alveolaris, seluruhnya dibatasi oleh alveolus
Sakus alveolaris terminalis, merupakan struktur akhir paru-paru.
Asinus kadang-kadang disebut lobulus primer memiliki garis tengah kira-kira 0,5 sampai 1 cm. Terdapat sekitar 23 kali percabangan mulai dari trakea sampai sakus alveolaris yang menyerupai anggur, yang membentuk sakus terminalis dipisahkan dari alveolus di dekatnya oleh dinding tipis atau septum. Lubang kecil pada dinding ini dinamakan pori-pori Kohn. Lubang ini memungkinkan komunikasi antara sakus alveolaris terminalis. Alveolus hanya mempunyai satu lapis sel saja yang diameternya lebih kecil dibandingkan dengan diameter sel darah merah.
Alveolus pada hakekatnya merupakan suatu gelembung gas yang dikelilingi oleh jalinan kapiler, maka batas antara cairan dan gas membentuk suatu tegangan permukaan yang cenderung mencegah pengembangan pada waktu inspirasi dan cenderung kolaps pada waktu ekspirasi. Tapi untunglah alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan surfaktan, yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan pada waktu inspirasi dan mencegah kolaps alveolus pada waktu ekspirasi. Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas alveolus tergantung dari beberapa faktor, termasuk kematangan sel-sel alveolus dan sistem enzim biosintetiknya, kecepatan pergantian yang normal, ventilasi yang memadai dan aliran darah ke dinding alveolus. Defisiensi surfaktan dianggap sebagai faktor penting pada patogenesis sejumlah penyakit paru-paru.

Paru-paru
Paru-paru dibagi menjadi dua :
Paru-paru kanan
Paru-paru kiri

Letak paru-paru :
Pada rongga dada datarannya menghadap ke tengah rongga dada/kavum mediastinum. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura.

Pleura dibagi menjadi (2) dua :
a. Pleura visceral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru.
b. Pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura.

Paru-paru dapat dikembang kempiskan melalui dua cara :
Diafragma bergerak turun naik untuk memperbesar atau memperkecil rongga dada.
Deviasi dan elevasi tulang iga memperbesar atau memperkecil diavetra anteroposterior rongga dada.

Volume Paru
Volume dan napas (tidal) adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi setiap kali bernapas normal, besarnya kira-kira 500 ml pada rata-rata orang dewasa muda.
Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstra yang dapat diinspirasi setelah dan di atas volume alur napas normal dan biasanya mencapai 3000 ml.
Volume cadangan ekspirasi adalah jumlah udara ekstra yang dapat diekspirasi oleh ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi alun napas normal, jumlah normalnya adalah sekitar 1100 ml.
Volume residu yaitu volume udara yang masih tetap berada pada atau dalam paru setelah ekspirasi paling kuat. Volume ini besarnya kira-kira 1200 ml.

Kapasitas paru
1. Kapasitas inspirasi sama dengan volume alun napas ditambah volume cadangan inspirasi. Ini adalah jumlah udara kira-kira 3500 ml yang dapat dihirup oleh seseorang, dimulai pada tingkatan ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimum.
2. Kapasitas residu fungsional sama dengan volume cadangan ekspirasi ditambah volume residu. Ini adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal kira-kira 2300 ml.
3. Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi ditambah volume alun napas dan volume cadangan ekspirasi. Ini adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya kira-kira 4600 ml.
4. Kapasitas paru total adalah volume maksimum dimana paru dapat dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa kira-kira 5800 ml, jumlah ini sama dengan kapasitas vital ditambah volume residu.

Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita kira-kira 20 sampai 25% lebih kecil daripada pria.


7. Rongga Toraks
Paru-paru dan toraks merupakan struktur yang viskoleastik. Sifat elastik paru, seperti dijelaskan di atas, disebabkan, pertama, oleh tegangan permukaan cairan yang melapisi alveolus dan, kedua, oleh serabut elastik di seluruh jaringan paru sendiri. Sifat-sifat elastik toraks disebabkan oleh elastisitas alamiah otot, tendo, dan jaringan penyambung dada. Oleh karena itu, sebagian usaha yang dikeluarkan oleh otot inspirasi selama bernapas adalah untuk meregangkan struktur elastik paru dan toraks.
Daya pengembangan paru-paru dan toraks disebut “compliance”. Ini dinyatakan sebagai peningkatan volume di dalam paru-paru untuk setiap satuan peningkatan tekanan intra-alveolar. ‘Compliance’ gabungan paru-paru dan toraks bersama-sama karena rangka dada sendiri harus diregangkan pula bila paru-paru dikembangkan pada tempatnya. Jadi ‘compliance’ paru-paru normal bila dikeluarkan dari toraks kira-kira 0,22 liter per cm air. Ini menjelaskan bahwa otot-otot inspirasi harus mengeluarkan energi tidak hanya untuk mengembangkan paru-paru tetapi juga untuk mengembangkan rangka dada di sekitar paru-paru.

a. Pengukuran ‘Compliance’ Paru-paru.
‘Compliance’ paru-paru diukur dengan cara sebagai berikut : Pertama-tama, glotis orang tersebut harus terbuka sama sekali dan tetap demikian. Kemudian udara dihirup secara bertahap, kira-kira 50 sampai 100 ml untuk sekali penghirupan, dan pengukuran tekanan dilakukan dari suatu balon intra-esofagus (yang mengukur tekanan intrapleura dengan hampir tepat) pada akhir setiap tahap, sampai volume total udara di dalam paru-paru sama dengan volume tidak normal orang tersebut. Kemudian udara dikeluarkan secara bertahap juga, sampai volume paru kembali ke tingkat ekspirasi istirahat.
b. Faktor-faktor yang Menyebabkan ‘Compliance’ Abnormal.
Keadaan apa pun yang merusak jaringan paru, menyebabkan menjadi fibrotik atau edema, menyumbat bronkiolus, atau dengan cara lain apa pun menghalangi pengembangan dan pengempisan yang menyebabkan penurunan ‘compliance’ paru. Bila memikirkan ‘compliance’ paru dan toraks secara bersama-sama, orang harus memasukan pula setiap kelainan yang mengurangi daya pengembangan sangkar dada. Jadi, kelainan bentuk sangkar dada, seperti kifosis, skoliosis berat, dan keadaan lain yang menghambat pengembangan paru-paru dan toraks, seperti pleuritis fibrosa atau paralisis dan fibrosis otot, semuanya dapat mengurangi daya pengembangan paru dan dengan demikian menurunkan ‘compliance’ total paru.

Macam-macam Pernapasan
a. Pernapasan Dada
Pada waktu manusia/seseorang bernapas rangka dada terbesar bergerak, maka pernapasn ini dinamakan pernapasan dada.
Ini terdapat pada rangka dada yang lunak ialah pada orang-orang muda dan pada perempuan.

b. Pernapasan Perut
Pada waktu bernapas itu diaprgma turun naik, maka corak ini dinamakan pernapasan perut.

(Irma HS-Tutorial Kuliah)


Reaksi:

0 komentar: